• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan tugas akhir asuhan kebidanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "laporan tugas akhir asuhan kebidanan"

Copied!
278
0
0

Teks penuh

(1)

OLEH : WIDYA LESTARI NIM. P07224118035

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR JURUSAN KEBIDANAN

PRODI DIII KEBIDANAN BALIKPAPAN

2021

(2)

OLEH : WIDYA LESTARI NIM. P07224118035

Laporan Tugas Akhir ini di ajukan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Diploma III Kebidanan

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR JURUSAN KEBIDANAN

PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN

2021

(3)

TAHUN 2021

WIDYA LESTARI

Laporan Tugas Akhir ini telah disetuji, diperiksa dan dipertahankan dihadapan Tim Penguji Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timut

Jurusan Kebidanan Prodi D-III Kebidanan Balikpapan

pada Tanggal Maret 2021

Penguji Utama

Ni Nyoman Murti, M.Pd (………)

NIP. 196507211991012001

Penguji I

Hj. Eli Rahmawati, S.SiT., M. Kes (………)

NIP. 197403201993032001

Penguji II

Tuti Widiyaningsih, S.ST (.……….)

NIP. 197305251993032005

Mengetahui,

Ketua Jurusan Kebidanan Balikpapan Ketua Prodi D-III Kebidanan Balikpapan

Inda Corniawati, M. Keb Ernani Setyawati, M. Keb NIP. 197508242006042002 NIP. 198012052002122001

(4)

i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Widya Lestari

Nim : P0.7224118035

Tempat, Tanggal Lahir : Samarinda, 09 Agustus 2000

Agama : Islam

Alamat : Jln. Nangka RT. 12, Bukuan, Palaran, Samarinda Riwayat Pendidikan :

• SD Negeri 004 Samarinda, Lulus Tahun 2012

• SMP Negeri 14 Samarinda, Lulus Tahun 2015

• SMA Negeri 6 Samarinda, Lulus Tahun 2018

• Mahasiswi Poltekkes Kemenkes Kaltim Prodi D-III Kebidanan Balikpapan Tahun 2017 – sekarang

(5)

ii

KATA PERSEMBAHAN

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah, Puji dan syukur kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Dengan hanya ridho-Nya saya dapat menjalani pendidikan

Diploma III Kebidanan sampai akhir titik ini, saya ucapkan kata persembahan ini untuk orang yang selalu ada dan berkesan dalam menjalani masa pendidikan :

TERUNTUK KEDUA ORANGTUA DAN ADIK

Teruntuk bapak dan ibu kedua orang tuaku tersayang, belahan jiwaku, semangat hidupku. Terimakasih sudah melahirkan dan membesarkan mbamit hingga bisa

berada dititik ini titik dima na tidak pernah mba bayangkan sebelumnya.

Terimakasih atas doa, usaha, dan keringat kalian yang tidak akan pernah bisa mba balas. Mbamit beruntung dan bersyukur dilahirkan dari orang tua yang sangat menyayangi anak-anaknya, mba minta maaf karena selama ini banyak merepotkan

bapak dan ibu, semoga bapak dan ibu selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang, doain mba semoga kedepannya bisa menjadi anak yang sukses. Satu hal yang paling penting dan buat mba bahagia di dunia ini yaitu melihat bapak dan ibu

selalu sehat, bahagia dan selalu senantiasa dalam lindungan Allah AWT Aamiin.

Teruntuk adik-adiku tersayang jenung dan fatkhur terimakasih sudah menjadi penyemangat dihidup kakak, terimakasih sudah membuat hidup mba lebih berwarna.

Semoga kalian menjadi anak yang sholeh dan sholehah serta apa yang dicita-citakan tercapai sukses selalu Aamiin.

(6)

iii

TERUNTUK PASIEN SAYA NY. M

Saya sangat berterimakasih pada Ny. M karena saya telah diperkenankan mendampingi dari ibu hamil hingga ber KB. Terimakasih karena telah kooperatif sekali selama saya dampingi. Ibu selalu berusaha membantu saya dalam penyelesaian

tugas akhir saya ini.

TERUNTUK PENGUJI UTAMA

Kepada Ibu Ni Nyoman Murti, M.Pd terimakasih telah menjadi penguji utama LTA saya, terimakasih atas nasehat dan ilmu yang selama ini diberikan pada saya dengan rasa tulus dan ikhlas. Semoga ibu dan keluarga selalu senantiasa diberikan kesehatan

oleh Allah SWT.

TERUNTUK PEMBIMBING AKADEMIK

Kepada Ibu Sekar Handayani M.Keb terimakasih ibu telah menjadi orangtua saya selama dikampus,yang memberikan saya arahan untuk menjadi anak yang rajin,yang siap menegur saya dengan lembut jika saya melakukan kesalahan dan menjadi teman curhat saya disaat saya sedang ada masalah. Semoga Allah senantiasa memberikan

kesehatan pada ibu sekeluarga.

TERUNTUK PEMBIMBING LAPANGAN

Kepada ibu Hj. Eli Rahmawati, S.SiT., M.Kes terimakasih banyak atas bimbingan dan ilmu yang diberikan selama 3 tahun ini dan sampai Widya bisa seperti sekarang

ini. Widya minta maaf karena sudah banyak merepotkan, menyusahkan dan kadang masih mengecewakan ibu, sering mengabaikan ibu dan kadang susah untuk

(7)

iv

mengumpulkan tugas tepat waktu. Banyak hal yang gak bisa Widya lupain dari ibu, Widya belajar dari ibu terutama tentang kesabaran, kedisiplinan dan perjuangan.

Terimakasih karena ibu Eli selalu ada untuk membimbing Widya walaupun Widya bandel selama dibangku perkuliahan ini tapi ibuselalu sabar membimbing Widya,

semoga ini bisa menjadi hadiah kecil untuk ibu. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan pada ibu sekeluarga.

TERUNTUK SAHABAT-SAHABAT

Teruntuk sahabatku yang tercantik ( Tiwi, Karin, Kak Eca, Kinan, Fino, Irma).

Terimakasih kalian sudah menjadi salah satu penyemangatku, penghiburku. Kalau lagi sama kalian seketika beban hidup langsung hilang, banyak hal yang sudah kita lewatin sama sama dari nangis bareng sampai ngakak bareng dan insyaAllah bakal sukses bareng jadi Bidan yang profesional dan bermanfaat bagi semua orang. Jangan

pernah berubah yaa teman-teman.

Teruntuk orang – orang tercinta yang berada dirumah (Mba cie, kak angel, Alm.

Mbah kong, sella, ratna). Terimakasih atas doa dan semangat yang kalian berikan, sudah support aku saat aku ada dititik terbawah dalam kuliah ini, kalian yang tau bagaimana seluk beluk ku. Dan bisa menerima kekuranganku sebagai orang kalian

sayangi, terimakasih kalian sudah menjadi pendengar kalo aku lagi capek lagi ngeluh, banyak kata yang gak bisa tersampaikan buat kalian. Semoga kita sukses sama-sama ya apapun itu yang terjadi kedepannya dan semoga kalian juga sehat-

sehat sekeluarga.

(8)

v

Teruntuk orang special (Bhakti Aldi Paisal) yang ada kalo aku lagi capek lagi pengen cerita selalu dengerin apapun yang aku ceritain, makasih ya supportnya selama ini

makasih udah jadi pendengar yang baik

(9)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat Rahmat dan Hidayah- NYA akhirnya penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul

“Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. M G3P2002 Usia Kehamilan 29 Minggu di Wilayah Kerja Puskesmas Damai Balikpapan Tahun 2021”. Laporan Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan D-III Kebidanan di Program Studi D-III Kebidanan Balikpapan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Kalimantan Timur.

Bersama ini, penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih dengan hati yang tulus kepada :

1. H. Supriadi B., S.Kp., M.Kep., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Kalimantan Timur yang telah memberikan izin dan memfasilitasi kami dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

2. Inda Corniawati, M.Keb., selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Kalimantan Timur.yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan asuhan dan penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

3. Ernani Setyawati, M.Keb., selaku Ketua Prodi D-III Kebidanan Balikpapan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Kalimantan Timur. yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan asuhan dan penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

4. Ni Nyoman Murti,M.Pd selaku Penguji Utama Laporan Tugas Akhir.

(10)

vii

5. Hj. Eli Rahmawati, S.SiT., M.Kes selaku Pembimbing I yang senantiasa mengingatkan dan memberi motivasi penulis untuk segera menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.

6. Hj. Tuti Widiyaningsih, S.ST selaku Pembimbing II yang senantiasa mengingatkan dan memberi motivasi penulis untuk segera menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.

7. Para Dosen dan Staf Pendidikan di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur Prodi D-III Kebidanan Balikpapan.

8. Kedua Orang tua serta keluarga tercinta yang telah membantu dengan doa dan dukungan mental kepada penulis.

9. Ny. M selaku klien Study Kasus Tugas Akhir yang telah bersedia berpartisipasi dan bekerjasama terima kasih untuk kesediaannya dan semua bantuan yang diberikan.

10. Rekan-rekan Mahasiswa D-III Bidan Angkatan 2018 yang senantiasa memberikan dukungan dan semangat dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini. Dan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Penulis berusaha untuk dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini dengan sebaik-baiknya. Namun demikian penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangannya. Hal ini dikarenakan keterbatasan yang ada pada penulis baik pengalaman, pengetahuan dan waktu. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi perbaikan yang akan datang sangat diharapkan. Semoga Allah SWT memberikan balasan atas segala amal yang telah diberikan dan semoga Laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi penulis maupun pihak lain yang membutuhkan.

(11)

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...

RIWAYAT HIDUP ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan 1. Tujuan Umum ... 4

2. Tujuan Khusus ... 5

D. Manfaat Study Kasus 1. Manfaat Praktis ... 5

2. Manfaat Teoritis ... 6

E. Ruang Lingkup ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan 1. Manajemen Varney ... 8

2. Konsep Dasar COC ... 13

3. Konsep SOAP ... 13

(12)

ix B. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan

1. Konsep Dasar Asuhan Kehamilan ... 14

2. Konsep Dasar Asuhan Persalinan ... 21

3. Konsep Dasar Asuhab Bayi Baru Lahir ... 61

4. Konsep Dasar Asuhan Nifas ... 69

5. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Neonatus ... 93

6. Konsep Dasar Keluarga Berencana ... 97

7. Konsep Dasar Asuhan pada Masa Pandemi Covid-19 ... 136

BAB III Subjektif dan Kerangka Kerja Pelaksanaan Studi Kasus A. Kerangka Study Kasus yang Berkesinambungan dengan COC 1. Rancangan Penelitian ... 141

2. Lokasi dan Waktu ... 142

3. Subyek Studi Kasus ... 142

4. Pengumpulan dan Analisis Data ... 142

B. Etika Penelitian 1. Respect For Person ... 145

2. Beneficence dan Maleficence ... 145

3. Justice ... 145

C. Hasil Pengkajian dan Perencanaan Asuhan Komprehensif Sesuai dengan 7 Langkah Varney 1. Pengkajian ... 146

2. Interpretasi Data Dasar ... 157

3. Mengidentifikasi Diagnosa/Masalah Potensial ... 159

4. Menetapkan Tindakan Segera ... 160

(13)

x

5. Menyusun Perencanaan Asuhan yang Menyeluruh ... 160

6. Pelaksanaan Rencana Asuhan/Implementasi ... 160

7. Evaluasi ... 162

BAB IV TINJAUAN KASUS ... 224

1. Dokumentasi Asuhan Kebidanan Antenatal Cari ... 224

2. Dokumentasi Asuhan Intranatal Care ... 229

3. Doumentasi Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir ... 239

4. Dokumentasi Intranatal Care ... 245

5. Dokumentasi Neonatus ... 254

BAB V PEMBAHASAN ... 264

1. Pembahasan ProsesAsuhan kebidanan ... 264

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 284

2. Kesipulan ... 285

3. Saran ... 287

DAFTAR PUSTAKA ... 289

LAMPIRAN ... 291

(14)

vii

DAFTAR TABEL

Tinggi Fundus Uteri ... 16

Tinggi Fundus Uteri dalam cm ... 16

Tafsiran Berat Janin sesuai Usia Kehamilan Trimester III ... 22

Jadwal Pemberian Imunisasi TT ... 24

(15)

viii

DAFTAR GAMBAR

Perubahan Fisiologis pada Persalinan ... 39

Perubahan Fisiologis pada Bayi Baru Lahir ... 62

Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas ... 72

Kerangka Kerja ... 108

(16)

viii

DAFTAR SINGKATAN

AKB : Angka Kematian Bayi

AKDR : Alat Kontrasepsi Dalam Rahim AKI : Angka Kematian Ibu

ANC : Antenatal Care

APN : Asuhan Persalinan Normal APD : Alat Pelindung Diri

APGAR : Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiratory BAB : Buang Air Besar

BAK : Buang Air Kecil BB : Berat Badan BBL : Bayi Baru Lahir Cm : Sentimeter

COC : Continuity Of Care Depkes : Departemen Kesehatan DJJ : Denyut Jantung Janin DLL : Dan Lain-lain

Fe : Ferum

Gr : Gram

H : Hasil

HB : Hemoglobin

HBsAg : Hepatitis B Surface Antigen HIV : Human Immunodeficiency Virus

(17)

viii HPHT : Hari Pertama Haid Terakhir IMD : Inisiasi Menyusui Dini INC : Intranatal Care

IRT : Ibu Rumah Tangga IUD : Intra Uteri Device IV : Intra Vena

KB : Keluarga Berencana

KIE : Komunikasi Informasi Edukasi

KU : Keadaan Umum

LILA : Lingkar Lengan Atas

MDGs : Millenium Development Goals

mg : Miligram

mmHg : Milimeter Hydrargyrum PAP : Pintu Atas Pinggul PB : Panjang Badan

Penkes : Pendidikan Kesehatan PNC : Postnatal Care

PP Test : Test Kehamilan Px : Prosesus xipoideus

RS : Rumah Sakit

SMA : Sekolah Menengah Atas

SOAP : Subjek, Objek, Assesmen, Pelaksanaan Sp. OG : Spesialis Obstetri & Ginekologi

TB : Tinggi Badan

(18)

viii TBC : Tuberkulosis

TBJ : Taksiran Berat Janin TD : Tekanan Darah TFU : Tinggi Fundus Uteri

Tn. : Tuan

TT : Tetanus Toxoid TTV : Tanda Tanda Vital USG : Ultrasonografi

WHO : World Health Organization

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. AKI adalah rasiko kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran hidup (Kemenkes, 2019).

World Health Organization (WHO) memperkirakan di seluruh dunia setiap tahunnya lebih dari 585.000 jiwa per tahun meninggal saat hamil atau bersalin. AKI di Asia Tenggara, salah satunya di Malaysia 39 per 100.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2015 (WHO, 2016). Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) AKI menetap dengan jumlah 305 per 100.000 KH tahun 2015 dan 305 per 100.000 KH tahun 2018 . Sedangkan AKB (Angka Kematian Bayi) menurun dari 32 per 1.000 KH tahun 2015 dan turun menjadi 24 per 1.000 KH tahun 2017 (Profil Kesehatan, 2018). Sementara target AKI yang harus dicapai sesuai kesepakatan SDGs (Sustainable Development Goals) tahun 2030 adalah 70 per 100.000 KH dan AKB 12 per 1.000 KH.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, selama periode 1991-2015 AKI kembali kembali menunjukkan penurunan angka kematian ibu, namun tidak berhasil mencapai target MDGs (Millennium Development Goals) yang harus di capai yaitu sebesar 102/100.000 KH (Kemenkes RI, 2019).

(20)

AKI di Kalimantan Timur mengalami peningkatan, tahun 2016 AKI sebesar 95 kasus kematian per 100.000 KH dan tahun 2017 meningkat menjadi 110 kasus kematian per 100.000 KH (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, 2018).

Angka kematian ibu di Balikpapan tahun 2016 dilaporkan 9 kasus atau 72 per 100.000 KH, lalu meningkat menjadi 10 kasus atau 78 per 100.000 KH tahun 2017.

Sementara itu AKB di Balikpapan mengalami penurunan, pada tahun 2016 terdapat 78 kasus atau 6 per 1.000 KH, kemudian tahun 2017 menurun menjadi 76 kasus atau 6 per 1.000 KH (Dinas Kota Balikpapan, 2018).

Di Kalimantan Timur angka kematian ibu dan bayi dalam 5 tahun terakhir masih tinggi, walaupun terjadi penurunan dibeberapa kabupaten/kota yang mengalami stagnan bahkan peningkatan jumlah kematian ibu (Profile Kesehatan, 2019).

Secara umum terjadi penurunan angka kematian ibu dalam 3 (tiga) tahun terakhir dan berhasil mencapai target Indikator Kinerja Utama (IKU) rencana strategis Dinas Kesehatan Kota Balikapapan tahun 2019 yaitu dengan target AKI sebesar 66/100.000 KH (Profile Kesehatan, 2019)

Penyebab kematian ibu di Kota Balikpapan bervariatif, namun demikian masih didominasi oleh penyebab langsung. Pada tahun 2018 50% penyebab kematian adalah perdarahan. Selanjutnya diakibatkan oleh Preeklamsi Berat sebanyak 30% dan 20%

lainnya akibat komplikasi dalam kehamilan. Sedangkan pada tahun 2019 tren penyebab kematian ibu mengalami pergeseran, meskipun penyebab terbanyak tetap diakibatkan oleh penyebab langsung (Profil Kesehatan, 2019)

Kehamilan dapat dikatakan beresiko tinggi bila prosesnya beresiko lebih tinggi dari kehamilan normal, bagi ibu maupun janin, baik selama hamil maupun melahirkan bahkan usai melahirkan (Manuaba, 2018). Beberapa ibu hamil yang masuk dalam

(21)

kategori resiko tinggi adalah tinggi badan kurang dari 145 cm, bentuk panggul yang tidak normal, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jumlah anak lebih dari 4, jarak kelahiran kurang dari 2 tahun, adanya kesulitan pada kehamilan atau persalinan yang lalu, pernah keguguran, riwayat operasi sesarea atau pengangkatan mioma, dan ibu dengan riwayat lahir belum cukup bulan, kelainan jantung, anemia, asma dan kencing manis (Prawirohardjo, 2018).

Dampak jika ibu memilki riwayat obstetric jelek pada kehamilan terhadap bayi antara lain dapat mengakibatkan hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, abortus, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah atau BBLR, bayi lahir dengan anemia mudah infeksi, dan pertumbuhan setelah lahir dapat mengalami hambatan dan kematian bayi. Sedangkan dampak bagi ibu dapat terjadi kegagalan kehamilan dapat berulang dan terjadi lagi, persalinan lama, distosia, perdarahan dalam persalinan, perdarahan postpartum dan kematian ibu (Rochjati, 2017).

Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan bahwa persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22 - 37 minggu. Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu (WHO, 2017). Terdapat 4 sub kategori usia kelahiran prematur (Dina, 2017), yaitu : Ekstrem prematur ialah bayi yang lahir dengan umur kehamilan

< 28 minggu, Sangat prematur ialah bayi yang lahir dengan umur kehamilan< 32 minggu, Moderat prematur ialah bayi yang lahir antara umur kehamilan 32 - < 34 minggu, Late prematur ialah bayi yang lahir antara umur kehamilan 34 – 36 minggu (Prawirahardjo, 2014).

(22)

Angka Kematian Bayi menurun dari 32 per 1.000 kelahiran KH 2015 dan turun menjadi 24 per 1.000 kelahiran KH 2017 (Profil Kesehatan, 2018).

Upaya menurunkan angka kesakitan dan angka kematian anak, United Nation Children Foundation (UNICEF) dan WHO merekomedasikan agar anak sebaiknya disusui hanya ASI saja selama paling sedikit enam bulan dan setelah enam bulan dapat diberi makanan tambahan lainnya dan ASI dapat diteruskan sampai anak berusia 2 tahun. Pemberian ASI Eksklusif dapat menekan angka kematian bayi hingga 13%.

(Profil Kesehatan, 2017).

Cakupan pemberian ASI Ekslusif pada bayi di kota Balikpapan pada tahun 2017-2019 adalah sebagai berikut: tahun 2017 sebesar 51,04% bayi, Cakupan ASI eksklusif tahun 2019 sebesar 78.74.% terjadi peningkatan dari tahun 2018 (78.74%).

Hal ini dikarenakan adanya kegiatan kegiatan yang mendukung ASI Eksklusif baik dari sektor swasta maupun dukungan dari Pemerintah daerah seperti pemberian ASI Award oleh CSR (Corporate Social Responsibility)Petrosea dan PT Kariangau Gapura Terminal Energi, Lomba Kelompok Pendukung Ibu menyusui, Lomba ruang laktasi di Instansi Pemerintah. Dukungan pemberian ASI Eksklusif dari masyarakat juga cukup menggembirakan dengan adanya kelompok peduli ASI (Formasi Kalimantan Timur) selain itu juga terbentuknya kelompok Pendukung ASI di setiap kelurahan (Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, 2019).

Berdasarkan pada hasil pengkajian dan pemeriksaan pada kunjungan pertama tanggal 26 maret 2021 penulis tertarik melakukan asuhan kebidanan yang komprehensif pada Ny.’’M” selama masa hamil dengan judul “Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny. H G3P2002. Usia Kehamilan 29 Minggu di Wilayah Kerja Puskesmas Damai Kota Balikpapan Tahun 2021”.

(23)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah pada studi kasus ini adalah “ Bagaimana asuhan kebidanan yang komprehensif pada Ny. M di Wilayah Kerja Puskesmas Damai Kota Balikpapan Tahun 2021 dalam Masa Kehamilan, Bersalin, Bayi Baru Lahir, Nifas, Neonatus dan Pemilihan Alat Kontrasepsi ? “.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Melaksanankan Asuhan Kebidanan Komperfensif pada saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus sampai pemilihan alat kontrasepsi pada Ny. M G3P2002 Hamil 28-29 Minggu di wilayah Puskesmas Damai.

2. Tujuan Khusus

a. Melaksanankan asuhan komperhensif pada ibu hami Ny. M dengan pendekatan manajemen dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP.

b. Melaksanankan asuhan kebidanan komperhensif pada ibu bersalin Ny. M dengan pendekatan manajemen dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP.

c. Melaksanakan asuhan kebidanan komperhensif pada bayi baru lahir Ny. M dengan manajemen dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP.

d. Melaksanakan asuhan kebidanan komperhensif pada ibu nifas Ny. M dengan pendekatan manajemen dan bentuk SOAP.

e. Melaksanankan asuhan kebidanan komperfensif pada neonatus Ny. M dengan pendekatan manajemen dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP.

f. Melaksanankan asuhan kebidanan komperhensif pemilihan alat kontrasepsi pada Ny. M dengan pendekatan manajemen dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP.

(24)

D. Manfaat

1. Manfaat Praktis

a. Bagi Institusi Poltekkes Kemenkes Kltim Prodi D-III Kebidanan Balikpapan Dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi mahasiswanya dalam pemberian asuhan kebidanan komprehensif dari masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, masa nifas, neonatus sampai pemilihan alatkontrasepsi, untuk mengevaluasi kompetensi mahasiswa dalam pemberian asuhan kebidanan yang dapat menghasilkan bidan yang terampil, profesional dan mandiri.

b. Bagi Penulis

Peneliti dapat mempraktikan teori yang telah diperoleh sebelumnya dan kemudian diaplikasikan secara langsung dalam melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif mulai dari kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus, hingga pemilihan alat kontrasepsi.

c. Bagi Klien

1) Klien dapat mengantisipasi faktor resiko yang mungkin terjadi pada dirinya dari masa kehamilan sampai KB dikarenakan faktor resiko yang terjadi pada ibu seperti riwayat obstetric jelek.

2) Klien mendapatkan pengetahuan dan pelayanan sesuai standar pelayanan kebidanan

3) Klien dapat mengatur pola nutrisi dan istirahat

4) Klien mengetahui tanda-tanda bahaya pada kehamilan sampai dengan kb

2. Manfaat Teoritis

(25)

Hasil asuhan yang telah dilakukan mulai dari masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, masa nifas, neonatus sampai pelayanan kontrasepsi, dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan ilmu kebidanan dan asuhan secara komprehensif selanjutnya.

E. Ruang Lingkup

Subjek penulisan dalam asuhan secara komperhensif dengan melakukan pengambilan data secara langsung terhadap Ny.M G3P2002 Usia Kehamilan 28-29 Minggu yang bertempat tinggal di Jl. Jendral Sudirman Gg. Swadaya RT 7 No.14 Kelurahan Damai Balikpapan Kota Pelaksanaan asuhan pada bulan Maret 2021 - Juni 2021 dengan Asuhan konferhensif yang meliputi pengawasan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus, dan pemilihan alat kontrasepsi.

(26)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan 1. Manajemen Varney

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, keterampilan, dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien (Varney, 2011).

Adapun langkah-langkah dalam membentuk kerangka lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi, akan tetapi setiap langkah tersebut dapat dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan bervarisi sesuai dengan kondisi klien. Tujuh langkah Manajemen Kebidanan menurut Varney:

a. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan.

b. Menginterprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosis atau masalah.

c. Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.

d. Menetapkan kebutuhan akan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatan lain, dan rujukan berdasarkan kondisi klien.

e. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.

(27)

f. Melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman.

g. Mengevaluasi kefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

Setiap langkah dalam manajemen kebidanan menurut varney akan dijabarkan sebagai berikut :

1) Langkah 1 : Pengumpulan Data Dasar

Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi atau datanya yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara : a) Anamnesis

Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, persalinan, dan nifas, bio-psiko-sosial-spiritual dan pengetahuan klien.

b) Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan klien dan tanda-tanda vital, meliputi :

(1) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi) (2) Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru dan catatan

sebelumnya.

Dalam manajemen kolaborasi bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter, bidan akan melakukan upaya konsultasi.

Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan benar tidaknya proses interprestasi pada tahap selanjutnya.

(28)

Oleh karena itu pendekatan ini harus komprehensif, mencakup data subjektif, data objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan keadaan klien yang sebenarnya valid. Kaji ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.

2) Langkah 2 : Interpretasi Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standart nomenklatur diagnosa kebidanan. Standar nomenklatur diagnosa kebidanan:

a) Diaku dan telah disahkan oleh profesi

b) Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan.

c) Memiliki ciri khas kebidanan.

d) Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan.

e) Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan 3) Langkah 3 : Mengidentifikasi Diagnosa / Masalah Kebidanan

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, pada langkah tiga ini bidan dituntut untuk mempu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang rasional dan logis.

4) Langkah 4 : Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera

(29)

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggotatim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan.

Jadi manajemen kebidanan bukan hanya selama asuhan primer periodic atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus- menerus.

5) Langkah 5 : Menyusun Rencana Asuhan

Pada langkah ini asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini informasi atau data dasar tang tidak lengkap dapat dilengkapi.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi jugadari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yng diperkirakan akan tejadi berikunya.

Setiap rencana asuhan harusdisetujui oleh kedua belah pihak yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagian dari pelaksanaan perencanaan tersebut, oleh karena itu pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan pembahasan rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksankannya.

6) Langkah 6 : Implementasi

(30)

Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke lima akan dilaksanakan secara efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan, atau sebagian oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.

Jika bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tangggung jawab untu mengarahkan pelaksanaannya. Dalam situasi dimana berkolaborasi dengan dokter untk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama secara menyeluruh tersebut.

7) Langkah 7 : Evaluasi

Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar- benar telah terpenuhi atau sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam masalah dan diagnose. Rencana tersebut dapat diangggap efektif jika memang benar efektif efektif jika memang benar efektif pelaksanaanya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.

Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kontinu maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses manajemen tidak efektif dan melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tersebut.

2. Asuhan Kebidanan Berkelanjutan / Contuinity of Care

(31)

Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan kebidanan yang diberikan secara menyeluruh dari mulai hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonatus sampai pelayanan kontrasepsi (Varney, 2011).

Tujuan dari asuhan kebidanan ini dilakukan agar dapat mengetahui hal apa saja yang terjadi pada seorang wanita semenjak hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonatus dan pelayanan kontrasepsi dan melatih, dalam melakukan pengkajian, menegakkan diagnosa secara tepat, antisipasi masalah yang mungkin terjadi, menentukan tindakan segera, melakukan perencanaan dan tindakan sesuai dengan kebutuhan ibu, agar mampu melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan (Varney, 2011).

3. Dokumentasi Kebidanan

Menurut Varney, alur berpikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 langkah.

Untuk mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :

S : Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesis sebagai langkah I Varney

O : Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan I9 uji diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney

A : Menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasidiagnosis/masalah, antisipasi diagnosis/masalah potensial dan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter,konsultasi/kolaborasi dan/atau rujukan sebagai langkah II,III, IV dalam manajemen Varney

(32)

P : Menggambarkan pendokumentasian dan tindakan dan evaluasi perencanaan berdasarkan assessment sebagai langkah V, VI dan VII Varney.

B. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan 1. Dasar Teori Kehamilan

a. Definisi Kehamilan Trimester III

Kehamilan trimester III yaitu periode 3 bulan terakhir kehamilan yang dimulai pada minggu ke-28 sampai minggu ke-40.Saat ini juga merupakan waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan kedudukan sebagai orang tua seperti terpusatnya perhatian pada kelahiran bayi (Saifuddin, 2010).

b. Perkembangan Janin Trimester III

1) Minggu 28 : Panjang kepala-bokong sekitar 25 cm dan berat janin sekitar 1100 g, kulit janin yang tipis berwarna merah dan ditutupi oleh verniks caseosa. Membrane pupil baru saja menghilang darimata.

2) Minggu 32 : Panjang kepala-bokong janin kira-kira 28 cm dan berat sekitar 1800 g, kulit permukaan masih merah dan keriput.

3) Minggu 36 : Panjang kepala-bokong pada janin sekitar 32 cm, dan berat janin sekitar 2500 g. Karena penimbunan lemak subkutan, tubuh menjadi lebih bulat, serta gambaran keriput pada wajah telah menghilang.

4) Minggu 40 : Periode saat janin dianggap aterm menurut usia yang dihitung dari awal periode menstruasi terakhir. Janin telah berkembang sempurna.

Panjang kepala-bokong sekitar 36 cm dan berat kira-kira 3600 g (Cunningham, 2017).

Tabel 2.2

(33)

TFU Sesuai Leopold

Sumber : Bobak, dkk (2014)

Tabel 2.3

TFU Sesuai Mc Donald

TFU Usia Kehamilan

20 cm 20 minggu

23 cm 24 minggu

26 cm 28 minggu

30 cm 32 minggu

33 cm 38 minggu

Sumber: (Varney et al., 2008)

Tabel 2.4 TFU Sesuai TBJ Usia kehamilan

(Minggu)

Panjang Janin (cm) Berat Badan Janin (gram)

4 0,4 – 0,5 0,4

8 2,5 – 3 2

12 6 – 9 19

16 11,5 – 13,5 100

20 16 – 18,5 300

24 23 600

28 27 1100

30-31 31 1800 – 2100

38 35 2900

40 40 3200

Sumber : Bobak, dkk (2004) c. Perubahan Pisikologis Trimester III

Tinggi Fundus Uteri Umur Kehamilan

⅓ diatas simfisis

½ simfisis-pusat

⅔ diatas simfisis Setinggi pusat

⅓ diatas pusat

½ pusat-prosesus xifoideus(px) Setinggi prosesus xifoideus(px)

➢ jari (4cm) dibawah(px)

12 Minggu 16 minggu 20 minggu 24 minggu 28 minggu 34 minggu 36 minggu 40 Minggu

(34)

Kehamilan juga diartikan periode kritis, saat terjadinya gangguan dan perubahan identitas peran.

1) Trimester III seringkali disebut periode penantian dan waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya.

2) Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu- waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan timbulnya tanda dan gejala akan terjadinya persalinan.

3) Pada TM III ibu merasa tidak nyaman dan depresi karena janin membesar dan perut ibu juga, melahirkan, sebagian besar wanita mengalami klimaks kegembiraan emosi karena kelahiran bayi (Hidayat, 2018)

d. Kebutuhan Dasar Trimester III 1) Kebutuhan Nutrisi

Nutrisi atau makanan yang sehat adalah mengenai cara memilih makanan yang seimbang dan merasakan yang terbaik secara fisik serta mental bagi diri (Hunter & Dodds, 2017). Kebutuhan makanan sehari-hari untuk ibu hamil yaitu kalori : 2500 Kkal, protein 85 gr, kalsium (Ca) : 1,5 gr, zat besi (Fe) : 15 mg, vitamin A : 6000 iu, vitamin B : 1,8 mg, vitamin C : 100 mg, riboflavin : 2,5 mg, asam nicotin : 18 mg, vitamin D : 400-800 IU

2) Kebutuhan eliminasi

Masalah buang air kecil tidak mengalami kesulitan, untuk memperlancar dan mengurangi infeksi kandung kemih yaitu minum dan menjaga kebersihan sekitar kelamin. Perubahan hormonal mempengaruhi aktivitas usus halus dan besar, sehingga buang air besar mengalami obstipasi (sembelit). Sembelit dapat terjadi secara mekanis yang disebabkan karena menurunnya gerakan

(35)

ibu hamil, untuk mengatasi sembelit dianjurkan untuk meningkatkan gerak, banyak makan makanan berserat (sayur dan buah-buahan).

3) Kebutuhan istirahat/tidur

Ibu hamil harus mempertimbangkan pola istirahat dan tidur yang mendukung kesehatan sendiri maupun kesehatan bayinya. Tidur malam sekitar 8 jam sedangkan istirahat/tidur siang sekurang-kurangnya ± 1 jam.

e. Ketidaknyamanan Trimester III

Ketidaknyamanan merupakan suatu perasaan ataupun yang tidak menyenangkan bagi kondisi fisik ataupun mental pada ibu hamil (Hidayah, 2018). Macam-macam ketidaknyamanan yang terjadi pada ibu hamil trimester III yaitu :

1) Sesak nafas (nonpatologis)

Hal ini disebabkan kaena uterus telah mengalami pembesaran hingga terjadi penekanan diafragma. Penanganan posisi badan bila tidur menggunakan ekstra bantal (Varney, 2017).

2) Peningkatan frekuensi berkemih

Frekuensi berkemih pada trimester tiga paling sering dialami disebabkan karena tertekan langsung pada kandung kemih. Tekanan ini menyebabkan wanita merasa perlu untuk berkemih (Varney, 2017).

Satu-satunya metode yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi berkemih ini adalah menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi dan mengurangi asupan cairan sebelum tidur malam sehingga wanita tidak perlu bolak-balik ke kamar mandi pada saat mencoba tidur (Varney, 2017)

3) Kram tungkai

(36)

Kram kaki diperkirakan disebabkan oleh gangguan asupan kalsium tidak adekuat. Dugaan lainnya adalah karena uterus yang membesar memberi tekanan baik pembuluh darah panggul, sehingga mengganggu sirkulasi, atau pada saraf sementara saraf ini melewati foramen oburator dalam perjalanan menuju ekstermitas bagian bawah (Varney, 2017).

4) Edema

Edema akibat gangguan sirkulasi vena pada ekstermitas bagian bawah yang disebabkan oleh tekanan uterus yang membesar pada vena-vena panggul saat wanita tersebut duduk atau berdiri dan pada vena cara inferior saat berada dalam posisi terlentang (Varney, 2017).

Dianjurkan untuk banyak minum, mengkompres dingin, memakai sepatu longgar dan meninggikan kaki pada saat duduk atau istirahat. Adapun cara penanganannya adalah sebagai berikut hindari menggunakan pakaian ketat, elevasi kaki secara teratur sepanjang hari, posisi menghadap kesamping saat berbaring, penggunaan penyokong atau korset pada abdomen maternal yang dapat melonggarkan vena-vena panggul.

5) Sakit Perut bagian bawah

Ibu hamil yang merasakan nyeri pada perut bagian bawah seperti tertusuk atau tertarik ke satu atau dua sisi. Hal ini karena perenggangan ligamentum dan oto untuk menahan rahim yang semakin membesar. Nyeri ini hanya akan terjadi beberapa menit dan bersifat tidak menetap (Kurnia, 2019).

f. Tanda Bahaya Trimester III 1) Perdarahan vagina

(37)

Perdarahan vagina adalah tanda peringatan pertama dari keguguran jika terjadi di trimester kedua. Keguguran padatrimester kedua (sebelum 20 minggu) dapat disebabkan oleh beberapa faktor berbeda, yang meliputi:

a) Masalah rahim, seperti septum uterus (rahim terbagi menjadi dua bagian terpisah).

b) Inkompetensi serviks (leher rahim terbuka terlalu cepat dan memicu kelahiran dini).

c) Kelainan kromosom.

d) Penyakit autoimun yang dimiliki ibu, seperti lupus.

Perdarahan di trimester ke 2 juga dapat diakibatkan oleh : a) Perdarahan dini

b) Masalah plasenta, seperti plasenta previa dan plasenta abruptio.

c) Ketuban pecah dini.

2) Sakit kepala hebat

Selama hamil sakit kepala adalah hal yang umum, seringkali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Namun sakit kepala hebat jika disertai dengan pandangan yang kabur dalam kehamilan maka merupakan tanda gejala pre-eklamsi.

3) Pengelihatan Kabur

Penglihatan kabur disebabkan oleh sakit kepala yang hebat sehingga terjadi oedema pada otak dan meningkatkan resistensi otak yang mempengaruhi sistem saraf pusat, yangdapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan penglihatan sehingga dapat menjadi tanda pre-eklamsia.

4) Bengkak di muka dan tangan

(38)

Hampir separuh ibu hamil akan mengalami pembengkakan yang normal pada muka dan kaki, biasanya akan hilang jika ibu beristirahat dan meletakkan kaki lebih tinggi dari posisi tubuh. Jika bengkak tidak mau hilang maka juga akan dapat mengarah ke tanda-tanda pre eklamsia.

5) Janin Kurang Bergerak Seperti Biasa

Gerakan janin tidak ada atau kurang (minimal 3 kali dalam 1 jam). Ibu mulaimerasakkan gerakan bayi umur 5 bulan atau 6 bulan. Jika ibu merasa gerak bayi kurang maka bisa dinamakan IUFD (Intra Uterine Fetal Distress).

Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam 1 jam jika ibu berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan danminum dengan baik.

6) Ketuban Pecah Dini

Ketuban yang pecah pada kehamilan aterm dan disertai dengan munculnya tanda-tanda persalinan adalah normal. Sedangkan pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan disebut ketuban pecah dini.

Ketuban pecah dini menyebabkan hubungan langsung antara dunia luar dan ruangan dalam rahim sehingga memudahkan terjadinya infeksi.

7) Kejang

Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya keadaan dan terjadinya gejala-gejala sakit kepala, mual, nyeri ulu hati dan muntah.

Kejang ini dapat mengindikasikan eklamsia (Hidayat, 2018).

g. Asuhan Trimester III

Standar Pelayanan Ante Natal Care ( ANC ) memiliki beberapa komponen dalam proses pelaksanaannya, yaitu dengan 14T (Dharmawan, 2013).

(39)

1) Ukur Berat badan dan Tinggi Badan ( T1 ).

Menurut Prawirohardjo (2014), sebagai pengawasan akan kecukupan gizi dapat dipakai kenaikan berat badan wanita hamil tersebut. Kenaikan berat badan wanita hamil rata-rata antara 6,5- sampai 16 kg. Bila berat badan naik lebih dari semestinya, anjurkan untuk mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat. Lemak jangan dikurangi, terlebih sayur mayur dan buah-buahan.

Adapun cara untuk menentukan status gizi dengan menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh) dari berat badan dan tinggi badan ibu sebelum hamil sebagai berikut:

Rumus IMT = Berat badan (kg) Tinggi badan (m)

Tabel 2.5

Peningkatan Berat Badan Selama Kehamilan IMT (kg/m2)

Total kenaikan berat badan yang disarankan

Selama trimester 2 dan 3

Kurus

(IMT<18,5) 12,7–18,1 kg 0,5 kg/minggu Normal

(IMT 18,5-22,9) 11,3-15,9 kg 0,4 kg/minggu Overweight

(IMT 23-29,9) 6,8-11,3 kg 0,3 kg/minggu

Obesitas

(IMT>30) 0,2 kg/minggu

Bayi kembar 15,9-20,4 kg 0,7 kg/minggu

Sumber: (Varney et al., 2018)

2) Ukur Tekanan Darah (T2)

Tekanan darah yang normal 110/80 - 140/90 mmHg, bila melebihi 140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya Preeklampsi (Dharmawan, 2013).

(40)

3) Ukur Tinggi Fundus Uteri ( T3 )

Untuk mengetahui besarnya rahim dan dengan ini menentukan tuanya kehamilan, menentukan letak janin dalam rahim. Sebelum usia kehamilan 12 minggu, fundus uteri belum dapat diraba dari luar. Normalnya tinggi fundus uteri pada usia kehamilan 12 minggu adalah 1-2 jari di atas simphysis (Varney et al., 2018). Taksiran berat janin dapat dihitung dari rumus Johnson Toshack ( Johnson Toshack Estimated Fetal Weight=JTEW ) yang diambil dari tinggi fundus uteri.

JEFW (gram) = (FH (Fundal Heightcm ) – n ) x 155 (konstanta) n = 11 bila kepala di bawah spina ischiadica

n = 12 bila kepala di atas spina ischiadica

n = 13 bila kepala belum masuk pintu atas panggul Tabel 2.6

Usia Kehamilan Berdasarkan TFU Dalam Bentuk Cm

TFU Usia Kehamilan

20 cm 20 minggu

23 cm 24 minggu

26 cm 28 minggu

30 cm 32 minggu

33 cm 36 minggu

Sumber: (Varney et al., 2018)

4) Pemberian Tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4)

Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil (Fe) adalah mencegah defisiensi zat besi pada ibu hamil, bukan menaikan kadar hemoglobin. Ibu hamil dianjurkan meminum tablet zat besi yang berisi 60 mg/hari dan 500 µg (FeSO4 325 mg). Kebutuhannya meningkat secara signifikan pada trimester II karena absorpsi usus yang tinggi. Tablet Fe dikonsumsi minimal 90 tablet selama

(41)

kehamilan, sebaiknya tidak minum bersama teh atau kopi karena akan menganggu penyerapan.

5) Pemberian Imunisasi TT ( T5 )

Imunisasi Tetanus Toxoid harus segera di berikan pada saat seorang wanita hamil melakukan kunjungan yang pertama dan dilakukan pada minggu ke-4.

Tabel 2.7

Interval Dan Lama Perlindungan Tetanus Toxoid Imunisasi TT Selang Waktu minimal

pemberian Imunisasi TT Lama Perlindungan

TT1 - Langkah awal pembentukan

kekebalan tubuh terhadap penyakit Tetanus

TT2 1 bulan setelah TT1 3 Tahun

TT3 6 bulan setelah TT2 6 Tahun

TT4 12 Bulan setelah TT3 10 Tahun

TT5 12 Bulan setelah TT4 ≥25 Tahun

Sumber: (Sukarni, 2013) 6) Pemeriksaan Hb ( T6 )

Pemeriksaan Hb pada Bumil harus dilakukan pada kunjungan pertama dan minggu ke 28. bila kadar Hb < 11 gr% Bumil dinyatakan Anemia, maka harus diberi suplemen 60 mg Fe dan 0,5 mg As. Folat hingga Hb menjadi 11 gr% atau lebih.

7) Pemeriksaan VDRL ( Veneral Disease Research Lab. ) ( T7 )

(42)

Pemeriksaan dilakukan pada saat ibu hamil datang pertama kali di ambil spesimen darah vena kurang lebih 2 cc. Apabila hasil test positif maka dilakukan pengobatan dan rujukan.

8) Pemeriksaan Protein urine ( T8 )

Dilakukan untuk mengetahui apakah pada urine mengandung protein atau tidak untuk mendeteksi gejala Preeklampsi.

9) Pemeriksaan Urine Reduksi ( T9 )

Untuk ibu hamil dengan riwayat DM. Bila hasil positif maka perlu diikuti pemeriksaan gula darah untuk memastikan adanya DMG.

10) Perawatan Payudara ( T10 )

Senam payudara atau perawatan payudara untuk ibu hamil, dilakukan 2 kali sehari sebelum mandi dimulai pada usia kehamilan 6 Minggu.

11) Senam Hamil ( T11 )

Senam hamil membuat otot ibu hamil rileks dan tenang, rasa rileks dan tenang itu bisa mempengaruhi kondisi psikis ibu hamil. Rasa gugup dan nerves saat akan mengalami masa persalinan bisa menimbulkan kerugian bagi ibu hamil itu sendiri. Saat seseorang gugup, ibu hamil akan mengalami penurunan Hb. Hb sangat penting untuk ibu hamil yang akan melahirkan, sebab saat melahirkan ibu hamil bisa mengeluarkan banyak darah.

12) Pemberian Obat Malaria ( T12 )

Diberikan kepada ibu hamil pendatang dari daerah malaria juga kepada ibu hamil dengan gejala malaria yakni panas tinggi disertai mengigil dan hasil apusan darah yang positif.

13) Pemberian Kapsul Minyak Yodium ( T13 )

(43)

Diberikan pada kasus gangguan akibat kekurangan yodium di daerah endemis yang dapat berefek buruk terhadap tumbuh kembang manusia.

14) Temu wicara / Konseling ( T14 )

Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. Memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya tentang tanda-tanda resiko kehamilan.

h. Hamil Resiko Tinggi

1) Definisi Kehamilan Resiko Tinggi

Resiko adalah suatu ukuran statistik dari peluang atau kemungkinan untuk terjadinya suatu keadaan gawat darurat yang tidak diinginkan pada masa mendatang, yaitu kemungkinan terjadinya komplikasi obstetrik pada saat persalinan yang dapat menyebabkan kematian, kesakitan, kecacatan, ketidaknyamanan atau ketidakpuasan pada ibu dan bayi (Rochjati, 2011 dalam Nuke, 2019).

Resiko adalah suatu ukuran statistic dari peluang atau kemungkinan untuk terjadinya suatu keadaan gawat darurat yang tidak diinginkan pada masa mendatang, seperti kematian, kesakitan, kecacatan, ketidaknyamanan, atau ketidakpuasan (5K) pada ibu dan bayi. Berdasarkan jumlah skor kehamilan dibagi tiga kelompok :

a.) Kehamilan Resiko Rendah (KRR) dengan jumlah skor 2 Kehamilan tanpa masalah/ faktor resiko, fisiologis dan kemungkinan besar diikuti oleh persalinan normal dengan ibu dan bayi hidup sehat.

b.) Kehamilan Resiko Tinggi (KRT) dengan jumlah skor 6-10.

(44)

Kehamilan dengan satu atau lebih faktor resiko, baik dari pihak ibu maupun janinnya yang member dampak kurang menguntungkan baik bagi ibu maupun janinnya, memiliki resiko kegawatan tetapi tidak darurat.

c.) Kehamilan Resiko Sangat Tinggi (KRST) dengan jumlah skor ≥ 12, kehamilan dengan faktor resiko : ibu dengan faktor resiko dua atau lebih, tingkat resiko kegawatannya meningkat, yang membutuhkan pertolongan persalinan di rumah sakit oleh dokter spesialis

d.) Batasan Faktor Resiko / Masalah :

(1) Ada Potensi Gawat Obstetri / APGO Primi muda, Primi tua, Anak terkecil < 2 tahun, Primi tua sekunder, Grande multi, Umur 35 tahun atau lebih, Tinggi badan 145 cm atau kurang, Riwayat obstetric jelek (ROJ), Persalinan yang lalu dengan tindakan, Bekas operasi sesar.

(2) Ada Gawat Obstetri / AGO Penyakit pada ibu hamil, Anemia (kurang darah), Tuberculosa paru, Payah jantung, Diabetes mellitus, HIV / AIDS, Toksoplasmosis, Pre- eklamsi ringan, Hamil kembar, Hidramnion / hamil kembar air, Janin mati dalam rahim, Hamil serotinus / hamil lebih bulan, Letak sungsang, Letak lintang.

(3) Ada Gawat Darurat Obstetri / ADGO Perdarahan antepartum, Pre-eklamsia berat / eklamsia.

2) Riwayat Obstetric Jelek

(45)

Riwayat Obstetric Jelek adalah mereka yang pernah mengalami keguguran atau perdarahan berulang, melahirkan dini, atau pernah melahirkan janin yang sudah meninggal, atau mengalami perdarahan setelah melahirkan.

a) Kategori ibu dengan riwayat obstetric jelek

Ibu dengan kehamilan kedua dimana kehamilan yang pertama mengalami :

(1) Keguguran

(2) Lahir belum cukup bulan (3) Lahir mati

(4) Lahir hidup lalu mati umur < 7 hari

b) Kehamilan ketiga atau lebih, kehamilan yang lalu pernah mengalami keguguran > 2 kali

c) Kehamilan kedua atau lebih, kehamilan terakhir janin mati dalam kandungan

d) Riwayat persalinan dengan tindakan (vacuum ekstraksi, forcep, dan operasi Sc)

e) Ibu dengan riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu dengan pre eklampsia dan eklampsia

f) Riwayat perdarahan ante partum

g) Riwayat kehamilan dengan kelainan letak h) Resiko Kemungkinan

Bahaya yang dapat terjadi pada ibu dengan riwayat persalinan yang jelek adalah

(46)

(1) Kegagalan kehamilan dapat berulang dan dapat terjadi lagi, dengan tanda-tanda pengeluaran buah kehamilan sebelum waktunya keluar darah, perut kencang.

(2) Penyakit dari ibu yang menyebabkan kegagalan kehamilan misalnya diabetes mellitus, radang saluran kencing.

(3) Riwayat persalinan dengan seksio sesarea dapat berbahaya pada robekan Rahim : perdarahan, infeksi, kematian ibu dan kematian janin.

(4) Riwayat plasenta previa dapat berbahaya pada ibu yaitu kehilangan darah, anemia berat dan syok. Sedangkan pada janin yaitu janin meninggal dalam kandungan i. Stunting

1) Definisi

Stunting adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.

Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama

(47)

tiga tahun terakhir, pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk.

Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5%

menjadi 29,6% pada tahun 2017.

Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita pendek di Indonesia sebesar 36,8%. Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi 35,6%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi 37,2%. Prevalensi balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil Riskesdas tahun 2018 yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang sudah diupayakan oleh pemerintah.

Depkes RI, 2017

2) Situasi ibu dan calon ibu

Kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat kehamilan serta setelah persalinan mempengaruhi pertumbuhan janin dan risiko terjadinya stunting. Faktor lainnya pada ibu yang mempengaruhi adalah postur tubuh ibu (pendek), jarak kehamilan yang terlalu dekat, ibu yang masih remaja, serta asupan nutrisi yang kurang pada saat kehamilan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual, faktor-faktor yang memperberat keadaan ibu hamil adalah terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan terlalu

(48)

dekat jarak kelahiran. Usia kehamilan ibu yang terlalu muda (di bawah 20 tahun) berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Bayi BBLR mempengaruhi sekitar 20% dari terjadinya stunting.

Dari data Riskesdas tahun 2013, diketahui proporsi kehamilan pada remaja usia 10-14 tahun sebesar 0,02% dan usia 15-19 tahun sebesar 1,97%.

Proporsi kehamilan pada remaja lebih banyak terdapat di perdesaan daripada perkotaan.

Sedangkan menurut data Susenas tahun 2017, hasil survei pada perempuan berumur 15-49 tahun diketahui bahwa 54,01% hamil pertama kali pada usia di atas 20 tahun (usia ideal kehamilan). Sisanya sebesar 23,79%

hamil pertama kali pada usia 19-20 tahun, 15,99% pada usia 17-18 tahun, dan 6,21% pada usia 16 tahun ke bawah. Hal ini menunjukkan bahwa setengah dari perempuan yang pernah hamil di Indonesia mengalami kehamilan pertama pada usia muda atau remaja. (Manuaba,2011)

3) Situasi bayi dan balita

Nutrisi yang diperoleh sejak bayi lahir tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya termasuk risiko terjadinya stunting. Tidak terlaksananya inisiasi menyusu dini (IMD), gagalnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, dan proses penyapihan dini dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stunting. Sedangkan dari sisi pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) hal yang perlu diperhatikan adalah kuantitas, kualitas, dan keamanan pangan yang diberikan. Pada tahun 2017, secara nasional persentase bayi baru lahir yang mendapat IMD sebesar 73,06%, artinya

(49)

mayoritas bayi baru lahir di Indonesia sudah mendapat inisiasi menyusu dini.

Provinsi dengan persentase tertinggi bayi baru lahir mendapat IMD adalah Aceh (97,31%) dan provinsi dengan persentase terendah adalah Papua (15%).

Ada 12 provinsi yang masih di bawah angka nasional sedangkan Provinsi Papua Barat belum mengumpulkan data (Manuaba,2011)

4) Dampak

Menurut Manuaba,2011 Dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang.

a). Dampak Jangka Pendek.

(1) Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian;

(2) Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal (3) Peningkatan biaya kesehatan.

b). Dampak Jangka Panjang.

(1) Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya);

(2) Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya;

(3) Menurunnya kesehatan reproduksi;

(4) Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah;

dan

(5) Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.

5) Upaya pencegahan

Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu

(50)

menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan stunting sebagai salah satu program prioritas.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, upaya yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting menurut ( Rifan, 2020) di antaranya sebagai berikut:

a) Ibu Hamil dan Bersalin

(1) Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan;

(2).Mengupayakan jaminan mutu ante natal care (ANC) terpadu;

(3) Persalinan di fasilitas kesehatan;

(4) Menyelenggarakan program pemberian makanan tinggi kalori, protein, dan mikronutrien (TKPM);

(5) Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular);

(6) Pemberantasan kecacingan;

(7) Meningkatkan transformasi Kartu Menuju Sehat (KMS) ke dalam Buku KIA;

(8) Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI eksklusif;

(9) Penyuluhan dan pelayanan KB.

b) Balita

(1) Pemantauan pertumbuhan balita;

(51)

(2) Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita;

(3) Menyelenggarakan stimulasi dini perkembangan anak; dan d.Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal ( Rifan, 2020).

c) Anak Usia Sekolah

(1) Melakukan revitalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);

(2) Menguatkan kelembagaan Tim Pembina UKS;

(3) Menyelenggarakan Program Gizi Anak Sekolah (PROGAS); (4) Memberlakukan sekolah sebagai kawasan bebas rokok dan narkoba d) Remaja

(1) Meningkatkan penyuluhan untuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pola gizi seimbang, tidak merokok, dan mengonsumsi narkoba;

(2) Pendidikan kesehatan reproduksi.

e) Dewasa Muda

(1) Penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana (KB);

(2) Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular);

(3) Meningkatkan penyuluhan untuk PHBS, pola gizi seimbang, tidak merokok/mengonsumsi narkoba.

j. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang berat badannya kurang dari 2.500 gram. Istilah BBLR sama dengan prematur, namun BBLR tidak hanya terjadi pada bayi prematur,namun juga bayi yang cukup bulan dengan berat badan kurang dari 2.500 gram. Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah prematur dengan

(52)

istilah BBLR. Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi yang berat kurang dari 2.500 gram pada waktu kahir merupakan bayi yang lahir prematur. Namun demikian terjadinya bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) tidak lepas dari keadaan ibu pada masa kehamilannya, dimana terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor penyebab beruapa faktor ibu pada waktu hamil antara lain dilihat dari umur ibu, gizi ibu, dan keadaan sosial ekonomi. Faktor kehamilan meliputi hamil dengan hidramnion, gemily (hamil ganda), perdarahan ante partum ( plasenta previa dan solusio plasenta), komplikasi hamil seperti preeklamsi/ eklamsia, ketuban pecah dini, faktor janin seperti cacat bawaan dan infeksi dalam Rahim ( Rifan, 2020).

Pemeriksaan antropometrik dapat digunakan untuk menilai status gizi ibu hamil misalnya dengan cara mengukur berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh, dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Penilaian yang baik untuk menilai status gizi ibu hamil yaitu dengan pengukuran LILA, karena pada wanita hamil malnutrisi (gizi kurang atau lebih). Menurut penelitian Indrawati (2015) Ibu hamil dinyatakan KEK apabila memiliki batas ambang pengukuran LILA < 23,5 cm, hal ini berarti ibu hamil dengan risiko KEK diperkirakan akan melahirkan bayi BBLR. Kejadian KEK tersebut disebabkan karena ketidak seimbangan asupan gizi, sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak tercukupi. Penambahan 200 - 450 kalori per hari dan 12 - 20 gram per hari protein dari kebutuhan ibu hamil adalah angka yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin. Masalah-masalah yang berkaitan dengan bayi BBLR mempunyai menghalangi tercapainya tujuan bahwa semua bayi tidak hanya lahir dan mampu hidup tetapi hendaknya tidak menderita gangguan fisik,

(53)

intelektual atau emosional sebagai akibat antepartum, intrapartum atau neonatal yang baik. Kematian perinatal yang tinggi disebablan oleh bayi BBLR yaitu sebesar 65- 75%. Tumbuh kembang organ vital BBLR terhambat, menyebabkan bayi belum mampu untuk hidup diluar kandungan sehingga sering mengalami kegagalan adaptasi yang dapat menimbulkan morbiditas bahkan mortalitas yang tinggi (Amiruddin, 2014).

Masalah BBLR terkait dengan kondisi kesehatan ibu saat hamil, termasuk kondisi status gizinya yang menggambarkan konsumsi energi dan protein yang tidak adekuat. Berat bayi lahir merupakan cerminan dari status kesehatan dan gizi selama hamil serta pelayanan antenatal yang diterima ibu. Gizi ibu yang buruk sebelum kehamilan maupun pada wanita sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR atau lahir mati dan menyebabkan cacat bawaan. Disamping itu, BBLR dapat pula menyebabkan hambatan pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir, dan mudah terkena infeksi. (Kusumawati, 2014).

Implikasi ukuran LILA terhadap berat bayi lahir adalah bahwa LILA menggambarkan keadaan konsumsi makanan terutama konsumsi energi dan protein dalam jangka panjang. Kekurangan energi secara kronis ini menyebabkan ibu hamil tidak mempunyai cadangan zat gizi yang adekuat untuk menyediakan kebutuhan fisiologi kehamilan yakni perubahan hormon dan meningkatkan volume darah untuk pertumbuhan janin, sehingga suplai zat gizi pada janin pun berkurang akibatnya pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat dan lahir dengan berat yang rendah (Depkes RI, 2016).

(54)

Berat badan ibu sebelum hamil dan kenaikan berat badan selama hamil kurang (underweight) atau lebih (overweight) dari normal akan membuat kehamilan menjadi beresiko (low risk). Berat badan ibu yang kurang akan berisiko melahirkan bayi dengan berat badan kurang atau Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) (Waryana, 2010).

Apabila terjadi malnutrisi pada ibu hamil, volume darah menjadi berkurang, ukuran plasenta berkurang dan transfer nutrient melalui plasenta berkurang sehingga janin tumbuh lambat atau terganggu (IUGR). Ibu yang penambahan berat badannya normal akan tetapi melahirkan BBLR, hal ini dapat disebabkan karena adanya faktor seperti rendahnya IMT ibu sebelum hamil yang tergolong kurus.

Sedangkan ibu dengan penambahan berat badan kurang akan tetapi tidak melahirkan bayi BBLR karena ibu berada pada umur optimal untuk terjadi kehamilan dan persalinan sehingga system tubuh ibu akan mengkompensasi dengan memberikan nutrisi dalam diri ibu untuk bayinya yang didapatkan dari cadangan energi yang dimiliki ibu (Khotijah, dkk 2011).

k. Intra uterine Growth Retiction (IUGR) 1) Pengertian

Intra uterine Growth Retiction adalah berat badan bayi baru kurang dari persentil 10 untuk usia kehamilan bayi, dalam artian bayi baru lahir berukuran lebih kecil dengan usia kehamilannya (Pranoto & Ibnu dkk. 2012 )

2) Klasifikasi IUGR

Menurut Harper T. 2011 klasifikasi IUGR / PJT adalah:

(55)

a) IUGR tipe I atau dikenal juga sebagai tipe simetris. Terjadi pada kehamilan 0-20 minggu,terjadi gangguan potensi tubuh janin untuk memperbanyak sel (hiperplasia), umumnya disebabkan oleh kelainan kromosom atau infeksi janin prognosisnya buruk

b) IUGR tipe II atau dikenal juga sebagai tipe asimetris.terjadi pada kehamilan 24-40 minggu, yaitu gangguan potensi tubuh janin untuk memperbesar sel (hipertrpi), misalnya pada hipertensi dalam kehamilan disertai insufisiensi plasenta.

c) IUGR tipe III adalah kelainan diantara dua tipe diatas. Terjadi pada kehamilan 20-28 minggu,yaitu gangguan potensi tubuh kombinasi antara gangguan hiperplasia dan hipertropi sel. Misalnya dapat terjadi pada malnutrisi ibu,kecanduan obat,atau keracunan.

3)

Penyebab IUGR

Penyebab IUGR dibedakan menjadi 3 faktor,yaitu:

1) Maternal/ibu seperti: Tekanan darah tinggi, riwayat Diabetes mellitus, penyakit jantung dan pernafasan, malnutrisi dan anemia, pecandu alkohol, obat-obatan tertentu dan perokok

2) Uterus dan plasenta : penurunan aliran darah dari uterus ke plasenta, plasenta abruption , plasenta previa, infark plasenta.

3) Factor janin antara lain : janin kembar, penyakit infeksi, kelainan kongenital, kelainan kromosom, pajanan teratogen (Cunningham, dkk, 2016).

4) Faktor resiko

(56)

1) Ibu yang secara konstitusional kecil Wanita berpostur kecil biasanya memiliki bayi yang lebih kecil. Tidak jelas apakah fenomena ibu kecil melahirkan bayi kecil bersifat alami atau karena lingkungan, tetapi lingkungan yang disediakan oleh ibu lebih penting dalam menentukan berat badan lair dari pada konstribusi genetiknya. Pada wanita yang berat badannya rata-rata atau rendah, kurangnya peningkatan berat selama kehamilan mungkin berkaitan dengan hambatan pertumbuhan janin. Akan tetapi,jika ibu yang bersangkutan bertubuh besar dan sehat, pertambahan berat yang kurang dari ratarata tanpa penyakit ibu, kecil kemungkinan dengan hambatan pertumbuhan janin yang signifikan (Manuaba dkk , 2017).

2) Deprivasi sosial Efek deprivasi sosial pada berat badan lahir berkaitan dengan efek faktor gaya hidup yang menyertainya seperti merokok, penyalahgunaan alkohol dan zat lain, dan kurang gizi. Wanita yang paling mengalami deprivasi sosial memiliki bayi paling kecil dan tidak adanya sumber daya psikososial, meningkatkan resiko hambatan pertumbuhan pada janin.

3) Penyulit Medis pada Ibu Penyakit vaskular kronis, terutama jika diperberat oleh adanya preeklamsia sering menyebabkan hambatan pertumbuhan.

Preeklamsia itu sendiri juga dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan janin, terutama jika kehamilannya sebelum 37 minggu. Penyakit ginjal dapat disertai oleh hambatan pertumbuhan janin. Janin dari wanita dengan penyakit jantung sianotik sering mengalami hambatan pertumbuhan yang parah. Pada segian besar kasus, anemia tidak menyebabkan hambatan pertumbuhan.

Gambar

Tabel 2.4  TFU Sesuai TBJ  Usia kehamilan
Gambar 2.4  Posisi Miring Kiri
Gambar 2.6  Posisi Merangkak
Tabel 3.1 Kerangka Kerja Pelaksanaan Studi Kasus  Studi Pendahuluan / Studi Literatur
+2

Referensi

Dokumen terkait

Mampu memberikan Asuhan Kebidanan secara komprehensif sesuai Standart Pelayanan Kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonatus , serta KB

Tujuan dari asuhan kebidanan ini dilakukan agar dapat mengetahui hal apa saja yang terjadi pada seorang wanita semenjak hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonatus dan pelayanan

Tujuan dari asuhan kebidanan ini dilakukan agar mengetahui hal apa saja yang terjadi pada wanita semenjak hamil, bersalin, nifas sampai dengan bayi yang dilahirkannya serta melatih

M mulai dari kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus, hingga pelayanan kontrasepsi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pentingnya melakukan asuhan kebidanan secara

Kesimpulan Penulis melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny.D selama hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas, neonatus, hingga pelayanan kontrasepsi, dapat ditarik

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik melakukan asuhan kebidanan yang komprehensif pada Ny.T selama masa hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas, neonatus, dan pemilihan alat

Tujuan dari asuhan kebidanan ini dilakukan agar dapat mengetahui hal apa saja yang terjadi pada seorang wanita semenjak hamil, bersalin, nifas sampai dengan bayi yang dilahirkannya

Tujuan diberi asuhan kebidanan ini dilakukan agar dapat mengetahui hal apa saja yang terjadi pada seorang wanita semenjak hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonates dan pelayanan