P
elajaran di bawah ini bertujuan agar anda mempunyai referensi lebih luas tentang kepercayaan, dengan berbagai perumpamaan dan penjabaran.Sebagai perumpamaan pertama, bisa saya sampaikan bahwa hi-dup dan kehihi-dupan ini seperti kertas kosong yang bisa diisi dengan apa saja—apakah tulisan bermakna, atau sekadar corat-coret tanpa makna, atau gambar-gambar, atau apa saja. Bahkan jika anda paham, anda pun bisa membuang kertas yang berisi coretan yang buruk, dan menggantikannya dengan kertas dan isi yang lebih bermakna; baik melalui upaya self-reconstruction mengandalkan kekuatan kemauan dan perjuangan anda sendiri, maupun melalui cara "pertobatan ro-hani". Itulah yang dilakukan oleh mantan bandit yang bertobat dan menjadi rohaniwan, misalnya. Hal itu bukan perkara mustahil atau ajaib, melainkan masalah pengetahuan, kemauan, dan kesempatan belaka.
Perumpamaan kedua ialah bahwa hidup dan kehidupan itu adalah seperti bentuk-bentuk—apakah berbentuk segitiga, kubus, oval, bulatan, trapesium, atau apa saja. Isi dan/atau bentuk yang ter-cermin dari hidup atau kehidupan itu saling mempengaruhi. Sebagai contoh: seseorang memilih dan hidup dalam kehidupan yang ber-bentuk segitiga misalnya, hal itu dipengaruhi oleh faktor ling-kungannya yang memberikan inputs sejak dari lahir sampai mati-nya bahwa hidup dan kehidupan itu berbentuk segitiga, sehing-ga disadari ataupun tidak disadari oleh individu tersebut, maka
bentuk segitiga itu dianggap sebagai satu-satunya bentuk yang benar dan/atau valid dalam kehidupan ini.
Sebaliknya, pandangan atau penerimaan masyarakat dalam suatu lingkungan, menerima dan/atau mempercayai bahwa hidup dan ke-hidupan ini berbentuk segitiga—dan bukan oval atau kubus—ka-rena banyak atau semua individunya percaya bahwa hidup dan ke-hidupan ini berbentuk segitiga. Kumpulan individu-individu itu di-namakan masyarakat. Dan kumpulan masyarakat itu bisa didi-namakan menjadi lingkungan—apakah bernama daerah, kota, atau negara.
Dari manakah datangnya keputusan atau pengertian bahwa hidup dan kehidupan masyarakat tertentu itu berbentuk segitiga, misalnya, dan bukan oval atau kubus? Hal itu berasal dari kepercayaan atas ide atau pemikiran tertentu yang didapat dari penyerapan belajar dan/ atau pengalaman, baik yang dialami sendiri maupun yang "diindok-trinasikan" oleh lingkungannya—keluarga dan masyarakat—sampai disimpulkan bahwa hidup dan kehidupan itu, menurut orang ter-sebut, berbentuk segitiga, dan bukan bentuk oval, trapesium, atau bentuk lainnya.
Kalau kita ibaratkan secara praktis, yang dimaksud bentuk-ben-tuk itu bisa berupa kepercayaan agama, idiologi, budaya, kebiasaan hidup, karakter pribadi maupun masyarakat, sampai ke kualitas hi-dup individu maupun masyarakat tertentu.
Nah, dari sinilah terbentuknya 'warna' masyarakat atau daerah atau negara, yang bisa bersifat pluralistik maupun berazaskan keper-cayaan tunggal. Hal itu bisa ditemui dalam negara atheis, atau negara agama, atau negara liberal, juga untuk masyarakat dengan hukum adat tertentu, atau dalam masyarakat yang masih primitif.
Nah, jika perbedaan kepercayaan itu tidak disadari sebagai hal yang manusiawi—sehingga bersifat relatif subyektif—suatu saat dan dalam suatu kondisi eksplosif, bisa terjadi pertentangan dan bahkan bentrokan kepercayaan, yang menimbulkan perselisihan, permu-suhan, maupun peperangan fisik.
Mengapa bisa terjadi pertengkaran? Karena individu atau ma-syarakat "A" berkeyakinan bahwa hidup atau kehidupan ini adalah
"segitiga" misalnya sedangkan individu atau masyarakat "B" ber-keyakinan sebagai "kubus". Jika salah satu pihak berupaya untuk me-yakinkan kelompok lain bahwa kelompoknyalah yang benar, se-dangkan kelompok lain salah, maka akan terjadi perselisihan. Dalam taraf yang minor, hal itu bisa berupa kesalahpahaman; sedangkan da-lam taraf major bisa terjadi perkelahian, baik secara individu mau-pun masyarakat.
Contoh hal itu adalah perselisihan sampai peperangan antar—su-ku, agama, ras, antar—golongan, baik yang terjadi di Indonesia, mau-pun di belahan dunia lainnya. Dan itu sudah berlangsung sejak ja-man dahulu kala.
Mengapa orang berselisih bahkan berkelahi sesama manusia hanya karena perbedaan tersebut? Karena masing-masing pihak ber-usaha untuk mempertahankan kepercayaannya, yang telah menjadi faktor dominan dalam kehidupannya, apakah berupa harga diri atau-pun jati diri, baik individu mauatau-pun masyarakat.
Faktor terselubung lainnya ialah bahwa seseorang atau masyarakat tertentu merasa takut atau panik jika ada orang atau kelompok lain yang bisa atau mau mengubah kepercayaan lamanya—baik secara ilmiah faktual maupun paksaan—karena hal itu akan mengubah to-tal paradigma maupun kebiasaan hidupnya, sehingga ia atau mereka harus memulai lagi dari awal. Apalagi telah menjadi sifat dasar ma-nusia bahwa mama-nusia takut terhadap perubahan, karena membawa serta unsur ketidakpastian. Apalagi jika perubahan kepercayaan itu merugikan dirinya atau kelompoknya, maka bisa dipastikan bahwa ia atau mereka akan melawan atau melakukan aksi kekerasan untuk mempertahankan status-quo.
Nah, itulah fundamental dari kepercayaan dan perilaku individu maupun masyarakat yang kita lihat sehari-hari. Dengan kata lain, perbedaan-perbedaan kepercayaan, pola pikir, tradisi budaya, tingkah laku dan kualitas hidup, serta kehidupan suatu individu maupun masyarakat ataupun bangsa, dipengaruhi dan dibentuk oleh faktor kepercayaan yang diterimanya dan menjadi bagian kehidupannya.
Adapun kepercayaan itu diciptakan dan dimasyarakatkan oleh se-seorang atau sekelompok orang—pemikir, filsuf, tokoh agama, tokoh
masyarakat atau kepala suku, politikus, dan Iain-lain—bahkan ada yang bersifat hikayat atau mitos, yang tidak jelas ujung pangkal his-torisnya.
Jadi, jika seseorang atau sekelompok masyarakat dipengaruhi oleh ide atau filosofi tertentu, misalnya dari Animisme/Dinamisme, maka individu atau masyarakat tersebut akan hidup sebagaimana layaknya kepercayaannya, yang dapat kita temui dalam masyarakat tradisional atau suku yang masih primitif. Jika ada orang atau kelompok orang yang berusaha mengubah kepercayaan itu dengan kepercayaan lain —misalnya agama monotheis—maka pada awalnya sudah dapat di-pastikan akan terjadi pertentangan bahkan mungkin peperangan yang dilansir oleh kepala suku dan atau pemimpin (dukun) spiritual. Mengapa? Karena masuknya kepercayaan baru itu bisa saja meng-goyahkan kepercayaannya pribadi dan/atau meruntuhkan kedu-dukannya sebagai pemimpin, yang berarti turut hilangnya berbagai fasilitas dan keuntungannya.
Namun jika kepercayaan atau filosofi baru itu terus-menerus di-propagandakan dan apalagi jika bisa dipaksakan untuk diterima di suatu masyarakat tertentu, bukan mustahil bahwa suatu hari, indi-vidu maupun masyarakat penganut Animisme/Dinamisme tersebut akan berubah menjadi individu atau masyarakat yang Monotheisme. Kelak, pada waktu itu jika ada individu atau kelompok yang hendak mengubah kepercayaan monotheis mereka menjadi Animisme lagi, maka prosesnya akan berlangsung sama seperti sebelumnya: Mereka akan menentang dan akan berkelahi kembali. Demikian seterusnya.
Contoh lain adalah masalah ideologi negara Indonesia misalnya, yang berazaskan Pancasila. Dulu ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) berniat untuk mengubahnya dengan Marxisme, Komunisme berhadapan dengan militer dan masyarakat Indonesia yang tidak se-tuju perubahan itu, sehingga gerakan PKI ditumpas, dan filosofi ko-munis dilarang di bumi Indonesia.
Sebaliknya, bagi Republik Rakyat China (RRC), komunisme adalah azas negara yang paling menguntungkan dan berguna bagi persatuan dan kesejahteraan bangsa, dibandingkan dengan ideologi apa pun juga (karena sejak China menjadi negara komunis, ia bisa
menjadi bangsa yang besar bersatu, beda dengan sebelumnya yang terus menerus terjadi perang saudara akibat perbedaan suku, daerah, dan kepercayaan), sehingga sekalipun mendapat tekanan dari PBB yang dikomandoi Amerika agar RRC menjadi negara yang demokratis (ini pun merupakan ideologi juga), ide itu ditolak mentah-mentah. Dan barangsiapa yang terus merongrong pemerintah China akan di-hajar.
Coba anda bayangkan sejenak, mengapa bisa terjadi hal yang se-demikian paradoksal? Di satu pihak komunisme bagaikan momok, dan di satu pihak bagaikan dewa penyelamat bangsa? Apakah ko-munisme secara hakiki salah/buruk atau benar/baik?
Jawaban saya ialah: relatif. Jika anda atau sesuatu masyarakat per-caya bahwa komunisme adalah salah dan buruk, maka ia menjadi salah dan buruk; demikian juga sebaliknya. Hal itu terjadi akibat ke-percayaan dan perilaku yang berbeda. Sebagai misal: Anda adalah se-gi tiga sedangkan Komunisme adalah sese-gi empat, maka sampai ka-pan pun tidak akan bisa klop. Mungkin kelak jika anda bisa diya-kinkan sehingga kepercayaan anda telah menjadi segi empat, dan/ atau komunisme telah berubah menjadi segi tiga, barulah akan ter-jadi titik temu, atau persamaan persepsi.
Contoh yang lain adalah tentang isu demokratisasi. Di mana-mana, di seluruh dunia, kata demokrasi dipropagandakan dan di-paksakan pelaksanaannya, termasuk di Indonesia. Tokoh-tokoh du-nia berkampanye di dalam negeri, maupun di negeri orang lain yang membutuhkan bantuannya serta di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bahwa setiap negara seharusnya menjadi negara yang demokratis dan menghargai Hak Azasi Manusia (HAM) jika mau diterima lam pergaulan internasional (apalagi jika membutuhkan bantuan da-na interda-nasioda-nal, hukumnya adalah wajib). Padahal, jika ditelusuri, demokrasi itu tetap merupakan ide atau pemikiran orang dan seke-lompok orang yang berlangsung sejak lama. Sejak jaman Socrates, dan yang pada abad pertengahan mulai dipopulerkan oleh para filsuf dari mazhab eksistensialisme dan humanisme. Baru pada tahun 1960-an gerakan yang meliberalkan hak-hak individu itu menjadi budaya masyarakat baru di Amerika dan Eropa dan terus bergulir ke
belahan dunia lain, khususnya negara Barat, dan sampai ke negara Timur.
Pada hakikatnya, isu demokratisasi adalah pemberontakan melawan tradisi atau kepercayaan lama yaitu agama dan Tuhan, serta pem-berontakan masyarakat terhadap pemerintahan yang totaliter. Coba perhatikan, dalam negara yang demokratis, yang ditandai dengan ke-bebasan individu yang dikemas sebagai human right, kehidupan ma-syarakatnya menjadi sekuler, dan tidak perduli terhadap agama mau-pun Tuhan, dengan ekses yang paling menonjol adalah kebebasan seksual (free-sex, homoseksual), dan degradasi moral (tentunya jika dibandingkan dengan negara yang agamis) Jadi, apakah demokrasi adalah ideologi yang benar dan baik atau salah dan buruk? Sekali lagi, jawabannya adalah relatif, tergantung dari sudut pandang dan pengelolaan masing-masing individu atau masyarakat. (Namun un-tuk hal ini akan saya bahas lebih lanjut di bab selanjutnya)
Contoh lain adalah adanya masyarakat atau negara yang berazaskan agama tertentu, apakah Hindu, Buddha, Kristen, Islam, Shinto atau aliran kepercayaan. Jika dinilai dari kacamata orang atau masyarakat yang homogen dan setuju atau sekepercayaan dengan agama yang di-anut mayoritas tersebut, maka hal itu bersifat positif, tidak banyak persoalan. Namun jika ada individu atau masyarakat yang berbeda kepercayaan—atau dalam masyarakat yang heterogen—jika masya-rakatnya tidak toleran, akan bisa terjadi konflik akibat perbedaan ke-percayaan, kebiasaan dan prilaku antara kelompok minoritas dengan mayoritas. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa saja terjadi tindakan yang jahat atau tidak bermoral—dilihat dari sudut pandang ma-nusia normal dan netral, seperti misalnya penindasan terhadap hak individu atau masyarakat minoritas oleh kelompok mayoritas, yang berupa pelecehan, ancaman, penghambatan beraktivitas, pengrusakan sampai pembinasaan fasilitas maupun individu, atau masyarakat yang berbeda kepercayaan tersebut.
Teorinya, kelompok massa apa pun, jika menjadi mayoritas, cen-derung menindas kelompok lainnya yang minoritas, satu dan lain hal disebabkan karena faktor arogansi, dan keinginan untuk terus
ber-kuasa dan mengambil keuntungan dari statusnya tersebut (karena jelas, sebagai mayoritas, mereka akan menjadi penguasa atas politik, ekonomi, sosial, budaya, beserta segala fasilitasnya, yang ujungnya adalah.. .DUIT—kenikmatan).
Nah semua contoh di atas adalah hal yang nyata terjadi dalam ke-hidupan manusia, sejak zaman dahulu sampai sekarang, dan mungkin sampai kapan pun jika tidak dicarikan jalan keluarnya.
Saya mencoba untuk menyampaikan alternatif solusinya, yaitu dengan membeberkan muara atau asal atau sumber dari kenyataan hidup itu, yakni: kepercayaan (beliefi, Kepercayaanlah yang membuat kita berperilaku tertentu dan mempunyai kualitas serta gaya hidup tertentu. Dan kita akan menjadi dekat atau berkawan (lebih tepatnya bersetuju) dengan individu atau kelompok lain yang sepaham atau sekepercayaan dengan kita, dengan hasil interrelasi yang lebih har-monis dan meminimalkan konflik. Sebaliknya, kita akan menjadi jauh atau berlawanan (lebih tepatnya tidak bersetuju) dengan in-dividu atau kelompok yang berbeda kepercayaan dengan kita, yang hasil akhirnya adalah tidak adanya interrelasi yang harmonis, atau bahkan tidak memungkinkan adanya relasi apa pun.
Karena faktor yang menentukan hidup dan kehidupan manusia dan masyarakat adalah kepercayaan, maka solusinya adalah juga de-ngan membedah dan memahami tentang kepercayaan, yakni dede-ngan alternatif:
1. Menyeragamkan kepercayaan menjadi hanya satu macam ke-percayaan saja, baik dalam bidang agama, sosial budaya, politik, ekonomi, misalnya: hanya ada satu agama "A" dan tidak menerima adanya agama lain, atau hanya menerima satu jenis suku saja, ti-dak menerima suku lain, dan seterusnya. Caranya adalah dengan mempropagandakan kepercayaan itu secara radikal dan militan dengan agenda waktu tertentu dan tanpa kompromi. Barangsiapa tidak mau menerima azas itu harus memilih alternatif: satu, ha-rus nampak setuju secara penampilan dan berperilaku seperti yang ditentukan, dan jika membangkang, akan diusir keluar secara paksa atau kalau perlu dibinasakan dari lingkungan eksklusif itu.
D Dalam era keterbukaan informasi global seperti sekarang ini, agak sulit menerapkan alternatif ini, karena akan ketahuan oleh ma-syarakat domestik maupun internasional, dan mengakibatkan ke-caman atau bahkan serangan dari pihak luar masyarakat itu. Namun demikian, sampai hari ini, masih saja ada orang atau ke-lompok orang yang disebut ekstremis yang bersikeras ingin me-nerapkan penyeragaman kepercayaan ini, baik berupa kehidupan adat, agarna dan sektenya, atau isu 'back to the nature seperti kaum nudist.
2. Solusi kedua adalah dengan membedah hakikat dari kepercayaan itu sendiri, baik kepercayaan kita pribadi, maupun kepercayaan orang lain, agar didapat pengertian yang mendalam tentang plus-minus masing-masing kepercayaan, dan mengembangkan sikap yang toleran. Minimal, jika kita tidak mau mengubah kepercayaan kita dan menggantinya dengan kepercayaan orang lain, kita pun tidak perlu repot menginginkan agar orang lain menerima keper-cayaan kita. Dengan demikian masing-masing pihak tidak saling mengganggu atau mempengaruhi, sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain. Idealnya, jika setelah dipikirkan matang-ma-tang dan disertai bukti-bukti historis dan faktual tenmatang-ma-tang keper-cayaan lama dengan keperkeper-cayaan baru, maka diambil manfaatnya yang optimal, yakni: yang buruk dari kepercayaan lama dibuang, dan yang baik dari kepercayaan baru diterima, agar dalam im-plementasinya akan memperbaiki kualitas dan nilai hidup dan kehidupan kita.
D Menurut hemat saya, alternatif kedua ini lebih baik dan ber-manfaat, sehingga untuk itulah buku ini saya tulis, agar bisa menjadi paradigma baru bagi kita dalam berpikir, berkepercayaan, berperilaku, dan bermasyarakat, termasuk berbangsa dan bernegara Indonesia. Premis saya adalah jelas, bahwa kepercayaan yang ada di dunia ini bersifat relatif dan subjektif, tidak ada yang absolut atau objektif, baik yang menyangkut kepercayaan individu, ma-syarakat, negara atau dunia. Baik yang berkenaan dengan politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun agama, bahkan sampai perihal akhirat, setan, dan Tuhan sekalipun, tidak terkecuali. Dengan
kata lain, apa saja yang telah sedang dan akan dipercayai manusia, semuanya bersifat relatif. Kita tidak lagi perlu berkata benar atau salah secara absolut, melainkan benar atau salah menurut standar tertentu, yang kita percayai, tetapkan dan setujui bersama. Se-bagai contoh: Sebelum isu demokrasi dan hak azasi manusia ma-rak, adalah sah-sah saja melakukan diskriminasi dan pelecehan golongan minoritas dan bahkan perbudakan manusia, termasuk negara yang sekarang disebut gembongnya demokrasi yakni Amerika; dulu pun mereka tidak demokratis dan melanggar HAM. Namun sekarang, jika ada pejabat negara yang melanggar HAM, bisa diadili oleh Komisi HAM, baik nasional maupun in-ternasional, seperti kasus mengenai beberapa jendral TNI dengan kasus Timor Timur dan/atau Aceh. Dulu, pada jaman Orde Baru, tindakan represif dengan senjata seperti itu adalah sah-sah saja dan tidak ada yang menggugat, namun di era Reformasi, tindakan seperti itu menjadi salah. Pertanyaan saya: Apakah benar perilaku represif untuk mengamankan kepentingan masyarakat yang lebih besar serta untuk menjaga stabilitas nasional adalah salah? Apakah dengan membebaskan orang bertindak semau-maunya dengan alasan demokrasi atau reformasi, sehingga meresahkan masyarakat dan berpotensi untuk menjadi amuk massa dan penjarahan adalah benar? Nah, jawabannya tentu relatif. Tergantung apa kepercayaan anda terhadap isu itu, dan apa kepentingan anda terhadap isu itu.
Banyak orang menentang premis saya di atas dengan mengatakan: "Jika benar dan salah adalah relatif, bagaimana kita menjelaskan ke-jahatan dan kebaikan? Apakah dengan demikian tidak ada lagi pe-doman moral, dan/atau hukum? Kalau demikian buat apa ada agama dan aparat penegak hukum?"
Jawaban saya adalah konsisten: Benar dan salah memang relatif, tergantung kepercayaan yang dianut oleh seseorang atau suatu ma-syarakat tertentu, pada suatu waktu. Jika anda berbeda agama, atau berbeda tingkat pendidikan dan kecerdasan, atau berbeda suku, atau berbeda bahasa, atau berbeda bangsa, atau berbeda jenis kelamin,
berbeda taraf hidup, apalagi jika berbeda waktu hidup (misalnya a-bad primitif dengan aa-bad modern), dan sebagainya, maka input yang anda terima adalah juga berbeda, yang akhirnya akan mempengaruhi output hidup dan kehidupan anda.
Sebagai contoh: Apakah free-sex itu benar atau salah? Jika anda orang yang taat beragama atau orang Timur yang masih memegang teguh kepercayaan dan adat istiadat ketimuran, maka anda akan menjawab salah! Namun jika anda orang Barat yang sekuler, atau orang yang tidak saleh, maka anda akan menjawab benar, daripada memperkosa atau melacur, dan mencegah kejenuhan!
Pertanyaan contoh kedua: Apakah minum alkohol itu salah atau benar? Jika anda muslim, maka anda akan menjawab salah! Namun jika bukan, maka anda akan menjawab boleh-boleh saja. Apalagi jika ditambah anda orang yang hidup di negara Barat yang dingin, maka jawabannya adalah benar dan perlu!
Bagaimana dengan makan daging babi atau makan daging sapi, apakah benar atau salah? Jika anda muslim, maka anda akan men-jawab bahwa makan daging babi adalah salah, dan makan daging sa-pi adalah benar! Namun jika anda adalah orang Hindu, maka anda akan menjawab makan daging babi adalah benar dan makan daging sapi adalah salah!
Bisa mulai menangkap maksud saya sekarang? Benar dan salah itu tergantung kepercayaan kita dan tergantung kepada kepercayaan ma-syarakat tempat kita hidup, apakah yang berupa hukum moral, hu-kum adat, atau huhu-kum negara.
Jadi kalau anda berbeda kepercayaan dengan seseorang, yang per-tama per-tama adalah jangan bersifat menghakimi atau sok benar, apalagi berupaya untuk mengubah orang lain itu agar menjadi seperti kita. Itu arogan dan idiot namanya! Maaf, tapi inilah faktanya: kepercayaan anda adalah benar bagi anda, dan kepercayaan orang lain itu adalah benar untuk orang lain tersebut. Jadi sikap yang semestinya adalah memahami bukan menghakimi.
Kepercayaan kita sangat tergantung dari input informasi yang kita terima dari kehidupan dan manusia lainnya, padahal kualitas dan kuantitas informasi yang kita terima relatif masih sedikit, subjektif
dan belum tentu benar. Juga jenisnya pun berbeda. Jangankan ke-percayaan yang tidak ilmiah, ilmu pengetahuan saja terus berubah dan berkembang tergantung dari siapa yang meriset dan mem-populerkannya. Satu ilmuwan dengan ilmuwan yang lain bisa ber-beda pandangan, bahkan ada yang kontradiktif. Yang dianggap ke-benaran dalam ilmu pasti pun ternyata hanya "dianggap benar sam-pai nanti terbukti salah", apalagi soal kepercayaan yang terbentuk da-ri informasi yang tidak berasal dada-ri ilmu pasti itu.
Secara khusus, penekanan saya adalah dalam mengatasi perbedaan kepercayaan dalam hal SARA (suku, agama, ras, antar—golongan) yang masih saja berpotensi menimbulkan konflik dan perkelahian.
Untuk isu suku dan ras, sebaiknya kita masing-masing orang atau suku atau ras memahami bahwa perbedaan latar belakang pendidikan, budaya, kepercayaan kita telah mengakibatkan satu suku dengan su-ku lainnya atau satu ras dengan ras lainnya mempunyai perbedaan. Ya sudah, itu adalah hal yang positif. Janganlah suku "A" berupaya meyakinkan suku "B" agar mengikuti kepercayaannya, atau jangan pula terjadi suku "A" memperlakukan suku "B" dengan hal-hal (per-kataan atau perbuatan) yang menurut kepercayaan suku "B" sebagai hal yang salah apalagi menghina, karena hal itu akan memacu