B
agi pemerintah maupun BUMN dan atau pengusaha nasional yang mempunyai dana untuk alokasi sosial, saya mengusulkan agar segera dibuat semacam Entrepreneur Support Center (ESC) tempat di mana para pengusaha maupun colon pengusaha kecil bisa mendapat bimbingan dan nasihat teknik sehubungan dengan dunia usaha, misalnya: Mengelola agrobisnis, teknik dan manajemen pro-duksi produk tertentu, manajemen pemasaran, salesmanship, ma-najemen keuangan, mama-najemen akuntansi, mama-najemen sumber daya manusia, metode membuat business plan, perpajakan, teknik presentasi publik, dan Iain-lain.Semua pelayanan dan pendidikan ESC itu harus gratis, tidak di-pungut biaya apa pun, dan bebas 'uang rokok', serta dibawakan se-cara praktis oleh orang-orang yang kompeten dan berdedikasi tinggi. (konsultan itu bisa orang gajian, bisa voluntir). Jika belum ada dana dari partisipasi masyarakat, ESC harus segera didanai oleh pemerintah dari sumber pajak, karena kelak jika pengusaha itu laba dan mem-bayar pajak, manfaatnya akan kembali kepada pemerintah dan ma-syarakat luas; lagipula memang salah satu manfaat dan tujuan pajak adalah dikembalikan untuk kepentingan masyarakat, bukan?
Hal mendesak lain yang tidak kalah pentingnya, dalam situasi kondisi Indonesia yang masih kusut seperti saat ini—karena lama menderita akibat krisis ekonomi dan politik, sehingga puluhan juta orang menganggur dan hidup di bawah garis kemiskinan—adalah membentuk Survival Support Center (SSC), yakni aktivitas sosial
yang dilakukan di setiap kelurahan—minimal kecamatan—dengan cara mendirikan balai pengobatan gratis (termasuk obat-obatannya), dan/atau dapur umum untuk makan gratis bagi warganya yang terdata sebagai keluarga tidak mampu. Ketua RT bisa memberikan kupon atau tanda pengenal khusus agar warganya bisa mendapat fasilitas itu.
Adapun untuk pendanaannya bisa dibantu oleh pemerintah, sum-bangan warga yang lebih mampu, dan khususnya para pengusaha. Sekali lagi, dana dan program ini harus bebas tindak kriminal seperti korupsi atau diskriminasi, misalnya, melalui pemilihan pengurus yang hati-hati serta kontrol administrasi yang ketat, dengan sebe-lumnya memberitahukan sanksinya bagi yang melanggar, yakni di-perrnalukan di depan umum, selain dituntut sesuai hukum.
Jika program SSC ini bisa dilaksanakan bersama program ESC, diharapkan pertumbuhan kemampuan ekonomi masyarakat akan berlangsung lebih cepat dan merata. Minimal, manfaatnya yang se-gera nampak adalah penyelamatan warga yang tidak mampu ter-hadap bahaya kelaparan, penyakit, dan tindak kriminal (mencuri atau merampok misalnya, yang mungkin saja dilakukannya karena terpaksa, untuk memberi makan atau pengobatan bagi keluarganya). Dengan begitu akan tercipta iklim dan budaya tolong-menolong dan persaudaraan sesama warga, dan sesama anak bangsa.
Sekalipun program ini berbiaya relatif besar, namun jika ditanggung secara gotong-royong beramai-ramai, akan menjadi relatif ringan. Percayalah bahwa perbuatan baik dan pengorbanan kita yang seperti ini akan membuahkan hasil kebaikan juga kelak, dan yang pasti, inilah saatnya bagi umat yang mengaku beragama—apalagi bertuhan —untuk membuktikan imannya dengan perbuatan yang tepat man-faat. Jangan hanya berbicara tentang agama dan Tuhan, dan juga jangan hanya mendoakan orang yang perlu pertolongan (karena orang lapar tidak akan menjadi kenyang dengan makan doa, bukan?), namun berikanlah uang dan/atau tenaga/keahlian anda un-tuk tetangga, sesama, tanpa memandang siapa atau apa SARA nya, sekarang!!
Karena, jika tidak ada aksi nyata seperti SSC dan atau ESC ini, banyak anggota masyarakat yang akan hidup dalam penderitaan pan-jang dan dalam, berupa kemiskinan, kelaparan, dan penyakit, ter-masuk kematian. Belum lagi mudahnya mereka terhasut untuk ber-buat jahat, baik individu maupun sebagai kelompok massa, oleh pro-vokator mafia atau politik, yang pada akhirnya memperburuk situasi kondisi makro Indonesia.
Sumber dana yang paling bisa didapat dengan cepat adalah per-tarna melalui pajak. Petugas pajak harus membudayakan dan meng-komunikasikan kebiasan membayar pajak bagi masyarakat, agar ma-syarakat paham arti, tujuan, dan manfaat pajak. Pengusaha wajib memotong pajak penghasilan karyawan atas setiap pembayaran, dan memberikan bukti penyetorannya kepada karyawan. Untuk mencegah persekongkolan dan kolusi antara petugas pajak dan pengusaha, ma-ka petugas pajak harus diseleksi, ditata ulang, dan diberdayama-kan de-ngan tegas, serta dimonitor perilaku dan kondisi finansialnya. Jika ada indikasi tindak kolusi atau korupsi, maka akan dilakukan Fraud Audit. Jika terbukti, hartanya akan disita, dan pelakunya dipenjara. Masyarakat yang mencurangi pembayaran pajak dan ketahuan, akan didenda berat dan/atau dipenjara.
Dengan demikian, sistem itu akan meminimalkan kebocoran akibat kecurangan dan kolusi, serta memperbesar penerimaan ne-gara. Dan setelah itu, jangan lupa untuk mendistribusikan kembali dana itu kepada masyarakat untuk pemerataan pembangunan dan kesejahteraan yang lebih luas dan lebih cepat!
Cara kedua adalah dengan mencegah pemborosan anggaran pe-merintah terhadap kebocoran: korupsi dan pemborosan. Harus ada badan yang memonitor dan mengontrol efektivitas penggunaan ang-garan negara. Jika ada yang melanggar, akan diaudit. Jika terbukti melakukan tindak pidana akan dipenjara, sedangkan bagi yang bo-doh sehingga berperilaku boros, akan dipecat.
Cara ketiga adalah dengan melakukan law enforcement dan/atau approaching kepada para koruptor yang sekaJipun secara de jure be-lum terbuktikan, namun secara de facto memang adalah koruptor, terbukti dari kekayaannya yang jauh lebih besar dibandingkan
sumber penghasilannya yang realistis. Pergunakan sistem pembuktian terbalik. Dan aparat negara yang terbukti korupsi, jangan hanya di-pecat dari jabatannya (enak sekali mereka, sudah kenyang tinggal beristirahat dan menikmati harta hasil jarahan!), melainkan juga ha-rus ditindak secara pidana: hartanya disita, dan dimasukkan ke pen-jara. Demikian juga bagi perseorangan atau kelompok swasta yang berkolusi dengan pejabat untuk merugikan keuangan negara, hartanya akan disita untuk negara, dan mereka masuk penjara.
Jika kita melakukan hal itu, dalam waktu singkat kita akan mem-punyai dana yang besar sekali. Dan kedua, untuk selanjutnya kita ju-ga akan mempunyai sumber dana yang tetap besar, karena risiko ke-bocoran dan pencurian anggaran negara menjadi berkurang, karena orang takut melakukan tindak kolusi ,atau korupsi, karena ada hu-kumannya, yakni mendekam di penjara.
Biaya ekstra yang harus kita keluarkan adalah untuk membangun penjara-penjara lebih banyak untuk menampung para terpidana!