• Tidak ada hasil yang ditemukan

T2. Ruang Kolaborasi

N/A
N/A
Artha Multimedia

Academic year: 2023

Membagikan "T2. Ruang Kolaborasi"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Anggih Ardianto NIM : 2300103911220009 Kelas : PJOK A

1. Apa kekuatan konteks sosio-kultural (nilai-nilai luhur budaya) di daerah Anda yang sejalan dengan pemikiran KHD?

2. Bagaimana pemikiran KHD dapat dikontekstualkan sesuaikan dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter peserta didik sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat pada konteks lokal sosial budaya di daerah Anda?

3. Sepakati satu kekuatan pemikiran KHD yang menebalkan laku peserta didik di kelas atau sekolah Anda sesuai dengan konteks lokal sosial budaya di daerah Anda yang dapat diterapkan.

Filosofi Pendidikan menurut Ki Hjar Dewantara tentang Kultur-Budaya “Kekuatan sosial budaya di Indonesia yang beragam menjadi kekuatan kodrat alam dan kodrat aman.

Tuntunlah peserta didik sesuai dengan alam dan zamanya"

Peserta didik berkembang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai- nilai budaya Indonesia. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”.

Nilai Kultur Budaya

Grebeg Suro adalah acara tradisi budaya tahunan masyarakat Ponorogo dalam wujud pesta rakyat. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Nasional Reog Ponorogo, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Dalam pelaksanaan Grebeg Suro pada festival yang diadakan di alun-alun kota Ponorogo di hadiri oleh peserta didik yang diambil dari sekolah dasar sampai sekolah menengah, hal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya local, sehingga peserta didik tetap mempelajari dan menjadi jati diri mereka.

Jawaban Pertanyaan

1. Konteks kekuatan sosio-kultural yang sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu

A. Nilai Religius B. Nilai Aktualisasi diri C. Nilai tradisi

(2)

2. Nilai Religius, Sebagian besar masyarakat ponorogo adalah penganut faham Ahlussunah Waljamaah. Penganut faham ini memeluk agama Islam namun tetap tidak dapat meninggalkan adat jawa yang konon telah diwariskan oleh para nenek moyangnya. Penganut faham ini tidak mempermasalahkan diselenggarakannya ritual adat Gebeg Suro karena pelaksanaanya bersamaan dengan peringatan bulan Muharram. Prosesi ritual upacara Grebeg Suro terdapat suatu proses internalisasi yaitu proses panjang sejak pada tahap persiapan ritual sampai tahap akhir dan kepercayaan serta keyakinan masyarakat terhadap upacara ritual ataupun pengunjung yang hanya sekedar menyaksikan jalannya ritual. Namun sesungguhnya, rangkaian acara ritual ini mencerminkan betapa masyarakat secara keseluruhan mempertahankan adat budaya warisan leluhur

Nilai Aktualisasi Diri, Dari berbagai peristiwa upacara-upacara ritual dalam rangakaian kegiatan Grebeg Suro yang bisa disebut sebagai pengalaman mistik maka dapat kita amati tampak adanya potensi masyarakat yang dikembangkan secara terus menerus dan berkesinambungan untuk bisa lebih eksis dan meningkat.

Grebeg Suro itu bisa membawa masyarakat Ponorogo semakin berwawasan luas dan pada akhirnya bisa berkembang. Tidak hanya untuk kalangan tertentu saja tetapi untuk seluruh lapisan masyarakat Ponorogo bahkan Luar Ponorogo. Hal ini bisa dikatakan bahwa grebeg suro itu bisa membentuk karakter masyarakat Ponorogo menjadi berwawasan, berbudaya dan berbudi luhur itulah Jati diri masyarakat Ponorogo yang kita idamkan.

Nilai Tradisi, munculnya fenomena ritual tersebut tidak semata-mata memenuhi prasyarat struktur maupun prasyarat fungsi melainkan ditopang oleh sikap, pendapat, kepercayaan, serta ciri-ciri kepribadian masyarakat selaku etnik Jawa. Sistem nilai merupakan nilai inti (score value) dari masyarakat. Sistem nilai budaya sering juga berupa pandangan hidup manusia. Pandangan hidup itu biasanya mengandung sebagian dari nilai-nilai yang dianut oleh para individu dan golongan dalam masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Kirab Pusaka yang diakhiri dengan jamasan pusaka bisa dilihat pada sarana yang digunakan. Masing-masing mempunyai arti dan nilai sendiri, mulai dari pusaka itu sendiri sudah memiliki nilai masing-masing antara lain Pusaka Tunggal Wulung yang berupa payung, Tunggal Naga yang wujutnya berupa tombak, Cindi Puspito berupa sabuk dan Kyai Baru Berupa keris.

3. Menurut kami, nilai yang sangat melekat pada peserta didik dalam pelaksanaan Grebeg Suro yaitu pada nilai Aktualisasi Diri, dimana dengan dilaksanakannya Grebeg Suro yang dihadiri oleh peserta didik di alun-alun kota Ponorogo menjadikan peserta didik memahami jati diri mereka yang sesuai dengan budaya yang

(3)

berkembang di masyarakat local. Dengan adanya acara tersebut juga dapat memupuk jati diri peserta didik bahwa mereka tumbuh di lingkungan dengan budaya yang masih dipertahankan, dan harus terus dijaga kearifan lokalnya.

Referensi

Dokumen terkait

Diskusikan dan tuliskan siklus penerapan experiential learning, penjelasan tentang apa yang dilakukan oleh guru, penjelasan tentang apa yang dikatakan guru pada peserta didik

Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta didik abad 21 Pemanfaatan TIK sebagai wadah kreativitas Peserta didik Peserta didik abad 21

Karena dalam proses pembelajaran tidak hanya kegiatan transfer ilmu pengetahuan saja antara guru dengan peserta didik akan tetapi juga bagaimana guru mampu menerapkan pembelajaran

Karena lingkungan-lingkungan tersebut dapat menjadikan mereka mempunyai emodi yang tinggi Mengajarkan peserta didik dengan cara menunjukkan rasa empati kepada sesama teman, sehingga

Fase yang diambil sesuai jenjang yang diampu yaitu Fase D Pada akhir fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan

Metode layanan masih bisa variatif dan inovatif lagi agar peserta didik lebih memahami materi yang dijelaskan dengan penuh kebahagiaan dalam melakukan kegiatannya seperti dengan

Kemampuan Perspektif adalah salah satu kemampuan kunci yang diidentifikasi dalam UbD Understanding by Design, yang mencakup kemampuan peserta didik untuk melihat dan memahami berbagai

Dapat menjelaskan – peserta didik dapat menjelaskan dengan 1 melalui generalisasi atau prinsip, 2 memberikan fenomena-fenomena, fakta, dan data yang dibenarkan dan sistematis, serta 3