• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agfama: Berkat atau Laknat

Dalam dokumen Just_Duit_-_Johanes_Lim_-_bhs_indonesia (Halaman 149-154)

M

engapa kita perlu agama? Karena agama mengajarkan kebaikan dan cara hidup baik, dengan segala bentuk stick and carrot-nya yaitu hukuman neraka bagi orang yang jahat dan pahala sorga bagi orang yang saleh.

Mengapa manusia perlu diajar agama? Karena walau dikatakan bahwa pada dasarnya manusia itu baik, tetapi dalam perkembangannya manusia sudah kerasukan sifat jahat, sehingga sangat mudah belajar dan berbuat jahat, serta sukar belajar dan berbuat baik. Kalau ma-nusia sudah kerasukan sifat jahat, kata-kata Hobbes "homo homini lupus, (manusia adalah serigala bagi sesamanya)" bisa diungkapkan secara lain: "Devil is your human fellow. (Setan itu adalah sesamamu manusia)."

Cobalah terka, apakah yang akan terjadi jika:

a Si Dogol yang berprilaku buruk, seperti gemar berjudi, mencuri, melacur, berkelahi, berkata-kata kasar dan kotor, karena ia terlahir dari keluarga dan lingkungan yang juga seburuk dirinya. Nah orang ini dimasukkan (tinggal bersama selama 3 bulan) ke dalam suatu keluarga yang berperilaku baik serta taat beragama (sebut saja keluarga rohaniwan) yang setiap hari rajin membaca kitab suci dan berdoa, serta hidup rukun damai serta harmonis sesama anggota keluarga. Pertanyaan saya: Apakah setelah tiga bulan, si Dogol itu akan menjadi berkepribadian baik atau berkurang tabiat buruknya, atau tidak berubah sama sekali?

a Sebaliknya, anak si rohaniwan tadi, katakan namanya si Naif yang terbiasa bertingkah laku baik, sopan, ramah, sabar dan saleh, selama tiga bulan tinggal bersama dengan keluarga si Dogol, yang setiap hari tidak pernah absen dari berjudi dan mabuk-mabukan, pornografi dan sex bebas dilakukan dengan terbuka di rumah maupun lingkungan sekitar. Pertanyaan saya: Apakah setelah tiga bulan, si Naif itu tidak akan tertular kebiasaan buruk itu, mini-mal ikut mencoba-coba, atau ia tidak terpengaruh sania sekali?

Saya tidak tahu jawaban anda, tapi kalau menurut saya, si Dogol berkemungkinan kecil untuk berubah menjadi baik, karena ibarat cat warna hitam seliter diberi cat warna putih lOOcc tidak akan membuatnya menjadi abu-abu, apalagi putih. Paling hebat, si Dogol hanya menahan diri untuk mengurangi perilaku buruknya di dalam rumah, karena mungkin malu hati dengan keluarga rohaniwan itu, namun tidak menjamin bahwa ia tidak akan pergi ke lingkungan bu-ruknya ketika di luar rumah.

Namun untuk si Naif, saya sangat yakin bahwa ia akan tertular dengan perilaku buruk keluarga si Dogol, minimal dia akan men-coba menikmati suguhan yang ada di depan matanya dan di ling-kungan sekitarnya, karena nampaknya enak dan nikmat. Setelah itu, kebiasaan itu bisa menjadi permanen (ketagihan) atau bisa tidak, ter-gantung berapa kuat karakter dan iman si Naif itu, tapi sekali lagi, sekurang-kurangnya dia akan terlibat dalam salah satu perilaku bu-ruk di atas, karena ibarat seliter cat berwarna putih, jika dimasukkan lOOcc cat berwarna hitam, pasti akan menjadi berwarna gelap, mi-nimal berwarna abu-abu.

Maknanya? Berbuat baik itu susahnya setengah mampus. Apalagi terus bersikap konsisten sampai ajal tiba, itu perlu perjuangan dan pengorbanan serius. Namun untuk berbuat jahat (atau amoral) sangat mudah. Ibaratnya, jerami kering disiram bensin, kemudian disulut api, pasti akan terbakar! Mengapa demikian? Karena satu, si-fat dasar manusia itu jahat, atau bertendensi jahat. Kedua, tindakan amoral itu biasanya lebih enak dan nikmat (sekalipun mungkin ber-sifat sementara), dibandingkan berbuat saleh. Jadi, bisa saja orang berkata, "Free sex, siapa takut?"

Jadi, peranan agama itu sangat penting dalam membentuk moral pengikutnya, agar mempunyai etika dan nilai-nilai ketuhanan seperti yang diajarkan agamanya. Namun jika agama tersebut tidak meng-ajarkan hal kebaikan dan manfaat bagi sesama manusia, dan atau pa-ra pemimpin atau pengajar agama tidak mencerminkannya dalam keteladanan hidup, agama yang diejawantahkan seperti itu tidak ada gunanya, dan bahkan bisa menjadi "Hell is your religion. (Neraka itu adalah agamamu)".

Bahkan saya berani mengatakan bahwa "Tanpa akal budi, agama adalah teror bagi sesama manusia!" Coba renungkan, sejak zaman ba-heula sampai hari ini, di berbagai belahan penjuru dunia, fanatisme buta dari pemeluk agama ataupun aliran kepercayaan telah meng-akibatkan bencana, permusuhan, pembunuhan, kerusakan, peng-aniayaan, kerugian materi dan moril yang tidak terbilang banyaknya, jauh lebih banyak daripada korban yang ditimbulkan oleh bencana alam plus perang politis plus kriminal murni.

Jika kita mau dan mampu berpikir secara pragmatis: Untuk apa-kah semua bencana dan tragedi itu terjadi? Untuk apa mereka men-coba menang-menangan dan/atau bermegah diri dan/atau menindas sesamanya manusia hanya demi agama? Apakah agama bisa mem-buatnya kenyang? Apakah agama bisa memmem-buatnya senang? Apakah agama bisa dikasihi dan mengasihi? Bukankah sesamanya manusia yang bisa menolongnya di kala susah, yang menghiburnya di kala duka dan memberinya makan secara faktual dan bukan hanya ha-rapan utopis?? Ya ampuunn! Mereka yang berperang dan/atau meng-aniaya sesamanya manusia hanya karena perbedaan agama adalah orang-orang yang tolol dan jahat, sehingga mau diperdaya dan di-hasut oleh pemimpinnya yang mau terus berkuasa dan/atau mau tambah berkuasa atas jumlah pengikutnya. Itu namanya bukan agama (a = tidak, gama = kacau), melainkan teror!!

Bagi pemimpin agama, harusnya, agama itu jangan hanya meng-urusi akhirat, namun juga kehidupan jemaat; karena akhirat itu masa depan, dan akar agama adalah masa lalu, kedua-duanya tidak ber-faedah secara langsung bagi jemaat; namun jika kehidupan keseharian jemaat dibina dan ditingkatkan kualitasnya, maka jemaat akan lebih

berguna Bagi agama, bagi saudara seiman, dan bagi orang lain, dan bagi dunia.

Bagi pengikut agama, seharusnya memilih pemimpin yang meng-ayomi, yang peduli, dan yang berjuang keras untuk menyejahterakan umat, tanpa pernah menghasut untuk memusuhi kepercayaan lain. Jika pemimpin umat hanya mementingkan perkembangan jumlah (kuantitas) umat tanpa peduli kualitasnya, niaka perlu diwaspadai, jangan-jangan pemimpin tersebut berniat untuk memanfaatkan be-sarnya massa untuk kepentingannya pribadi. Sebab perlu diketahui, ada saja orang yang menunggangi umat agamanya untuk kepentingan politik, ekonomi, reputasi, atau bahkan sombong-sombongan saja. Ciri ciri pemimpin seperti itu adalah jelas, yakni tidak perduli ter-hadap kesejahteraan umatnya secara rohani maupun materi, dan ke-dua, menggunakan isu agama untuk mengerahkan massanya melawan pihak tertentu yang menghalangi ambisinya.

Pemimpin model itu akan panik dan ngamuk, jika ada orang yang "mengambil" jemaatnya, misalnya pindah aliran agama lain. Mengapa? Bukan karena pemimpin itu sayang kepada jemaat ter-sebut, melainkan karena merasa bahwa kekuatannya berkurang, dan mungkin saja 'penghasilannya' berkurang, sebab bukankah jumlah umat adalah aset? (bisa untuk pasukan tempur, dan bisa untuk di-mintai sumbangan). Mengapa saya katakan demikian? Sebab, jika je-maatnya diayomi dan disejahterakan, tidak mungkin umat akan per-gi ke tempat lain; namun jika jemaat ditelantarkan dan mungkin hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pemimpin, lantas mengapa heran jika umat minggat?

Namun pemimpin egois model itu tidak akan menerima jika di-suruh introspeksi. Mereka bukannya menyadari kekurangannya, ma-lahan akan mencari "kambing hitam" agar bisa melampiaskan den-dam kesumatnya.

Kalau orang yang mengaku taat beragama dan cinta setengah mati kepada Tuhannya, namun dalam kehidupan sehari hari tidak menjadi manfaat bagi orang lain—apalagi jika ia menjadi pembenci orang lain—maka menurut saya, tidak ada gunanya dia beragama atau bertuhan. Itu hanya omong kosong belaka.

Bayangkan, sesamanya manusia yang kelihatan batang hidungnya saja tidak bisa ia pelihara dan sayangi, bagaimana katanya ia bisa me-ngasihi Tuhan yang tidak kelihatan, dan bahkan tidak pernah di-lihatnya, sekalipun dalam mimpi.

Menurut saya, orang yang bertengkar apalagi berkelahi gara-gara perbedaan agama bukan hanya salah dan jahat, melainkan juga idiot, karena tidak mengetahui beberapa alasan:

Q Semua agama itu dasarnya adalah kepercayaan. a Kepercayaan itu dibentuk oleh "pemikir". a Kepercayaan itu beluni tentu benar. a Kepercayaan orang lain belum tentu salah.

Q Sebaiknya bersikap dewasa, dan tahu diri, jangan sok tahu, dan sok suci, apalagi sok benar.

Itulah sebabnya semakin hari semakin h&nyak. free-thinker, agnostik, atau bahkan atheis, karena melihat ulah orang yang mengaku beragama namun menyebar kebencian dan teror sehingga membuat orang muak. Kalau tingkah orang yang beragama seperti itu, maka perilaku orang yang tidak beragama justru jauh lebih baik, karena tidak memusuhi orang yang beragama lain.

Tips #7

ama & Duit

Dalam dokumen Just_Duit_-_Johanes_Lim_-_bhs_indonesia (Halaman 149-154)