i
EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE WAFA DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN DI KELAS III UWAIS SDIT ANAK
SHOLEH I MATARAM TAHUN PELAJARAN 2019/2020
oleh:
Husnawati 160101057
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
MATARAM
2020
ii
EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE WAFA DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN DI KELAS III UWAIS SDIT ANAK
SOLEH I MATARAM TAHUN PELAJARAN 2019/2020
Skripsi
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Pendidikan
oleh:
Husnawati 160101057
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
MATARAM
2020
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi oleh: Husnawati, NIM: 160101057 dengan judul “Efektivitas Penerapan Metode Wafa Dalam Pembelajaran Al-Qur‟an di Kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram Tahun Ajaran 2019/2020” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.
Disetujui pada tanggal:
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. SYUKRI, M.Pd H.M. TAISIR, M.Ag
NIP. 196212311991031025 NIP. 197412312005011014
iv
NOTA DINAS PEMBIMBING
Mataram, 2020
Hal : Ujian Skripsi Yang Terhormat
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Di Mataram
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.
Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi Saudara:
Nama Mahasiswa : HUSNAWATI
NIM : 160101057
Jurusan/Prodi : Pendidikan Agama Islam
Judul :Efektivitas Penerapan Metode Wafa dalam Pembelajaran Al-Qur‟an di Kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020.
Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam siding munaqasyahskripsi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram.Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. SYUKRI, M.Pd H.M. TAISIR, M.Ag
NIP. 196212311991031025 NIP.197412312005011014
vi
PENGESAHAN
Skripsi oleh: Husnawati, NIM: 160101057 dengan judul “Efektivitas Penerapan Metode Wafa dalam Pembelajaran Al-Qur‟an di Kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020” telah dipertahankan di depan dewan penguji Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Mataram pada tanggal
Dewan Penguji
Dr. Syukri, M.Pd [Ketua Sidang/Pemb. I]
H. M. Taisir, M.Ag
[Sekertaris Sidang/Pemb. II]
Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd [Penguji I]
Erlan Muliadi, M. Pd.I [Penguji II]
Mengetahui,
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Dr. H. Lubna,M.Pd.
NIP. 196812311993032008
vii MOTTO
ُهَمَلَّعَو َنآْرُقْلا َمَلَّعَت ْهَم ْمُكُرْيَخ
Artinya :“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mau mempelajari Al- Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari)1
„
1 Muslich Sabir, Hadist Riyadus Solihin 2, (Semarang: Toha Putra, 2004), h. 54.
viii
PERSEMBAHAN
“Skripsi ini kupersembahkan untuk Ibuku tercinta Serimah, Bapakku Nasir, almamaterku, semua guru dan dosenku, semua keluarga yang tidak bisa kusebutkansatu persatu, dan semua teman-temanku.”
ix
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa peneliti panjatkan atas kehadirat Allah swt. karena berkat rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga skripsi dengan judul “Efektivitas Penerapan Metode Wafa dalam Pembelajaran Al-Qur‟an di Kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram” ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw. yang telah membawa kita menuju jalan yang lurus.
Selama penyusunan skripsi ini tentunya berbagai hambatan dan kesulitan yang peneliti hadapi tidak akan mampu peneliti lewati tanpa bantuan Allah swt. melalui perantara orang lain. Atas bantuan yang telah diberikan selama proses penulisan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Syukri,M.Pd. danH. M. Taisir, M.Ag., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah berkenan memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh kesabaran kepada peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan;
2. Dr. Saparudin, M.Ag. dan H. Muhammad Taisir, M.Ag. selaku ketua dan sekretaris jurusan Pendidikan Agama Islam;
3. Dr. Hj. Lubna, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram;
4. Prof. Dr. H. Mutawalli, M.Ag. selaku rektor UIN Mataram;
5. Bapak dan Ibu dosen prodi Pendidikan Agama Islam UIN Mataram yang telah sabar dalam memberikan ilmu bagi peneliti selama ini;
x
6. Wahidah, SE, Ikah Farikah, S.SE, Siti Aisyah, S.Pd, Lilik Sri Hartini, SP dan Laila Nurmayani, SP selaku direktur dan wakil direktur SDIT Anak Sholeh I Mataram;
7. Bapak dan Ibu tercinta beserta keluarga yang selalu memberikan dukungan dan do‟anya kepada peneliti;
8. Teman-temanku kelas B semester VIII, atas dukungan, motivasi, dan kebersamaan yang telah diberikan kepada peneliti;
9. Terima kasih untuk sahabat-sahabatku, kelompok PPL di MTs. Mambaul Abror Babakan, atas dukungan, motivasi, dan kebersamaan yang telah diberikan kepada peneliti. Kepada semua pihak yang berperan dalam menyelesaikan skripsi ini, yang peneliti tidak bisa sebutkan satu persatu.
Peneliti menyampaikan jazakumullahu khairon katsiiron.
Semoga amal ibadah dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah swt. dan semoga karya ilmiah ini bermamfaat bagi semesta. Aamiin.
Mataram,2020 Peneliti,
HUSNAWATI
xi DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
ABSTRAK ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 7
E. Kajian Pustaka ... 9
F. Kerangka Teori... 14
1. Efektivitas ... 14
2. Metode Wafa ... 17
a. Pengertian Metode Wafa ... 17
b. Sejarah Singkat Metode Wafa ... 19
c. Keunggulan Metode Wafa ... 23
xii
d. Administrasi Pembelajaran dengan Metode Wafa ... 24
e. Strategi Pembelajaran Metode Wafa ... 25
3. Pembelajaran Al-Qur‟an ... 28
a. Pengertian Pembelajaran Al-Qur‟an ... 28
b. Tujuan Pembelajaran Al-Qur‟an ... 30
c. Model Pembelajaran Al-Qur‟an ... 32
d. Pokok Bahasan Jilid Wafa ... 33
G. Metode Penelitian ... 36
1. Pendekatan Penelitian ... 36
2. Kehadiran Peneliti ... 38
3. Lokasi Penelitian ... 39
4. Sumber Data ... 39
5. Prosedur Pengumpulan Data ... 41
6. Teknik Analisis Data ... 46
7. Keabsahan Data ... 47
H. Sistematika Pembahasan ... 49
I. Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian ... 51
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 52
A. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian ... 52
1. Sejarah Berdirinya SDIT Anak Sholeh I Mataram ... 52
2. Visi, Misi dan Tujuan SDIT Anak Soleh I Mataram ... 55
3. Letak Geografis SDIT Anak Soleh I Mataram ... 55
4. Struktur Organisasi SDIT Anak Soleh I Mataram ... 56
5. Keadaan Guru SDIT Anak Sholeh I Mataram ... 58
6. Siswa SDIT Anak Soleh 1 Mataram ... 66
7. Sarana dan Prasarana SDIT Anak Soleh I Mataram ... 70
8. Kurikulum di SDIT Anak Soleh I Mataram ... 71
xiii
B. Penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais
SDIT Anak Sholeh 1 Mataram ... 76
C. Efektivitas dari penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh 1 Mataram ... 95
BAB III PEMBAHASAN ... 101
A. Penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh 1 Mataram ... 101
B. Efektivitas dari penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh 1 Mataram ... 113
BAB IV PENUTUP ... 120
A. Kesimpulan ... 120
B. Saran ... 121
DAFTAR PUSTAKA ... 124
LAMPIRAN ... 128
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Daftar Nama Tenaga Pendidik dan Kependidikan SDIT Anak Soleh I Mataram dari Tahun 2005-2019, 62.
Tabel 2.2 Daftar Jumlah Keseluruhan Siswa dan Siswi SDIT Anak Soleh I Mataram dari Tahun 2006-2019, 70.
Tabel 2.3 Daftar Nama Siswa/i Kelas III Uwais SDIT Anak Soleh I Mataram dari Tahun 2019/2020, 71.
Tabel 2.4 Daftar Kitab yang Digunakan dalam Belajar Al-Qur‟an Metode Wafa SDIT Anak Sholeh I Mataram, 76.
Tabel 2.5 Jadwal Pembelajaran Metode Wafa kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020, 79.
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Proses Pembelajaran Al-Qur‟an dengan metode Wafa, 76.
Gambar 2.2 Proses Penjelasan Materi Pada Peserta Didik, 84.
Gambar 2.3 Proses demonstrasi antara siswa dan guru ketika pembelajaran Al- Qur‟an berlangsung, 86.
Gambar 2.4 Pemberian reward atau bintang pada siswa yang selalu bersemangat dan aktif dalam mejawab pertanyaan dari guru, 88.
Gambar 2.5 Gambar Buku Wafa Siswa SDIT Anak Sholeh I Mataram, 94.
Gambar 2.6 Gambar Peserta Didik yang Sedang Mengulang Bacaan Wafa Lima, 98.
Gambar 2.7 Gambar Peserta Didik yang Sudah Menyelesaikan Wafa Lima Beserta Bintang yang didapatkan, 99.
Gambar 3.1 Gambar buku Wafa tentang pengenalan makhorijul huruf, 107.
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Wawancara Bersama Direktur SDIT Anak Sholeh I Mataram Lampiran 2 Wawancara Bersama Protokol SDIT Anak Sholeh I Mataram Lampiran 3 Wawancara Bersama Koordinator Wafa SDIT Anak Sholeh I
Mataram
Lampran 4 Wawancara Bersama Kepala Sekolah SDIT Anak Sholeh I Mataram
Lampiran 5 Wawancara Bersama Guru/Ustadzah Kelas III Uwais Al-Qarni SDIT Anak Sholeh I Mataram
Lampiran 6 Wawancara Bersama Salah Satu Siswa Kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram
Lampiran 7 Wawancara Bersama Ustadz SDIT Anak Sholeh I Mataram
xvii
EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE WAFA DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN DI KELAS III UWAIS SDIT ANAK
SHOLEH I MATARAM TAHUN AJARAN 2019/2020
Oleh:
HUSNAWATI NIM 160101057
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dari penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais Al-Qarni. Selain itu tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana efektivitas dari penerapan metode Wafa dalam mencapai keberhasilan dari aspek kesuksesan proses pembelajaran Al-Qur‟an pada anak-anak.
Jenis pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Jadi, pendekatan ini lebih ditunjukkan dalam menemukan jawaban valid dari masalah yang akan diteliti secara alamiah. Peneliti mengamati bagaimana pola pembelajaran Al-Qur‟an atau Wafa yang bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi siswa untuk membaca Al-Qur‟an.
Adapun teknik pengumpulan data merupakan sebuah upaya yang dilakukan peneliti dalam memperoleh dan mengumpulkan data seperti teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.
Analisis data yang digunakan berupa analisis kualitatif-deskriftif.Data diperoleh dari wawancara, dokumentasi, dan observasi yang peneliti lakukan pada saat sebelum dan sesudah pembelajaran dilaksanakan.Dari analisis data diperoleh hasil penelitian yakni penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram tahun pelajaran 2019/2020sudah efektif karena mengacu pada empat indikator efektivitas itu sendiri yaitu indikator input, process, output, dan outcome. Hal ini menunjukkan bahwa melalui metode Wafa siswa lebih aktif dan mudah dalam belajar membaca Al-Qur‟an, terlihat dari keefektifan waktu mengajar dalam penerapan metode Wafa, kualitas guru dalam mengajar dan hasil yang telah dicapai setelah penerapan metode Wafa tersebut.
Kata Kunci: Efektivitas, Metode Wafa dan Belajar Al-Qur‟an
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur‟an adalah kitab suci umat Islam yang setiap harinya dibaca oleh ribuan bahkan jutaan umat Muslim sedunia. Al-Qur‟an terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6666 ayat, 77.934 kosa kata, dan 333.671 huruf.2 Selain itu, keberadaan Al-Qur‟an sebagai mu‟jizat Nabi Muhammad saw. sekaligus sebagai firman Allah swt. tentunya mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai petunjuk bagi manusia, sumber pokok dari ajaran agama Islam, peringatan dan pelajaran bagi manusia, dan sebagai mu‟jizat dari Nabi Muhammad saw.3
Mengingat Al-Qur‟an memilki ma‟na yang sangat penting bagi setiap Muslim maka mempelajari Al-Qur‟an menjadi suatu keharusan oleh setiap Muslim. Mempelajari Al-Qur‟an dapat dilakukan dengan cara mempelajari bacaannya, ma‟nanya dan mengamalkan kandungan-kandungan yang terdapat di dalamnya. Mempelajari Al-Qur‟an diawali dengan belajar membacanya.
Dalam mempelajari membaca Al-Qur‟an maka terdapat tiga aspek yang harus diperhatikan yaitu dari sisi fasohahnya, tajwidnya, dan dari sisi tartil atau kelancarannya.4
2Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), h.15.
3Yusron, “Pengertian Al-Qur‟an” dalam https://belajargiat.id/quran, diakses tanggal 25 Februari 2020, pukul 06. 41.
4Amri Muhammad, Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Membaca Al-Qur’an.
(Banyuanyar Surakarta: Ahad Books, 2014), h. 19-22.
Seperti firman Allah swt.
رِكَدُه ْنِه ْلَهَف ِرْكِذّلِل َنآْرُقْلا اَنْرَسَّي ْدَقَل َو
“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur‟an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?.” (QS. Al-Qamar: 22) Tujuan pendidikan Al-Qur‟an adalah untuk membina manusia serta pribadi dan kelompok. Sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan oleh Allah.
Mempelajari Al-Qur‟an dilakukan baik secara formal maupun non formal. Mempelajari Al-Qur‟an secara formal atau disebut pendidikan persekolahan, yakni berupa rangkaian jenjang pendidikan yang telah baku misalnya SD, SMP, SMA dan PT (Perguruan Tinggi). Selain itu, dapat dilakukan secara non formal seperti di Masjid, TPQ, dan Rumah-rumah yang mengajarkan Al-Qur‟an.5
Mempelajari Al-Qur‟an dalam aspek membaca terdapat banyak metode yang digunakan seperti metode Iqra„, metode Ummi, metode Qiro‟ati dan lain sebagainya. Belakangan ini muncul satu metode di tengah-tengah masyarakat dalam belajar membaca Al-Qur‟an, meskipun metode ini belum terlalu populer tetapi beberapa sekolah formal sudah menerapkannya yakni metode Wafa. Metode Wafa adalah metode belajar Al-Qur‟an holistik dan komprehensif dengan otak kanan yang merujuk pada konsep Quantum
5 Arabiatul Adawiyah, “Implikasi Pendidkan Non formal pada Remaja”, Jurnal Equilibrium, Vol. IV No. 2 November 2016, h. 2.
Teaching dengan pola pembelajaran TANDUR yaitu Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Metode ini sudah diterapkan diberbagai daerah, seperti Singapura, Belanda, Italia, Hongkong, dan 20 Provinsi di Indonesia.6
Keberadaan metode Wafa di Lombok tergolong baru artinya belum banyak lembaga yang menerapkannya kecuali beberapa lembaga saja. Salah satu yang menerapkan metode tersebut adalah SDIT Anak Sholeh I Mataram.
Metode tersebut masuk di Pulau Lombok khususnya di NTB meskipun demikian belum banyak yang menggunakannya kecuali beberapa lembaga pendidikan saja.
Berdasarkan hasil wawancara awal dengan ustadzah Laila Nurmayani selaku koordinator Wafa bahwa penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di SDIT Anak Sholeh I Mataram dimulai sejak tahun 2015.
Sekolah tersebut di setting dalam bentuk sekolah alam, yaitu yang terdiri dari ruang-ruang kelas terbuka (brugak) dan berdekatan dengan sawah-sawah.
Dengan suasana yang bernuansa alam tersebut menjadikan pembelajaran yang ada di SDIT menjadi tenang dan nyaman. Hal tersebut ditandai dengan letak dari jalan raya agak jauh. Adapun tambahan dari pembangunan ruang- ruang kelas yang bentuknya seperti sekolah-sekolah yang bahannya dari batu bata dikarenakan sulitnya mendapatkan alang-alang yakni sebagai atapnya
6Rini Nurul Hikmi, Agus Halimi, dkk, “Efektivitas Metode Wafa dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur‟an (BTQ) di MI Miftahul Huda Bandung”, Vol. 4, Nomor 2, Tahun 2018, h. 2.
dan disertai banyaknya peminat dari sekolah tersebut sehingga dibangunkan sebagian disampingnya sekolah seperti saat ini.7
Menurut pengakuan dari koordinator Wafa tersebut bahwa SDIT Anak Sholeh I Mataram merupakan sekolah yang bernuansa alam dan nyaman. Hal ini terlihat dari hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti yakni terjun langsung di lapangan untuk melihat proses pembelajaran yang menggunakan metode Wafa. Dimana siswa/i bersemangat dalam melakukan proses pembelajaran Al-Qur‟an dalam aspek tahsin atau bacaan yang menggunakan metode Wafa. Adapun peneliti menyimak secara langsung bacaan wafa lima dan Al-Qur‟annya, yang mana peserta didik melafadzkan dengan fasih dan lancar.8
Salah satu narasumber yang peneliti wawancarai yaituustadzah Ummah selaku guru kelas III Uwais Al-Qarni bahwa metode tersebut memudahkan siswa/i dalam belajar membaca Al-Qur‟an, dikarenakan penyajian metode Wafa disetiap bukunya dengan secara bertahap sehingga peserta didik tidak memakan waktu yang banyak dalam memahami cara membaca Al-Qur‟an. Adapun target yang ditetapkan untuk selesai Wafa lima yaitu di kelas III semester satu. Dengan tahapan di kelas satu semester satu dengan nama Wafa satu, di semester dua kelas satu Wafa dua dan seterusnya sampai Wafa lima. Setelah itu, barulah diajarkan buku tajwid dan gharibnya.
7 Laila Nurmayani (Koordinator Wafa), Wawancara, 19 November 2019.
8Observasi, Mataram, Tanggal 19 November 2019.
Dari sinilah anak-anak akan mudah dalam memahami cara baca Al-Qur‟an dengan lancar dan fasih.9
Berdasarkan hasil wawancara di atas maka penerapan metode Wafa di SDIT tersebut dikatakan cukup efektif. Hal ini ditandai dengan anak-anak dikelas tiga semester satu sudah mampu membaca Al-Qur‟an yang sesuai dengan target Wafanya.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian secara mendalam tentang Efektivitas Penerapan Metode Wafa dalam Pembelajaran Al-Qur’an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh 1 Mataram tahun Pelajaran 2019/2020?
2. Bagaimanakah efektivitas dari penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh 1 Mataram tahun Pelajaran 2019/2020?
C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
9Ummah (Guru kelas III Uwais), Wawancara, 19 November 2019.
a. Untuk mengetahui langkah-langkah penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh 1 Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020.
b. Untuk mengetahui efektivitas penerapan metode Wafa pada pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh I Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020.
2. Manfaat
Adapun manfaat penelitian ini dapat diklasifikaikan menjadi dua, yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis.
a. Manfaat secara teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah hazanah keilmuan dan wawasan terkait metode pembelajaran Al- Qur‟an khususnya dengan menerapan metode Wafa dalam membaca Al-Qur‟an.
b. Manfaat secara praktis
Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi guru, masyarakat, lembaga dan peneliti lainnya.
1) Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi motivasi bagi guru dalam mengajarkan Al-Qur‟an dengan metode Wafa dan bisa memberikan masukan tentang penyempurnaan dari langkah- langkah penerapan metode Wafa secara lebih baik karena dapat mendorong para siswa/i untuk berlomba-lomba dalam
mempelajari Al-Qur‟an dan ilmu ini sebagai dasar untuk bisa membaca dan menghafal Al-Qur‟an.
2) Bagi Lembaga Pendidikan Al-Qur‟an
Sebagai acuan bagi para tenaga pendidik dalam memberikan bimbingan tentang pembelajaran membaca Al- Qur‟an dengan menerapkan metode Wafa di Taman Pendidikan Qur‟an (TPQ) dan lembaga lainnya.
3) Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat menyadarkan masyarakat akan manfaat dan dapat mengenal metode Wafa sehingga nantinya bisa diterapkan di tempat masing-masing yakni tentang penggunaan metode yang tepat.
4) Bagi peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi peneliti selanjutnya dalam hal penerapan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang lingkup penelitian
Untuk memperjelas masalah yang dibahas dalam penelitian ini dan supaya tidak terjadi pembahasan yang meluas atau menyimpang dari fokus penelitian, maka perlu dikemukakan lingkup penelitian metode Wafa.
Adapun ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini mencangkup dua hal yaitu langkah-langkah penerapan metode Wafa
dan sejauh mana efektivitas dari penerapan Wafa dalam pembelajaran Al- Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Soleh I Mataram.
Agar lebih fokus, peneliti merincikannya sebagai berikut:
a. Peneliti hanya memfokuskan penelitian pada satu tempat yaitu di kelas III SDIT Anak Sholeh I Mataram yang di dalamnya mengajarkan penerapan metode Wafa.
b. Efektivitas dari penerapan metode Wafa di SDIT Anak Soleh I Mataram serta pembelajaran Al-Qur‟an dengan menggunakan metode Wafa dalam hal aktivitas membaca Al-Qur‟an saja. Adapun penelitian ini tidak terkait dengan tahfidz, menerjemahkan dan memahami.
c. Para guru dan siswa-siswi yang terlibat dalam pembelajaran Al- Qur‟an yang menggunakan metode Wafa.
2. Setting penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SDIT Anak Soleh I Mataram yang berada di Jl. Merdeka Raya No. XVII Gang Gaharu. SDIT ini dijadikan lokasi penelitian karena di dalamnya diterapkan metode Wafa yaitu sebuah metode agar mudah dalam mempelajari Al-Qur‟an yang menarik dan menyenangkan. Adapun objek penelitiannya terfokus pada siswa/siswi yang belajar membaca Al-Qur‟an dengan penerapan metode Wafa di SDIT Anak Sholeh I Mataram, sedangkan yang menjadi subjek penelitiannya yaitu kepala sekolah, guru, koordinator Wafa dan siswa yang berada di SDIT Anak Sholeh I Mataram.
SDIT Anak Soleh I Mataram adalah salah satu sekolah tingkat dasar yang menjadi pusat pengembangan metode Wafa yang berada di Nusa Tenggara Barat. Metode Wafa yang dikembangkan di SDIT Anak Soleh I Mataram sudah nampak hasilnya dilihat dari kemampuan membaca Al-Qur‟an siswa yang baik dan fasih pada kelas tiga semester satu. Selain itu, metode Wafa dapat menarik banyaknya para siswa maupun siswi yang sekolah di SDIT tersebut, semua siswa dan siswi di sana mendapatkan posisi yang sama untuk bisa mempelajari Al-Qur‟an dengan mudah dan menyenangkan di usia tersebut.
E. Telaah Pustaka
Telaah pustaka merupakan uraian atau penelaahan yang dilakukan oleh peneliti untuk menjelaskan posisi penelitian yang akan dilakukan.Tujuan utama dari telaah pustaka yaitu untuk menghindari terjadinya pengulangan, duplikasi, dan plagiasi atau menjiplak punya orang lain. Atas dasar itu, maka peneliti melakukan penelusuran terhadap penelitian-penelitian sebelumnya.
Dalam kaitan ini ada beberapa penelitian yang peneliti temukan antara lain yaitu:
No Nama Judul Peneliti Tujuan Hasil 1. Herman Jayadi “Penerapan Metode
Wafa dalam
Pembelajaran Al- Qur‟an di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Anak Sholeh 2 Mataram Pada Kelas III Samudra Pasai Tahun Ajaran 2017.”
Untuk memahami langkah- langkah dalam penerpan metode wafa dengan langkah Tandur pada pembelajaran Al-Qur‟an dan Mengetahui kendala yang diahadapi guru Al- Qur‟an dalam penerapan metode Wafa dengan langkah Tandur pada pembelajaran Al-Qur‟an.
Penerapan metode wafa yang telah dilakukan dalam pembelajaran Al- Qur‟an dengan penggunan metode terkait tiap aspek yaitu aspek kesuksesan dalam proses
pembelajaran tergolong efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran khususnya
pembelajaran Al- Qur‟an pada anak- anak.
2. Qurrota‟yun Via Nurrahma
“Penerapan Metode
Wafa dalam
Meningkatkan Keberhasilan pada Program Tahfidzul Qur‟an Siswa Kelas 6 di SDIT Nurul Fikri Sidoarjo”
Untuk mengetahui
bagaimana penerapan metode Wafa dalam meningkatkan keberhasilan pada program tahfidzul Qur‟an
Hasil penelitian menunjukkan bahwa,penerapan metode Wafa pada program tahfidzul Qur‟an siswa kelas 6 di SDIT Nurul Fikri Sidoarjo dilakukan secara fleksibel,
penerapan metode Wafa pada program tahfidzul Qur‟an kelas 6 di SDIT Nurul Fikri dapat dinyatakan berhasil karena lebih dari setengah jumlah keseluruhan siswa
sudah dapat menyelesaikan hafalan pada target juz 30
3. M. Amin Al- Kuthi
Peranan Taman Pendidikan Al- Qur‟an (TPQ) Syafaatul Qubra dalam Meningkatkan Kemampuan
Membaca Al-Qur‟an bagi Anak Usia Sekolah Dasar di
Dasan Kuran
Kecamatan Selong Lombok Timur
Peranan Taman Pendidikan Al-Qur‟an (TPQ) Syafaatul Qubra dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al- Qur‟an bagi Anak Usia Sekolah Dasar
penekanan dalam memperbaiki bacaan Al-Qur‟an dan membimbing peserta didik untuk menghafal Al- Qur‟an di usia dini
Relevansi penelitian di atas dengan penelitian ini adalah sama-sama berkaitan denganpenerapan Metode Wafa dalam Pembelajaran Al-Qur‟an, pendekatan yang digunakan sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif, tehnik pengumpulan data sama-sama menggunakan tehnik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data sama-sama menggunakan Model Miles & Huberman. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data ialah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Sedangkan perbedaannya adalah:
1. Skripsi yang ditulis oleh Herman Jayadi Mahasiswa Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Tahun 2017 dengan judul “Penerapan Metode Wafa Dalam Pembelajaran Al-
Qur‟an di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Anak Soleh 2 Mataram Pada Kelas III Samudra Pasai Tahun Ajaran 2017.” Lebih menekankan pada aktivitas atau proses penerapan metode Wafa sedangkan penelitian ini lebih menekankan pada hasil dari proses penerapan metode Wafa.
Sehingga teori yang digunakan oleh Herman Jayadi yakni teori pembelajaran yang dimulai dari kegiatan membuka pelajaran dan mencakup pelaksanaan pelajaran, sedangkan peneliti menggunakan teori efektivitas yang cakupannya meliputi ketepatan waktu dan tercapainya suatu tujuan pembelajaran Al-Qur‟an yang menggunakan metode Wafa di SDIT Anak Soleh I Mataram. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang penerapan dari penggunaan metode Wafa dan model TANDUR dalam pembelajaran Al-Qur‟an yang mengoptimalkan potensi peserta didik dalam bidang Al-Qur‟an dan tahfidznya.10
2. Skripsi yang ditulis oleh Qurrota‟yun Via Nurrahma Mahasiswa Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya Tahun 2018 dengan judul “Penerapan Metode Wafa dalam Meningkatkan Keberhasilan pada Program Tahfidzul Qur‟an Siswa Kelas 6 di SDIT Nurul Fikri Sidoarjo.” Penelitian yang dibahas oleh peneliti disini adalah segi objek penelitiannya, lebih menekankan pada keberhasilan pada program tahfidzul Qur‟an yang menggunakan metode Wafa. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang keberhasilan dalam
10Herman Jayadi, Penerapan Metode Wafa dalam Pembelajaran Al-Qur‟an di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Anak Soleh 2 Mataram pada Kelas III Samudra Pasai, (Skripsi, FTK UIN Mataram, Mataram, 2017).
menghafal Al-Qur‟an yang menggunakan metode Wafa menjadi lebih mudah dengan bantuan gerakan sesuai dengan terjemah ayat yang dibaca.11 3. M. Amin Al-Kuthi dengan judul, “Peranan Taman Pendidikan Al-Qur‟an
(TPQ) Syafaatul Qubra dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al- Qur‟an bagi Anak Usia Sekolah Dasar di Dasan Kuran Kecamatan Selong Lombok Timur”. Penelitian yang dilakukan oleh M.Amin Al-Kuthi lebih menekankan pada peran TPQ dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur‟an bagi anak usia sekolah dasar. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang penekanan dalam memperbaiki bacaan Al-Qur‟an dan membimbing peserta didik untuk menghafal Al-Qur‟an di usia dini.12
Sedangkan penelitian sekarang lebih menekankan kepada efektivitas penerapan metode wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an di kelas III Uwais SDIT Anak Sholeh Mataram tahun pelajaran 2019/2020.
Pembahasan dalam penelitian ini adalah tentang hasil dari penerapan metode Wafa pada pembelajaran Al-Qur‟an yang berkaitan dengan membacanya. peneliti lebih memfokuskan pada langkah-langkah penerapannya serta upaya yang dilakukan dalam memecahkan masalah tersebut dalam menerapkan metode Wafa dalam pembelajaran Al-Qur‟an.
Selain itu adapun perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian yang dilakukan oleh Herman Jayadi adalah pada fokus penelitian yang
11 Qurrota‟yun Via Nurrahma, “Penerapan Metode Wafa dalam Meningkatkan Keberhasilanpada Program Tahfidzul Qur‟an Siswa Kelas 6 diSDIT Nurul Fikri Sidoardjo, (Skripsi, FTK UIN Sunan Ampel Surabaya, 2018).
12 M. Amin Al-Kuthi dengan judul, “Peranan Taman Pendidikan Al-Qur’an Syafaatul Qubra dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Bagi Usia Anak Sekolah Dasar Kuran Kec. Selong Lombok Timur” (Skripsi, IAIN Mataram, Mataram, 2013).
diteliti, yang mana penelitian Herman Jayadi lebih menekankan pada langkah-langkah penerapan metode Wafa dengan menggunakan teori pembelajaran yang dimulai dari kegiatan membuka pelajaran dan mencakup pelaksanaan pelajaran. Sedangkan penelitian sekarang lebih menekankan pada hasil dari proses penerapan metode Wafa, dengan menggunakan teori efektivitas yang dijadikan sebagai landasan dalam menentukan efektif atau tidaknya penerapan metode Wafa yang diterapkan di kelas IIIUwais SDIT Anak Sholeh I Mataram.
F. Kerangka Teori 1. Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efek yang berarti pengaruh, yang ditimbulkan oleh sebab atau perbuatan, dampak maupun akibat.Kata efek tersebut kemudian menjadi kata efektif yang berati tepat, mujarab, tepat guna, dan berhasil.Kata tersebut kemudian menjadi efektivitas yang berarti ketepatgunaan, hasil guna, dan menunjang tujuan.13Efektivitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju dan bagaimana dalam suatu organisasi berhasil mendapatkan hasil yang dicapai dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional.14
Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran tujuan atau target (kuantitas, kualitas dan waktu) yang telah dicapai atau hasil nyata yang diterapkan. Adapun pengertian efektivitas
13www. Maxmanroe.com/vid/manajemen/pengertian-efektivitas. Html, diakses tanggal 21 Januari 2020, pukul 21.05.
14Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2011), h. 82.
secara umum menunjukkan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan.
Menurut Binaro, efektifitas pada umumnya terkait dengan keberhasilan pencapaian tujuan dan sasaran.15Sedangkan Sri Haryani menyatakan bahwa pada dasarnya efektivitas yang umum menunjukkan pada taraf tercapainya hasil dan senantiasa dikaitkan dengan pengertian efisien. Efektivitas menekankan pada hasil yang dicapai, sedangkan efisiensi lebih melihat pada ketercapaian hasil dengan membandingkan antara input maupun outputnya.16Adapun pendapat Gibson menyatakan bahwa efektivitas adalah “Suatu penilaian yang dibuat sehubungan dengan prestasi individu, kelompok, dan organisasi.Jika prestasi sudah mencapai standar, maka akanlebih efektif dalam menilai kemampuan anak didik. Jadi, dapat dikatakan bahwa sebuah kegiatan dikatakan efektif apabila tujuan tersebut dapat dicapai, terlaksanya semua tugas pokok, ketepatan waktu, dan adanya partisipatif dari anggota.
Secara umum beberapa tolak ukur atau kriteria efektivitas ialah sebagai berikut:17
a. Efektivitas keseluruhan yaitu sejauh mana seseorang atau organisasi melaksanakan seluruh tugas pokoknya.
b. Produktivitas yaitu kuantitas jasa pokok yang dihasilkan seseorang kelompok atau organisasi.
15Choirul Fuad Yusuf (Ed), Efektivitas POKJAWAS dan Kinerja Pengawas, (Jakarta: Pena Citasatria, Cet., 1, 2008), h. 6.
16Ibnu Hasan Muchtar dan Farhan Muntafa, Efektivitas FKUB dalam Pemeiharaan Kerukunan Umat Beragama, (Jakarta: Puslitbang KEMENAG RI, 2015), h. 6.
17 E. Mulyasa, Manajemen Berbasis…, h. 85-86.
c. Efisiensi yaitu ukuran perbandingan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
d. Kualitas yaitu tingkat dan kualitas usaha, jasa, tujuan, hasil, dan kemampuan peserta didik yang diperoleh dari peserta didik dan sekolah.
e. Konsensus tujuan yaitu cara anggota masyarakat, orang tua, dan peserta didik menyepakati tujuan yang sama di sekolah.
f. Penilaian oleh pihak luar yaitu penilaian yang layak mengenai sekolah oleh individu, organisasi, dan kelompok dalam masyarakat yang berhubungan dengan sekolah.
Menurut Wortuba dan Wright sesuatu itu dikatakan efektif jika dilihat dari beberapa indikator, yaitu:18
1) Pengorganisasian materi yang baik 2) Komunikasi yang efektif
3) Penguasaan dan antusiasme terhadap materi pelajaran 4) Sikap sositif terhadap siswa
5) Pemberian nilai yang adil
6) Keluwesan dalam pendekatan pembelajaran 7) Hasil belajar siswa yang baik
Sedangkan menurut E. Mulyasa mengatakan bahwa, indikator- indikator efektivitas dapat dijelaskan sebagai berikut:19
18Hamzah B.Uno dan Nordin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan…, h. 174-190.
19E. Mulyasa, Manajemen Berbasis…, h. 84.
1. Indikator input; meliputi karakteristik guru, fasilitas, perlengkapan, dan materi pendidikan serta kapasitas manajemen.
2. Indikator Process; meliputi prilaku administrasi, alokasi waktu guru, dan alokasi waktu peserta didik.
3. Indikator output; berupa hasil-hasil dalam bentuk perolehan peserta didik, dan dinamikanya sistem sekolah, hasil-hasil yang berhubungan dengan prestasi belajar, dan hasil-hasil yang berhubungan dengan sikap, keadilan, dan kesamaan.
4. Indikator outcome; meliputi jumlah lulusan ketingkat pendidikan berikutnya, prestasi belajar di sekolah yang lebih tinggi dan pekerjaan, serta pendapatan.
Dari aspek tersebut menyatakan bahwa ketercapaian pembelajaran dengan metode Wafa memberikan hasil yang baik dikarenakan dari setiap indikator dijalankan sesuai dengan pedoman Wafa itu sendiri. Adapun dari segi prosesnya belum secara sempurna diterapkan karena sebagian guru yang mengajar metode Wafa tidak mengikuti pelatihan Wafa.
2. Metode Wafa
a. Pengertian Metode Wafa
Dalam mendefenisikan metode pengajaran Wafa terlebih dahulu dikemukakan pengertian metode. Secara etimologi, “metode berasal dari kata method yang berarti suatu cara kerja yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan dalam mencapai suatu tujuan dari
suatu proses pembelajaran.” 20 Sedangkan menurut Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno dalam bukunya mengungkapkan bahwa, “metode merupakan suatu cara yang digunakan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.” 21 Jadi, dapat ditarik kesimpulan dari definisi tersebut bahwa metode dalam pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang sistematis, yang dapat digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan dari suatu proses pembelajaran.
Metode Wafa merupakan salah satu metode Al-Qur‟an untuk pemula yang nantinya menjadi alternatif pemecahan kesulitan belajar anak dalam pembelajaran Al-Qur‟an yang kemudian dicari kerangka pembelajarannya berdasarkan teori yang mendasarinya. Adapun metode tersebut cukup praktis sehingga anak-anak akan merasa senang dan dapat menumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur‟an dengan menghadirkan pembelajaran yang menggairahkan, tidak membosankan, bahkan membuat peserta didik ketagihan untuk terus belajar.22
Difinisi yang lain tentang metode Wafa diartikan sebagai suatu metode pembelajaran Al-Qur‟an yang mengacu pada lima buku Wafanya, dimana masing-masing buku tersebut menggunakan langkah-langkahnya sendiri yang diajarkan dari kelas satu, dua, dan
20Ahmad Munjir Nasih & Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Refika Aditama, 2013), h 29.
21Puput Fathurrahman & M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami (Bandung: PT Refika Aditama, 2014), h. 15.
22Musa‟adatul Fithriyah, “Pengaruh Metode Wafa terhadap Kemampuan Anak Membaca Al-Qur‟an di MI Al-Hidayah Mangkujajar Kembangbahu Lamongan”, Elementaris: Vol. 1, Nomor 1, Mei 2019, h. 45.
tiga. Adapun dalam penerapannya diterapkan metode otak kanan yaitu pembelajaran yang diselingi dengan irama-irama dari lagu hijaz.23 Metode Wafa juga diartikan sebagai suatu metode belajar Al-Qur‟an holistik dan komprehensif dengan otak kanan yang merujuk pada konsep QuantumTeaching dengan pola pembelajaran TANDUR yaitu Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan yang nantinya menawarkan konsep belajar untuk peserta didik serta mengemukakan cara guru menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif bagi semua peserta ddik.24
b. Sejarah Singkat Metode Wafa
Metode ini tergolong baru dalam pembelajaran Al-Qur‟an yang mana metode ini muncul sekitar 4 tahun yang lalu di daerah Surabaya dan Jawa-Timur.Wafa dipelopori oleh KH. Muhammad Shaleh Drehem, Lc. dan juga merupakan pendiri dari Pembina Yayasan Syafaatul Qur„an Indonesia (YAQIN) dengan dibantu penyusun Wafa KH. Dr. Muhammad Baihaqi, Lc. MA. Metode ini dikenal dengan metode Wafa yakni pembelajaran Al-Qur‟an yang menggunakan otak kanan, dimana lahir sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan sistem pendidikan Al-Qur„an yang lebih komprehensif disertai penanaman rasa cinta kepada Al-Qur„an yang nantinya bertujuan
23 http://santrinews.com/Daerah/5623/YAQIN-Kenalkan-Metode-WAFA-Hafalkan-Al- Qur‟an, diakses tanggal 19 Februari 2020, Pukul 17.05.
24Rini Nurul Hikmi, Agus Halimi, dkk, “Efektivitas Metode Wafa dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur‟an (BTQ) di MI Miftahul Huda Bandung”, Vol. 4, Nomor 2, Tahun 2018, h. 2.
untuk menanamkan kedekatan terhadap Al-Qur„an.25
YAQIN berusaha untuk menghadirkan sistem pendidikan Al- Qur‟an yang sifatnya komprehensif dan integratif dengan metodologi yang dikemas secara menarik dan menyenangkan. Adapun sistem pembelajarannya mencakup 5 T yakni Tilawah, Tahfidzh, Tarjamah, Tafhim dan Tafsir. Metode Wafa merujuk pada konsep Quantum Teaching dengan menggunakan pendekatan otak kanan (asosiatif, imajinatif, dan lain-lain). Kemudian dari kelima program tersebut merupakan program yang pertama kali diluncurkan yang dikemas dengan dunia anak.26
Dari penjelasan diatas, metode Wafa berusaha untuk memberikan dan menyediakan lingkungan dan suasana belajar Al- Qur„an yang menyenangkan bagi anak didik, dan tidak mengabaikan potensi maupun karakteristik anak yang berbeda-beda. Adanya Al- Qur‟an ini menjadikan hati tentram dan nyaman. Adapun pendapat Sufyan ibn „Uyainah menyatakan bahwa ketika seorang hamba mendengarkan Kitabullah atau Sunah Nabi saw dengan niat yang benar seperti yang Allah inginkan, Allah akan memberinya pemahaman sebagaimana yang dia inginkan, dan menciptakan cahaya dalam hatinya.27
25Tim Penyusun Wafa, Buku Wafa 1, (Surabaya: Yayasan Syafaatul Quran Indonesia, 2012), h. 45.
26Tim Penyusun Wafa, Buku Pintar Guru Wafa, (Surabaya: Yayasan Syafaatul Quran Indonesia, 2014), h. 1.
27Je Abdullah, Lima’ Yuhyikum yang Menghidupkan Metode Bhatatsa, (Pejeruk Ampenan Mataram Lombok NTB: Elumme, 2018), h. 74.
Pembelajaran Wafa dikenal dengan pembelajaran yang berbasis metode otak kanan. Otak merupakan suatu organ tubuh yang bersifat elektrokimia yang dispekulasi dapat menghasilkan energi listrik sebanyak 10 watt. Di dalamnya terdapat gelombang otak yang menandakan aktifitas pikiran seseorang.28
Otak kiri memiliki karakteristik yang teratur, analitis, runut (sistematis), logis, dan karakter-karakter terstuktur lainnya.
Disamping itu, manusia juga membutuhkan kerja otak kiri untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan data, urutan, angka, dan logika. Adapun otak kanan, memiliki karakteristik yang berhubungan dengan irama, ritma, musik, gambar, dan imajinasi, semua ini merupakan aktifitas kreatif dari hasil kerja otak kanan itu sendiri. Tabel 1.2 berikut menunjukkan lebih detail perbedaan otak kiri dan otak kanan.
Perbedaan Otak Kiri dan Otak Kanan29
Otak Kiri Otak Kanan
Memilih sesuatu yang berurutan.
Belajar lebih baik dari bagian-bagian, kemudian keseluruhan.
Lebih memilih sistem membaca fonetik.
Menyukai kata-kata, simbol, dan huruf.
Merasa lebih nyaman dengan sesuatu yang acak.
Paling baik belajar dari keseluruhan, kemudian bagian-bagian.
Lebih memilih sistem membaca seluruh bahasa.
Menyukai gambar, grafik, dan diagram.
Lebih memilih melihat atau
28Muhyiatul Fadilah, “Eksplanasi Ilmiah Metode Hipnotis terhadap otak anak”, Jurnal Filsafat Indonesia, Vol. 1 Nomor 1 2018, h. 10.
29Agus Zainul Fitri, Reinventing Human Character: Pendidikan Karakter Berbasis Nilai
& Etika di Sekolah, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 64.
Lebih memilih membaca subjeknya terlebih dahulu.
Mau berbagi informasi faktual yang berhubungan.
Lebih memilih instruksi yang berurutan secara detail.
Mengalami fokus internal lebih besar.
Menginginkan struktir dan prediktabilitas.
mengalami subjeknya terlebih dahulu.
Mau berbagi informasi tentang hubungan antara segala sesuatu.
Lebih memilih yang spontan, lingkungan pembelajaran yang mengalir.
Mengalami fokus eksternal yang lebih besar.
Menginginkan pendekatan yang tak terbatas, baru, dan mengejutkan.
Gamal menjelaskan bahwa otak manusia terbagi menjadi 4 bagian, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), batang otak (brainstem), dan sistem limbik (limbic system).30Adapun menurut Clark dan Gowan tentang teori belahan otak (Hemisphere Theory) yaitu sesungguhnya otak manusia terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan (right hemisphere) dan belahan kiri (left hemisphere). Dimana otak kiri mengarah kepada cara berfikir konvergen (convergent thinking), sedangkan otak belahan kanan lebih mengarah kepada cara berfikir menyebar(divergent thinking).31
Menurut para ahli, jika kedua belahan otak difungsikan secara maksimal dan seimbang, maka manusia lebih mudah dalam belajar, menghafal, mengingat lebih banyak, bebas stres dan konsentrasi semakin baik. Dari sinilah terdapat tujuan dari aktivitas otak yaitu untuk merangsang keseluruhan otak agar bisa bekerja secara
30Wigati, Sutriyono, “Deskripsi Penggunaan Otak Kiri dan Otak Kana pada Pembelajaran Matematika Materi Pola Bagi Siswa SMP”, Wigati/JMP Online Vol. 1 No. 10 Desember (2017) 1021-1030, h. 1023.
31Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), h. 40.
maksimal serta untuk menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri.32
Terlihat dari cara diaktifkannya otak, maka proses berfikirnya juga akan jernih dan menjadikan kualitas hidup seseorang menjadi lebih baik. Adapun manfaat dari aktivasi otak diantaranya adalah :
1) Mengaktifkan dan memaksimalkan fungsi otak secara keseluruhan.
2) Sinkronisasi otak kiri dan otak kanan.
3) Mengasah kemampuan otak kanan dan otak kiri secara seimbang.
4) Meningkatkan konsentrasi.
5) Memperkuat daya ingat dan mencegah kepikunan dini.
6) Menjadi lebih kreatif dalam mencari ide atau memecahkan masalah.
7) Memunculkan semangat, motivasi dan meningkatkan energi.
8) Efisiensi energi (Membuat anda tidak cepat lelah).
9) Meningkatkan daya tangkap (kemampuan memahami).
10) Mempertajam kemampuan berfikir analitis.
11) Merangsang kecerdasan emosional(EQ).
12) Meningkatkan kecerdasan spiritual (SQ).
13) Meningkatkan kemampuan relaksasi.33
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode Wafa adalah suatu cara guru dalam menerapkan pembelajaran Al- Qur‟an yang berbasis otak kanan atau lebih kepada auditorialnyamengenai rangsangan suara yang diterima oleh otak melalui telinga dan mata dan nantinya menumbuhkan rasa cintanya terhadap Al-Qur‟an dengan menghadirkan pembelajaran yang menggairahkan dan menyenangkan baik dalam bentuk cerita maupun irama.
32Nandang Kosasih dan Dede Sumarna, Pembelajaran Quantum dan Optimalisasi Kecerdasan, (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 186.
33Ibid., h. 188.
c. Keunggulan Metode Wafa
Menurut Musa‟adatul Fithiriyah terdapat keunggulan dari penerapan metode Wafa yaitu suatu metode pembelajaran Al-Qur‟an yang memiliki sistem pembelajaran yang dikemas secara menarik dengan cara mengoptimalisasi otak kiri dan otak kanan sehingga pembelajaran tersebut bersifat kreatif dan menyenangkan serta memiliki hafalan yang kuat. Dari keunggulan tersebut membuat peserta didik lebih mudah dalam memahami pembelajaran Al-Qur‟an dengan cara menarik dan menyenangkan, yang mana pembelajaran Al-Qur‟an dengan metode Wafa menggunakan lagu Hijaz yang diimprovisasikan kepada peserta didik karena penerapannya adalah untuk anak-anak SD, maka nada hijaz yang digunakan agak sedikit diimprovisasi dari lagu hijaz yang asli, dengan tujuan nantinya akan mempermudah anak-anak untuk melagukannya.
Maka dari itu, anak yang memiliki kecendrungan gaya belajar auditorial juga nantinya terfasilitasi dengan baik dan mudah. Dimana dalam modalitas belajar auditorial ini, dapat mengakses segala bunyi dan kata, nada, irama, musik, dialog dan suara sangat menonjol dalam modalitas tesebut dan lebih mengandalkan kemampuan mendengar dan mengingat serta banyak bicara.34
d. Administrasi Pembelajaran dengan metode Wafa
Pembelajaran yang menggunakan metode Wafa terdapat
34Musa‟adatul Fithriyah, “Pengaruh Metode Wafa terhadap Kemampuan Anak Membaca Al-Qur‟an di MI Al-Hidayah Mangkujajar Kembang bahu Lamongan”, Elementaris: Vol. 1, Nomor 1, Mei 2019, h. 47-48.
administrasi pembelajarannya terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.2
Daftar Administrasi Pembelajaran Al-Qur„an dengan Metode Wafa No Form Sifat Kepemilikan
Dokumen
Pengisian Dokumen
Pelaporan Dokumen 1 Buku Prestasi Harian Siswa Guru Ortu
2 Presensi Kehadiran
Harian Guru Guru Koord Al-Qur‟an
3 Jurnal
Pembelajaran
Harian Guru Guru Koord al-Qur‟an
4 Daftar Perkembanga n Siswa Per Kelompok
Pekan an
Guru Guru Koord Al-Qur‟an
5 Daftar Perkembanga n Siswa Per Kelas
Bulana n
Koord Kelas Koord Kelas
Koord Al-Qur‟an
6 Daftar Perkembanga n Sekolah
Bulana n
Koord Al- Qur‟an
Koord Al- Qur‟an
Wafa dan
Wakakur
7 Rapor Al-
Qur‟an
Semes ter
Guru Kelas Guru Ortu
8 Promes (Program Semester)
Semes ter
Guru Guru Koord Al-Qur‟an
9 RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
Harian Guru Guru Koord Al-Qur‟an
e. Strategi Pembelajaran Metode Wafa
Metode Wafa diterapkan dengan strategi pembelajaran Quantum yang menekankan pada kebermutuan proses pembelajaran.
Pembelajaran Quantum merupakan suatu model pembelajaran yang pelaksanaannya terencana dengan baik dan menjadi petunjuk dari seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman maupun daya ingat, serta menjadikan pembelajaran tersebut menjadi lebih menyenangkan dan bermanfaat.35
Dalam pembelajaran Al-Qur‟an, terdapat metode keteladan bagi pendidik dalam memberikan prilaku yang baik kepada peserta didik sehingga tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya.36
Dari penjelasan mengenai strategi dalam pembelajaran Wafa tersebut menggunakan model TANDUR dengan dua jenis pertemuan seperti yang digambarkan pada kedua tabel di bawah ini, yaitu:
1) Pengenalan konsep dengan tahapan pembelajaran TANDUR KONSEP.37
Tahapan Kegiatan Waktu
Tumbuhkan Tanya kabar, do‟a, cerita, nonton film, menyanyi, (diselingi mengulangi materi sebelumnya, murajaah hafalan sebelumnya)
5‟
Alami Membayangkan konsep, simulasi, praktek
35Nandang Kosasih dan Dede Sumarna, Pembelajaran Quantum…, h. 76.
36Syukri, Metode Khusus Pendidikan dan Pembelajaran, (Jakarta: PrenadamediaGroup 2019), h. 36.
37Muhammad Baihaqi, Wafa Belajar Al-Qur’an…, h. 21.
Namai Penjelasan, penanaman konsep
Demonstrasikan Mendemonstrasikan konsep dengan mengggabungkan antara membaca dan melakukan sehingga seluruh siswa dapat terlibat secara aktif:
Pengayaan dan penguatan konsep dalam bentuk permainan yang memaksimalkan perbaikan siswa
Baca tiru dengan alat peraga
12‟
Ulangi Baca simak dengan buku Wafa
Baca simak klasik (yang lain menyimak)
25‟
Murajaah hafalan sebelumnya secara individu kemudian bersama-sama
10‟
Rayakan Pemberian Reward (stempel), hadiah, yel-yel, bintang
3‟
2) Pengutan Konsep dan Drill dengan tahapan pembelajaran TANDUR PENGUATAN.38
Tahapan Kegiatan Waktu
Tumbuhkan Tanya kabar, do‟a, cerita, nonton film, menyanyi, (diselingi mengulangi materi sebelumnya, murajaah hafalan sebelumnya
5‟
Alami Mencontohkan materi konsep untuk penguatan Namai Penjelasan materi konsep untuk penguatan
Demonstrasikan Mendemonstrasikan konsep dengan menggabungkan antara membaca dan melakukan sehingga seluruh siswa dapat terlibat secara aktif:
Baca tiru dengan alat peraga yakni
Guru membaca, siswa menyimak
Guru membaca, kelompok yang ditunjuk meniru
Siswa membaca, siswa yang lain menirukan
7‟
Ulangi Baca simak dengan buku Wafa
Baca simak klasik (yang lain menyimak)
28‟
Murajaah hafalan sebelumnya secara individu kemudian bersama-sama
12‟
Rayakan Pemberian Reward (stempel), hadiah, yel-yel, bintang
3‟
Quantum Teaching dalam pelaksanaannya memiliki 6 langkah-
38Ibid., h. 22.
langkah yang tercermin dalam istilah TANDUR yang merupakan singkatan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Arti dengan Tumbuhkan adalah tumbuhkan dengan memuaskan, yakni apakah manfaat pelajaran tersebut bagi guru dan peserta didik.Alami yakni menciptakan dan datangkan pengalaman belajar kepada peserta didik yang nantinya dapat dimengerti semua peserta didik.Namai yaitu penyediaan kata kunci, konsep, model, rumus, dan strategi yang kemudian menjadi sebuah masukan bagi anak. Demonstrasikan adalah suatu cara yang disediakan bagi pelajar secara aktif dalam memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengaitkan pengalaman terdahulu dengan pengalaman pribadi.
Ulangi adalah tahap untuk merekatkan atau mengulangi kembali gambaran materi secara keseluruhan.Selanjutnya yang dimaksud rayakan adalah pemberian pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan perolehan keterampilan maupun ilmu pengetahuan.39
3. Pembelajaran Al-Qur’an
a. Pengertian Pembelajaran Al-Qur‟an
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Pembelajaran mempunyai makna proses, atau cara menjadikan orang belajar.
Adapun pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan mempelajar.”40 Menurut Winkel, dalam Sobry Sutikno pembelajaran diartikan sebagai seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses
39 Bobby DePorter dan Mike Hercacki, Quantum Learnig: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, terj. Alwiyah Abdurrahman, (Bandung: Penerbit Kaifa, 2000), cet. 2, h. 66-67.
40KBBI, (Mataram: Gistamedia Press, 2007), h. 27.
belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian-rangkaian kejadian internal yang berlangsung di dalam diri peserta didik.41
Dari proses belajar ini, peserta didik dapat mengimplementasikan program perubahan perilaku dasar yang nantinnya akan membantu mereka untuk menentukan tujuan, mengobservasi pekerjaannya sendiri, mencatat perkembangan perilaku, dan mengevaluasi kinerjanya sendiri. Akhirnya, mereka dapat memberikan penguatan pada dirinya sendiri dan mampu mengatur langkah kerjanya di masa datang sehingga siswa mampu lebih mandiri.42
Al-Qur‟an secara teminologi diartiakan sebagai Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.melalui perantara malaikat Jibril dengan lafaz dan maknanya, yang mana awal surahnya dimulai dengan Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Nas, dan bernilai ibadah (berpahala) bagi siapapun yang membacanya.43
Maka jika ditarik kesimpulan dari uraian diatas, pembelajaran Al-Qur‟an adalah proses perubahan tingkah laku peserta didik melalui proses belajar, membimbing, mengajar, dan melatih peserta didik untuk membaca Al-Qur‟an dengan fasih, sesuai dengan makharijul huruf yang benar dan menggunakan kaidah ilmu tajwid.
41Sobry Sutikno, Belajar dan Pembelajaran, (Lombok: Holistica, 2015), h. 31.
42Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 44.
43Kadar M. Yusuf, Studi Al-Qur’an…, h.166.
Adapun dasar dari pembelajaran Al-Qur‟an yaitu dalam surat Al-Alaq ayat 1-5.
َقَلَخ يِذَّلا َكِبَر ِنْساِب ْأَرْقا *
قَلَع ْنِه َناسّْنِإْلا َقَلَخ
* مَرْكَأْلا َكُبَر َو ْأَرْقا
* َنَلَع يِذَّلا
نَلَقْلاِب
* نَلْعَي ْنَل اه َناسّْنِإْلا َنَلَع
Artinya:”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha mulia.Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.44
Surat Al-Ankabut ayat 45:
ةلاَصّلا ِنِقَأ َو ِباتِكْلا َنِه َكْيَلِإ َيِحوُأ اه ُلْتا
Artinya:“Bacalah Kitab (Al-Qur‟an) yang telah diwayukan kepadaMU (Muhammad) dan laksanakanlah salat.”45
Dari ayat-ayat diatas, dapat diketahui bahwa Allah swt telah menyerukan kepada umat Islam untuk mempelajari Al-Qur‟an yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang karena mempelajarinya adalah wajib disamping juga mendirikan shalat.46
Ayat diatas dimaksudkan yakni dengan membaca Al-Qur‟an, diutamakan membaca, kemudian di dalamnya di anjurkan untuk memahaminya dan bukan hanya sekedar membaca dengan tanpa pemahaman terhadap arti maupun maknanya. Maka dari itu, kata iqra pada ayat tersebut di ulang yang mengisyaratkan bahwa kecakapan
44Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Surabaya: HALIM, 2013), h. 597.
45Ibid., h. 395.
46 https://www.google.com/search?safe=strict&client=ms-android,diakses tanggal 14 Desember 2019, pukul 14.06.
dalam membaca akan di peroleh dengan mengulang-ulang.
b. Tujuan Pembelajaran Al-Qur‟an
Dari sejarah diturunkannya Al-Qur‟an, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur‟an mempunyai tiga tujuan pokok:
1) Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan atas kepastian adanya hari pembalasan.
2) Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.
3) Petunjuk mengenal syari‟at dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Dengan kata lain yang lebih singkat, “Al-Qur‟an adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.47
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur‟an begitu penting bagi umat manusia karena di dalamnya terkandung berbagai mukjizat dan menjadi pedoman hidup manusia ke jalan yang benar. Dalam mengajarkan mengajarkan Al-Qur‟an harus member perhatian yang seimbang terhadap ayat-ayat bacaan, karena bertujuan untuk:
1) Murid-murid dapat membaca kitab Allah dengan benar, baik dari segi ketepatan harokat, waqof (tempat-tempat berhenti) dan membunyikan huruf-huruf dengan makharjnya.
2) Siswa siswi mengerti makna Al-Qur‟an dan berkesan dalam jiwanya.
47M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2003), h. 33.
3) Menimbulkan rasa haru khusyuk dan tenang serta takut kepada Allah Swt.
4) Mengajarkan dan membiarkan istilah-istilah yang tertulis baik waqaf, mad, idgham dan lainnya.
Adapun urgensi tilawah Al-Qur‟an sebagai berikut:
1) Tilawah Al-Qur‟an adalah salah satu ibadah istimewa dengan pahala yang berlipat-lipat.
2) Sebagai sarana pembentengan, penjagaan,perlindungan dan pembimbing diri dan kekhusyukan.
3) Sarana tadabbur untuk memahami kandungan Al-Qur‟an dan hukum syari‟ah.
4) Sarana untukmemperoleh syafa‟at Al-Qur‟an pada hari kiamat.
5) Dan salah satu faktor penentu derajat seseorang si sisi Allah (pada harikimat).48
c. Model Pembelajaran Al-Qur‟an
Saat ini model maupun metode dalam pembelajaran Al-Qur‟an sangat beragam. Di dalamnya terdapat berbagai model yang dapat dikaji, yang nantinya disusun berdasarkan berbagai prinsip yaitu sebagai berikut:
1) Model Problem Base Learning (PBL)
Problem Base Learning adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dalam hal
48 Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2008), h. 78.
menghadapkan para peserta didik tersebut dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan model tersebut, peserta didik dari sejak awal sudah dihadapkan dengan berbagai masalah kehidupannya yang nantinya akan ditemuinya kelak pada saat mereka sudah lulus dari bangku sekolah.
2) Model Guru Asuh
Guru asuh diartikan dalam model pembelajaran Al-Qur‟an adalah suatu usaha dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimal atau bimbingan yang senantiasa diberikan oleh Bapak dan Ibu guru kepada peserta didik dalam mengenal huruf Al-Qur‟an (Hijaiyah), makhorijul huruf, dan kaidah dalam membaca Al-Qur‟an (tajwid).49
d. Pokok Bahasan Jilid Wafa a) Pokok bahasan jilid I
1) Huruf tunggal berharokat fathah contoh (ma, ta, sa, ya, ka, ya, ro, da).
2) Huruf sambung berharokat fathah.50 b) Pokok bahasan jilid II
1) Bunyi “i”.
2) Bunyi “u”.
3) Bunyi “an”(tanwin).
49Tri Oktiana Endah Pratiwi, “Model Pembelajaran Al-Qur‟an Untuk Meningkatkan Kualitas Bacaan Siswa, (Skripsi, FAI Universitas Muhammadyah Surakarta, 2013), h. 8-9.
50 Tim Wafa, Wafa Belajar Al-Qur’an Metode Otak Kanan Buku I , (Surabaya: Yaqin:
2012), iii.