• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membayar Pendemo Untuk Mencapai Tujuan

Dalam dokumen Just_Duit_-_Johanes_Lim_-_bhs_indonesia (Halaman 98-101)

D

i era "Indonesia Baru" yang masih labil ini, sangat mudah untuk mencapai tujuan pribadi atau kelompok, baik secara ekonomi maupun politik, dengan cara mengerahkan massa pendemo. Mudah saja: kumpulkan dan bayar orang-orang jalanan atau pengangguran yang banyak dan mudah didapat (bahkan katanya ada perusahaan atau organiser yang menyediakan jasa pendemo Rp. 15-000,- per orang), kemudian bikin spanduk atau coretan-core-tan protes atau tuntucoretan-core-tan yang diinginkan (tambahi dengan kata-kata bombastis utopis, misalnya: "Demi keadilan bangsa", atau "Demi ke-sejahteraan kaum buruh anu", atau "Demi HAM", atau "Demi ma-hasiswa", dan Iain-lain, dan seterusnya). Dan jangan lupa mencan-tumkan nama aksi demo tersebut, misalnya "Gerakan Penegak Anu". Bahkan jika anda tidak senang dengan pejabat atau penguasa tentu (atau jika anda tahu akan kalah dalam pemilihan posisi ter-tentu) kerahkan massa yang dulu anda gunakan untuk tujuan "Mogok Buruh", sekarang anda dandani sedikit dan berganti span-duk, misalnya dengan kata-kata, "Basmi politik uang dan KKN", atau "Si anu harus mundur karena main politik uang", dan Iain-lain. Jika anda hendak menyusupkan pendemo bayaran itu ke aksi mo-gok buruh, tentunya anda harus memilih yang orang-orangnya mirip buruh. Atau jika anda mau seolah-olah mahasiswa yang berdemo, ya orang-orang anda harus mirip mahasiswa; atau sekurang-kurangnya

ada orang yang memang benar-benar buruh, atau mahasiswa, yang tampil di barisan depan, padahai mereka hanya orang bayaran.

Harap maklum, saya bukan sedang mengajarkan perbuatan jahat, melainkan sedang menyindir orang-orang yang pernah, sedang, atau akan melakukan tindakan demo gadungan dengan cara-cara seperti yang saya tulis ini, agar mereka malu, dan membatalkan niatnya. Lagipula, ini bukanlah ide saya, melainkan analisis saja, dari berbagai aksi demo yang pernah terjadi. Sebab, jika kita dengar dari buruh pa-brik misalnya yang sedang mendemo perusahaannya dengan ancaman, "Naikkan gaji 200 persen atau kami mogok kerja" (atau bahkan sam-pai merusak atau membakar pabriknya) mereka sebenarnya tidak mau mogok destruktif, karena mereka menyadari bahwa jika mereka mogok dan/atau pabriknya sampai tutup—apalagi bangkrut—yang rugi adalah mereka sendiri. Mereka jadi pengangguran, dan keluarga terlantar. Namun mereka terpaksa melakukannya, karena mungkin saja mereka diancam oleh orang-orang tertentu untuk berdemo. Atau mereka hanya sekadar ikut-ikutan saja.

Ada berita yang lucu-lucu di era Indonesia baru ini. Demo dan motonya bisa salah, karena tertukar-tukar, karena organisernya pada hari yang sama menerima jobs untuk demo di dua tempat berbeda. Bahkan organisernya didemo oleh pendemo yang ia kerahkan, kare-na ia belum melukare-nasi uang demo yang dijanjikan, padahai sudah le-wat tenggat waktu. Ya, ya, itulah ironi-ironi di zaman "Indonesia

Ba-»

ru .

Jadi, menurut saya, seperti cerita di atas, bisa saja aksi-aksi demo yang marak dan terjadi setiap hari itu memang diorganisir oleh orang atau kelompok tertentu, untuk menggoyahkan dan atau menghancurkan (pemerintahan) Indonesia. Coba simak, jika kota-kota besar di Indonesia setiap hari diricuhkan dengan aksi demo yang menjurus ke perbuatan anarkis, misalnya melawan aparat ke-amanan dengan kekerasan, merusak fasilitas umum, dan bahkan me-rusak atau menjarah milik masyarakat awam, bagaimanakah orang bisa beraktivitas dengan baik, tenang dan produktif? Pengusaha lokal selalu was-was dalam berusaha. Pengusaha dan turis asing gentar un-tuk datang ke Indonesia.

roda pemerintahan bisa berjalan dengan patut? Bagaimana pengang-guran dan kemiskinan bisa dihapus? Bagaimana utang negara dan perusahaan swasta bisa dibayar? Jika terus hidup mengandalkan hu-tang baru dari negara-negara asing (IMF misalnya), bagaimana kita tidak harus mengemis dan takluk kepada kehendak mereka, karena kita tidak mempunyai bargaining power? Jika terus bergolak dan krisis, tidak mungkinkah akan terjadi pergolakan sosial yang dipicu oleh provokator-provokator yang mengatasnamakan rakyat, untuk menggulingkan pemerintahan? Jika itu terjadi, maka program sistematis mereka tercapai! Dan kelak, jika mereka berkuasa, jangan harapkan akan ada model demokrasi. Sebagai ganti demokrasi mungkin akan ada pemerintahan main-kayu. Demi alasan menjaga ketertiban dan keamanan nasional, jangan harap ada orang yang bisa berdemo-ria dan asal bunyi lagi, jika tidak mau masuk penjara atau makan timah panas! Mau itu terjadi? Jika tidak, sadarlah, sebelum terlambat. Jangan mau diperalat oleh orang-orang yang haus keku-asaan, yang tidak sabar menunggu pemilu berikutnya untuk menjadi penguasa. Kalau saya ibaratkan nafsu birahi, mata mereka telah men-jadi merah. Kalau ibaratnya nafsu makan, air liur mereka telah me-ngalir deras.

Namun sialnya, kita sulit mencegah orang untuk membayar pen-demo dan/atau sulit menghimbau agar rakyat jangan mau dibeli un-tuk berdemo, karena mereka tidak punya uang, tidak punya peker-jaan, dan butuh biaya hidup untuk makan.

Sebenarnya, jika kita bisa menciptakan lapangan kerja yang me-nampung mereka agar tidak berkeliaran di jalan, tentu persoalan se-lesai, karena mereka pasti memilih untuk bekerja dan mencari naf-kah di sektor bisnis yang mereka ketahui arti pentingnya, yang lebih permanen, dan tidak perlu menggadaikan harga diri maupun hati nurani mereka dengan berdemo dan pura-pura meneriakan tuntutan yang sebenarnya bukan keinginan mereka.

13

Dalam dokumen Just_Duit_-_Johanes_Lim_-_bhs_indonesia (Halaman 98-101)