EFFECTOFEN VIRONMEN SCHOOL STUDENT LEARNING MOTIVATION IN MAN BALAI SELASA SUB DISTRICT RANAH PESISIR
DISTRICT PESISIR SELATAN
By:
Fitria*Ridwan Ahmad**Yuherman***
* the geography education student of STKIP PGRI Sumatera Barat
** the lecturer at geography department of STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAC
Research for this aims to look at the School of Physical and Environmental Effects of Social Environment Student Motivation At MAN Balai Selasa Ranah Pesisir District of Pesisir Selatan District. The research is a descriptive correlational statistical analysis. The population in this study were all students of class X MAN Balai Selasa Ranah Pesisir District of Pesisir Selatan District. Sampling technique in this study using stratified random sampling technique, totaling 88 people. The data of the physical environment, social environment and the motivation to learn is done by distributing questionnaires. Based on the results of the study show that: (1) The test instrument consisted of research on test data validity and reliability testing. Test the validity of the data concluded that the data is valid because r count> rtabel (0.361> 0.213). Test reliability of the data concluded that the data is reliable because r count> rtabel (2.011> 0.213); (2) The average score of 71.5 with the physical environment category of Self; (3) The average score of 76.9 with a social environment both categories; (4) The average score of 73.8 with a social environment both categories. (5) There is a significant relationship between the physical environment on student motivation, namely (1.76> 1.67); (6) There is a significant relationship between the social environment on student motivation, namely (2.33> 1.67); (7) There is a significant relationship between physical and social environment on student motivation, namely (4.08> 1.67). Based on the findings it can be concluded that the physical environment and social environment influence on Student Motivation At MAN Balai Selasa Ranah Pesisir District of Pesisir Selatan District.
.
Keywords: Against theEffects ofSchool, Motivation
GARUH LINGKUNGAN SEKOLAH TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI MAN BALAI SELASA KECAMATAN RANAH PESISI
RKABUPATEN PESISIR SELATAN Oleh:
Fitria*Ridwan Ahmad**Yuherman***
*Mahasiswa pendidikan geografi STKIP PGRI Sumatera Barat
**Dosen prodi geografi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat Pengaruh Lingkungan Fisik Sekolah dan Lingkungan Sosial Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan analisis statistik korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Stratified Random Sampling, berjumlah 88 orang. Data lingkungan fisik, lingkungan sosial dan motivasi belajar dilakukan dengan penyebaran angket. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Uji coba instrumen penelitian yang terdiri atas uji validitas data dan uji reliabilitas. Uji validitas data disimpulkan bahwa data valid karena rhitung > rtabel (0,361 > 0,213). Uji reliabilitas data disimpulkan bahwa data reliabel karena rhitung > rtabel (2,011 > 0,213); (2) Skor rata-rata lingkungan fisik 71,5 dengan kategori Cukup; (3) Skor rata-rata lingkungan sosial 76,9 dengan kategori baik; (4) Skor rata-rata lingkungan sosial 73,8 dengan kategori baik. (5) Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan fisik terhadap motivasi belajar siswa yaitu (1,76 > 1,67); (6) Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan sosial terhadap motivasi belajar siswa yaitu (2,33 > 1,67); (7) Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan fisik dan lingkungan sosial terhadap motivasi belajar siswa yaitu (4,08 > 1,67).
Berdasarkan temuan dapat disimpulkan bahwa lingkungan fisik dan lingkungan sosial berpengaruh terhadap Motivasi Belajar Siswa Di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan.
Kata kunci: Pengaruh Lingkungan Sekolah, Motivasi Belajar
PENDAHULUAN
Pendidikan disekolah merupakan kewajiban bagi seluruh warga Negara Indonesia, untuk itu pemerintah telah mencanangkan wajib belajar 9 tahun. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi individu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam proses pendidikan di sekolah, kita melihat adanya pengaruh lingkungan sosial dan lingkungan fisik yang keduanya tidak terpisahkan tetapi dapat dibedakan.
Dalam lingkungan sosial masyarakat di sekitar lingkungan sekolah sangat berperan sekali dalam memberikan motivasi- motivasi pada para peserta didik. Menurut Syah (2012:154) “masyarakat dan teman sepermainan siswa juga mempengaruhi kegiatan belajar siswa”. Sejalan dengan pendapat tersebut, Djaali (2012:100) mengatakan bahwa apabila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakat terdiri atas orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar.
Selain itu lingkungan fisik sekolah sangat diperlukan dalam peningkatan minat dan motivasi peserta didik untuk belajar.Seperti keberadaan tempat sekolahnya, pekarangansekolah,lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Aktivitas belajar yang dilakukan dalam kondisi lingkungan yang baik, bersih dan sehat dapat memberikan kepuasan yang lebih baik dibandingkan dengan belajar yang dilakukan di lingkungan yang tidak baik dan tidak sehat. Keadaan lingkungan semacam ini akan berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Karena motivasi belajar siswa dapat ditentukan oleh motivasi belajar yang dimilikinya.
Menurut Nasution dalam Rohani (2010:13) mengemukakan motivasi anak/peserta didik adalah”menciptakan
kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya”. Selanjutnya, Menurut Monks, dkk dalam Dimyati (2006:91) motivasi berprestasi telah muncul pada saat anak berusia balita. Hal ini berarti bahwa motivasi intrinsik perlu di perhatikan oleh para guru sejak TK, SD, dan SLTP. Pada usia ini para guru masih memberikan tekanan pada pendidikan kepribadian, khususnya disiplin diri untuk beremansipasi. Penguatan terhadap motivasi intrinsik perlu di perhatikan, sebab disiplin diri merupakan kunci keberhasilan belajar.
Berdasarkan hasil pengamatan awal yang dilakukan di MAN Balai Selasa Kabupaten Pesisir Selatan selama melakukan praktek lapangan dari tanggal 15 Juli sampai 15 Desember 2013.
Menunjukkan bahwakurang pedulinya masyarakat sekitar lingkungan sekolah terhadap perkembangan belajar siswa, karena terlihat adanya siswa berkeliaran di saat jam sekolah di lingkungan masyarakat sekitar sekolah tersebut tidak ditegur, malahan pemuda di sekitar sekolah tersebut yang sering merayu dan mengganggu siswi-siswi MAN tersebut, apa lagi siswi- siswi yang tidak tinggal sama orang tuanya atau kosan di lingkungan masyarakat sekitar sekolah tersebut. Selain itu perkarangan sekolahnya sempit dan kelihatan tidak terang dan tidak bersih, karena banyak pohon sawit yang besar dan rimbun di sekitar sekolah tersebut.
Terlihatnya peserta didik keluyuran dilingkungan masyarakat dan nongkrong di salah satu warung di sekitar lingkungan sekolah tersebut. Peserta didik kurang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran di depan kelas, karena sering terlihat ngelamun dan mengobrol sama teman-temannya, acuh tak acuh dan ada yang ketiduran saat jam pelajaran. Dilihat dari segi sarana belajar peserta didik hanya terfokus pada buku LKS saja, selain itu prasarana yang menarik minat dan motivasi siswa untuk datang kesekolahpun tidak ada, begitu juga dilihat dari aturan dan jadwal belajar peserta didik banyak terlambat datang ke sekolah akhirnya malas masuk kelas, dan ada pula keluar masuk saat proses pembelajaran sedang berlangsung.
Di samping itu peneliti juga melaksanakan wawancara dengan beberapa orang peserta didik di MAN Balai Selasa Kabupaten Pesisir Selatan pada waktu jam istrahat pada tanggal 27 Agustus 2013.
Melihat peserta didik yang tidak konsentrasi belajar, tidur-tiduran dan bercerita sama teman sebangkunya, tidak membuat tugas, baik itu tugas di rumah maupun tugas di sekolah, beberapa peserta didik yang mengaku bahwa mereka berprilaku seperti ini karena malas belajar dan lebih senang berada di rumah atau di kos.
METODE PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan pada Bab I maka jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan analisis statistik korelasional. Menurut Yusuf (2007:50) “penelitian kuantitatif dapat digunakan apabila data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif atau jenis data yang lain yang dapat dikuantitatifkan dan diolah dengan menggunakan teknik statistik”. Menurut Arikunto (2006:12) mengemukakan bahwa
“penelitian kuantitatif dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya”.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan deskriptif dengan analisis statistik korelasional. Menurut Lehmann (dalam Yusuf, 2007:83) penelitian deskriptif adalah “salah satu jenis penelitian yang bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi tertentu, atau menggambarkan fenomena secara detail”. Selanjutnya Anggoro (2008:318) mengatakan “pendekatan korelasional memusatkan hipotesisnya pada ada-tidaknya hubungan”.
Senada dengan itu, Yusuf (2007:84) menyatakan “penelitian korelasional merupakan suatu tipe penelitian yang melihat hubungan/pengaruh antara satu atau beberapa ubahan dengan satu atau beberapa ubahan yang lain”.
Berdasarkan pengertian yang telah dijelaskan di atas maka, jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dalam bentuk deskriptif dengan analisis statistik korelasional yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana variabel pada suatu faktor berkaitan dengan variabel faktor lain yang berdasarkan pada koefisien korelasi.
Anggoro (2008:42) mengatakan bahwa “populasi adalah himpunan yang lengkap dari satuan-satuan atau individu- individu yang karakteristiknya ingin kita
ketahui”. Jadi populasi adalah objek atau sasaran dalam penelitian yang akan diteliti pada penelitian ini. Maka populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X yang berjumlah 88 orang di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan.
Agar terpusatnya penelitian yang akan dilakukan maka tidak semua populasi dijadikan sampel. Untuk itu perlu dilakukan penarikan sampel, sesuai yang dikemukakan oleh Sugiyono (2011:118)
“sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki soleh populasi tersebut”. Selanjutnya, Sax dalam Yusuf (2007:187) mengemukakan bahwa “sampel adalah suatu jumlah yang terbatas dari unsur-unsur yang terpilih dari suatu populasi dan unsur-unsur itu hendaklah mewakili populasi”.
Senada dengan itu Arikunto (2002:109) mengemukakan “sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”.
Tujuannya dari penentuan sampel ialah untuk mengangkat kesimpulan penelitian yang akan diberlakukan untuk populasi.
Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul mewakili.
Sehubungan populasi dalam penelitian ini cukup banyak yaitu kelas X berjumlah 88 orang, karena keterbatasan tenaga dan waktu maka penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan teknik Stratified Random Sampling (sampel acak berstara). Menurut Yusuf (2007:198) Stratified Random Sampling merupakan
“suatu prosedur atau cara dalam menentukan sampel dengan membagi populasi atas beberapa strata sehingga setiap strata menjadi homogen dan tidak tumpang tindih dengan kelompok lain”.
Selanjutnya Sugiyono (2011:120) mengatakan bahwa “teknik ini digunakan bila populasi yang tidak homogen dan berstrata secara proposional”.
Penentuan jumlah sampel yang sesuai dengan penelitian ini, maka peneliti melakukan sistem sampel secara acak (systematic random sampling) terlebih dahulu menemukan jumlah sampel secara umum pada populasi Slovin dalam Umar (2008:78) sebagai berikut:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁𝑒2 Dimana
n = Besar / ukuran sampel
N = Besar / ukuran populasi
e = Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan.
a. Menentukan sampel secara random sesuai dengan besarnya ukuran sampel yang telah ditentukan sebelumnya.
Agar perolehan pengambilan sampel secara strata pada sub populasi sebanding dan sesuai dengan masing-masing kelas tersebut dilakukan dengan mencari sampling fraction (f) (Umar, 2008:89).
𝑓𝑖 = 𝑁𝑖
𝑁 𝑛
Keterangan:
𝑓𝑖 : Sample fraction
𝑁𝑖 : Besar / ukuran sub populasi 𝑁 : Besar populasi
𝑛 : Jumlah sampe
Instrumen penelitian merupakan alat pengumpul data yang digunakan dalam suatu penelitian. Alat yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner. Menurut Yusuf (2007:249) kuesioner adalah “suatu serangkaian pernyataan yang berhubungan dengan topik tertentu yang diberikan kepada sekelompok individu dengan maksud untuk memperoleh data”. Jadi, kuesioner adalah seperangkat pernyataan yang harus dijawab oleh responden secara tertulis yang digunakan untuk memperoleh berbagai keterangan langsung dari responden.
Penelitian ini menggunakan angket berdasarkan skala likert untuk mengungkapkan hubungan lingkungan Sekolah dengan hasil belajar yang dimiliki oleh subyek. Model ini merupakan metode pelaksanaan pernyataan sikap yang dipisahkan menjadi pertanyaan favourable dan pertanyaan unfavourable.Favourable adalah pernyataan sikap yang berisi atau mengatakan hal-hal yang positif mengenai objek sikap dimana kalimatnya bersikap mendukung objek. Sedangkan unfavourable adalah pernyataan sikap yang berisi hal-hal negatif mengenai objek sikap.
Yaitu yang bersifat mendukung ataupun tidak mendukung terhadap objek sikap yang hendak diungkap.
Instrumen penelitian yang akan disebarkan kepada responden terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitas.
Validitas dalam penelitian ini dijelaskan sebagai suatu derajat ketepatan alat ukur
tentang isi atau arti yang sebenarnya diukur. Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus product moment correlation coefisien karl pearson, karena penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara dua variabel, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2006:27) yang mengemukakan bahwa “korelasi product moment melukiskan hubungan antara dua variabel”.
Uji validitas instrumen dilakukan untuk melihat apakah instrumen mampu mengukur hubungan lingkungan fisik dengan lingkungan Sosial peserta didik di MAN Balai Selasa Pesisir Selatan. Uji Validitas angket dengan menggunakan Rumus product moment correlation karl pearson dalam Riduwan (2010: 72)
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data interval. Menurut Riduwan (2010:85) data interval adalah
“data yang menunjukkan jarak antara satu data dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama”. Data yang dimaksud adalah data mengenai lingkungan sekolah dengan hasil belajar peserta didik.
Menurut Arikunto (2006:128) bahwa sumber data penelitian adalah “subjek dari mana data dapat diperoleh”. Berdasarkan hal tersebut, sumber data primer dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X MAN Balai Selasa Pesisir Selatan.
Sebelum data diolah, terlebih dahulu dilakukan verifikasi data untuk melihat data yang layak diolah atau tidak layak seperti tidak diisinya item pernyataan dengan lengkap, terdapat dua jawaban dalam satu item, serta pengisian identitas yang tidak lengkap, kuesioner yang dikumpulkan dari peserta didik yang menjadi sampel penelitian lalu diolah dengan langkah-
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukan analisis data terhadap hipotesis penelitian yang diajukan, tiga hipotesis dapat diuji kebenarannya.
Hipotesis yang diterima kebenarannya adalah sebagai berikut: Pertama, lingkungan fisik sekolahMAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan;Kedua, lingkungan sosial di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan;Ketiga, pengaruh lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial terhadap motivasi belajar
siswaMAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan.
Temuan-temuan penelitian sebagaimana dikemukakan pada bagian terdahulu dari bab ini merupakan hasil analisis data secara statisktik yang perlu dikaji lebih lanjut untuk dapat menjelaskan mengapa terjadi interaksi yang signifikan antara lingkungan fisik sekolah, lingkungan sosial serta motivasi belajar siswa.
Pertama, Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang diajukan secara signifikan teruji kebenarannya. Dari hasil temuan dapat dikemukakan bahwa lingkungan fisik berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan yaitu thitung > ttabel (1,76 >
1,67).Selanjutnya dapat dilihat nilai rata- rata untuk lingkungan fisik di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan 71,5 berada pada kualifikasi lebih dari cukup.
Lingkungan adalah segala sesuatu di luar diri individu (eksternal) dan merupakan sumber informasi yang diperolehnya melalui panca inderanya.
Lingkungan fisik yang mampu menghasilkan stimulasi dan nutrisi yang baik menjadi sebab utama dari perkembangan dan perubahan seorang siswa yang disebut juga dengan kemajuan dan perolehan. Sebaliknya, lingkungan yang miskin memudahkan anak mendapat pengaruh yang negatif.
Salah satu lingkungan yang terbukti sangat berperan dalam pembentukan kepribadian siswa adalah sekolah.
Soedijarto (2000:46) mengungkapkan bahwa sekolah sebagai pusat pembelajaran yang bermakna dan sebagai proses sosialisasi dan pembudayaan kemampuan, nilai, sikap, watak, dan perilaku hanya dapat terjadi dengan kondisi infrastruktur, tenaga kependidikan, sistem kurikulum, dan lingkungan yang sesuai. Dalam kaitannya dengan motivasi, lingkungan fisik sekolah dapat dijadikan sebagai pendukung dan meningkatkan motivasi siswa. Lingkungan fisik seperti bangunan, alat, sarana, dan gurunya merupakan faktor pendukung terciptanya motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.
Motivasi dalam belajar harus dibantu dengan bimbingan untuk memahami arti
dalam kegiatan belajar agar siswa mempunyai keinginan untuk mempelajari yang seharusnya dipelajari. Jika kegiatan proses pembelajaran didukung oleh lingkungan fisik yang baik seperti bimbingan guru, sarana dan prasarana yang cukup, maka motivasi dalam belajar akan semakin meningkat sehingga tujuan dari motivasi juga akan tercapai yaitu hasil belajar yang maksimal atau prestasi belajar.
Dapat dilihat bahwa lingkungan fisik sekolah seperti sarana dan prasana yang lengkap disekolah sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Sarana dan prasarana yang tidak lengkap akan membuat proses pembelajaran akan terhambat. Begitu juga peran guru dalam proses pembelajaran seperti sebagai informator, fasilitator serta interaksi yang baik antara siswa dan guru akan menghasilkan perubahan tingkah laku.
Sesuai dengan ungkapanbahwa motivasi erat hubungannya dengan perhatian dan sikap guru berperan sangat penting dalam menumbuhkan motivasi siswa.
Lingkungan fisik yang kondusif mampu meningkatkan motivasi belajar seseorang. Lingkungan yang kondusif merupakan faktor dorongan dari luar, dapat berupa dorongan yang diberikan pendidik kepada peserta didik, fasilitas yang menunjang kegiatan belajar sehingga mampu menumbuhkan rasa ketertarikan siswa dalam belajar, atau bahkan pemberian penghargaan.
Kedua, Hasil yang berkaitan dengan pengujian hipotesis kedua membuktikan bahwa terdapat pengaruh lingkungan sosial terhadap motivasi belajar siswa di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan yaitu thitung >
ttabel (2,33 > 1,67). Dengan kata lain bahwa hipotesis penelitian yang diajukan teruji kebenarannya secara signifikan.Lingkungan sosial merupakan sumber belajar berkenaan dengan interkasi
manusia dengan kehidupan
masyarakat.Selanjutnya dapat dilihat nilai rata-rata untuk lingkungan sosial di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan 76,9 berada pada kualifikasi Baik.
Sebagaimana ungkapan Dalyono (2010:133) mengatakan: “Lingkungan sosial ialah semua orang/manusia yang
mempengaruhi kita”. Pengaruh lingkungan sosial ada yang diterima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Pengaruh langsung seperti dalam pergaluan sehari- hari, seperti keluarga, teman-teman, kawan sekolah dan sepekerjaan dan sebagainya”.
Pengembangan hubungan sosial di dalam kelas baik antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa sangatlah penting untuk meningkatkan motivasi belajar. Dembo dalam Prayitno (1989:147) mengemukakan bahwa “siswa butuh pengakuan dari guru dan teman-temannya sebagai sumber motivasi dalam belajar.
Banyak siswa yang bergairah dan menampakkan aktifitas yang tinggi dalam belajar bukan karena memiliki motivasi berprestasi, tetapi karena sokongan sosial”.
Siswa-siswa seperti ini sangat membutuhkan sokongan sosial dalam belajar. Mereka menampakkan kegairahan dalam belajar jika mereka mempunyai hubungan sosial yang akrab dengan guru maupun dengan teman sekelas.
Selain guru dan siswa, kegiatan belajar juga dipengaruhi oleh keadaan masyarakat di sekitar sekolah. Masyarakat dan teman sepermainan siswa juga mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Sejalan dengan pendapat Djaali (2012:100) mengatakan bahwa apabila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakat terdiri atas orang- orang yang berpendidikan, terutama anak- anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar.
Masyarakat sebagai salah satu lingkungan sosial sekolah memiliki beberapa peranan terhadap sekolah seperti:
(1)Pengawasan, masyarakat terlibat juga dalam pengawasan terhadap sekolah (social control); (2) Pemberi bantuan berupa pembiayaan sekolah seperti gedung, sarana dan prasarana); (3)Penyedia nara sumber; (4)Masyarakat sebagai laboratorium atau sumber belajar”.
Dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial merupakan hal yang sangat penting dalam lingkungan sekolah. Lingkungan kehidupan pembelajaran terdiri atas lingkungan fisik, hubungan sosio- emosional, lingkungan teman sebaya dan tetangga, lingkungan kehidupan dinamik masyarakat pada umumnya, dan pengaruh lingkungan asing. Lingkungan sosial dengan guru, teman sebaya dan masyarakat sekolah sangat penting dijalin, karena
lingkungan sosial yang baik akan dapat membantu untuk menjadi individu yang bermasyarakat dan tumbuh menjadi manusia sosial. apabila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakat terdiri atas orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar.
Ketiga, Hasil yang berkaitan dengan pengujian hipotesis ketiga membuktikan bahwa terdapat pengaruh lingkungan fisik dan lingkungan sosial terhadap motivasi belajar siswa di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan yaitu thitung > ttabel (4,08>
1,67). Dengan kata lain bahwa hipotesis penelitian yang diajukan teruji kebenarannya secara signifikan.
Lingkungan adalah segala sesuatu di luar diri individu (eksternal) dan merupakan sumber informasi yang diperolehnya melalui panca inderanya.
Lingkungan fisik yang mampu menghasilkan stimulasi dan nutrisi yang baik menjadi sebab utama dari perkembangan dan perubahan seorang siswa yang disebut juga dengan kemajuan dan perolehan. Sebaliknya, lingkungan yang miskin memudahkan anak mendapat pengaruh yang negatif.
Sebagaimana ungkapan Dalyono (2010:133) mengatakan: “Lingkungan sosial ialah semua orang/manusia yang mempengaruhi kita”. Pengaruh lingkungan sosial ada yang diterima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Pengaruh langsung seperti dalam pergaluan sehari- hari, seperti keluarga, teman-teman, kawan sekolah dan sepekerjaan dan sebagainya”.
Menurut Sardiman (2011:89) motivasi pada diri seseorang bersumber dari dalam diri (motivasi internal) dan dari luar diri seseorang (motivasi eksternal).Motivasi Intrinsik (motivasi internal)adalah tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab yang datang di dalam individu atau motif-motif yang menjadi aktif atau sangsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dari dalam setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Contoh, yang senang membaca, meskipun tidak adad yang mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya.
Itulah sebabnya motifasi intrinsik dapat juga di katakan sebagai bentuk motivasi
yang didalam aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena pujian atau ganjaran.
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena ada perangsang dari luar. Sebagai contoh, seseorang yang belajar, kerena ia dalam keadadan menghadapi ujian, yang dengan harapannya mendapat kan kelulusan.
dengan nilai yang baik. Dengan nilai yang baik itu ia akan mendapat pujian dari orang lain , misalnya orang tuanya. Jadi, belajar bukan karena ingin mendapatkan sesuatu.
Oleh karena itu motif ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motifasi yang didalamnya ada aktivitas belajar yang dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan kegiatan belajar itu sendiri.
Perlu dipertegas di sini bahwa bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. Sebab kemungkinan siswa itu dinamis, dan berubah-ubah. Dengan adanya faktor ini maka sangat mungkin bahwa dalam diri anak terdapat hal-hal yang kurang menarik dirinya, sehingga harus ada dorongan dari luar.
Dalam kaitannya dengan motivasi, lingkungan fisik sekolah dapat dijadikan sebagai pendukung dan meningkatkan motivasi siswa. Lingkungan fisik seperti bangunan, alat, sarana, dan gurunya merupakan faktor pendukung terciptanya motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.Selain itu, pengembangan hubungan sosial di dalam kelas baik antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa sangatlah penting untuk meningkatkan motivasi belajar. Motivasi belajar juga dipengaruhi oleh keadaan masyarakat di sekitar sekolah. Masyarakat dan teman sepermainan siswa juga mempengaruhi kegiatan belajar siswa.
Sejalan dengan pendapat Djaali (2012:100) mengatakan bahwa apabila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakat terdiri atas orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar.
Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian atau hasil uji hipotesis ketiga yaitu Pengaruh Lingkungan Fisik dan Lingkungan Sekolah terhadap Motivasi Belajar Siswadi MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan yaitu thitung > ttabel (4,08
> 1,67).
KESIMPULAN
Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh yang berarti antara lingkungan fisik sekolah terhadap motivasi belajar siswadi MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan, Berdasarkan hasil uji-t bahwa hipotesis alternatif diterima pada taraf signifikan 95%dan dk = n – 2, karena thitung > ttabel (1,76 >
1,67).
2. Terdapat pengaruh yang berarti antara lingkungan sosial sekolah terhadap motivasi belajar siswa di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan, Berdasarkan hasil uji-t disimpulkan bahwa hipotesis alternatif diterima pada taraf signifikan 95% dan dk = n – 2, karena thitung > ttabel (2,33 >
1,67).
3. Terdapat pengaruh yang berarti antara lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial terhadap motivasi belajar siswa di MAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan, Berdasarkan hasil uji-t disimpulkan bahwa hipotesis alternatif diterima pada taraf signifikan 95% dan dk = n – 2, karena thitung > ttabel (4,08 > 1,67).
SARAN
Berdasarkan kesimpulan tersebut, diajukan saran berikut:
1. Kepala sekolah, dalam upaya peningkatan motivasi siswa agar melengkapi sarana dan prasarana dan lebih meningkatkan kedekatan dan hubungan yang baik dengan semua siswa, menyampaikan materi dengan menarik, menggunakan berbagai metode pembelajaran,
serta memberikan penilaian terhadap kemajuan yang dialami oleh siswa.
2. Guru diMAN Balai Selasa Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatanuntuk lebih memvariasikan dalam memberikan materi pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum dalam kesuksesan pencapaian tujuan pembelajaran.
3. Siswa,untuk terus meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar, membina hubungan yang baik dengan semua tenaga pengajar, sesama siswa serta semua masyarakat di sekitar sekolah.
Diharapkan kepada semua siswa untuk lebih rajin dan serius dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah.
4. Lingkungan fisik sekolah hendaknya lebih diperhatikan oleh pihak yang terkait, baik kepala sekolah, guru dan yang lainnya.
5. Lingkungan sosial hendaknya diperhatikan oleh individu (diri sendiri), guru, teman, masyarakat, dan sebagainya.
6. Motivasi belajar hendaknya ditingkatkan, selain lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Hal itu disebabkan, jika lingkungan fisik dan lingkungan sosial mendukung, maka motivasi belajar akan baik (tercapai tujuan pembelajaran).
DAFTAR PUSTAKA
Anggoro, Toha. 2008. Metode Penelitian.
Jakarta: Universitas Terbuka
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Dimyati, Mudjiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Hasbulloh. 2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Perss
Http://clarashinta92.wordpress.com/2013/0 4/17/lingkungan-pendidikan/
Mangkuatmodjo, Seogyarto. 2003.
Pengantar Statistik. Jakarta: PT Rineka Cipta
Riduwan. 2010. Belajar mudah penelitian giru-karyawan peneliti Pemula.
Bandung: Alfabeta
Sadulloh, Uyoh dkk. 2011. Pedagogik (ilmu mendidik). Bandung: Alfabeta
Saroni, Muhammad. (2006). Manajemen Sekolah Kiat Menjadi Pendidik yang
Kompeten. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Sarwono, Sarlito W. 2012. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Perss Sardiman, A. M. 2010. Interaksi dan
Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta:
Rajawali Perss
Suprayekti. 2003. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta. Direktorat Tenaga Kependidikan, Dikdasmen, Depdiknas.
Sukmadinata, Nana Syaodin. 2009.
Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya Sugiyono. 2011. Metode Penelitian
Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta,cv
Syah, Muhibbin. 2012. Psikologi Belajar.
Jakarta : PT RajaGrafindo Persada Umar, Husein. 1996. Metode Penelitian
untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada
Winardi, J. 2011. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen.
Jakarta: Rajawali Perss
Yusuf, A. Muri. 2007. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press
danKetekunan Pengamatan