Oleh :
Nur Hidayatussholihah 170110054
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2022
STRATEGI GURU DALAM PENGENALAN MEMBACA PERMULAAN UNTUK ANAK USIA 5-6 TAHUN DI RA AMALIYA
Skripsi
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd.)
Oleh :
Nur Hidayatussholihah 170110054
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2022
iii
iv
v
vi
vii MOTTO
Artinya, Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-
tambahkanlah ilmu kepadaku. (QS. Taha [20]: 114)1
1 Lajnah Pentashihan Mushaf Al- Al- , (Bandung:
Cordoba, 2014), hlm. 320.
viii PERSEMBAHAN
ungkapan rasa syukur dan terimakasihku untuk semua orang yang kusayangi. Untuk umiku tercinta Hj. Nurul Aini dan bapakku H. Daharuddin (Alm), untuk kedua saudaraku yang selalu mendukungku, untuk suamiku yang terus menyemangati di setiap keadaan, dan yang selalu memanjatkan
ix
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Amin.
Peneliti menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut.
1. Mulabbiyah, M. Pd. selaku Dosen Pembimbing I dan Wahyuni Murniati, M. Pd. selaku Dosen Pembimbing II yang senantiasa memberikan masukan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini;
2. Prof. Dr. Hj. Warni Djuwita, M. Pd. dan Nani Husnaini, M. Pd.
sebagai penguji yang telah memberikan saran dan koreksi mendetail bagi penyempurnaan skripsi ini;
3. Nani Husnaini, M. Pd. selaku ketua program studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini.
4. Dr. Jumarim, M. HI, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram;
5. Prof. Dr. H. Masnun Thahir, M. Ag. Selaku Rektor UIN Mataram;
6. Kepada semua dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram yang telah membagikan ilmu, nasihat, dan bimbingan;
7.
Amaliya dan para guru, terimakasih atas izin, sambutan, dan bantuan selama peneliti melakukan penelitian;
8. Kepada orang tua dan suami serta keluarga yang telah memberikan doa, dorongan dan semangat selama penyusunan skripsi ini;
x
Kepada teman-teman satu bimbingan penyusunan skripsi, serta teman seperjuangan kelas C yang telah berjuang bersama-sama dalam menyelesaikan skripsi ini;
10. Kepada Almamaterku tercinta.
Meskipun telah berusaha menyelesaikan skripsi ini sebaik mungkin, peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih ada kekurangan. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca guna menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan skripsi ini.
Mataram, 5 Januari 2023
Nur Hidayatussholihah
xi
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PEGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... xv
ABSTRAK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat ... 6
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 7
E. Telaah Pustaka ... 8
F. Kerangka Teori ... 11
G. Metode Penelitian ... 35
H. Sistematika Pembahasan ... 46
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 48
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 48
xii
Hasil Penelitian ... 56
BAB III PEMBAHASAN ... 87
A. Strategi Guru dalam pengnalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya ... 87
B. Kendala Apa saja yang dihadapi guru dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya ... 100
BAB IV PENUTUP ... 110
A. Kesimpulan ... 110
B. Saran ... 110 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xiii Tabel 2.1 Data Sarana RA Amaliya, 54.
Tabel 2.2 Data Alat Bantu Ajar RA Amaliya, 54.
Tabel 2.3 Data Alat Bermain di Luar RA Amaliya, 55.
Tabel 2.4 Data banyaknya ruangan di RA Amaliya, 55 Tabel 2.5 Data Kualifikasi Pendidikan di RA Amaliya, 55.
Tabel 2.6 Data Siswa RA Amaliya Tahun Pelajaran 2022/2023, 56.
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 kegiatan menebalkan huruf (masih berupa garis pola), 63.
Gambar 2.2 Kegiatan Menebalkan huruf dan Mewarnai Gambar Orang, Menempel Bentuk Orang dan Menyusun Huruf Sesuai Nama Menggunakan Kertas Origami, 66.
Gambar 2.3 Pengenalan Huruf Melalui Dinding Kata, 67.
Gambar 2.4 Strategi Membaca Permulaan Melalui Media Buku Bacaan, 70.
Gambar 2.5 Guru Mengenalkan Huruf Dengan Permainan Huruf dan Kata Melalui Aktivitas Bernyanyi, 72.
Gambar 2.6 Guru Menanyakan Huruf, Menyusun Huruf Menjadi Sebuah Kata, 75.
Gambar 2.7 Pemberian Tugas Menulis Huruf, Persuku Kata Maupun Kata, 76.
Gambar 2.8 Pemberian Tugas Sesuai Tema, 77.
xv
Lampiran 1 Pedoman Wawancara Strategi Guru dalam Pengenalan Membaca RA Amaliya
Lampiran 2 Pedoman Wawancara dengan Guru RA Amaliya
Lampiran 3 Pedoman Observasi Strategi Guru dalam Pengenalan Membaca Permulaan
Lampiran 4 Pedoman Dokumentasi
Lampiran 5 Hasil Wawancara dengan Guru RA Amaliya Kelompok B1 Lampiran 6 Hasil Wawancara dengan Guru RA Amaliya Kelompok B2 Lampiran 7 Hasil Wawancara dengan Peserta Didik Kelompok B Lampiran 8 Catatan Lapangan
xvi
STRATEGI GURU DALAM PENGENALAN MEMBACA PERMULAAN UNTUK ANAK USIA 5-6 TAHUN DI RA AMALIYA
Oleh:
Nur Hidayatussholihah NIM 170110054
ABSTRAK
Membaca permulaan merupakan kemampuan membaca huruf, suku kata, dan kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan. Anak yang sudah mampu dalam tahap membaca awal akan mempunyai kepercayaan diri yang lebih dibandingkan anak yang belum mampu mencapai kemampuan membaca awal dengan baik. Kemampuan membaca merupakan bagian dari empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya dan kendala dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dimana sumber data diperoleh dari guru, peserta didik, dan kepala sekolah RA Amaliya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknis analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Adapun pengecekkan keabsahan data dalam penelitian ini dengan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan guru dalam pengenalan membaca permulaan cukup beragam dan menarik, adapun strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya yaitu, 1) metode menebalkan huruf, 2) metode dinding huruf (word wall), 3) media buku bacaan, 4) permainan huruf dan kata melalui aktifitas bernyanyi, 5) metode tanya jawab, dan 6) metode pemberian tugas. Adapun kendala dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya diantaranya kesulitan mengenal huruf, adanya anak yang sulit konsentrasi, menganggap membaca kegiatan yang sulit, anak mudah bosan, peraturan pemerintah tentang larangan membaca permulaan anak usia dini.
Kata Kunci: Strategi Guru, Membaca Permulaan, Anak Usia Dini.
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Kemampuan membaca permulaan sangat penting bagi anak, karena kemampuan tersebut menjadi kemampuan dasar anak untuk membaca dijenjang yang lebih tinggi. Kemampuan membaca permulaan anak usia dini dapat dilihat dari kemampuan anak dalam mengenal lambang huruf, dan simbol huruf. Membaca permulaan merupakan kemampuan membaca huruf, suku kata, dan kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan. Membaca permulaan perlu distimulasi dengan tepat, dalam proses ini tidak semata hanya dilakukan sekali dua kali saja tetapi harus dilakukan sesering mungkin agar membaca permulaan pada anak dapat berkembang dengan baik.2
Penelitian yang dilakukan Sri Yetti Milfa, dkk., dengan para ahli bidang kedokteran dan psikologis anak menyatakan perlunya anak (balita) diperkenalkan membaca karena: (1) anak berusia di bawah lima tahun dengan mudah dapat menyerap informasi dalam jumlah
2
Journal For Lesson and Learning Studies, vol. 4, nomor 1, 2021, hlm. 34.
yang sangat banyak. Pada anak yang berusia dibawah empat tahun hal ini lebih mudah dan efektif. Usia tiga tahun, bahkan lebih mudah lagi dan jauh lebih efektif. Usia dua tahun adalah yang paling mudah dan paling efektif. (2) anak berusia di bawah lima tahun dapat menangkap informasi dengan kecepatan yang luar biasa. (3) semakin banyak informasi yang diserap oleh seorang anak berusia di bawah lima tahun maka semakin banyak pula yang dapat diingatnya. (4) anak berusia di bawah usia lima tahun mempunyai energi yang sangat luar biasa. (5) anak berusia di bawah usia lima tahun dapat mempelajari sesuatu bahasa secara utuh dan dapat belajar hampir sebanyak yang diajarkan padanya. Dalam mengajarkan membaca harus memperhatikan karakteristik dan prinsip pembelajaran pada anak. Karakteristik anak usia dini adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar, merupakan pribadi yang unik, suka berfantasi dan berimajinasi, masa potensial untuk belajar, menunjukkan sikap egosentris dan memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek.3
Prinsip pembelajaran membaca anak usia dini yaitu, membuat anak agar tertarik dalam kegiatan membaca sehingga ini menjadi
3 Puzzle Berbasis ICT Terhadap Motivasi
Belajar Dan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Usia 5- Jurnal Tematik, vol. 8, nomor 3, Desember 2018, hlm. 265.
kegiatan yang menyenangkan. Jika anak sudah memiliki rasa senang membaca akan lebih mudah untuk dibimbing sehingga kegiatan membaca bukan menjadi suatu beban melainkan suatu kebutuhan.4 Proses membaca permulaan pada anak terdapat tahap-tahapan sehingga anak tidak akan mengalami kesulitan pada tahap berikutnya yang akan mempunyai tingkat kesukaran yang lebih. Tidak dapat dipungkiri pula, bahwa kemampuan anak dalam membaca awal akan sangat berpengaruh terhadap kesiapan anak sebelum memasuki tahap atau jenjang berikutnya. Anak yang sudah mampu dalam tahap membaca awal akan mempunyai kepercayaan diri yang lebih dibandingkan anak yang belum mampu mencapai kemampuan membaca awal dengan baik.5
Pada anak usia dini, penting untuk dilakukan stimulasi kemampuan membaca permulaan karena ini termasuk dalam salah satu aspek perkembangan bahasa. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, terutama pada perkembangan bahasanya. Robert E. Owen dalam Conny Semiawan menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem-sistem dan urutan
4 Ibid.
5
Jurnal Pendidikan Anak, vol. 5, nomor 1, Juni 2016, hlm. 760.
kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. M.
Fauzil Adhim menyatakan bahwa keterampilan membaca merupakan sebuah proses yang membutuhkan kemampuan berbahasa yang cukup kompleks. Pada anak usia dini, membaca bukanlah membaca seperti layaknya orang dewasa membaca. Anak usia dini masih berada pada tahap membaca permulaan yaitu masih dalam tahap dapat mengerti arti simbol yang ada di sekitarnya.6
Sejalan dengan penjelasan di atas, Karli mengungkapkan bahwa perkembangan bahasa meliputi kemampun membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Kemampuan membaca merupakan bagian dari aspek perkembangan anak yang perlu dikembangkan dengan memberi stimulan secara optimal sejak usia dini. Memulai membaca sejak usia dini merupakan sesuatu yang sangat penting bagi anak usia pra sekolah, karena usia satu sampai lima tahun dikenal sebagai sesuatu yang paling penting dalam perkembangan anak.7
Oberlander dalam Harun Rasyid mengatakan bahwa tingkat kemampuan berbahasa sangat dipengaruhi oleh seringnya kata-kata
6
Metode Permainan Kartu Huruf Pada Anak Kelompok B TK PKK Bucor Kulon jurnal Ilmiah Nizamia, vol. 03, nomor 4, September 2021, hlm. 600.
7
Jurnal Pendidikan dan Sains, vol. 1, nomor 2, Agustus 2019, hlm. 113.
yang diucapkan kepada anak sejak dini secara berulang-ulang.
Dengan mendengar kata-kata dan melihat huruf yang diucapkan oleh orangtua atau pendidik, terlebih lagi jika dilihatkan gambar, maka tujuan pembelajaran akan cepat masuk.8
Nurhadi menjelaskan bahwa kemampuan membaca merupakan bagian dari empat keterampilan berbahasa yang lain, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada anak usia dini, tahap awal pembelajaran membaca adalah dengan memperkenalkan terlebih dahulu kepada anak melalui media yang bisa membantu anak membaca. Namun, pada umumnya pembelajaran membaca di taman kanak-kanak tidak begitu diperhatikan kesiapan pada diri anak hanya langsung melibatkan anak dengan LKA (lembar kerja anak) sehingga kurangnya kesiapan pada diri anak dalam hal membaca. Stimulasi pada anak dalam peningkatan kemampuan pengenalan membaca perlu adanya inovasi dalam pembelajaran pengenalan membaca permulaan dengan berbagai macam alat/
permainan yang menggunakan media. Guru perlu mengembangkan cara mengajar. Agar anak dapat termotivasi dalam berbagai kegiatan belajarnya. Hal ini agar aspek perkembangan bahasa anak usia dini
8 Ibid., hlm. 121.
dapat berkembang dengan maksimal. Terutama dalam halnya membaca, sehingga saat memasuki sekolah dasar anak tidak mengalami kesulitan untuk menguasai keterampilan membaca yang sesungguhnya.9
Membaca permulaan sebagai kemampuan dasar membaca untuk anak usia dini dan semakin cepat anak dapat membaca semakin besar peluang untuk memahami kegiatan pembelajaran di sekolah. Kegiatan membaca permulaan pada anak usia dini bisa dikatakan sebagai bekal untuk memasuki sekolah dasar (SD), karena hal itu sebagai syarat ujian untuk masuk di sekolah yang diinginkan. Namun pada akhir tahun pelajaran masih juga terdapat anak didik yang belum bisa membaca, keadaan ini banyak terjadi pada anak didik kelas satu maupun anak didik yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan pembelajaran membaca permulaan yang telah mereka terima belum optimal. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru di sekolah RA Amaliya tentang proses kegiatan pembelajaran membaca permulaan pada anak usia dini terutama pada anak usia 5-6 tahun, bahwa kegiatan membaca permulaan sudah diperkenalkan sejak awal
9 mampuan Berbahasa Melalui Pengenalan Membaca
(Skripsi, FKIP Universitas Jambi, Jambi, 2017), hlm. 1-2.
masuk sekolah seperti pengenalan huruf, akan tetapi media pengajaran yang digunakan hanya berupa buku bacaan yang disediakan oleh sekolah.10 Oleh karena itu, di RA Amaliya pada anak usia 5-6 tahun sudah ada upaya pengenalan membaca yang dilakukan oleh guru. Maka melalui penelitian ini ingin menggali lebih jauh strategi apa yang digunakan guru, dengan mengangkat judul am Pengenalan Membaca Permulaan Anak Usia 5-
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya?
2. Apa saja kendala dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya?
C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah terurai di atas, maka penelitian ini bertujuan:
10Pusnawati, Wawancara, Karang Baru, 16 September 2021.
a. Untuk mengetahui strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya.
b. Untuk mengetahui apa saja kendala dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Manfaat penelitian yang dimaksud adalah:
a. Manfaat Teoritis
Dengan adanya penelitian ini, sebagai panduan dan juga menambah pengembangan keilmuwan serta memperluas wawasan tentang strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan anak usia 5-6 tahun.
b. Manfaat Praktis
1) Manfaat bagi Sekolah
Bagi sekolah, memberi masukan kepada pihak sekolah untuk memfasilitasi alat permainan edukatif yang ada di sekolah untuk menstimulasi kemampuan membaca
khususnya membaca permulaan pada anak kelompok B (anak usia 5-6 tahun) di Taman Kanak-kanak.
2) Manfaat bagi Guru
Bagi para guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk meningkatkan kembali proses belajar mengajar dalam upaya pengenalan membaca permulaan terhadap anak usia dini sebagai kesiapan anak memasuki sekolah jenjang berikutnya.
3) Manfaat bagi peneliti
Dapat menambah pengetahuan tentang strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia dini 5-6 tahun dan juga untuk menambah wawasan serta pengalaman dalam berbagai aspek perkembangan anak usia dini.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini mengingat luasnya pembahasan yang terkandung, maka peneliti membatasi permasalahan pada pembahasan yang lebih spesifik. Adapun yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini adalah strategi guru dalam
pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun dan kendala dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2021/2022 di RA Amaliya Kelurahan Karang Baru Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Dengan subjek penelitiannya yaitu guru, peserta didik dan pihak yang terkait lainnya. Kemudian objeknya adalah strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan dan kendala dalam pengenalan membaca permulaa untuk anak usia 5-6 tahun di RA Amaliya.
Penelitian ini dilakukan dimulai dengan mengajukan judul dari bulan September 2021.
E. Telaah Pustaka
Dalam penelitian ini, telaah pustaka dalam suatu penelitian bertujuan untuk menggali informasi dari berbagai sumber, seperti buku dan jurnal; serta skripsi. Peneliti juga menggali informasi dari hasil penelitian terdahulu sebagai bahan pertimbangan untuk menghindari terjadinya pengulangan hasil temuan yang membahas permasalahan yang sama, maka peneliti melakukan telaah pustaka
terkait dengan tema yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut.
1. Membaca dan Menulis
Permulaan untuk Anak Usia Dini
Vol 2 No. 2 Tahun 2013. Adapun mengenai hasil dari penelitian ini adalah bahwasanya dasar untuk belajar membaca dan menulis dapat dikembangkan sejak usia dini. Stimulasi dan peran pendidik sangat diperlukan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Berbagai kegiatan sederhana dapat diberikan pada anak untuk membangun dasar belajar membaca dan menulis. Pada intinya anak ditenggelamkan pada pemahaman akan pentingnya kegiatan membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjalin komunikasi dengan orang lain. Pemahaman pada anak, bahwa membaca dan menulis bukan sebagai tugas berat yang harus dilewati namun merupakan kegiatan menyenangkan dan menjadi kebutuhan agar dapat menyampaikan gagasan pada orang lain dan memperoleh informasi dari orang lain.11
Persamaan dalam penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sama-sama mengkaji
11Martha Cristianti, Jurnal
Pendidikan Anak, vol. 2, nomor 2, Desember 2013, hlm. 317.
atau meneliti terkait membaca permulaan sejak usia dini.
Sedangkan perbedaannya adalah dalam penelitian Martha Cristianti fokus penelitiannya pada membaca dan menulis permulaan untuk anak usia dini dengan mengembangkan bahasa agar anak mampu berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan penelitian ini fokus pada strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan anak usia 5-6 tahun dan kendala dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun.
2. Dimensi Pola Asuh
Orangtua Untuk Mengembangkan Membaca Permulaan Anak Usia Dini 4- dalam jurnal Teknodik Vol. 19 No. 1 Tahun 2015. Hasil penelitian dalam penelitian ini adalah membaca permulaan diperlukan sebab kemampuan membaca dapat membuka wawasan anak mengenai banyak pengetahuan atau membaca adalah jendela dunia. Tahapan membaca permulaan melalui pembelajaran berbantuan komputer program
Book House yaitu alfabet mengenai huruf besar dan huruf kecil, eksplorasi kata, mengenai posisi, membuat cerita sederhana, dan mengenai kata dengan huruf awal yang sama. Penerapan kemampuan membaca permulaan melalui pembelajaran
berbantuan komputer dengan cara mengasyikkan anak (immersiom) dapat dilaksanakan dengan cara: (a) orangtua menyiapkan banyak waktu untuk mendampingi anak, (b) orangtua menata perencanaan bermain dan waktu latihan membaca permulaan, dan (c) orangtua memperlihatkan atau menunjukkan kepada anak-anak bahwa membaca dan menulis adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat menyenangkan dan menarik.12
Adapun persamaan dari penelitian terdahulu ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sama-sama meneliti tentang pembelajaran membaca permulaan anak usia dini.
Sedangkan perbedaannya yakni pada penelitian Luluk Asmawati fokus penelitiannya pada dimensi pola asuh orangtua untuk membantu kemampuan membaca permulaan pada anak usia dini 4-5 tahun, juga mempraktikkan pembelajaran program
Book House untuk anak usia dini melalui komputer tablet.
Sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh peneliti ini adalah strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak
12
Kemampuan Membaca Permulaan Anak Usia Dini 4- Jurnal Teknodik, vol. 19, nomor 1, April 2015, hlm. 76-77.
usia 5-6 tahun dan kendala dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun.
3.
Permulaan pada Anak Usia Dini dalam Perspektif Reading Readiness nal Indonesia untuk Kajian Pendidikan Vol.
4 No. 2 Tahun 2019. Hasil penelitian dalam peneliti ini adalah permasalahan dalam membaca permulaan pada anak usia dini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor fisik, psikologi, jenis kelamin, pengetahuan dan sosial budaya. Hasil dari penelitian ini juga menunjukkan bahwa terjadinya kesulitan membaca pada anak usia dini disebabkan karena anak belum memiliki kesiapan membaca, yang mencakup lima hal, yaitu:
mengenal warna dasar, mengenal huruf, mengenal angka;
bertindak seperti orang membaca, atau pura-pura membaca; serta menulis nama sendiri walaupun beberapa huruf masih terbalik.13 Adapun persamaan dari penelitian sebelumnya dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah sama-sama mendeskripsikan terkait membaca permulaan terhadap anak usia
13
Perspektif Analisis Reading Readiness Jurnal Indonesia untuk Kajian Pendidikan, Vol.
4, Nomor 2, September 2019, hlm. 121-122.
dini. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian sebelumnya memfokuskan pada kesulitan membaca permulaan pada anak usia
reading readiness
sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti ini memfokuskan pada strategi guru dalam pengenalan membaca permulaan anak usia 5-6 tahun dan kendala dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia 5-6 tahun.
F. Kerangka Teori
Pada bagian ini, peneliti memaparkan beberapa hal yang telah tersusun secara terperinci, dasar teori yang kuat atau teoritis tertentu yang berkaitan dengan tema pembahasan dari penelitian ini.
1. Strategi Guru PAUD a. Pengertian Strategi
Strategi memiliki arti yang beragam, bergantung pada bagaimana proses penerapan dan tujuannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Istilah
berkaitan dengan perang, yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer memenangkan suatu
peperangan. Dalam konteks ini, istilah strategi digunakan dengan tujuan memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Begitu juga seorang guru yang mengharapkan hasil baik dalam proses pembelajaran akan menerapkan suatu strategi agar peserta didiknya mendapat prestasi belajar yang baik, sesuai dengan potensinya masing- masing. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of aktivities designed to achieves a particular educational goal.14
Pupuh dan Sobri mengungkapkan bahwa pengertian strategi dari segi bahasa diartikan sebagai suatu siasat, kiat, taktik, trik, atau cara dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Bila sepakat dengan dengan pemaknaan di atas, maka dihubungkan dengan strategi belajar mengajar.
Pupuh dan sobri menjelaskan lagi bahwa strategi dalam belajar mengajar merupakan sejumlah langkah yang direkayasa
14Mulyasa, Strategi Pembelajaran PAUD, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017), hlm. 49-50.
sedimikian rupa oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.15
Secara garis besar, strategi diartikan sebagai garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam bukunya yang berjudul Strategy Policy and Central Management, Newman & Logan menyatakan bahwa strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup empat hal berikut:
1) Mengidentifikasi dan menetapkan kualifikasi hasil sesuai dengan sesuatu yang harus dicapai.
2) Memprtimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama yang dipandang paling efektif untuk mencapai sasaran tujuan.
3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan.
4) Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria ukuran yang digunakan untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan usaha tersebut.
15 Jurnal
Forum Sosial, vol. 6, nomor 1, Februari 2013, hlm. 242.
Dalam pembahasan ini, strategi disandingkan dengan pembelajaran. Strategi pembelajaran akan digunakan sepanjang proses pembelajaran. Maka, seorang guru harus memilih strategi yang tepat.16
Dick & Carey menyatakan bahwa, strategi pembelajaran merupakan serangkaian materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk mewujudkan hasil belajar peserta didik. Begitupun dengan Kemp, mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.17
b. Strategi Guru dalam Pengenalan Membaca Permulaan Strategi yang dapat digunakan dalam mengenalkan ataupun mengembangkan kemampuan membaca anak usia dini adalah dengan pendekatan pengalaman berbahasa.
Pendekatan ini diberikan dengan menerapkan konsep DAP (Developmentally Aproppriate Practice) atau dalam bahasa
16 Irwan Budiana, dkk., Strategi Pembelajaran, (Malang: Literasi Nusantara Abadi, 2022), hlm. 55.
17Mulyasa, Strategi..., hlm. 51-57.
Indonesia berarti pendidikan yang patut sesuai dengan tahap perkembangan anak, yang dilakukan melalui bermain dengan menggunakan metode mengajar pengenalan membaca permulaan yang tepat serta melibatkan anak dalam kegiatan yang dapat memberi berbagai pengalaman bagi anak.18
DAP merupakan bentuk revisi dari kurikulum The National Associantion for the Education of Young Children (NAECY). DAP lahir dari kondisi pendidikan Amerika Serikat tahun 1990-an, dengan munculnya pembaharuan terhadap kurikulum pendidikan bagi anak usia di bawah 8 tahun (Usia Dini). Kurikulum lama dianggap telah gagal membentuk anak agar memiliki kemampuan berfikir kritis dan penyelesaian masalah bagi kehidupannya. DAP pada dasarnya berpegang pada 2 prinsip pokok yaitu: kesesuaian jenis kegiatan (pembelajaran) dengan usia perkembangan anak dan keunikan setiap anak. Ini artinya seorang guru sebelum mendidik perlu memahami siapa anak usia dini, bagaimana karakteristik
18 Jurnal Membaca
Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 1, nomor 2, November 2016, hlm. 192.
perkembangan mereka, sehingga mengerti kebutuhan belajarnya.19
Jika guru kurang pandai dalam mencari metode ataupun strategi dalam mengenalkan membaca maka kemampuan membaca pada peserta didik akan sulit terwujud, akibatnya bisa memunculkan rasa frustasi dari pihak guru dan peserta didik itu sendiri. Berikut ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru dalam pengenalan membaca permulaan untuk anak usia dini:
1) Menebalkan huruf
Kemampuan membaca permulaan dimulai dari guru memberikan kegiatan menebalkan huruf, menebalkan huruf yang dibuat melalui lembar kerja anak, dimana lembar kerja tersebut terdapat garis titik-titik yang dapat dihubungkan dan membentuk lambang huruf. Guru menuliskan satu huruf di papan tulis kemudian menyebutkan bunyi huruf tersebut bersama-sama. Guru memberikan titik-titik huruf pada selembar kertas kemudian anak menebalkan huruf-huruf tersebut. Kegiatan
19 Masnipal, Menjadi Guru PAUD Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm. 11-12.
tersebut dilaksanakan berulang-ulang, pengulangan dalam menebalkan huruf dapat membiasakan anak mengenal huruf-huruf dan pada kegiatan yang lain, anak diminta untuk menyebutkan dan menulis huruf tersebut pada buku tulis yang sudah dibagikan. Kegiatan pembelajaran diselingi dengan mewarnai gambar-gambar, sehingga anak tidak mudah bosan dan mudah lelah.20
2) Kartu kata bergambar
Pemilihan media dan strategi pembelajaran yang tepat sangat diperlukan agar dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Terdapat keterkaitan antara penggunaan media kartu kata bergambar dengan kemampuan berbahasa anak khusus dalam membaca permulaan. Kartu kata ini bermanfaat dalam mendukung terciptanya suatu pembelajaran yang menyenangkan. Kartu kata gambar yang berukuran 10x15 cm yang terbuat dari kertas tebal yang memiliki kata-kata dan gambar yang sesuai dengan tema pembelajaran seperti gambar buah, binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Media kartu kata
20
Jurnal Pendidikan Anak, vol. 4, nomor 1, Juni 2015, hlm. 585.
bergambar dapat merangsang anak usia dini dalam mengenal dan mengucapkan huruf, kosakata dan gambar membuat minat semakin kuat menguasai konsep serta merangsang kemampuan dan ingatan anak. penggunaan media kartu kata bergambar dapat memberikan kemudahan bagi anak dalam mengenal kosa kata sehingga membantu perkembangan kemampuan anak khususnya dalam vocabulary serta dapat memberikan pengalaman yang nyata bagi anak melalui beraneka ragam gambar.21
3) Dinding kata (Word Wall)
Cunningham dan Allington menegaskan bahwa word wall adalah strategi yang efektif dalam mengajarkan huruf dan kata. Word wall atau dinding kata ditempel disalah satu sudut kelas dan digunakan bersama-sama anak pada saat kegiatan membaca. Huruf-huruf yang ditempelkan permanent dan beragam menciptakan ruangan yang penuh tantangan bagi anak, membangun rasa ingin tahu, menciptakan minat belajar dan pada akhirnya mereka
21
Journal of Islamic Early Childhood Education, vol. 1, nomor 1, Desember 2020, hlm. 56-60.
secara tidak sadar akan mengenal, mengetahui, menghafal dan membedakan susunan huruf-huruf tersebut beserta bunyi dan maknanya. Adapun beberapa tujuan dari word wall adalah sebagai berikut: (a) mengenalkan anak terhadap alphabet, (b) mengembangkan kesadaran anak akan bunyi huruf atau fonik, (c) membantu anak dalam mengenal dan menulis bentuk huruf, (d) membangun kemampuan anak dalam menghubungkan bunyi dan huruf, (e) mengembangkan kemampuan anak dalam mengeja dan membaca.22
4) Media Buku Bacaan
Penggunaan media buku bacaan menjadi penting karena digunakan untuk mengontrol perkembangan kemampuan membaca anak agar lebih sistematis dan bisa terpantau. Media buku ini biasanya berisi potongan huruf, potongan suku kata, potongan kata, sampai potongan kalimat, yang telah tersusun secara rapi. Aplikasi buku ini diajarkan pada awal pembelajaran saja dalam waktu yang
22 Mia Rachmawaty mpuan Membaca Permulaan Melalui Dinding Kata (Word Wall Jurnal Ilmiah Pendidikan Pra Sekolah dan Sekolah Awal, vol. 2, nomor 1, Maret 2017, hlm. 37.
tidak lama secara individual, sehingga tidak membuat anak bosan karena anak yang belum belajar dengan buku ini akan tetap bermain sesuai dengan yang diinginkan anak.
setiap hari anak hanya belajar membaca setengah halaman saja, artinya hanya membaca beberapa suku kata saja semisal; ca ca, ci ci, ka ca, ka ci, ci na, la ci. Sehingga hanya perlu ditempuh anak dalam waktu kurang dari 3 menit, bahkan untuk anak yang cerdas dan cepat memahami, mungkin tidak sampai satu menit. Dengan catatan, guru harus hati-hati mengajarkannya, yaitu dengan metode, media dan teknik yang bervariasi memperhatikan kondisi psikologis anak.23
5) Pemanfaatan Multimedia
Pemanfaatan multimedia dalam pembelajaran memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kemampuan multimedia dalam menghasilkan gambar, teks, suara, bahkan animasi/ gambar yang bergerak, diharapkan mampu membangkitkan minat dan
23
-Burhan jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, nomor 2, Desember 2020, hlm. 66.
memberi kemudahan bagi anak dalam mengingat bentuk simbol-simbol dan suara; serta mengkonstruksi makna.
Maka, pemanfaatan teknologi multi-media bisa menjadi sebuah terobosan baru atau inovasi di dunia pendidikan pada umumnya khususnya di TK. Pembelajaran dengan menggunakan beberapa metode membaca permulaan (seperti metode fonik, linguistik, SAS, flash card, membaca lagu, game komputer) yang tersimpan dalam perangkat lunak/software dan ditampikan melalui multimedia berupa gambar, suara atau animasi serta strategi pembelajaran melalui pemanfaatan multimedia yang berfokus pada guru (presentasi, demonstrasi, latihan dan praktek, diskusi, permainan) yang dirancang secara variatif dan menarik mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Dengan demikian, pemanfaatan multimedia membawa keuntungan baik bagi guru dan siswa.24
24
Pemanfaat Jurnal Pendidikan Usia Dini, vol. 7, nomor 1, April 2013, hlm. 36-45.
6) Bermain Puzzle
Puzzle merupakan suatu media berwarna warni yang bisa dibongkar pasang bisa berupa huruf, angka, binatang dan lain-lain yang dapat merangsang imajinasi. Tidak hanya itu media puzzle juga memiliki keunggulan seperti:
mudah diperoleh, tidak beresiko, cepat dikenal anak, memiliki warna yang bervariasi, serta memiliki gambar- gambar yang menarik bagi anak dan diharapkan dapat merangsang daya ingat anak untuk meningkatkan kemampuan mengenal huruf. Aktivitas yang dapat dilakukan anak usia 5-6 tahun menunjukkan karya dan aktivitas seni dengan berbagai media adalah membuat karya sesuai kreativitasnya misalnya: visual dan gerak yang dihasilkan orang lain diantaranya dengan kegiatan bermain puzzle. Membaca permulaan berada di tahap awal proses membaca atau proses visual. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis kedalam bunyi.25
25 -269.
7) Permainan Huruf dan Kata melalui Aktivitas Bernyanyi Kojeh mengemukakan bahwa benyanyi adalah suatu kegiatan yang mempunyai empat faktor pendorong agar lebih efektif dalam penggunaannya, yaitu: konsentrasi, jiwa yang tenang, pengulangan dan motivasi. Sejalan dengan pendapat tersebut, Satibi mengungkpkan bahwa bernyanyi ialah suatu aktivitas yang dapat merangsang pembelajaran secara nyata yang mampu membuat anak senang dan gembira melalui ungkapan kata dan nada.
Berdasarkan pernyataan di atas, permainan huruf dan kata melalui aktivitas bernyanyi ini merupakan aktivitas pembelajaran yang menekankan pada kata-kata yang dilagukan dengan suasana menyenangkan sehingga anak tidak merasa jenuh. Selain memberikan kesenangan kepada anak, bernyanyi ini diasumsikan sebagai salah satu pendekatan yang cukup tepat jika digunakan sebagai sarana dalam menyajikan proses pembelajaran membaca permulaan bagi anak usia dini.26
26
Stimulasi Kemampuan Membaca Permulaan Pada Anak Taman Kanak- Early Childhood: Jurnal Pendidikan, vol. 3, nomor 2, November 2019, hlm. 76-78.
Kesimpulan dari strategi guru di atas, dalam mengenalkan membaca permulaan kepada anak usia dini adalah dengan cara menstimulasinya yakni melalui pendekatan pengalaman bahasa yang dilakukan melalui bermain serta kegiatan yang dapat memberi pengalaman bagi anak, adapun strategi guru yang dapat diterapkan dalam pengenalan membaca permulaan anak usia dini diantaranya menebalkan huruf, kartu kata bergambar, dinding kata (word wall), media buku bacaan, pemanfaatan multimedia, bermain puzzle, serta permainan huruf dan kata melalui aktivitas bernyanyi.
Masih banyak lagi kegiatan yang menunjang pembelajaran pengenalan membaca permulaan pada anak usia dini, tergantung bagaimana strategi guru dalam mengenalkannya. Dalam memberikan kegiatan pembelajaran, guru harus kreatif seperti mengadakan permainan, menyiapkan media yang menarik dan dalam menyampaikan kegiatan tidak membosankan.
2. Membaca Permulaan Anak Usia Dini a. Pengertian membaca
Membaca merupakan kegiatan menerjemahkan simbol dan memahami arti atau maknanya melalui indera penglihatan.
Membaca tidak sekedar membaca tetapi aktivitas ini mempunyai tujuan, yaitu untuk mendapatkan informasi baru yang terkandung di dalam bahan bacaan. Kemampuan membaca merupakan kemampuan yang sangat penting.27 Glen menjelaskan bahwa membaca harus dimulai dengan mengeja, dimulai dengan pengenalan huruf kemudian mengenal suku kata, barulah mengenal kata dan akhirnya mengenal kalimat. Adapun menurut Hartati, membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan ini terjadi pengenalan huruf- huruf. Membaca dikatakan sebagai kegiatan fisik karena pada saat membaca bagian-bagian tubuh khususnya mata membantu melakukan proses membaca, juga dapat dikatakan sebagai
27
Pur Skripsi, UNY, Yogyakarta, 2014), hlm. 11.
kegiatan mental pada saat membaca bagian-bagian pikiran khususnya persepsi dan ingatan terlibat di dalamnya.28
Belajar membaca membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesiapan. Menurut Tzu dalam Ahmad Susanto membaca diidentifikasi dari kesiapan dan berbagai perilaku yang diperlihatkan anak, yaitu: 1) Rasa ingin tahu tentang benda- benda di dalam lingkungan, manusia, proses, dan sebagainya.
2) Mampu untuk menerjemahkan atau membaca gambar dengan mengidentifikasi dan menggambarnya. 3) Menyeluruh dalam pembelajaran. 4) Melalui kemampuan berkomunikasi dengan bahasa percakapan khususnya dalam kalimat. 5) Memiliki kemampuan untuk membedakan persamaan dan perbedaan dalam suara secara cukup baik untuk mencocokkan atau suara dengan lainnya. 6) Keinginan untuk belajar membaca. 7) Memiliki kematangan emosional yang cukup untuk dapat konsentrasi dan terus-menerus dalam suatu tugas.
28 Ibid., hlm. 84.
8) Memiliki percaya diri dan stabillitas emosi.29
Menurut Eliason dalam Ahmad Susanto, Anak yang menyukai gambar atau huruf sejak awal perkembangannya akan mempunyai keinginan membaca lebih besar karena mereka tahu bahwa membaca, membuka pintu baru, membenahi informasi, dan menyenangkan.30
Pendapat dari ahli bahasa D.P Tampubolon menyatakan bahwa, membaca adalah satu dari kemampuan bahasa pokok, dan merupakan satu bagian atau komponen dari hasil
proses lambang-lambang bunyi bahasa dapat diubah menjadi lambang-lambang tulisan atau huruf-huruf menurut alfabet latin yang dibina dan dikuasai terutama dilakukan pada masa anak-anak khususnya pada tahun permulaan sekolah.
sebagai membaca untuk pemahaman umumnya. Kemampuan pemahaman ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi
29Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011), hlm. 84.
30Ibid., hlm. 86.
secara keseluruhan.31Menurut Burns dalam Rahim mengemukakan bahwa kemampuan membaca merupakan sesuatu yang vital sebab setiap aspek kehidupan melibatkam kegiatan membaca.32
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca diidentifikasi dari kesiapan dan berbagai perilaku yang diperlihatkan anak. Pendapat lain mengatakan membaca adalah kegiatan fisik dan mental, karena pada saat membaca bagian-bagian tubuh khususnya mata membantu melakukan proses membaca dan ingatan terlibat di dalamnya. Begitupun juga menurut Eliason bahwa anak yang keinginan membacanya lebih besar ialah anak yang menyukai gambar atau huruf sejak awal perkembangannya. Pendapat ahli bahasa menyatakan bahwa dapat dipahami pada tingkat membaca permulaan adalah proses lambang-lambang bunyi bahasa yang dapat diubah menjadi lambang-lambang tulisan menurut alfabet latin, sedangkan pada tingkat membaca lanjut ialah
31 Lalu Muhammad Nurul Wathoni, PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI
32
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 8, edisi I, April 2014, hlm. 48.
keampuan dalam kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara menyeluruh.
b. Tahapan Membaca pada Anak Usia Dini
Menurut Jamaris, tahap perkembangan membaca anak usia dini terbagi lima tahap yaitu: (1) tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan, (2) tahap membaca gambar, (3) media berupa gambar, (4) media berupa suara, dan (5) media berupa gabungan antara gambar, tulisan, dan suara (lagu).33 Menurut Steinberg mengatakan bahwa, kemampuan membaca anak usia dini dapat dibagi atas empat tahap perkembangan, yaitu:
1) Tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan. Anak mulai belajar menggunakan buku dan menyadari bahwa buku ini penting, melihat dan membalik-balikan buku, dan terkadang membawa buku kesukaannya.
2) Tahap membaca gambar. Mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna gambar, menggunkan bahasa buku walaupun tidak
33 Flash Card dalam Menanamkan Nilai
SILAMPARI BISA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing, vol. 3, nomor 1, Juni 2020, hlm. 11.
cocok dengan tulisannya. Anak sudah mulai menyadari bahwa buku memiliki karakteristik khusus, seperti judul, halaman, huruf, kata dan kalimat, serta tanda baca. Anak sudah menyadari bahwa buku terdiri dari bagian depan, tengah, dan bagian akhir.
3) Tahap pengenalan bacaan. Pada tahap ini, anak telah dapat menggunakan tiga sistem bahasa, seperti fonem (bunyi huruf), semantik (arti kata), dan sintaksis (aturan kata dan kalimat) secara bersama-sama. Anak mulai mengingat kembali cetakan hurufnya dan konteksnya, juga mengenal tanda-tanda yang ada pada benda-benda di lingkungannya.
4) Tahap membaca lancar. Anak sudah dapat membaca lancar berbagai jenis buku yang berbeda dan bahan-bahan yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari- hari.34
Menurut Dalman tahapan membaca permulaan yaitu:
Anak diperkenalkan dengan bentuk huruf abjad dari A/a sampai dengan Z/z. Huruf-huruf tersebut perlu dilafalkan anak
34 Ahmad Susanto, Perkembangan..., hlm. 90-91.
sesuai dengan bunyinya. Misalnya A/a, B/b, C/c, D/d, E/e dan seterusnya, dilafalkan sebagai [a], [be], [ce], [de], [e], dan seterusnya. Setelah anak diperkenalkan dengan bentuk huruf abjad dan melafalkannya, anak juga dapat diperkenalkan cara membaca suku kata, kata dan kalimatnya. Dalam hal ini, anak perlu diperkenalkan untuk merangkaikan huruf-huruf yang telah dilafalkannya agar dapat membentuk suku kata, kata dan kalimat. Misalnya, suku kata /ba/ dibaca /be-a/--[ba], dan suku kata /ju/ dibaca /je-u/--[ju]. Kata /baju/ dibaca atau dieja /be- a/--[ba], dan /je-u/--[ju] menjadi /baju/. Setelah itu, anak juga diperkenalkan dengan kalimat pendek. Misalnya kalimat /ini baju/ cara membaca atau mengejanya /i/--[i]; /en-i/--[ni]
menjadi [ini] dan /be-a/--[ba]; /je-u/--[ju] menjadi [baju]. Jadi kalau dibaca keseluruhan menjadi [ini baju].35
Sehubung dengan pendapat para ahli di atas, sebagaimana tertuang dalam Standar Isi Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) usia 4-5 dan 5-6 tahun lampiran I Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 137 tahun 2014. Pengenalan membaca
35 Lalu Muhammad Nurul Wathoni, PENDIDIKAN ISLAM..., hlm. 115.
idealnya dilakukan melalui 3 tahap, yakni: Tahap I adalah membaca gambar. Anak diberikan gambar, yang dalam satu halaman hanya memuat satu jenis gambar, misalnya jika disitu ada gambar ayam, maka gambar tidak boleh dihias dengan jenis gambar lain. Jika buku, maka buku tersebut hanya berisi gambar, belum tulisan. Tahap II membaca gambar + huruf.
Keterampilan membaca anak tahap kedua ini dengan membaca huruf yang sesuai dengan huruf awal onjek gambar.
Contoh: huruf A untuk gambar ayam dan B untuk buku.
Tahap III membaca gambar + kata keterampilan membaca tahap selanjutnya adalah dengan memperlihatkan gambar dan tulisan makna gambar.36
Keinginan atau minat anak terhadap kegiatan membaca dan menulis sudah muncul bahkan sebelum umur 5-6 tahun.
Ditinjau dari sudut pandangan kebutuhan perkembangan anak, beralasan jika kegiatan membaca, menulis, dan berhitung permulaan dapat diberikan kepada anak usia 5-6 tahun (kelompok B taman kanak-kanak), dengan syarat minimal: (1)
36
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar, vol. 5, nomor 1, Juni 2018, hlm. 20-21.
bersifat bermain; (2) dikemas menarik, asyik, menyenangkan, dan anak senang melakukannya; (3) menggunakan alat permainan/ alat peraga yang menarik; (4) dilakukan berkelompok/ bukan secara individu; dan (5) dibimbing oleh guru profesional.37
Dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) sampai anak usia 6 tahun yang dijabarkan dalam Kompetensi Inti dan lebih detail di Kompetensi Dasar, pemerintah memberi isyarat adanya kegiatan prabaca, pranulis, dan prahitung. Perhatikan untuk anak usia 4-5 dan 5- 6 tahun aspek kognitif (berfikir simbolik), yaitu mengenal konsep bilangan, lambang bilangan, mengenal huruf, menyebut bilangan, menghitung, mengenal lambang huruf vokal dan konsonan. Pembelajaran bukan fokus bagaimana anak belajar baca, tulis, dan hitung, akan tetapi menjadi bagian yang disentuh terkait mengenal huruf atau angka. Dalam KD 4.11 dan 3.12: 4.12 untuk usia 5-6 tahun, pengembangan aspek bahasa bisa meliputi menunjukkan perilaku senang membaca buku, mengungkapkan perasaan dengan kata-kata,
37Masnipal, Menjadi Guru..., hlm. 242-243.
menceritakan kembali isi cerita.38 Namun semua pengalaman pertama-tama harus didekati dengan mempertimbangkan kemampuan dan keinginan anak usia dini 5-6 tahun untuk bermain sambil belajar.39
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa tahap perkembangan membaca anak usia dini adalah diawali dengan tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan, kemudian tahap membaca gambar, media berupa gambar, media berupa suara, lalu media berupa gabungan antara gambar, tulisan dan suara.
Sebagaimana yang tertuang dalam STPPA usia 4-5 dan 5-6 tahun, pengenalan membaca dilakukan melalui 3 tahap yakni, membaca gambar; membaca gambar + huruf; dan membaca gambar + kata.
Kegiatan membaca permulaan dapat diberikan kepada anak usia 5-6 tahun dengan syarat minimal bersifat bermain, menarik, anak senang melakukannya, menggunakan alat peraga yang menarik, dilakukan berkelompok, dan dibimbing oleh guru profesional. Pembelajaran bukan fokus bagaimana
38Ibid., hlm. 243-244.
39Ibid., hlm. 241-242.
anak belajar baca, tulis, dan hitung, akan tetapi menjadi bagian yang disentuh terkait mengenal huruf atau angka.
c. Membaca Permulaan Anak Usia Dini
Menurut Herlina, anak usia kanak-kanak sudah memasuki tahapan membaca permulaan. Membaca permulaan adalah tahapan membaca paling awal sebelum membaca lancar dimulai dengan anak senang dengan buku, dan aktivitas membaca, dapat membaca label, dan gambar, dapat mengenal huruf, dan mengenal kata-kata sederhana.40 sedangkan Steinberg dalam Susanto mengungkapkan bahwa membaca dini atau awal adalah membaca yang diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah. Program ini menumpukkan perhatian pada perkataan-perkataan utuh, bermakna dalam konteks pribadi anak-anak dan bahan-bahan yang diberikan melalui permainan dan kegiatan yang menarik sebagai perantara pembelajaran.41
40 Michael Recard, dkk., Perkembangan Peserta Didik: Konsep dan Permasalahannya, (Yayasan Kita Menulis, 2021), hlm. 70.
41
Meningkatkan Kemampuan Membaca Anak Usia Dini Di Kecamatan V Koto Kampung Jurnal Pendidikan: Early Childhood, vol. 2, nomor 2b, November 2018, hlm. 5.
Begitupun menurut Zubaidah yang menyatakan bahwa pengertian membaca permulaan atau membaca awal lebih menekankan pada pengenalan dan pengucapan lambang- lambang bunyi yang berupa huruf, kata dan kalimat dalam bentuk sederhana. Adapun tujuan dari membaca permulaan untuk anak usia dini 5-6 tahun yang mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58, tentang standar pendidikan anak usia dini yaitu anak dapat berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca.42
Anderson mengungkapkan bahwa membaca permulaan adalah suatu kesatuan kegiatan yang terpadu mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyinya, maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan.43 Kemudian Sareb mengungkapkan bahwa membaca permulaan
42 Busy Book
dalam Mempercepat Kemampuan Membaca Untuk Anak Usia Dini di PAUD Budi Luhur Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan, vol. 6, nomor 1, September 2017, hlm. 29-30.
43
Media Kartu Kata Bergambar Pada Anak Kelas B1 Di Raudatul Athafal Nurul Yaqin Skripsi, UIN Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi, 2020)., hlm. 10.
menekankan pengkondisian anak untuk masuk dan mengenal bacaan sehingga belum sampai pada pemahaman yang mendalam pada materi bacaan.44
Setiap orang yang belajar membaca akan berada pada tingkatan membaca permulaan, setelah lancar baru berada pada tahap keterampilan pemahaman. Membaca permulaan bermanfaat untuk meningkatkan generasi gemar membaca, dari kegemaran membaca buku ini nantinya, anak akan memiliki rasa kebahasaan yang tinggi sesuai yang diungkapkan oleh Montessori dan Hainstock, bahwa anak usia 4-5 tahun sudah dapat diberikan pengajaran mengenai membaca dan menulis.45
Menurut Montessori tokoh PAUD kelahiran Italia.
Pendidikan Montessori sejak lama memberikan pengajaran membaca, menulis, dan berhitung. Ia mengelompokkan aktivitas belajar dan bahan-bahan material pendidikan anak usia dini dalam tiga kegiatan belajar, yaitu pendidikan gerak
44
Kelompok B TK Tut Wuri Hanndayani Samahani Aceh Be Junal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan, vol. 1, nomor 1, September 2020, hlm. 5.
45
Aulad: Journal On Early Childhood, vol. 3, nomor 3, Desember 2020, hlm. 133.
(practice life); melatih indra (sensory materials); dan pengajaran menulis dan membaca (academik materials).46 Sebelum belajar membaca, anak-anak belajar menggunakan bahasa untuk membicarakan hal-hal yang tidak
bagaimana mengorganisasikan dan mengucapkan bunyi.
Mereka juga mempelajari prinsip-prinsip alfabet yakni huruf- huruf yang mempresentasikannya bunyi-bunyi dalam bahasa.47 Salah satu bentuk kegiatan pengembangan bahasa anak usia dini adalah kemampuan membaca permulaan. Anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa. Melalui bahasa orang menangkap apa yang dipikirkan anak. Dengan berbahasa, terjadi komunikasi antar anak sehingga anak dapat menjalin hubungan dengan baik. Tidak heran bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak.48
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa membaca permulaan untuk anak usia dini menurut Herlina adalah
46Masnipal, Menjadi..., hlm. 240.
47John W. Santrock, Child Development: Perkembangan Anak, Terj. Mila Rachmawati Dan Anna Kuswanti, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007), Edisi Kesebelas, Jilid 1, hlm. 364.
48
Pratama Widya, vol. 3, nomor 2, 2018, hlm. 2.
tahapan membaca paling awal sebelum membaca lancar.
Pendapat ahli lainnya mengungkapkan bahwa membaca dini atau awal adalah membaca yang diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah. Hal ini menekankan pada pengkondisian anak untuk masuk dan mengenal bacaan sehingga belum sampai pada pemahaman yang mendalam mengenai materi bacaan. Menurut Montessori bahwa sejak lama memberikan pengajaran membaca, menulis dan berhitung. Ia mengelompokkan aktivitas belajar dalam tiga kegiatan belajar yaitu practice life, sensory materials, dan academik materials. Salah satu bentuk kegiatan pengembangan bahasa anak usia dini adalah kemampuan membaca permulaan.
3. Kendala dalam Pengenalan Membaca Permulaan pada Anak Usia Dini
Selama ini, pendidikan anak usia dini, tidak diperkenankan adanya pelajaran membaca, karena merujuk pada teori psikologi Piaget yang beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, dimana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur.
Sementara itu, kegiatan belajar membaca sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita.49
Kondisi kesulitan kemampuan membaca permulaan tergambar dari faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal yaitu kurangnya siswa melakukan latihan serta kesulitan melafalkan huruf yang bunyinya mirip. Siswa-siswa yang menganggap bahwa membaca adalah pelajaran yang sulit, dimulai dari menghafal huruf-huruf abjad, mengurutkan huruf-huruf tersebut menjadi kalimat, kemudian melafalkannya tanpa harus mengerti maksud dari bacaan itu sendiri. Hambatan-hambatan ini menjadi masalah yang semakin berimbas. Sebab dari hambatan tersebut, anak merasa bosan, takut dan malu kepada orangtua, guru dan teman sebayanya. Sedangkan faktor eksternal muncul dari pihak guru, yaitu kurangnya pemahaman guru dalam merancang program pengembangan membaca permulaan dan pemahaman mengenai karakteristik perkembangan anak usia dini.
Sehingga guru tidak dapat mengajarkan kepada siswa mengenai
49
konsep membaca secara konkret terlebih dahulu. Selain itu, guru tidak menggunakan media pembelajaran atau kurangnya pemahaman guru dalam memanfaatkan media dalam menunjang kemampuan membaca permulaan anak usia dini dan tidak menerapkan prinsip pendidikan taman kanak-kanak, yaitu belajar sambil bermain. Hal ini membuat siswa semakin sulit dalam menjalani aktivitas belajar. Sementara itu, penggunaan media meningkatkan kemampuan membaca serta kemampuan sosial emosional anak. Menurut Tarigan kesulitan umum yang sering ditemukan pada siswa dalam membaca permulaan adalah saat pembelajaran yang tidak disertai gambar yang menjelaskannya.
Pada beberapa kasus, alat peraga berupa gambar atau jenis huruf yang dibuat indah mampu menarik minat siswa untuk mempelajarinya.50
Dalam proses pengenalan membaca permulaan pada anak usia dini tentunya memiliki kendala atau hambatan yang dialami oleh para pendidik. Salah satunya gangguan belajar pada anak, kesulitan belajar bukanlah suatu diagnosis tunggal semata-mata,
50
Permainan Kartu Suku Kata Siswa Usia 5- Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK), vol. 6, nomor 3, Januari-April 2021, hlm. 2-3.
melainkan terdiri dari berbagai jenis gangguan dengan berbagai macam gejala, penyebab dan sebagainya. Tidak semua problem belajar merupakan suatu kesulitan belajar. Ada anak yang menunjukkan perkembangan suatu keahlian tertentu lebih lambat daripada anak lain seusianya dan sebaliknya, tetapi masih dalam batas kewajaran.51
Terdapat empat jenis gangguan kemampuan akademik, diantaranya adalah (a) gangguan membaca, (b) disleksia, (c) gangguan menulis ekspresif, dan (d) gangguan berhitung (diskalkulia). Namun pada gangguan membaca, anak yang mengalami gangguan membaca menunjukkan adanya inakurasi dalam membaca, seperti: membaca lambat, kata demikata jika dibandingkan dengan anak seusianya, intonasi suara turun naik tidak teratur, sering terbalik dalam mengenali huruf dan kata, misalnya antara palu dengan lupa, huruf b dan d, m dan n, dan lain-lain. Pemahaman yang buruk dalam membaca, dalam artian anak tidak mengerti isi cerita/ teks yang dibacanya.52
51Muazzar Habibi, Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), hlm. 66.
52Ibid., hlm. 76.
Tampaknya memiliki banyak kesulitan yang berhubungan dengan kemampuan membaca permulaan pada anak usia dini.
Kesulitan tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan dalam mengenal huruf, mengenal angka, dan merangkai suku kata menjadi kata. Kesulitam membaca dapat dianalisis, salah satunya dengan melihat kesiapan anak dalam membaca.53
Kendala lain yang dialami saat mengajarkan membaca permulaan pada anak usia dini ialah peraturan pemerintah.
Pengajaran membaca, menulis dan berhitung pada pendidikan anak usia dini dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat. Pemerintah telah melarang pengajaran langsung membaca maupun menulis dan berhitung di taman kanak-kanak, kecuali hanya bersifat mengenalkan huruf atau angka. Banyak orangtua menginginkan anak mereka diberi pembelajaran membaca, menulis dan berhitung sebagai persiapan masuk sekolah dasar. Alasan tersebut mungkin tidak salah, sebab ternyata banyak sekolah dasar yang mewajibkan siswa barunya harus sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan tidak sedikit SD yang menetapkan harus lulus tes baca, tulis, dan hitung
53 Membaca..., hlm. 114.
sebagai syarat diterima sekolah. Kondisi dan stigma itu membuat guru PAUD bingung. Memberikan pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung dianggap melanggar aturan pemerintah, namun jika tidak memberikan sekolahnya ditinggalkan siswa.54. Dari penjelasan di atas, kesimpulan tentang kendala dalam pengenalan membaca permulaan anak usia dini adalah kegiatan membaca tidak cocok diajarkan kepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita, karena merujuk pada teori psikologi Piaget yang beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak beum mencapai fase operasional konkret. Kondisi kemampuan membaca permulaan tergambar dari faktor internal dan eksternal yaitu, faktor internal dari peserta didik sendiri kesulitan melafalkan huruf yang bunyinya mirip, menganggap pelajaran yang sulit, merasa bosan, takut dan malu kepada orangtua, guru dan teman sebayanya jika tidak bisa. Sedangkan faktor eksternal muncul dari pihak guru yaitu kurangnya pemahaman guru dalam pengembangan membaca permulaan, juga tidak menggunakan media pembelajaran yang menerapkan prinsip belajar sambil bermain.
54Masnipal, Menjadi Guru..., hlm.238.