BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kondisi sehat menurut Undang Undang kesehatan tahun 2009 pada Bab 1 Pasal 1 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), spiritual dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan, melainkan juga berkepribadian yang mandiri dan produktif. Lebih jelasnya dapat kita lihat dalam undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan:
“Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis” (UU No. 36 Tahun 2009).
WHO (2018) menyatakan bahwa "Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity".
Arti kesehatan menurut para pakar kesehatan yaitu suatu situasi dan kondisi sejahtera dimana tubuh manusia, jiwa, serta sosial yang sangat memungkinkan tiap- tiap orang hidup produktif dengan cara sosial dan juga ekonomis. Sehat mengandung 4 komponen, yaitu : Sehat Jasmani, Sehat Mental, Kesejahteraan Sosial dan Sehat Spiritual (WHO, 2018).
Kesehatan akan tergangggu apabila terdapat gangguan mekanisme adaptasi tubuh untuk bereaksi secara cepat terhadap rangasangan atau tekanan sehingga
terdapat gangguan pada fungsi atau struktur organ atau sistem tubuh. Setiap manusia pernah mengalami kondisi sakit, penyakit yang diderita oleh setiap makhluk berbeda satu dan yang lainnya. Sakit merupakan suatu keadaan dimana tubuh tidak berada pada kondisi normal yang disebabkan oleh beberapa faktor dari dalam (faktor keturunan, faktor perilaku) maupun luar tubuh (faktor lingkungan, faktor pelayanan kesehatan) (Rajab, 2009). Penyakit dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular (WHO, 2018)
Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Morbiditas dan mortalitas PTM makin meningkat merupakan beban dan menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia. Menkes menyatakan, proporsi angka kematian akibat PTM meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007 (Kemenkes, 2011).
Penyakit tidak menular dapat dikategorikan menjadi akut dan kronis.
Penyakit kronis merupakan jenis penyakit degeneratif yang berkembang atau bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, yakni lebih dari enam bulan. Orang yang menderita penyakit kronis cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan cenderung mengembangkan perasaan hopelessness dan helplessness karena berbagai macam pengobatan tidak dapat membantunya sembuh dari penyakit kronis. Rasa sakit yang diderita akan mengganggu aktivitasnya sehari-hari, tujuan dalam hidup, dan kualitas tidurnya (Sarafino, 2011).
Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan
terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan rendah. Lebih dari dua pertiga (70%) dari populasi global akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes dan kanker (Depkes, 2014).
Penyakit kanker menjadi salah satu penyakit kronis yang peningkatannya cukup tinggi saat ini. Menurut WHO (2014) kanker merupakan suatu istilah umum yang menggambarkan penyakit pada manusia berupa munculnya sel-sel abnormal dalam tubuh yang melampaui batas. Sel-sel tersebut dapat menyerang bagian tubuh lain. Salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di dunia adalah kanker payudara (Pamungkas, 2011).
Di seluruh dunia kanker payudara merupakan penyakit kanker terbanyak ke- dua dengan angka kejadian sebanyak 2,09 juta kasus dan menimbulkan kematian terbanyak terutama di negara kurang berkembang dengan perkiraan 627.000 kasus baru pada tahun 2018 (84% dari kasus baru di seluruh dunia) (WHO, 2019).
Indonesia berada pada urutan ke-delapan dari 50 negara di dunia dengan angka kejadian kanker payudara terbanyak yaitu sebanyak 58.256 orang pada tahun 2018 (IARC Globocan, 2018).
Indonesia berada diurutan kelima dari jumlah penderita kanker payudara terbanyak di Asia Tenggara yang menyebabkan kematian pada perempuan dengan angka kejadian sebanyak 13,9 per 100.000 perempuan pertahun (IARC Globocan, 2018). Sekitar 18.279 kasus baru kanker payudara didiagnosa setiap tahun di Indonesia. Menurut data yang dipaparkan Kemenkes per 31 Januari 2019 terdapat angka kejadian kanker payudara 42,1 per 100.000 penduduk (Kemenkes, 2019).
Wanita rentan terhadap serangan kanker, menurut data Riskesdas tahun 2018 prevalensi kanker berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur menyatakan bahwa prevalensi kanker pada wanita (2,85%) lebih tinggi dibanding pria (0,74%) (Riskesdas, 2018). Berdasarkan data pasien kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais selama tahun 2010-2015 kanker payudara, kanker serviks dan kanker paru merupakan tiga kasus terbanyak dan jumlah kasus baru serta jumlah kematian akibat kanker tersebut yang semakin meningkat. Kanker payudara menduduki urutan utama selama 10 tahun terakhir sampai dengan tahun 2016 (Kemenkes, 2016).
Selain menjadi issue menakutkan bagi wanita, kanker payudara juga dikenal sebagai salah satu penyakit yang memiliki dampak serius terhadap fisik dan psikologis bagi penderitanya. Terdiagnosis kanker merupakan stressor yang mendalam bagi penderitanya dan hal ini berhubungan terhadap persepsi masyarakat mengenai penyakit kanker yang identik dengan kematian, rasa sakit dan penderitaan (Kashani dkk, 2011). Diagnosis dan pengobatan kanker berdampak signifikan terhadap kesejahteraan fisik, psikologis, informasi dan sosial, sehingga memerlukan dukungan perawatan yang kuat. Gangguan fungsi fisik sering dikaitkan dengan gejala distress, yang keduanya dapat menyebabkan kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari sehingga mempengaruhi kualitas hidup (Kashani dkk, 2011).
Kualitas hidup merupakan penilaian kesehatan fisik dan mental secara subjektif, yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya di lingkungan sekitar dan aspek sosial ekonomi pada setiap individu. Kualitas hidup dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu karakteristik individu, karakteristik lingkungan dan persepsi sehat secara umum (Ferrans, 2005; dalam Endarti, 2017). Untuk meningkatkan kualitas hidup maka diperlukan dukungan sosial, hasil penelitian Yadav (2010) menunjukkan bahwa dukungan sosial sangat signifikan berhubungan dengan semua aspek dalam kualitas hidup. Hasil penelitian Juwita, Almahdy dan Afdhila (2018) menyatakan karakteristik individu pada pasien kanker payudara tidak berpengaruh terhadap nilai kualitas hidup pasien kanker payudara.
Menurut World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL) Group, kualitas hidup memiliki empat aspek yaitu kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, hubungan dengan lingkungan.
Aspek kesehatan fisik dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk melakukan aktivitas. Kesehatan fisik mencakup aktivitas sehari-hari, energi dan kelelahan, mobilitas (keadaan mudah bergerak), sakit dan ketidak nyamanan, tidur dan istirahat, kapasitas kerja. Aspek psikologis yaitu terkait dengan keadaan mental individu. Keadaan mental mengarah pada mampu tidaknya individu menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan perkembangan sesuai dengan kemampuannya.
Kesejahteraan psikologis mencakup body image and appearance, perasaan positif, perasaan negatif, self esteem, spiritual/agama/keyakinan pribadi, berpikir, belajar, memori, dan konsentrasi. (Power dalam Lopez dan Synder, 2009).
Aspek hubungan sosial yaitu hubungan antara dua individu atau lebih dimana tingkah laku individu atau lebih dimana tingkah laku individu tersebut akan saling mempengaruhi. Hubungan sosial mencakup hubungan pribadi, dukungan sosial, aktivitas seksual. Aspek terakhir yaitu lingkungan, termasuk didalamnya keadaan,
ketersediaan tempat tinggal untuk melakukan segala aktivitas kehidupan, termasuk di dalamnya adalah sarana dan prasarana yang dapat menunjang kehidupan.
Hubungan dengan lingkungan mencakup sumber financial, kebebasan, keamanan dan keselamatan fisik, perawatan kesehatan dan social care (Ekasari, dkk. 2018).
Penelitian yang dilakukan oleh Anggraini dkk. pada tahun 2018, menyatakan bahwa kanker payudara mempengaruhi beberapa aspek kualitas hidup yaitu fisik, peran, kognitif, emosional dan sosial (Anggraini dkk, 2018). Seseorang yang mengalami perubahan negatif dalam hidupnya, sebagian besar mengalami kualitas hidup yang kurang baik. Hal ini dibuktikan dengan penelitian oleh Putri pada tahun 2017, kepada 153 orang pasien kanker ginekologi di Rumah Sakit Kanker Dharmais didapatkan data bahwa 79% dari keseluruhan pasien ginekologi memiliki kualitas hidup rendah (Putri, 2017).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bayram, Durna, dan Akin mengenai kualitas hidup dan kepuasan terhadap perawatan pada pasien kanker payudara di Turki. Penelitian tersebut menyatakan bahwa kualitas hidup merupakan tujuan penting dalam pengobatan kanker dan menjadi kekhawatiran akan kondisi fisik, psikologis, gangguan citra tubuh, serta gejala-gejala distress yang perlu segera diantisipasi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker (Bayram dkk, 2014).
Meningkatkan kualitas hidup pasien kanker selama pengobatan akan meningkatkan kepatuhan mereka akan perawatan dan pengobatan serta memberikan mereka kekuatan untuk mengatasi berbagai gejala atau keluhan yang dialami pasien kanker (Bayram dkk, 2014). Pasien kanker payudara yang melakukan pengobatan dengan teratur memiliki harapan untuk sembuh sangat
besar, dengan demikian pasien kanker dapat melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya dengan mandiri secara emosional dan sosial serta kesejahteraan fisik pasien akan datang dengan mudah untuk mencapai kualitas hidup yang baik (Husni dkk, 2015).
Pengobatan kanker sangat mempengaruhi proses kesembuhan, semakin lama proses penyembuhan makan akan semakin meningkat gejala distress sehingga mempengaruhi kualitas hidup. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aruan dan Isfandiari, menyatakan bahwa pada pasien kanker payudara di Yayasan Kanker Wisnudharma terdapat proporsi keterlambatan berobat terbanyak pada responden yang kurang mendapatkan dukungan sosial, dan adanya hubungan antara dukungan sosial terhadap pengobatan kanker payudara. (Aruan dan Isfandiari, 2015).
Penelitian lain yang dilakukan oleh Dewi dan Wardani (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa dari 79 responden klien dengan kanker stadium lanjut yang menjadi responden penelitian didapatkan bahwa dukungan sosial yang kurang menyebabkan kualitas hidup yang kurang baik sebanyak 53.1% (Dewi dan Wardani, 2013).
Dukungan sosial merupakan sumber daya yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis yang didapat lewat pengetahuan bahwa penderita kanker tersebut dicintai, diperhatikan, dihargai oleh orang lain dan ia juga merupakan anggota dalam suatu kelompok yang didasarkan kepentingan bersama(Uchino, 2004; dalam Sarafino, 2011:81). Dukungan sosial yang diperoleh memiliki manfaat bagi individu tersebut. Hal ini dikarenakan dengan adanya dukungan sosial dapat
membuat individu menyadari bahwa ada orang yang sangat memperdulikan, menghargai dan mencintainya (King, 2010; dalam Marni dan Yuniawati, 2015).
Bentuk dukungan sosial yang dapat diberikan kepada pasien meliputi dukungan emosional, penghargaan, instrumental, informasi dan jaringan sosial.
Dukungan emosional meliputi ungkapan rasa empati, kepedulian, dan perhatian terhadap individu. Biasanya, dukungan ini diperoleh dari pasangan atau keluarga, seperti memberikan pengertian terhadap masalah yang sedang dihadapi atau mendengarkan keluhannya. Dukungan penghargaan ini terjadi melalui ekspresi orang mengenai hal yang positif tentang orang tersebut, membesarkan hati, setuju dengan ide atau perasaan individu, perbandingan positif antara individu tersebut dengan individu lain (Sarafino, 2011).
Dukungan instrumen ini meliputi bantuan secara langsung, seperti bantuan untuk menyelesaikan tugas yang menumpuk atau meminjamkan uang atau lain-lain yang dibutuhkan individu. Dukungan informasi meliputi pemberian nasehat, saran atau umpan balik kepada individu biasanya diperoleh dari sahabat, rekan kerja, atasan atau seorang profesional seperti dokter atau psikolog. Dukungan jaringan sosial ini memberikan perasaan bahwa individu merupakan anggota dari kelompok tertentu dan memiliki minat yang sama. Adanya dukungan jaringan sosial akan membantu individu untuk mengurangi stres yang dialami dengan cara memenuhi kebutuhan akan persahabatan dan kontak sosial dengan orang lain. Hal tersebut juga akan membantu individu untuk mengalihkan perhatiannya dari kekhawatiran terhadap masalah yang dihadapinya atau dengan meningkatkan suasana hati yang positif (Sarafino, 2011).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di rumah sakit Bogota, Colombia oleh Finck, dkk tahun 2018. Jurnal tersebut bertujuan untuk menguji kualitas hidup pada pasien kanker payudara serta mengekplorasi hubungan antara kualitas hidup dengan optimisme, dan dukungan sosial. Hasil penelitian didapatkan bahwa pada pasien dengan dukungan sosial yang baik akan meningkatkan rasa optimisme dalam pengobatan kanker sehingga berpengaruh pada kualitas hidup pasien (Carolyn Finck, 2018). Penelitian lain yang dilakukan oleh Sari dkk. pada tahun 2016 menyatakan bahwa pada pasien kanker yang memiliki kualitas hidup kurang baik cenderung mendapatkan dukungan sosial negatif dari orang-orang terdekat sehingga menurunkan semangat dan motivasi dalam proses penyembuhan. (Sari dkk, 2016).
Kasus kanker payudara tersebar hampir di seluruh tempat pelayanan kesehatan, tercatat penderita Kanker di Jawa Barat pada tahun 2018 berjumlah 186.809 penderita tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Kasus tertinggi kanker menimpa kaum perempuan, dengan jenis Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim. Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), ditetapkan bahwa adanya sistem rujukkan berjenjang diciptakan agar masyarakat dapat mengakses pelayanan kesehatan dengan lebih mudah. Sistem rujukkan berjenjang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik yang wajib dilaksanakan oleh peserta jaminan (Permenkes No. 56 Tahun 2014).
Jika tidak tertangani di fasilitas kesehatan primer, maka peserta jaminan dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan sekunder atau rumah sakit rujukkan di kabupaten
dengan ketersediaan tenaga spesialis yang luas (Panduan BPJS, 2014). Penyakit kanker payudara mulai dari stadium awal memerlukan serangakaian pemeriksaan dan penatalaksanaan medis, serta ditangani oleh spesialis onkologi dasar, spesialis penunjang dan subspesialis yang tersedia di rumah sakit tipe B (Kemenkes, 2015).
Rumah sakit utama yang menjadi rujukkan untuk penanganan penyakit kanker di daerah Kabupaten Bandung yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat merupakan rumah sakit tipe B dengan ketersediaan spesialistik yang luas. Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat adalah rumah sakit umum tingkat kabupaten yang memiliki pusat pelayanan kanker atau “Cancer Center”
rujukkan Provinsi Jawa Barat yang terintegrasi dalam satu gedung dengan pelayanan lengkap dengan peralatan canggihnya. Berdasarkan data rekam medis jumlah penderita kanker payudara di RSUD Al-Ihsan ini cukup tinggi dan meningkat setiap tahun. Sejak fasilitas pelayanan kanker diresmikan pada tahun 2017, prevalensi kunjungan pasien kanker payudara terus meningkat yaitu sebanyak 56 kasus pada tahun 2017 dan menjadi 250 kasus pada tahun 2018.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 25 April 2019 di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat, terdapat 62 orang pasien kanker payudara yang sedang menjalani perawatan. Kemudian setelah memperoleh data, peneliti melakukan wawancara mendalam kepada 10 orang pasien kanker payudara.
Dari hasil wawancara didapatkan informasi, bahwa harapan dan tujuan standar kualitas hidup baik yang ingin mereka capai ialah bebas dari segala keluhan
penyakit yang selama ini dirasakan. Sembilan dari sepuluh pasien kanker payudara menyatakan pada aspek kesehatan fisik, pasien mengeluhkan gejala-gejala yang dirasakan selama sel kanker berkembang begitupun efek dari pengobatatan (mual, muntah, menurunkan nafsu makan, kerontokkan rambut, kelemahan, rasa nyeri, dll). Pada aspek psikologis delapan dari sepuluh pasien kanker payudara menyatakan perasaan negatif mengenai keadaanya seperti perasaan takut penyakitnya tak kunjung sembuh, perasaan malu karena telah terjadi perubahan yang signifikan pada tubuhnya, dan perubahan peran dalam keluarga karena sejak sakit pasien jarang mengurus keluarga. Pada aspek hubungan sosial tujuh dari sepuluh pasien kanker payudara menyatakan kurangnya interaksi sosial bersama orang sekitar selain keluarga dikarenakan kondisinya yang melemah. Pada aspek lingkungan, enam dari sepuluh pasien menyatakan bahwa sejak mengidap kanker mereka merasakan meningkatnya kepedulian orang-orang sekitar, dan kesulitan dalam aspek ekonomi karena biaya pengobatan.
Pada aspek dukungan sosial yang diterima dan dirasakan oleh pasien kanker, sembilan dari sepuluh pasien kanker menyatakan mendapat dukungan emosi yang didapat dari keluarga seperti selalu diperhatikan, ditemani saat perawatan. Enam dari sepuluh pasien kanker payudara menyatakan mendapat dukungan penghargaan berupa penilaian positif ketika pasien patuh dalam pengobatan. Lima dari sepuluh pasien kanker menyatakan mendapat dukungan instrumental dari kerabat atau teman terdekat berupa bantuan materi. Delapan dari sepuluh pasien kanker menyatakan mendapat dukungan informasi mengenai penyakit dan proses penyembuhan melalui peran tenaga kesahatan yang meningkatkan pengetahuan dan
motivasi dalam menjalani perawatan. Lima dari sepuluh pasien kanker menyatakan adanya jaringan sosial yang memberikan dukungan dan infomasi mengenai fasilitas kesehatan/tempat pengobatan tradisional yang didapat dari pasien lain yang mengalami kondisi serupa, sehingga menentukan cepat atau lambatnya proses kesembuhan yang dialami dan meningkatan kualitas hidupnya.
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Al Ihsan Provinsi Jawa Barat Tahun 2019”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
Adakah hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Al Ihsan Provinsi Jawa Barat.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi dukungan sosial (dukungan keluarga, dukungan teman, dukungan orang terdekat) pada pasien kanker payudara yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat.
b. Mengidentifikasi kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat.
c. Mengidentifikasi hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah sumber referensi dan informasi dan dijadikan acuan dalam pembelajaran mengenai kualitas hidup pada pasien kanker yang menjalani perawatan. Penelitian ini juga diharapkan bisa menjadi sumber rujukan dalam menentukan metode pelayanan kesehatan yang tepat bagi perempuan dengan kanker payudara.
b. Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan dikembangkan terkait dukungan sosial dengan kualitas hidup pasien kanker payudara yang menjalani perawatan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Instansi Pelayanan Kesehatan RSUD Al-Ihsan
Diharapkan penelitian ini bisa dijadikan acuan kebijakkan bagi Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih maksimal khususnya pada perawatan paliatif yang memberikkan asuhan keperawatan secara holistik bio-psiko-sosial-spiritual sehingga akan meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara secara menyeluruh.
b. Bagi Pelayanan Keperawatan
Diharapkan penelitian ini bisa dijadikan informasi/data untuk meningkatkan perawatan paliatif tidak hanya dalam keperawatan
maternitas namun semua bidang keperawatan di institusi pelayanan kesehatan, tentang bagaimana memberikan pelayanan secara tepat dan tentunya komprehensif. Tidak hanya fokus dalam pengelolaan kasus yang sudah terjadi (kuratif) namun juga diharapkan bisa melakukan penanganan dengan upaya paliatif. Penelitian ini juga memberikan gambaran tentang kondisi termasuk secara psikologis, sehingga bisa dijadikan sumber rujukan bagi perawat paliatif dalam memberikan asuhan keperawatan dengan kondisi seperti itu.
c. Bagi Lingkungan Sosial Pasien Kanker Payudara
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan lingkungan sosial yang didalamnya meliputi orang terdekat, keluarga dan teman dari pasien kanker payudar mengenai dukungan sosial terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara yang menjalani perawatan.
E. Ruang Lingkup
Penelitian ini termasuk ke dalam bidang perawatan paliatif Keperawatan Maternitas khususnya pada kanker payudara. Penelitian yang berjudul Hubungan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan pada tahun 2019 ini bertujuan untuk melakukan analisis mengenai hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup pasien kanker payudara yang menjalani perawatan. Kegiatan ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian studi korelasional dan
menggunakan uji Spearman Rank. Sampel dalam penelitian berjumlah 62 orang yang sedang melakukan perawatan di Cancer Center Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner EORTC-QLQ-C30 yang disusun berdasarkan aspek kualitas hidup dari teori Ferrans dan kuesioner perceived social support yang disusun berdasarkan teori Zimet,dkk dalam bentuk Multidimentional Scale of Perceived Social Support.
Waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah pada bulan April s.d Agustus