• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kiat Menikmati Hidup aalam Segfala Kondisi

Dalam dokumen Just_Duit_-_Johanes_Lim_-_bhs_indonesia (Halaman 157-163)

S

etelah membombardir anda dengan konsep bahwa kekayaan itu indah dan kemiskinan itu buruk, serta memotivasi anda agar berjuang mati-matian mengeliminir kemiskinan dan menjadi kaya, maka sekarang saatnya saya melakukan calming down untuk me-ngendurkan ketegangan pikiran anda dan/atau mengeliminir ke-frustrasian anda dalam menghadapi kenyataan hidup yang mungkin nampak terlalu berat atau tidak sesederhana seperti yang saya tulis di atas.

Memang, hidup itu bukan hanya terdiri dari hitam atau putih, kaya atau miskin, kalah atau menang, dan hidup atau mati. Ada be-berapa macam variasi dan intensitas di antaranya. Saya tidak men-jelaskannya di atas, karena saya ingin mendramatisir keadaan se-hingga memojokkan anda ke dalam situasi kalah atau menang dan kaya atau miskin. Bukan dengan tujuan untuk menyulitkan anda, melainkan untuk memberikan sedikit shock therapy, agar pesan saya sampai bukan saja ke pikiran sadar anda, namun juga menembus sampai ke pikiran bawah sadar anda, agar menjadi impresi yang ber-kemungkinan lebih besar untuk memenangkan kepercayaan anda dan dapat melakukan mind reprogramming, untuk menjadikan anda pribadi yang lebih kaya, lebih sukses, dan lebih berbahagia.

Nah, setelah anda bisa menerima ide-ide yang mungkin terasa kontroversial bagi anda itu, dan setelah anda menata dan memprogram ulang pikiran dan kepercayaan serta perilaku anda agar kondusif

untuk meraih sukses, dan setelah anda menyusun tujuan hidup serta program aksi untuk mencapainya, saya akan memberikan kiat atau tips, agar anda dapat menjalani hidup sehari hari dengan lebih nik-mat, lebih senang, lebih relaks, lebih berbahagia, dan lebih sukses, apa pun situasi kondisi anda saat sekarang.

Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, hidup itu relatif. Ke-percayaan dan bahkan pengalaman hidup anda relatif. Definisi dan manfaat kekayaan atau kemiskinan juga relatif. Kesenangan dan ke-susahan juga relatif. Bahkan benar dan salah juga relatif. Semua itu tergantung kepada di mana, kapan, dan siapa yang melihat, meng-alami, atau menilainya. Asalkan anda telah memiliki prosperity consciousness, anda telah berada di jalur yang benar untuk dapat hi-dup sukses, kaya, dan bahagia. Nah sambil menjalani kehihi-dupan ke-seharian anda dalam mencapai cita-cita, maka anda harus bisa me-nyiasati setiap keadaan dengan benar dan bermanfaat.

Dalam hal menganut kepercayaan—entah agama, entah falsafah hidup, entah apa saja—selama anda secara pribadi merasa bahwa hi-dup anda menjadi lebih baik, lebih nyaman, lebih enak, lebih se-nang, lebih merdeka, lebih damai, lebih beruntung, lebih berbahagia, dan lebih berguna bagi orang lain, maka anda harus terus me-nganutnya tanpa perlu memperdulikan pendapat atau kritik orang umum atau mayoritas. Ingat, karena kebenaran itu relatif, dan juga pendapat mayoritas itu belum tentu benar, maka parameter perilaku anda adalah kebergunaan: Selama apa yang anda lakukan adalah menguntungkan diri anda dan keluarga anda, serta tidak merugikan orang lain—dan lebih-lebih kalau juga berguna bagi masyarakat atau dunia—itu adalah hal yang bagus, dan boleh dilakukan. Anda tidak perlu harus disetujui atau diterima—apalagi disukai—oleh 100% orang, itu mustahil. Selalu akan ada yang pro dan atau kontra ter-hadap anda. Tuhan saja yang katanya maha baik, masih saja ada mu-suhnya yaitu setan dan antek-anteknya, apalagi kita?

Tentu saja, jika perilaku anda hanya menguntungkan diri sendiri namun merugikan orang lain, itu mengindikasikan bahwa ada yang salah dan/atau bahwa anda egois, sehingga harus ditinjau ulang dan diralat, agar anda tidak dimusuhi dan dihajar orang karena kesalahan anda sendiri.

Jika sekarang anda masih hidup susah, tidak punya cukup uang dan miskin, misalnya, jangan putus asa dan jangan kecewa. Anda adalah kandidat sukses, dan saat sekarang pun anda masih berhak untuk hidup enak dan menikmati kesenangan, dengan apa yang ada pada diri anda. Jika anda belum bisa membeli kesenangan dengan uang, carilah alternatif untuk menikmati kesenangan yang tidak me-merlukan uang atau hanya membutuhkan sedikit uang.

Lihat kehidupan orang miskin yang tinggal di kolong jembatan. (Anda pasti dalam keadaan yang lebih baik dari mereka, sebab jika tidak, anda pasti tidak sedang membaca buku ini.) Setelah seharian mencari nafkah secara sangat keras—mungkin dengan menjadi pe-mulung, mungkin pedagang asongan, mungkin mengamen, mungkin mengemis—mereka dapat bercengkerama dengan sesama temannya. Kadang ada seorang yang bermain gitar atau sekadar menabuh em-ber plastik. Mereka bisa em-bernyanyi dan menari dengan gembira. Bi-asanya setelah lelah bekerja dan sedang menikmati waktu senggang, mereka tinggal memutar radio yang mendendangkan lagu dangdut, dan mereka bisa berjoget ria bersama. Setelah larut malam, mereka masuk ke dalam gubuk kardus dan pergi tidur. Mungkin mereka ber-mimpi indah, sampai esok pagi terbangun dan kembali menjalani hidup. Satu hari demi satu hari mereka lewati dengan apa adanya. Mereka adalah orang sederhana, tidak banyak maunya, dan bisa mencukupi diri dengan apa yang ada pada mereka. Jika tidak ada na-si, mereka bisa makan ubi atau singkong—yang penting kenyang. Jika tidak ada lauk ikan, mereka bisa makan sepiring penuh nasi hanya dengan tahu atau tempe dan cabai rawit.

Apakah yang sedang saya maksudkan, apakah saya menyamakan anda dengan mereka? Ataukah saya sedang menyanggah premis saya sendiri bahwa tidak ada yang baik atau enak dari kemiskinan? Tentu saja tidak!

Yang saya coba sampaikan ialah suatu ilustrasi bahwa hidup itu indah, yang dapat dinikmati oleh siapa pun juga dalam segala situasi. Kedua adalah pesan bahwa hidup itu adil, bahwa tersedia sumber daya dan kesempatan yang berlimpah pada alam dan keadaan untuk dinikmati, baik oleh orang kaya maupun miskin.

Yang ketiga adalah pengulangan pesan, bahwa hidup itu relatif. Kaya atau miskin, senang atau susah itu adalah relatif, tergantung dari siapa yang menilainya. Bagi seseorang, mempunyai uang satu ju-ta rupiah mungkin sudah dianggapnya kaya, sedangkan Bagi orang yang lain, uang satu juta adalah peanut yang tidak mencukupi untuk membeli selembar gaun pun. Bagi seseorang, mendengarkan radio dengan musik dangdut sambil berjoget bersama teman adalah ke-senangan, sedangkan bagi orang lain yang disebut kesenangan ialah bisa berdansa di ballroom hotel niewah bersama teman-teman jetset. Yang keempat adalah pesan inti bahwa baik-buruknya hidup atau senang-susahnya suatu kondisi itu tergantung pada persepsi atau ke-percayaan anda.

Nah bagi anda harusnya berlaku hukum manfaat, yaitu bahwa anda mau dan mampu menikmati hidup ini setiap hari dan setiap sa-at dengan senang, relaks, bahagia serta penuh harapan. Sekalipun mata dan imajinasi anda terus membayangkan masa depan yang gi-lang-gemilang, kaya serta sukses, namun kaki anda harus tetap me-mijak bumi, dengan bekerja melakukan yang terbaik dengan lebih baik lagi setiap harinya. Bersamaan dengan itu anda tidak lupa untuk menikmati dan memanfaatkan setiap peristiwa, aktivitas, dan sumber daya serta hubungan interrelasi dengan keluarga dan sesama anda se-cara senang dan tenang, serta apa adanya.

Anda tidak mau menjadi orang bodoh yang kegembiraan serta gairah hidupnya terpenjara dengan kenangan masa lalu, sehingga ti-dak mau atau titi-dak mampu menikmati hari ini. Mungkin kalimat gombalnya berbunyi, "Kegembiraan saya telah terkubur di masa lalu." Anda pun tidak mau menjadi orang bodoh yang hidup dalam impian masa depan yang utopis, sehingga tidak mau dan tidak mam-pu menikmati hari ini. Mungkin kalimat neurotisnya berbunyi, "Saya baru akan bergembira jika semua keinginan saya tercapai."

Janganlah menunda atau menunggu untuk bertindak dan me-nikmati hidup apa adanya HARI INI, SEKARANG. Saya ingatkan bahwa hari kemarin itu nothing dan hari esok juga nothing. Hari ini-lah yang bisa kita sebut hidup dan everything.

Tanpa hari ini, anda sudah mati. Jika anda hanya hidup di hari kemarin, maka anda bernama "almarhum atau almarhumah", karena anda hanya tinggal kenangan, masa lalu. Jika anda hanya hidup di hari depan, anda bernama "konsep" atau "fetus, bakal janin", karena anda belum ada dan belum hidup, baru mungkin akan ada. Jadi se-sungguh-sungguhnya yang bisa disebut hidup dan ada atau being atau exist itu adalah hari ini, SEKARANG!

Karena itu saudaraku, sebelum kita berpisah menjalani kehidupan kita masing-masing menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih berbahagia serta lebih bermanfaat, maka pesan saya ialah: Nikmatilah hari ini sebebas-bebasnya, sesenang-senangnya, sepuas-puasnya, sebatas anda bisa sesuai dengan sumber daya dan kesempatan yang ada, asal-kan tidak menghambat pencapaian tujuan hidup anda yang lebih berguna dan lebih sukses di kemudian hari, serta tidak merugikan orang lain.

Nikmatilah setiap detik yang anda miliki dengan senang dan nya-man, jangan menundanya sampai besok. Demikian juga jika kega-galan, kekecewaan, kesedihan atau keputusasaan datang menerjang dan berusaha menghancurkan impian serta hidup anda, hadapilah dengan tegar dan berani; atasilah segera; bangkitlah kembali dan ber-juanglah kembali. Ingat, tidak ada barang satu pun yang perlu anda takuti dalam hidup ini. Seburuk-buruknya penderitaan atau mala-petaka, ujungnya hanya mati, dan kematian bukanlah hal yang perlu di takuti. Bagi orang yang tidak takut hidup, juga tidak akan takut mati, karena hidup itu jauh lebih kompleks daripada mati, nampaknya, Baiklah saudaraku, sudah waktunya kita berpisah. Namun demi-kian, jika anda mengalami kendala dalam menerapkan konsep yang ada pada buku ini, dan/atau anda hendak berbagi cerita dengan saya, jangan sungkan untuk menghubungi saya via penerbit Gramedia, atau via email. Asalkan anda tidak tergesa-gesa, saya bersedia men-jawab email atau surat anda.

Dalam dokumen Just_Duit_-_Johanes_Lim_-_bhs_indonesia (Halaman 157-163)