BAB IV RANDEI, PETALA MANUSIA BARUS (AFIRMASI ADAT
4.1. Barus, Negeri Aulia yang Terpelihara
Barus, nama sebuah wilayah kecamatan yang terletak di pantai barat Sumatera Utara. Negeri Barus ini berhadapan langsung dengan lautan Samudera Indonesia. Luasnya 53.766 Km2 dengan penduduk 88.721 jiwa.62
Menurut sejarah, dulu daerah Barus ini ditumbuhi oleh pepohonan yang lebat seperti: Pohon Kapur, Kayu Gaharu, Kayu Cendana, Kayu Sapan, Kemenyan, Cengkeh, Pala, dll.
Beribu tahun yang lalu, negeri Barus ini sudah didiami oleh manusia, yang mata pencahariannya nelayan, bercocok tanam, berburu, dll. Oleh kalangan pedagang dari Asia dan Afrika, wilayah pesisir pantai Barus ini banyak dikunjungi oleh para pedagang untuk mencari barang-barang dagangan yang mereka perlukan.
Kita tahu, wilayah Benua Eropa itu diketahui mempunyai musim dingin dan musim panas. Untuk menghadapi musim dingin yang tinggi dan lama, mereka memerlukan suatu alat atau bahan yang dapat mengatasi rasa dingin yang luar bisa tersebut. Di Afrika sendiri, ada satu kerajaan yang nama rajanya “Fara” (Firaun). Firaun ini memiliki sifat sangat membanggakan dirinya sehingga ia mengaku dirinya adalah Tuhan.
Selanjutnya, di bawah perintahnya rakyat tunduk dan para pemuka agamanya sangat patuh. Setelah Firaun meninggal dunia, pemuka-pemuka agama merasa resah karena mereka takut umat
62
Buku Kerajaan Barus Raya (Cerita Rakyat Tapanuli Tengah), diceritakan kembali oleh Al Ustadz J. Balu B & DR. S. Palin Tobing S., yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2008.
122
mereka akan meninggalkan ajaran mereka dan hilang pula pengaruhnya. Untuk itu, para pemuka agama yang sangat banyak berpengaruh di masyarakat itu, membuat suatu alat pengawet jasad Firaun (mummi). Mummi ini dibuat dari bahan kapur (Kamper, Kapura, Ophir).
Atas dasar untuk memenuhi keperluan-keperluan seperti memanaskan badan di musim dingin dan keperluan mummi itu, maka mereka berkelana berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun untuk mengumpulkan dan memperoleh barang yang sangat berguna tersebut.
Salah satu tempat sasaran mereka untuk memburu barang-barang keperluan itu ialah wilayah Barus. Sebab, wilayah Barus ini letaknya di tepi pantai dan langsung berhubungan dengan lautan luas. Makanya, daerah Barus ini menjadi sasaran singgah utama mereka untuk menemukan barang-barang yang mereka butuhkan (seperti Kapur, Kemenyan, Pala, Cengkeh, dll.). Setelah barang-barang yang mereka butuhkan itu terpenuhi dan musim berlayar sudah tiba, maka mereka akan berlayar kembali ke negeri asal mereka masing-masing.
Dalam cerita rakyat tentang Tapanuli Tengah, disebutkan bahwa pada saat itu Iskandariah (Mesir) adalah pusat transaksi perdagangan yang menghubungkan antara Eropa dengan Asia. Sementara itu, jalur perdagangan di dataran Asia dikenal dengan nama Jalan Sutera. Yakni jalan yang terbentang sepanjang benua Asia mulai dari Tenkin di Cina sampai ke Iskandariah di Afrika.
Barang-barang hasil kerajinan dari Cina dan India itu, melalui jalur darat diangkut ke Iskandariah untuk dijual dan diganti dengan barang keperluan negerinya masing-masing. Selanjutnya, dari pantai barat Sumatera baru barang-barang dagangan seperti hasil hutan berupa: Kapur Barus, Rotan, dan lainnya masih banyak dilakukan oleh pedagang-pedagang Arab, Persia, Gujarat, dll.
Selanjutnya, kita tahu bahwa wilayah Asia dan Afrika itu dibatasi oleh Laut Merah, dan Iskandariah letaknya di tepi Laut Merah.
123 Oleh sebab itu, orang-orang Arab dan Asia sangat mudah menghubungi Iskandariah sebagai pusat perdagangan pada waktu itu.
Pedagang-pedagang Arab yang ahli dalam ilmu falak berlayar melalui Teluk Persi menyusuri Pantai Asia terus ke Teluk Banggaladi India dan akhirnya sampailah mereka di pantai barat Sumatera (Barus) yang memiliki banyak barang-barang yang berharga, laris dan mahal harganya dipasarkan di Iskandariah, seperti: Kapur, Kemenyan, Gading Gajah, Cula Badak, Rotan, dll.
Lagi pula, kondisi penduduk pantai barat Sumatera (Barus) ini yang ramah dan suka membantu sesama manusia, ia menerima kedatangan pedagang-pedagang itu dengan baik. Pedagang-pedagang Arab yang telah mengetahui harga komoditi perdagangan di Iskandariah, mereka sibuk mengumpulkan barang yang bernilai jual mahal dan bernilai tinggi itu.
Terciptalah saling kerjasama di antara mereka. Penduduk mengambil hasil hutan dan sementara itu, para pedagang dari luar menampung semua barang hasil hutan tersebut. Makanya, tidak aneh mereka terpaksa dengan setia menanti barang-barang yang mereka perlukan itu lengkap terkumpul dan untuk seterusnya mereka bawa ke negerinya. Sambil mereka menanti pergantian musim angin, sebab pada waktu itu mereka masih menggunakan kapal layar.
Akibat Bangsa Arab menemukan Kapur (kamfer, kapur, ophir)63 itu sangat banyak dan kwalitasnya sangat tinggi di pantai barat Sumatera, maka mereka menamakan wilayah ini dengan Negeri Baross.64
Nama Baross (baca: Barus) ini sampai sekarang masih tetap dipakai oleh masyarakat, bahkan Bangsa Indonesia sendiri
63Suatu benda yang berupa kristal 1 dan diperoleh dari dalam pohon kayu kapur, warnanya putih, baunya harum, rasanya sejuk dan harga jualnya sangat tinggi di pasaran Iskandariah pada saat itu. (Buku Kerajaan Barus Raya; 2008).
64
124
memakainya sebagai nama pantai barat Sumatera, yaitu Barus. Disebut demikian, karena tidak ditemukan di Kecamatan Barus sebuah desa pun yang namanya adalah Desa Barus. Tetapi, Barus ini dipakai sebagai nama kecamatan, hubungannya dengan nama yang dipergunakan dalam hubungan dagang antara bangsa lain dengan penduduk Barus. Bahkan proses jalannya dagang itu sendiri sudah berlangsung lama sekali, yaitu sudah beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu tahun lamanya.
Menurut sejarah, terungkap bahwa peradaban manusia itu akan berubah apabila mereka membuka diri terhadap bangsa-bangsa lain. Hal ini terbukti dengan apa yang terjadi di Barus. Peradaban masyarakat Barus dipengaruhi oleh bangsa pendatang. Lebih-lebih oleh para Pedagang Arab, yang sangat sering mengunjungi Barus, bila dibandingkan dengan Bangsa Eropa dan Cina.
Wilayah Barus ini telah dikenal ke seluruh Indonesia, bahkan ke seluruh dunia. Kemasyhuran Kota Barus ini disebabkan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah masa lampau yang sampai saat ini masih banyak bukti-bukti peninggalan sejarah tersebut.
Secara umum, masyarakat mengetahui Kota Barus adalah kota tua, dan bahkan kota tertua di Sumatera. Namun, yang dimaksud dengan kota tua itu, bisa jadi bukan Kota Barus yang kini dikenal sebagai Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah. Tetapi adalah kota pelabuhan yang pernah di singgahi para pedagang-pedagang manca negara yang berasal dari benua Afrika, Asia, dan Eropa.
Kota Barus yang sekarang baru berumur kira-kira 3 (tiga) abad. Sedangkan kota tua yang dimaksud adalah wilayah yang menjadi sumber (tempat) mengambil Kapur Barus yang telah dikenal dunia luar lebih dari 3.000 tahun yang lalu (Lobu Tua).65
65
Lobu Tua ialah negeri yang dahulu terletak di atas bukit-bukit yang ada di sebelah Utara Kota Barus sekarang. Lobu Tua ini dulunya merupakan Bandar terkenal.
125 Pada umumnya, dahulu ditempat kota tua itulah terdapat peninggalan-peninggalan sejarah berupa makam-makam tua. Lokasinya paling banyak berada di lereng-lereng gunung atau bukit-bukit sejak dari Desa Bukit Patupangan sampai ke barat, yakni Desa Lobu Tua. Sedangkan di Kota Barus yang sekarang, makam tua itu tidak ditemukan kecuali kuburan Belanda yang tulang-belulangnya telah dipindahkan oleh anak cucunya ke Banda Aceh.
Warga Kecamatan Barus lebih mengenal makam-makam itu dengan sebutan makam “Aulia 44”. Sayangnya, peneliti tidak banyak mendapatkan catatan tentang keberadaan para Aulia tersebut. Hanya tulisan-tulisan kecil yang terdapat pada batu nisan makam-makam Aulia yang dijadikan pedoman bagi para penziarah.
Peneliti ditemani seorang pemuda bernama Manda (20 tahun) menggunakan kendaraan kereta menuju Makam Papan Tinggi. Makam ini terletak di Desa Pananggahan, Kecamatan Barus pada puncak gunung yang tingginya + 200 meter dari permukaan laut.
Menurut penduduk lokal nama ‘Papan Tinggi’ disebabkan di gunung itu, dahulunya orang yang tinggal di sekitar itu mengambil papan, dan karena lokasinya tinggi, lama kelamaan orang-orang yang tinggal di daerah tersebut menyebutnya dengan nama Papan Tinggi.
Orang yang dimakamkan di situ bernama Syekh Mahmud dari Handra Maut (Jazirah Arab)66. Diperkirakan Syekh Mahmud wafat pada tahun Dal-Mim, bertahun 44 Hijriyah (H). Makam tua di Barus ini panjangnya mencapai 9 meter.
Untuk menuju puncak atas makam tersebut, kita harus menelurusi dan menaiki anak tangga yang jumlahnya mencapai sebanyak lebih kurang 710 buah anak tangga atau sekitar 145 meter. Tapi, Anda jangan takut bila capai di tengah jalan, sebab tiap
66
Sebagaimana tertulis pada batu nisannya. Di samping nama beliau, ada juga tulisan Arab.
126
kelokan di antara anak tangga itu, kita bisa beristirahat sebentar sambil menikmati kesegaran udara dan pemandangan yang indah memanjakan mata.
Apalagi kalau sudah sampai di atas puncak Makam Papan Tinggi, rasa lelah yang dirasakan ketika menaiki anak tangga itu akan sirna terobati dengan melihat pemandangan di seluruh penjuru mata angin yang begitu indah menakjubkan.
Ketika kita berdiri di atas Makan Papan Tinggi itu, kita bisa melihat daerah Sibolga dengan Pulau Mursalanya, daerah Singkil Aceh, daerah Barus dengan Pulau Karangnya. Selain itu, ada juga terlihat deretan pegunungan, persawahan, perbukitan, dan luasnya lautan lepas Samudera Hindia yang sangat indah di pandang mata.
Selain itu, ada Makam Mahligai, lokasi makam yang memiliki luas sekitar 3 hektar ini terletak di atas perbukitan Desa Dakka Kecamatan Barus. Menurut pengakuan Bapak Junjungan Saragih67, nama makam ini diambil dari kata ‘Mahligai’ yang artinya sama dengan istana kecil di zaman dahulu. Letaknya berkisar 3 km dari lokasi Makam Papan Tinggi.
Kalau dilihat dari ukiran di batu nisan, tulisan itu ada yang menggunakan bahasa Arab, Parsia, dan bahasa lainnya. Hal inilah yang membuat masyarakat Islam Kota Barus, seperti Ustad Nurdin R68 berkeyakinan bahwa pada sekitar abad ke-7 M, agama Islam telah ada di Kota Tua Barus dan sekaligus berarti di Barus inilah awal mulanya Islam masuk ke Indonesia.
Daerah Barus ini, yang dulunya terkenal dengan sebutan Barus Raya juga ditemukan sebuah kerajaan tua, yaitu Kerajaan Lobu Tua, yang diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Lobu Tua yang terletak di Kecamatan Andam Dewi ini
67
Seorang Jurnalis Media Cetak di Daerah Tapanuli Tengah.
68
127 pernah diteliti oleh peneliti Perancis (Ecole Francaise
d’Ectreme-Orient) pada tahun 1995.69,70
Secara demikian, tidak berlebihan bila dikatakan kalau Kota Barus ini adalah Negeri Aulia yang terpelihara. Hal ini terbukti saat tsunami Aceh terjadi, daerah Barus ini tidak terjadi bencana apa-apa, padahal lokasinya sangat deket dengan Aceh. Makam lain yang sering dikunjungi para peziarah diantaranya adalah Makam Tuan Batu Badan dan Makam Tuan Syeh Machdum. Situ yang bernilai sejarah di Barus lainnya, yaitu ada raja Batak, benteng dan makam portugis.