• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mencapai Tujuan Gaya Maria

Dalam dokumen Just_Duit_-_Johanes_Lim_-_bhs_indonesia (Halaman 101-107)

S

ecara logis-praktis, jika ada suatu aksi atau tindakan ilegal (kriminal)—seperti misalnya korupsi, perjudian, peredaran nar-koba, pelacuran, premanisme, dan sebagainya—yang berlangsung la-ma tanpa mendapat sanksi hukum yang mela-madai, wajar saja untuk menduga bahwa aksi tersebut telah menjadi terorganisir, serta meli-batkan 'orang dalam', bisa oknum aparat keamanan atau penegak hukum, bisa juga petugas dan pejabat pemerintahan. Keterlibatan oknum internal tersebut bisa dikarenakan adanya upeti (uang sogo-kan atau uang imbal jasa atau uang jaga yang diberisogo-kan secara rutin atau per transaksi), atau terror (ancaman terhadap keamanan diri pri-badinya atau anggota keluarganya) agar oknum tersebut membantu kelancaran atau melaksanakan perbuatan kriminal.

Secara teoretis, cara kerja mafia mungkin sebagai berikut: Sebe-lum beroperasi, mafia akan melakukan pendekatan (approach atau lobbying) terhadap pejabat atau petugas yang mempunyai otoritas d suatu daerah atau instansi tertentu, baik melalui jalur bisnis, maupun jalur entertainment, baik melalui undangan makan resmi, atau me-lalui undangan menghadiri acara hiburan tertentu, baik dilakukan langsung oleh pribadi mafioso bersangkutan atau minta diperkenalkan oleh rekannya yang telah mengenal pejabat tersebut. Tidak dilupakan, setiap pertemuan selalu diawali dan/atau diakhiri dengan pemberian berbagai macam hadiah yang relatif mewah serta menyentuh minat pejabat yang menjadi sasaran.

Sebagai manusia, sang pejabat yang dilimpahi kenikmatan dan had utli seperti itu tentu jatuh hatinya, merasa menemukan best friend yang bisa mewujudkan banyak impiannya untuk mendapat keme-wahan hidup secara mudah.

Tahap berikutnya, setelah hubungan sang mafioso dengan sang pejabat sudah lebih akrab, maka jika sang pejabat adalah pria (apalagi sudah berkeluarga), sang mafia akan mengatur agar yang di-suguhkan bukan lagi hanya hadiah materi, melainkan juga wanita penghibur. Dengan demikian, sang pejabat bukan hanya terikat ter-hadap kebiasaan hidup mewah dan nikmat, melainkan juga telah te-rikat secara moral, yaitu bahwa rahasia hubungan seksualnya telah berada di tangan best friend barunya, yang jika terbongkar, bisa saja rumah tangganya akan pecah berantakan, atau bahkan kariernya hancur (bahkan dalam banyak hal, bisa saja permainan seksualnya te-lah direkam video yang akan dijadikan alat teror oleh sang mafia ji-ka diperluji-kan).

Nah setelah fondasi hubungan pribadi itu terbangun, barulah sang mafioso bersiap melaksanakan program ilegalnya, dengan cara meminta "persetujuan" sang teman pejabat tersebut untuk menggarap proyek tertentu (apakah yang melibatkan korupsi, penyelundupan, perjudian, prostitusi, peredaran narkoba, peredaran uang palsu, dan sebagainya). Karena sang pejabat sudah terlanjur "terikat", suka atau tidak suka, ia akan membantu merealisir program tersebut. Jika sang pejabat setuju, upeti berupa uang dan kenikmatan lain terus mengalir lancar. Namun jika sang pejabat tidak setuju, bisa saja terror berupa pem-bongkaran rahasia pribadi sang pejabat akan di-lansir. Bahkan jika sang pejabat membandel, bisa saja keselamatan karier dan keluarganya diancam akan dihancurkan. Karena itu, se-cara logis manusiawi, sang pejabat akan dengan terpaksa memilih untuk bekerja sama, agar kehidupannya semakin makmur atau sekurang-kurangnya untuk menyelamatkan keluarganya—sekalipun disadarinya bahwa tindakannya melawan hukum.

Nah, praktek selanjutnya adalah pendistribusian "dana kesejah-teraan" yang dilakukan oleh kawanan mafia di instansi di mana teman pejabatnya itu berkuasa, dengan cara membagi-bagikan upeti

(berupa uang yang dibagikan mingguan atau bulanan, bisa tunai, bi-sa via transfer bank) kepada berbagai petugas yang relevan terhadap kelancaran^ operasi ilegalnya.

Jika sudah terbentuk team-work seperti itu, aktivitas sang mafioso sudah nyaris aman, karena tidak ada yang mengganggu gugat. An-daikan, karena adanya program terpadu dari instansi pemerintah (yang melibatkan instansi teman pejabatnya itu dengan instansi ter-kait lain) untuk melakukan operasi pembersihan (penggrebekan) terhadap aktivitas illegal tertentu (misalnya perjudian), maka sebelum hal itu terlaksana, operasi itu biasanya sudah dibocorkan terlebih da-hulu kepada sang mafioso, agar pada waktu operasi dilancarkan, ha-silnya nihil.

Alternatif lainnya, jika tempat operasi sasaran telah menjadi ra-hasia umum, karena sudah berlangsung lama dan nyaris terbuka, maka akan diatur skenario agar operasi tersebut berjalan mulus de-ngan tertangkapnya beberapa penjudi kelas teri yang notabene ada-lah nobody, sedangkan gembongnya tersenyum simpul di belakang layar. Tahap selanjutnya, setelah diberitakan media massa hasil kerja yang lumayan mulus itu, adalah proses pembebasan para tersangka bandar judi kelas teri melalui berbagai macam alasan yang malas di-pertanyakan oleh publik. Jika ada wartawan yang penasaran untuk mengekspos berita tersebut, maka proses "amplopisasi" (pemberian amplop uang) pun berjalan kembali, agar oknum wartawan yang se-dianya melawan perbuatan ilegal itu menjadi pura-pura tidak tahu (tentunya selama amplop terus datang secara berkesinambungan).

Jika operasi gabungan semacam itu akan dilangsungkan secara te-rus-menerus, maka team mafia itu harus melakukan lobbying persis seperti awal cerita, dengan bantuan pejabat yang telah menjadi best

friend itu. Tentu saja, semua itu dilaksanakan secara hati-hati, taktis

dan diplomatis. Dan sebagaimana layaknya sifat manusia secara umum, sangat sulit tawaran kemewahan dan kenikmatan itu bisa di-hindarkan. Mungkin karena sang pejabat berpikir, "Jika saya tidak la-kukan, maka pejabat lainlah yang akan melakukannya. Lagipula, jika hanya mengandalkan gaji dan fasilitas halal, sampai pensiun pun sa-ya akan tetap tidak akan pernah kasa-ya, so why not?"

Proses selanjutnya adalah ekspansi usaha ilegal. Setelah satu bi-dang atau daerah proyek ilegal berlangsung secara aman terkendali, mafia akan mengupayakan ekspansi ke daerah lain yang lebih luas dengan bisnis yang sama, atau menambah lini produknya, misalnya dari hanya perjudian menjadi plus prostitusi berbentuk night club, atau plus peredaran narkoba, atau plus penyelundupan senjata, dan Iain-lain, dsb. Dengan demikian proyek illegal para mafia menggurita dan merambah ke mana-mana. Semakin hari, keberadaan dan keku-asaan mereka semakin kuat, yang meliputi bukan hanya pejabat atau penguasa daerah, namun juga sampai ke pusat.

Jika ada orang (pejabat) baru yang mencoba menegakkan hukum, ia akan terganjal oleh hampir semua orang di lingkungannya, baik dengan cara membocorkan rencana operasi, atau bahkan membiarkan tersangka target operasi meloloskan diri ketika terjadi penggerebekan, atau bahkan memberikan telepon atau surat sakti kepada petugas pe-negak hukum agar membebaskan tersangka, sekalipun mafia tersebut sudah berada di tahanan. Bahkan, jika penegak hukum itu tidak bisa atau tidak mau diajak kompromi (menerima upeti), serta tidak takut menghadapi teror, maka mafia akan mempergunakan otoritas te-man-teman para pejabat penguasa untuk menggusur (mencopot) pe-negak hukum yang idealis tersebut dari jabatannya, atau memin-dahkannya ke daerah terpencil, agar tidak merecoki teamwork mafia-pejabat.

Ingat, dengan dananya yang melimpah dan koneksi yang luas, pa-ra mafioso bisa dengan mudah mencopot atau menaikkan pejabat di banyak posisi di berbagai instansi, baik pusat maupun daerah, de-ngan cara yang klasik: Beli, sogok, para pembuat keputusan agar me-mutuskan seperti yang mafia inginkan. Istilahnya adalah money politics. Jumlah pejabat pembuat kebijakan itu tidak banyak. Paling banyak 1.000 orang per institusi dan per pengambilan keputusan. Kalau masing-masing pejabat disuap seratus juta rupiah saja, totalnya baru Rp. 100.000.000.000,-, dan itu adalah uang kecil bagi mafia. Bahkan sekalipun harus menyuap masing-masing satu milyar rupiah, totalnya masih relatif kecil, yakni hanya Rp. 1.000.000.000.000,-(satu triliun) saja. Padahal, setelah kandidat pejabat penguasa yang

adalah 'bonekanya' mafia tersebut berkuasa, tentunya nilai proyek yang diberikan kepada mafia yang adalah majikannya itu jauh lebih besar.

Nah, jika sudah demikian, perbuatan ilegal itu telah menjadi praktik legal, dan sulit diberantas lagi, karena siapakah yang mem-berantas siapa?

Jika ada di antara pembaca yang tidak sependapat dengan teori (asumsi) saya di atas, dan mengatakan bahwa adalah mustahil mental penegak hukum dan/atau pejabat pemerintah sedemikian bobroknya, yang rela menjual rakyatnya- demi uang dan jabatan, maka saya akan mengajak anda untuk melihat fakta sejarah.

Fakta terkini, menurut berbagai macam survei yang dilakukan oleh badan independen, adalah bahwa Indonesia mendapat predikat negara terkorup di Asia, dan negara terkorup ketiga di dunia. Pada-hal, sampai buku ini ditulis, perbuatan tindak pidana korupsi belum terjangkau hukum secara praktis, hanya retorika politik belaka.

Kalau mau ditambahkan: kasus penyalahgunaan narkoba sudah merambah bukan hanya di kota-kota besar dan kalangan menengah atas, melainkan juga ke daerah-daerah dan ke berbagai strata ma-syarakat.

Apakah semua itu bisa berlangsung langgeng tanpa keterlibatan oknum pejabat di lingkup kekuasaan yang relevan? Kita tidak tahu jawaban persisnya, tetapi sulit untuk tidak menduga begitu.

Sebagai bangsa, Indonesia pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun dengan taktik devide et impera yang menggunakan dua metode klasik, yakni uang dan terror. Barangsiapa bisa dibeli dengan uang dan jabatan, orang tersebut akan menjadi antek penjajah. Dan barangsiapa tidak mau disuap, orang tersebut akan difitnah, diadu-domba dan dibinasakan. Apakah jika strategi uang dan atau terror itu tidak efektif, kita bisa dijajah sampai selama itu? 127.750 hari?!

Perlu diakui bahwa banyak masyarakat kita yang kurang kompak dan mudah ditundukkan oleh uang atau teror. Semoga anda tidak! Karena pada orang-orang seperti anda itulah tergantung kejayaan Indonesia ini, berikut kemakmuran yang merata!

Dan maaf, saya tidak sedang mempromosikan cara mafia. Saya mengajukan hal ini agar anda hati-hati terhadap jebakannya. Anda bisa mempelajari taktiknya, dan mengawinkannya dengan moralitas yang tinggi.

Tips #1

Program Akselerasi Pemulinan

Dalam dokumen Just_Duit_-_Johanes_Lim_-_bhs_indonesia (Halaman 101-107)