M
enurut kepercayaan banyak orang, nasib itu ada, namun apakah ia benar ada dan apakah nasib itu?Nasib atau takdir, yang dalam bahasa Inggris disebut fate atau destiny, sebenarnya berarti sama, yakni sesuatu keputusan atas jalan (skenario) hidup yang tidak bisa dikuasai oleh diri seorang manusia, melainkan sepertinya terjadi atas rekayasa atau kehendak kuasa lain di luar diri seseorang tersebut, apakah yang diyakni sebagai "Tuhan" atau kekuatan supranatural lain.
Beda nasib dengan takdir hanyalah soal penekanan saja, bahwa nasib berkenaan dengan operasional kehidupan manusia sehari-hari, sedangkan takdir berkenaan dengan masalah mati dan hidup. Ada yang mengatakan bahwa takdir sifatnya tidak bisa diubah, atau su-dah menjadi keputusan final ilahi, sedangkan nasib masih bisa ber-ubah atau diber-ubah oleh individu manusia sendiri.
Menurut saya, nasib itu adalah perpaduan dan sinergi antar-faktor-faktor seperti: harapan, kemauan, kepercayaan, perjuangan, dan kesempatan. Salah satu dan/atau kombinasi ada atau tidak ada-nya faktor-faktor di atas akan mempengaruhi—bahkan menentukan —kualitas dan nilai kehidupan seseorang.
Saya belum bisa memastikan, apakah faktor ada, atau tidak ada-nya harapan, atau kemauan, atau kepercayaan, atau perjuangan, atau kesempatan, atau kombinasi di antaranya, itu berasal dari individu manusia itu sendiri, lingkungannya, atau terbentuk secara kebetulan, atau dari Tuhan?
Saya mengamati dan menyelidiki bahwa faktor dominan (ke-banyakan, dan bukan total semuanya) yang menjadikan seseorang sukses dalam hidup memang berawal dari adanya harapan, atau tu-juan hidup (cita-cita) yang relatif besar (apakah menjadi lebih kaya, lebih pandai, lebih terhormat, lebih berbahagia, dan Iain-lain) dibandingkan dengan kualitas dan nilai kehidupan sebelumnya. Dari adanya harapan itu, timbul kemauan untuk mewujudkannya. Jika individu tersebut percaya bahwa ia mampu nieraih cita-citanya itu, ia akan berjuang—baik mengumpulkan informasi berupa pengetahuan ataupun sumber dana atau sumber daya lainnya—agar harapannya terwujud.
Jika ada kesempatan, harapan tersebut akan lebih cepat dan lebih mudah terwujud. Jika belum ada kesempatan, konsistensi dari perjuangan itu akan dipengaruhi oleh faktor seberapa besar keper-cayaan individu tersebut bahwa suatu hari harapannya akan terkabul. Jika kecil, atau bahkan jika tidak ada, bisa saja belum terbuka-nya kesempatan itu membuat impian/harapan individu tersebut pu-dar atau hilang, dan ia dikatakan gagal dalam mewujudkan cita-cita-nya.
Jika kepercayaannya tetap besar, dan ia tetap konsisten mem-perjuangkannya, bisa saja suatu hari kelak—cepat atau lambat— kesempatan akan terbuka (atau bisa saja ia menciptakan kesempatan atau diberikan kesempatan oleh individu lain yang terpesona karena kegigihannya). Alternatif lain, bisa saja bahwa sampai individu ter-sebut meninggal dunia, harapannya tetap tidak terwujud, karena tidak ada kesempatan, bagaimanapun kerasnya ia telah percaya dan berjuang.
Ada sekian banyak pengalaman dan sejarah kehidupan manusia membuktikan bahwa ungkapan, "Apa yang ditabur akan dituai," se-sungguhnya secara empiris-praktis tidak benar, atau tidak selalu benar. Petani tentu setuju dengan pernyataan saya ini, karena bisa sa-ja petani telah menabur benih secara benar dan mengurusnya secara benar dengan jerih payah, namun kemudian ia tidak mendapatkan hasil panen seperti yang seharusnya, entah karena tanamannya mati diserang kemarau panjang atau banjir bandang, atau bencana alam
lainnya, atau diserang hama, atau bahkan dijarah oleh sekelompok bandit menjelang panen! Alhasil, petani tersebut menabur, berjerih payah, tapi tidak menuai hasil—suatu contoh kasus yang realistis bukan?
Kalau saya boleh melenceng sedikit dari konteks, hukum 'tabur-tuai' itu tidaklah selalu benar. Misalnya adalah tindakan kriminal yang dilakukan oleh beberapa tipe manusia seperti misalnya koruptor, pembunuh, pemerkosa, perampok, pencuri, penipu, penganiaya, penjarah, provokator, dan sebagainya, yang tidak dapat dijangkau hukum karena tidak tertangkap, ataupun sempat diadili namun bisa bebas, atau terhukum ringan, karena menggunakan kuasa uangnya, atau politik, atau kekuatan lain. Bahkan dalam banyak contoh, ko-ruptor dan mafia bisa hidup nyaman, aman, dan makmur serta ter-hormat, sekalipun mereka telah menabur kejahatan (yang terselubung atau tidak terjangkau hukum).
Sebaliknya, orang-orang yang saleh, yang berbudi pekerti, yang selalu berupaya menabur kebaikan dalam hidup, malahan hidup miskin, susah, bahkan sering menjadi korban fitnah atau penipuan dan 'kambing hitam' oleh 'orang kuat' yang jahat. Ironis bukan?
Jadi, kalau "menabur belum tentu menuai", apakah lantas lebih baik menjarah saja—"tidak menabur, tapi menuai"? Dengan me-ngatakan bahwa walau menabur, tapi belum tentu menuai, saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam proses antara menabur dan menuai, ada sekian banyak faktor lain yang berperan, ada yang lang-sung di bawah kontrol kita, ada yang tidak berada di bawah kontrol kita secara perorangan.
Logika sebaliknyalah yang perlu anda perhatikan: tanpa menabur (sendiri atau dengan menyuruh orang), tak mungkin anda menuai sesuatu yang secara wajar menjadi hak anda. Secara logis lalu menja-di jelas sekali, kalau mengharapkan sesuatu, mulailah berjuang un-tuk sesuatu itu. Memang dalam perjuangan itu ada beberapa faktor yang mungkin tidak kita kuasai yang bisa menggagalkan upaya kita; tetapi jelas sekali bahwa tanpa perjuangan, kita tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kita harapkan itu secara wajar, manusiawi, dan terhormat.
Dalam analog! itu, kalau kita tidak menabur tetapi menuai, na-manya merampok. Dan itu tidak wajar, tidak manusiawi, bahkan merendahkan kemanusiaan kita.
Kalau kita memperluas perspektif "hukum tuai-tabur" itu ke dalam kehidupan akhirat—ke perkara sorga dan neraka—kita memi-liki ajaran bahwa benarlah hukum itu. Artinya: sekalipun dalam ke-hidupan dunia seseorang yang saleh tidak mendapatkan imbalan * yang baik, mungkin kelak di akhirat ia mendapatkan kenikmatan sorgawi atau pahala atas amal ibadahnya; sebaliknya, orang jahat yang tidak mendapat hukuman di dunia karena kelicikan dan keku-atan kuasanya, mungkin kelak di akhirat akan mendapatkan siksa sengsara api neraka sebagai hukuman atas kejahatannya. Begitulah kita diajar.
Karena dalam perjuangan itu ada faktor lain yang menentukan keberhasilan atau kegagalannya, maka ada pepatah yang berbunyi, "Man purposes God disposes, atau manusia berusaha Tuhan me-nentukan". Memang begitulah kenyataannya, bagaimanapun manusia berusaha dan berjuang, bisa saja jerih payahnya tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Ketidakkonsistenan itulah yang menjadi bahan renungan panjang saya, apakah benar bahwa hukum hidup (seperti misalnya hukum ta-bur-tuai, sebab-akibat) itu tidak konsisten, artinya tidak ada formula sukses logisnya, sehingga kita tidak bisa memastikan bahwa setelah "a...b...e...d..adalah e..." atau setelah "do...re...mi...fa... adalah sol..."? Jika jawabannya adalah "Hukum hidup itu konsisten", maka apa jawaban terhadap contoh kasus yang realistis seperti yang saya ung-kapkan di atas tentang petani, misalnya?
Jika jawabannya adalah "Hukum hidup memang tidak konsisten, minimal unpredictable", maka atas jawaban itu harus segera diper-tanyakan, "Mengapa demikian? Apa alasannya? Apakah karena hidup tidak ada hukumnya? Apakah karena keterbatasan pengetahuan dan kekuasaan kita, atau karena intervensi 'Faktor X'?
Nah, berkenaan dengan faktor kesempatan, saya pun belum bisa mengambil kesimpulan, apakah kesempatan itu netral—artinya, ti-dak berpihak kepada siapa dan apa pun serta titi-dak berpribadi—atau apakah yang namanya kesempatan itu adalah predeterministik,
ar-tinya berkaitan dengan "Faktor X" atau "Faktor Tuhan" yang bersifat fatalis, yakni adanya skenario takdir yang menentukan sejarah ke-hidupan dari A sampai Z tanpa bisa diganggu-gugat oleh individu manusia. Mudahnya: Jika 'takdir' seseorang itu harus gagal atau bangkrut dalam usahanya, apa pun juga yang dilakukannya, maka hasil akhirnya adalah kebangkrutan. Perjuangan yang bagaimanapun hebatnya tidak akan mampu membuka atau menciptakan kesempatan, sehingga berakhir hidupnya di kesempitan!?
Sebaliknya, sekalipun seseorang tidak berjuang—bahkan mungkin ada yang tidak berpengharapan atau bercita-cita apa pun—jika 'na-sib' menentukan dirinya menjadi kaya dan atau terhormat, maka entah bagaimana, segala macam kesempatan yang luar biasa dan tidak pernah sekalipun terlintas di dalam benaknya atau di sejarah keluarganya, bisa saja datang dan melimpahi hidupnya—apakah tiba-tiba mendapat harta karun di halaman belakang rumahnya, me-menangkan undian berhadiah, mendapat warisan dari sanak yang jauh, atau menikahi (dinikahi) orang kaya terpandang, atau diangkat anak atau mantu oleh pejabat tertentu, dan lain sebagainya.
Nah, sebagaimana faktor kesempatan masih menjadi tanda tanya besar dalam pikiran saya, demikian juga faktor timbulnya pengharapan (atau cita-cita atau keinginan)—apakah hal itu datang dari dalam diri individu dengan sendirinya, ataukah individu itu digiring oleh "Faktor X" sehingga mengetahui dan berinisiatif mempunyai peng-harapan hidup tertentu, misalnya melalui pembacaan buku, men-dengar pesan itu dari orang lain atau dari media massa, dan seba-gainya?
Ada kenyataan bahwa sangat banyak orang yang sama sekali be-lum pernah tahu apakah yang namanya cita-cita hidup. Mereka hi-dup tapi tidak tahu untuk apa mereka hihi-dup, mau jadi apa di masa depan kehidupan mereka, dan bagaimana mereka bisa mencapai se-mua itu. Boleh dibilang, mereka sekadar hidup. Mereka bangun ti-dur, melakukan aktivitas rutin (apakah bekerja atau menganggur), dan malam hari tidur lagi, demikian terus dan seterusnya, dari dulu sampai kelak, tidak ada perubahan perilaku rhaupun kualitas ke-hidupan yang berarti, sampai mereka meninggal dunia, tamat.
berada (exist)—lahir, makan, kerja rutin, tidur; balita, remaja, de-wasa, menikah, melahirkan, membesarkan anak, manula, mati— tidak berbeda dengan kehidupan hewan.
Kalau saya ditanya, apakah kehidupan yang adem-ayem dan tak bertujuan seperti itu adalah lebih benar atau lebih baik dibandingkan dengan kehidupan yang berambisi dan penuh perjuangan, saya tidak bisa menjawab. Menurut hemat saya, itu tergantung pada individu masing-masing, karena kedua-duanya tidak bisa dikatakan benar atau salah, baik atau buruk, melainkan lebih tepatnya, cocok atau ti-dak cocok dengan kepribadian masing-masing individu. Ada individu yang lebih senang dengan kehidupan model floating atau ala kadar-nya, karena lebih tenteram dan sedikit gejolak. Ada individu yang gemar tantangan, serta menikmati gejolak romantika kehidupan de-mi obsesi mencapai tujuan besar tertentu dalam kehidupannya.
Adapun mengenai "Faktor Kesempatan", saya cenderung menga-takannya sebagai sesuatu yang lebih dominan dipengaruhi oleh fak-tor eksternal, yakni yang melibatkan pihak lain, baik itu berupa ma-nusia lain, hukum mama-nusia, hukum alam, sumber daya, dan sebagai-nya, yang celakanya tidak banyak yang bisa kita kuasai atau ken-dalikan dengan kekuatan individu manusia sendiri.
Kalau saya umpamakan bahwa hidup itu seperti bermain biliar (bola sodok), maka jika pemainnya hanya satu orang, orang itu bisa menghitung dan menganalisis efek pantulan bola atas sodokan bola putih secara matematis, misalnya apakah bola nomor lima belas akan masuk lobang atau tidak jika bola nomor satu di sebelahnya dibentur oleh bola putih; namun jika bola-bola di meja biliar itu dibentur oleh banyak bola putih (seharusnya hanya ada satu bola putih yang disodok secara bergantian, namun dalam analogi ini saya contohkan demikian) oleh banyak pemain yang mempunyai minat dan ke-mampuan yang berbeda-beda sekaligus, maka pemain andal kelas dunia sekalipun tidak lagi bisa memprediksi bola mana yang akan masuk atau tidak masuk lobang atas sodokannya, karena bisa saja se-belum ia menyodok, bola putihnya telah terbentur bola lain entah dari arah mana dan oleh siapa.
Itulah mungkin asumsi yang bisa saya berikan tentang alasan me-ngapa kita tidak bisa memastikan hasil akhir dari setiap upaya kita agar sesuai persis seperti yang kita rencanakan, yakni karena kita ti-dak hidup sendirian, dan titi-dak sedang bermain biliar sendirian.
Kesimpulan sementara saya ialah, bahwa kita manusia bisa me-ngatur kehidupan kita secara relatif independen sampai pada faktor-faktor harapan, kemauan, kepercayaan, perjuangan, karena kebanyakan hanya terkait dengan faktor internal individu, atau dalam hal ini hanya melibatkan faktor "pengetahuan dan kemauan". Kalau individu bisa dan mau, biasanya ia bisa melakukannya; atau yang bisa kita na-makan sebagai "kategori satu".
Namun untuk faktor kesempatan, yang bisa kita namakan sebagai "kategori dua", kita tidak banyak bisa berperan apalagi memastikan hasilnya, karena terkait dengan faktor eksternal yaitu banyak pihak lain yang tidak kita ketahui siapa, apa, di mana, bilamana, bagai-mana, bahkan mengapanya.
Karena itu, apa saja yang diajarkan oleh para pakar (filsuf, il-muwan, positive thinker, public motivator, hipnotisme atau spiri-tualisme, atau teknik apa saja) untuk 'mengubah nasib' seseorang, itu semua hanya bisa mengubah keadaan pada "kategori satu". Misalnya: Bagaimana berhenti kebiasaan merokok, atau menurunkan berat ba-dan, atau teknik meningkatkan kepercayaan dan citra diri, mening-katkan IQ atau EQ, dan sejenisnya.
Itu semua relatif mudah. Asal anda tahu apa persoalannya, ba-gaimana cara mengatasinya, dan anda percaya kepadanya, serta be-rani 'membayar harganya yakni berjuang untuk mewujudkannya, anda pasti berhasil! Mengapa? Karena 'faktor satu' tidak melibatkan pihak eksternal, melainkan hanya faktor internal diri anda sendiri. Ji-ka anda berhasil, itu Ji-karena anda memang telah melakuJi-kan hal yang benar secara benar. Namun jika anda gagal, maka itu karena anda kurang tahu, atau kurang mau, atau melakukannya secara tidak te-pat. Kegagalan anda adalah karena kelemahan atau kesalahan diri an-da sendiri, tian-dak aan-da urusannya dengan pihak mana pun juga, baik manusia lain, alam, setan, atau Tuhan!
Nah, untuk "kategori dua" yakni tema yang berkaitan dengan "Sukses dan Kaya" misalnya, semua itu tidak ada formula suksesnya. Yang ada hanyalah pedoman, asumsi, rencana, strategi, program, dengan persyaratan tertentu. Misalnya: Jika semua faktor terpenulii, maka kemungkinan besar teori ini akan berhasil.
Secara logis-empiris, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa seseorang akan bisa sukses dan kaya, misalnya, dengan mene-rapkan "resep ABC" tanpa syarat, karena faktor sukses dan kaya itu terkait dengan "Faktor Kesempatan", yang melibatkan banyak pihak eksternal.
Jangan mudah diperdaya oleh teori atau guru mana pun yang me-ngajarkan bahwa "hanya dengan kemauan atau kekuatan pikiran atau kepercayaan yang kuat akan kesuksesan dan kekayaan, maka an-da akan sukses an-dan kaya!" Itu omong kosong. Mau membohongi si-apa? Yang benar adalah "dengan kemauan atau kekuatan pikiran atau kepercayaan yang kuat akan kesuksesan dan kekayaan" anda akan le-bih mudah dan lele-bih cepat mencapai kesuksesan itu dibandingkan jika anda tidak/kurang percaya, namun tidak pasti atau tidak mutlak begitu.
Kalau hanya dengan kekuatan spiritual seseorang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya, maka formula yang sama tentunya bisa diterapkan oleh beberapa orang untuk mendapatkan hasil yang juga sama. Jika semua orang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya dengan metode itu, apakah anda masih percaya bahwa 'wajah' dunia dan kehidupan ini masih sedemikian jeleknya? Mengapa masih se-demikian banyak orang miskin, sakit, menderita, bodoh, dan mati celaka? Bukankah kalau benar begitu, setiap orang yang mempercayai teori spiritualisme itu telah mencapai sukses, kaya, sehat, bahagia ba-gi dirinya sendiri, atau keluarganya, atau lingkungannya? Tapi, apa kenyataannya?
No way! Sampai buku ini saya tulis, belum ada satu formula suk-ses yang bisa menjamin suk-seseorang pasti suksuk-ses menciptakan atau mengubah "Faktor Kesempatan" atau "kategori dua". Sampai saat ini, yang bisa kita lakukan adalah mencoba, berusaha, atau
mem-pengaruhi, agar "Faktor Kesempatan" berpihak kepada kita, atau mi-nimal tidak melawan kita, namun basil akhirnya tetap: "Walahualam". Apakah dengan demikian kita harus give-up dan tidak perlu mem-punyai pengharapan akan hidup yang sukses dan berbahagia? Apakah kita tidak lagi perlu berjuang untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, hanya karena kita tidak bisa memastikan hasilnya?
Terserah kepribadian anda. Jika anda pemalas, atau pesimis, mungkin anda memilih tidur saja dan menunggu nasib baik. Namun menurut saya, kita tetap perlu bertujuan hidup yang besar dan mu-lia, tetap perlu berkemauan dan berkepercayaan yang kuat bahwa hal itu bisa terwujud, serta harus terus berjuang mengupayakan realisasinya tanpa mengenal kata menyerah.
Biarlah "Faktor Kesempatan" melakukan hukumnya sendiri, ka-rena sesungguhnya meskipun hukum tabur-tuai tidak sepenuhnya benar, namun secara logis-empiris, jika kita tidak menabur jelas se-kali bahwa kita tidak akan bisa menuai secara wajar. Memang, tanpa menabur, ada kemungkinan anda bisa menuai, tapi tidak secara wajar—misalnya karena anda mendapat hibah atau menjarah milik orang lain. Sebaliknya, jika kita menabur, berapapun persentasenya, kita mempunyai harapan bahwa suatu hari—cepat atau lambat, dan enah untuk taburan yang keberapa kali—kita akan menuai. Apalagi menurut the law of average atau Probability Theory, semakin banyak dan semakin sering kita menabur, maka akan semakin banyak ke-mungkinan kita untuk menuai hasil taburan kita. Tentunya dengan catatan bahwa kita telah menggunakan cara atau proses yang benar, sebab jika kita menabur benih di atas permukaan kaca misalnya, ya sampai kiamat pun tidak akan ada benih yang tumbuh, apalagi ter-tuai!
Hal lain yang perlu saya tambahkan adalah bahwa "nasib baik" atau "nasib buruk" itu bisa dipengaruhi oleh intensitas pengetahuan dan wawasan anda beserta unsur kehati-hatian (prudence), dan bukan oleh takhayul.
Sebagai contoh, dalam bisnis anda akan lebih bisa menghindari "nasib buruk" yaitu kebangkrutan usaha dan memperlancar datangnya "nasib baik" berupa kesuksesan usaha, jika anda mempunyai
kete-rampilan dan wawasan luas dalam membuat business plan sebelum memperkenalkan suatu produk atau unit usaha, dibandingkan jika anda memulai suatu usaha hanya berdasarkan naluri dan perkiraan saja. Dengan adanya perencanaan dan kehati-hatian, anda pun akan lebih mudah mendapat pendanaan dari bank atau investor, karena anda dinilai lebih profesional dan lebih prospektif, dibandingkan orang yang kurang pengetahuan dan kurang hati-hati.