Minyak Sawit Mentah (Crude Palm Oil)

Top PDF Minyak Sawit Mentah (Crude Palm Oil):

Strategi Percepatan Pengembangan Industri Turunan Minyak Sawit Mentah (Msm) Di Indonesia

Strategi Percepatan Pengembangan Industri Turunan Minyak Sawit Mentah (Msm) Di Indonesia

Sejak tahun 2006, jumlah produksi minyak sawit mentah Indonesia telah melewati Malaysia, dengan kontribusi sebesar 48,37% dari produksi minyak sawit dunia pada tahun 2013 (GAPKI 2014). Industri minyak sawit berkontribusi 10% terhadap pendapatan nasional dari sektor non migas dengan menyerap dan menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 6 juta orang (Sipayung dan Purba 2013). Meskipun telah menjadi produsen utama minyak sawit dunia dan berkontribusi baik terhadap pendapatan nasional, sampai saat ini minyak sawit Indonesia belum memiliki keunggulan kompetitif yang baik. Dari empat negara produsen utama minyak sawit dunia, Malaysia pada tahun 2004-2012 memiliki kinerja ekspor tertinggi dengan indeks RCA (Revealed Comparative Advantage) atau perbandingan pangsa pasar suatu produk dalam total ekspor suatu negara dengan pasar ekspor pada produk yang sama dalam total ekspor dunia, bernilai rata-rata di atas 1 (satu) untuk CPO (crude palm oil) (1.04) dan PKO (palm kernel oil) (1.08). Indonesia berada di bawah Thailand dan relatif sama dengan Colombia. Indeks RCA Indonesia rata-rata tahun 2004-2012 di bawah satu yaitu CPO sebesar 0.98 dan PKO sebesar 0.94 (Ermawati dan Septia 2013). Demikian juga produk turunannya kalah jauh dengan Malaysia khususnya komodite olahan PKO (61.39), olahan CPO (41.53), dan oleokimia (37.36) sedangkan Indonesia komodite olahan PKO (31.66), olahan CPO (30.17), dan oleokimia (3.19) (Arip et al. 2013).
Baca lebih lanjut

138 Baca lebih lajut

Peranan Pendispersi Minyak Sawit Mentah Terhadap Kompatibilitas Pencampuran Plastik Bekas  (Jenis Polipropilena) Dengan Bahan    Pengisi Magnesium Hidroksida

Peranan Pendispersi Minyak Sawit Mentah Terhadap Kompatibilitas Pencampuran Plastik Bekas (Jenis Polipropilena) Dengan Bahan Pengisi Magnesium Hidroksida

Dalam penelitian ini digunakan minyak sawit mentah sebagai pembasah dalam campuran polimer. Hal ini diharapkan terbentuknya campuran plastik bekas yang mengandung pengisi magnesium hidroksida lebih kompatibel bila dibandingkan dengan tanpa minyak sawit mentah. Hasil foto Scannning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan bahwa permukaan campuran akibat bahan pengisi merata secara baik. interaksi yang terjadi antara plastik bekas dengan magnesium hidroksida dan minyak sawit mentah merupakan interaksi secara fisik.

3 Baca lebih lajut

Analisa Zat Pengotor Dari Minyak Sawit Mentah Terhadap Waktu Penimbunan Pada Bak Penampungan PT. SaranaAgro Nusantara Unit Belawan

Analisa Zat Pengotor Dari Minyak Sawit Mentah Terhadap Waktu Penimbunan Pada Bak Penampungan PT. SaranaAgro Nusantara Unit Belawan

Tingginyakadar kotoran pada bak penampungan disebabkan karena tempat penimbunantidak dijaga kebersihan atau tidak dijaga dari faktor-faktor pengotor yang dapat merusak mutu CPO dengan tingginya kadar kotoran CPO pada bak tersebut. Hal ini dapat dilihat pada CPO yang semakin lama ditimbun pada bak penampungan semakin tinggi kadar kotorannya. Penimbunan CPO pada bak penampungan bertujuan untuk mengumpulkan losis minyak dari hasil proses produksi yang kemudian akan dikembalikan ke stasiun klarifikasi. Waktu penimbunan yang terlalu lama mengakibatkan peningkatan kadar kotoran karena minyak sawit mentah yang terdapat dalam bak penampungan terkontaminasi oleh pengotor–pengotor baik yang berasal dari luar maupun pengotor yang tercampur dalam minyak sawit mentah itu sendiri. Waktu penimbunan yang lama pada bak penampungan mengakibatkan sludge atau lumpur yang telah diendapkan bercampur kembali bersama minyak karena adanya guncangan saat sludge atau lumpur dari hasil proses produksi masuk kebak penampungan. Selain sludge dan lumpur yang bercampur kembali dengan minyak, pengotor–pengotor dari lingkungan juga mengakibatkan peningkatan kadar kotoran minyak sawit mentah padabak penampungan.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

Analisa Zat Pengotor Dari Minyak Sawit Mentah Terhadap Waktu Penimbunan Pada Bak Penampungan PT. SaranaAgro Nusantara Unit Belawan Chapter III V

Analisa Zat Pengotor Dari Minyak Sawit Mentah Terhadap Waktu Penimbunan Pada Bak Penampungan PT. SaranaAgro Nusantara Unit Belawan Chapter III V

Tingginyakadar kotoran pada bak penampungan disebabkan karena tempat penimbunantidak dijaga kebersihan atau tidak dijaga dari faktor-faktor pengotor yang dapat merusak mutu CPO dengan tingginya kadar kotoran CPO pada bak tersebut. Hal ini dapat dilihat pada CPO yang semakin lama ditimbun pada bak penampungan semakin tinggi kadar kotorannya. Penimbunan CPO pada bak penampungan bertujuan untuk mengumpulkan losis minyak dari hasil proses produksi yang kemudian akan dikembalikan ke stasiun klarifikasi. Waktu penimbunan yang terlalu lama mengakibatkan peningkatan kadar kotoran karena minyak sawit mentah yang terdapat dalam bak penampungan terkontaminasi oleh pengotor–pengotor baik yang berasal dari luar maupun pengotor yang tercampur dalam minyak sawit mentah itu sendiri. Waktu penimbunan yang lama pada bak penampungan mengakibatkan sludge atau lumpur yang telah diendapkan bercampur kembali bersama minyak karena adanya guncangan saat sludge atau lumpur dari hasil proses produksi masuk kebak penampungan. Selain sludge dan lumpur yang bercampur kembali dengan minyak, pengotor–pengotor dari lingkungan juga mengakibatkan peningkatan kadar kotoran minyak sawit mentah padabak penampungan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Studi Minyak Sawit Mentah Yang Terdapat Pada Limbah Padat Sebagai Akibat Proses Pemucatan

Studi Minyak Sawit Mentah Yang Terdapat Pada Limbah Padat Sebagai Akibat Proses Pemucatan

Minyak yang berasal dari kelapa sawit ini digunakan untuk bahan pangan sebagai minyak goreng, margarin, shortening, butter dan sebagainya. Selebihnya digunakan untuk pembuatan kosmetik, sabun, dan lilin. Di masa mendatang kebutuhan akan minyak sawit akan semakin tinggi. Oleh karena itu perlu ditingkatkan pendayagunaan kelapa sawit dan efisiensi pengolahan dari minyak sawit mentah.

3 Baca lebih lajut

Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Sawit Mentah Dengan Metanol Meggunakan Katalis Kalium Hidroksida

Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Sawit Mentah Dengan Metanol Meggunakan Katalis Kalium Hidroksida

Indonesia mulai tahun 2007 dicatat sebagai produsen minyak nabati terbesar didunia, mengungguli malaysia dengan proyeksi prosuksi minimal 17 juta ton/ tahun diareal produktif 5,5 juta hektar. Tahun 2006 ekspor monyak nabati CPO, minyak sawit mentah indonesia tembus pada angka 16 juta ton (BUMN RI, 2007). Minayk sawit mentah juga dapat diolah menjadi berbagai produk hilir seperti oleokimia yang mempunyai nilai jual tinggi. Salah satu alternatuf adalah mengolah minyak saeit mentah menjadi biodiesel. (Darnoko,2005). Alas utama penggunaan bahan akar biodiesel adalah seiring dengan ketersediaan minyak bumi yang terbatas, sumber utamanya merupakan minyak sawit yang selalu diproduksi sepanjang tahun dan bahan bakar biodiesel merupakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan serta tidak merusak lingkungan (Fauzi,2004).
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Analisa Zat Pengotor Dari Minyak Sawit Mentah Terhadap Waktu Penimbunan Pada Bak Penampungan PT. SaranaAgro Nusantara Unit Belawan

Analisa Zat Pengotor Dari Minyak Sawit Mentah Terhadap Waktu Penimbunan Pada Bak Penampungan PT. SaranaAgro Nusantara Unit Belawan

Dari hasil analisa laboratorium maka akan dapat diketahui berapalamakah waktu optimum penimbunan minyak sawit pada bak penampungan yang masih memenuhi standart mutu untuk diolah kembali ke stasiun klarifikasi. Dengandemikian pabrik dapat menekan kadar kotoran pada minyak sawit mentah (CPO) danmengurai losis minyak, karena jika kandungan kadar kotoran pada minyak sawitmentah yang terdapat pada bak penampungan terlalu tinggi, saat akan dikembalikan kestasuin klarifikasi akan merusak minyak sawit mentah (CPO) dan meningkatkan losisminyak karena sebagian CPO akan terikut dengan kotoran yang akan di buang.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Penentuan Kadar Kotoran Dan Kadar Air Dari Minyak Sawit Mentah Crude Palm Oil (CPO) Pada Tangki Penimbunan PT. Socfin Indonesia Kebun Tanah Gambus

Penentuan Kadar Kotoran Dan Kadar Air Dari Minyak Sawit Mentah Crude Palm Oil (CPO) Pada Tangki Penimbunan PT. Socfin Indonesia Kebun Tanah Gambus

Salah satu faktor yang menentukan minyak bermutu baik adalah kadar kotoran dan airnya. Kadar kotoran dan air pada minyak sawit mentah pada tangki penimbunan, sebelum dipasarkan harus terlebih dahulu dianalisis dengan menggunakan cara pemanasan. Dari kajian ini ditentukan bahwa kadar kotoran dan air pada tangki timbun bagian bawah lebih tinggi dari pada tangki timbun bagian atas tetapi masih dalam standar mutu yang ditetapkan oleh pabrik dan dapat di pasarkan. Mutu minyak kelapa sawit yang baik mempunyai kadar kotoran kurang dari 0,01% dan kadar air kurang dari 0,1%.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Penimbunan Minyak Sawit Mentah (CPO) Pada Bak Penampungan (Fat Fit) Terhadap Kadar Kotoran Minyak Sawit Mentah (CPO) Di Pabrik Kelapa Sawit PTPN. IV Kebun Adolin

Pengaruh Waktu Penimbunan Minyak Sawit Mentah (CPO) Pada Bak Penampungan (Fat Fit) Terhadap Kadar Kotoran Minyak Sawit Mentah (CPO) Di Pabrik Kelapa Sawit PTPN. IV Kebun Adolin

Jika dibandingkan dengan minyak nabati lain, minyak kelapa sawit memiliki keistimewaan tersendiri, yakni rendahnya kandungan kolesterol dan dapat diolah lebih lanjut manjadi suatu produk yang tidak hanya dikonsumsi untuk kebutuhan pangan (minyak goreng, margarin, vanaspati, lemak, dan lain – lain), tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan non pangan (gliserin, sabun, detejen, BBM, dan lain – lain). Kegunaan dari masing – masing produk tersebut adalah :

35 Baca lebih lajut

Perbandingan intensitas warna CPO dengan menggunakan Bleaching Earth (BE) dan Spent Bleaching Earth (SBE) di PT. SMART Tbk.

Perbandingan intensitas warna CPO dengan menggunakan Bleaching Earth (BE) dan Spent Bleaching Earth (SBE) di PT. SMART Tbk.

Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah diolah menjadi minyak goreng, antara lain melalui beberapa tahapan proses penghilangan gum/getah ( degumming ), proses penghilangan asam lemak bebas (netralisasi), proses pemucatan warna ( bleaching ), dan proses penghilangan bau (deodorisasi) (Ketaren, 1986).

4 Baca lebih lajut

Analisa Efisiensi Produksi Pada Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit di PT. Gersindo Minang Plantation, Kecamatan Lingkung Aur, Kabupaten Pasaman Barat.

Analisa Efisiensi Produksi Pada Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit di PT. Gersindo Minang Plantation, Kecamatan Lingkung Aur, Kabupaten Pasaman Barat.

Pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu faktor menentukan keberhasilan usaha perkebunan kelapa sawit hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit mentah / CPO (Crude Palm Oil), minyak inti sawit / PKO (Palm Kernel Oil), serabut, cangkang, dan tandan kosong sawit. Produksi CPO memiliki kaitan erat dengan luas areal perkebunan yang produktif, disamping itu juga ada faktor lain yang mempengaruhi seperti kondisi tanah ataupun iklimnya. Sementara itu rata-rata produksi per hektar perkebunan kelapa sawit di Indonesia berbeda-beda sesuai dengan pola pengusahaannya atau pola pengelolaannya (Ekaprasetya, 2006).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pola Perubahan Mono dan Diasilgliserol dalam Reaksi Etanolisis Minyak Sawit Mentah

Pola Perubahan Mono dan Diasilgliserol dalam Reaksi Etanolisis Minyak Sawit Mentah

diasilgliserol secara enzimatik. Faktor penyebabnya adalah waktu reaksi yang relatif lama. dan 1999; lrimescu al., 2002; Watanabe al., 2002). secara kimiawi melalui reaksi gliserolisis tidak dapat diterapkan pada minyak mentah yang bermaksud untuk menyelematkan

6 Baca lebih lajut

Transesterifikasi Heterogen Antara Minyak Sawit Mentah Dengan Metanol Menggunakan Katalis K2O-CaO

Transesterifikasi Heterogen Antara Minyak Sawit Mentah Dengan Metanol Menggunakan Katalis K2O-CaO

CaO biasanya digunakan sebagai mortar, industri pupuk, industri kertas, industri semen, pemutih (bleaching) dan sebagai katalis (Austin, 1984 ; Liu, 2007). CaO memiliki sisi-sisi yang bersifat basa dan CaO telah diteliti sebagai katalis basa yang kuat dimana untuk menghasilkan biodiesel menggunakan CaO sebagai katalis basa mempunyai banyak manfaat, misalnya aktivitas yang tinggi, kondisi reaksi yang rendah, masa katalis yang lama, serta biaya katalis yang rendah. Reddy menghasilkan biodiesel dengan menggunakan nano kalsium oksida dalam kondisi suhu kamar. Tetapi kecepatan reaksi begitu lambat dan membutuhkan 6-24 jam untuk memperoleh konversi (hasil) yang tinggi. Dia juga telah meneliti deaktivitasi setelah tiga kali siklus dengan asam lemak. Zhu memperoleh 93% hasil dari minyak jarak menggunakan CaO sebagai katalis tetapi katalis tersebut harus direaksikan dengan larutan amonium karbonat dan dikalsinasi pada suhu yang tinggi (Liu, 2008).
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Analisis Potensi Ekspor CPO (Crude Palm Oil) Di Sumatera Utara

Analisis Potensi Ekspor CPO (Crude Palm Oil) Di Sumatera Utara

Kelapa sawit dengan produk turunan primer yaitu Minyak Sawit Kasar atau Mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan Minyak Inti Sawit (Kernel Palm Oil/KPO) mempunyai peran yang sangat signifikan memberikan kontribusi dalam perekonomian nasional sebagai komoditi ekspor. Disamping itu, kebutuhan dunia akan minyak sawit mentah (CPO) diproyesikan semakin meningkat setiap tahunnya, menggeser kedudukan minyak nabati lainnya.

11 Baca lebih lajut

Penentuan Kadar Air Dan Kadar Asam Lemak Bebas Pada Minyak Sawit Mentah ( Crude Palm Oil )

Penentuan Kadar Air Dan Kadar Asam Lemak Bebas Pada Minyak Sawit Mentah ( Crude Palm Oil )

Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan asam lemak bebas (ALB) minyak sawit yang dihasilkan. Apabila pemanenan buah dilakukan dalam keadaan lewat matang, maka minyak yang dihasilkan mengandung asam lemak bebas (ALB) dalam persentase tinggi (lebih dari 5%). Sebaliknya, jika pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum matang, selain kadar asam lemak bebasnya rendah, rendemen minyak yang diperoleh juga rendah.

4 Baca lebih lajut

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM DAN MIKROENKAPSULASI

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM DAN MIKROENKAPSULASI

Minyak sawit merah merupakan hasil ekstraksi serabut daging (mesokarp) buah tanaman kelapa sawit (Elaeis guienensis JACQ) yang biasanya disebut minyak sawit mentah atau kasar (Crude Palm Oil, CPO) dan dalam pengolahan selanjutnya warna merah tetap dipertahankan. Secara umum, proses produksi minyak sawit merah prinsipnya sama dengan proses produksi minyak sawit komersial (minyak goreng).

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Inap Crude Palm Oil (CPO) Pada Tangki Terhadap Asam Lemak Bebas (ALB) di PT. Sarana Agro Nusantara

Pengaruh Waktu Inap Crude Palm Oil (CPO) Pada Tangki Terhadap Asam Lemak Bebas (ALB) di PT. Sarana Agro Nusantara

Peningkatan kadar asam lemak bebas dalam minyak sawit mentah dapat terjadi karena penimbunan buah yang terlalu lama pada loading ramp. Semakin tinggi kadar asam lemak bebas dalam CPO maka akan semakin buruk kualitas minyak sawit mentah tersebut,sebaliknya semakin rendah kadar asam lemak bebas pada CPO maka akan semakin bagus kualitasnya.Asam lemak bebas tidak diinginkan dalam CPO karena dapat mempercepat minyak tersebut berbau tengik selama penyimpanan.Kadar asam lemak bebas diukur dengan menggunakan metode titrasi volumetri, dimana sampel minyak kelapa sawit ditimbang kemudian ditambahkan larutan n-heksan dan alkohol kemudian diteteskan indikator phenolphthalein yang kemudian dipanaskan diatas hotplate setelah itu dititrasi dengan larutan KOH 0,0903N. Hasil yang diperoleh untuk kadar asam lemak bebas maksimum sebesar 4,09 %. Data tersebut menunjukkan bahwa kadar asam lemak bebas masih sesuai dengan standart mutu.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pra Rancangan Pabrik Asam Oleat Dari Crude Palm Oil (CPO) Dengan Kapasitas 2000 Ton/Tahun

Pra Rancangan Pabrik Asam Oleat Dari Crude Palm Oil (CPO) Dengan Kapasitas 2000 Ton/Tahun

Minyak kelapa sawit yang dihasilkan dari kulit kelapa sawit dinamakan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil). CPO ini mengandung sekitar 500-700 ppm karoten, dan merupakan bahan pangan terbesar. Minyak yang terdapat di alam dibagi menjadi tiga golongan yaitu minyak nabati (natural oil), minyak nabati (edible oil), dan minyak atsiri (volatile oil atau essensial oil). Minyak yang terdapat pada hewani disebut sterol (kolesterol) sedangkan pada tumbuhan (fitosterol) yang mengandung asam lemak jenuh, sehingga umumnya berbentuk cair. Minyak nabati dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu (Bailey, 1989) :
Baca lebih lanjut

326 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...