Review Kebijakan Sosial
A. Bidang Pendidikan : Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
2. Beberapa Kritik Terhadap Implementasi Program BOS
Edy Priyonono, peneliti pada Centerfor Public Poliry Anafysis, dari hasil pengamatannya pada tahun 2009, setelah adanya kenaikan biaya satuan, program BOS memesuki "era baru" dengan gencarnya kampanye "sekolah gratis" melalui media massa. Seolah- olah pemerintah ingin mengatakan, bahwa sekolah negeri (kecuali untuk yang bertaraf intemasional atau rintisannya) harus gratis, karena kebutuhan operasionalnya sudah tercukupi oleh BOS. Kritik pun berdatangan, pemerintah (tepatnya: pejabat pemerintah tertentu) dianggap mencoba mengambil keuntungan politis dari program BOS. Selain itu, beberapa pihak juga mengungkapkan kasus-kasus penyalahgunaan dana BOS, seraya menyatakan bahwa dana BOS tidak mampu memecahkan masalah mahalnya biaya pendidikan. Pemerintah menangkis serangan teesebut berbekal hasil audit keuangan, mereka menyatakan bahwa program BOS sudah tepat sasaran, kalau pun ada kekurangan di sana sini, itu sifatnya kasuistik. Sampai saat ini, nilai besaran dana BOS tidak secara langsung dapat dikaitkan dengan
standar kualitas atau pelayanan pendidikan tertentu. Pemerintah sudah mempunyai Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan telah pula menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) sektor pendidikan dasar (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota tanggal 9 Juli 2010). Hingga saat ini, tidak jelas apakah besaran dana BOS mengacu pada SNP, SPM ataukah standar pelayanan lainnya. Akibatnya, berbagai pihak mempunyai interpretasi yang beragam. Itulah mengapa respon daerah terhadap BOS juga beragam, dan pada gilirannya dampak yang dirasakan masyarakat juga tidak sama. Bagi sebagian besar sekolah, BOS sangat membantu. Akan tetapi, tidak semua seperti itu. Untuk sekolah-sekolah di perkotaan, dan mereka ada di daerah yang pemda-nya menerapkan kebijakan sekolah gratis, mereka justru "mati angin". Karena sebelum
program BOS mereka bisa menarik uang SPP / Komite lebih besar dibandingkan dana BOS per siswa, mengandalkan dana BOS artinya penerimaan sekolah menjadi lebih
kecil daripada penerimaan mereka sebelumnya. Akibatnya, kegiatan operasional terganggu. Beberapa fasilitas belajar-mengajar dan kegiatan penunjang terpaksa ditiadakan atau dikurangi volumenya. Celakanya, sekolah-sekolah yang dimaksud bias anya merupakan sekolah-sekolah yang berkualitas baik (sekolah standar nasional atau SSN). Dengan kata lain, dikombinasikan dengan program sekolah gratis tanpa dukungan APBD, program BOS justru mengancam kualitas pendidikan di sekolah-sekolah yang berkategori baik.
Waktu pencairan Dana BOS juga banyak dikeluhkan oleh sekolah. Seringkali terlambat, sehingga sekolah terpaksa harus berhutang dulu untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. Meskipun berpotensi mendorong akuntabilitas keuangan sekolah, pada saat yang sama mekanisme pengawasan BOS juga tidak mampu mencegah terjadinya penyelewengan di sekolah. Menurur Edy Priyono ada kasus ekstrem (tapi benar-benar terjadi), sebuah SD biasanya hanya menarik uang sekolah Rp. 1.500, - sebulan. Kemudian datang dana BOS (nilainya waktu itu sekitar Rp 20 ribu per siswa sebulan), artinya
sekolah (dibandingkan sebelum BOS datang). Jelas bahwa ada yang "tidak benar" di sekolah.
Meskipun BOS terbukti mampu membantu siswa mis kin, hal itu tidak berarti BOS mampu secara efektif membantu anak-anak dari keluarga miskin untuk bersekolah. Secara struktural, karena BOS diberikan kepada sekolah, dia hanya dapat membantu mereka yang sudah bersekolah. Oleh karena itu, untuk meningkatkan partisipasi sekolah kelompok miskin, BOS tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan program lain yang membantu keluarga miskin untuk menanggung biaya pribadi (personal) seperti uang seragam, uang transport, pembelian alat tulis, dan sebagainya. Secara makro, mekanisme penyaluran dana BOS (dari APBN langsung kepada sekolah) juga dianggap menafikan kebijakan otonomi daerah. Seperti disampaikan sebelumnya, pengelolaan pendidikan dasar (dan menengah) di era otonomi daerah sebenarnya merupakan kewenangan dan tanggung jawab kabupaten/kota, bukan kewenangan pemerintah (pusat).
Febri HendriAA, peneliti Indonesian Corruption Watch/ ICW (Kompas, 15-1- 2011) menemukan bahwa masalah utama dana BOS terletak pada lambatnya penyaluran dan pengelolaan di tingkat sekolah yang tidak transparan. Selama ini, keterlambatan transfer tetjadi karena berbagai faktor, seperti keterlambatan Iran.ifer oleh pemerintah pusat dan lamanya keluar surat pengantar pencairan dana oleh tim manajer BOS daerah. Akibatnya, kepala sekolah (kepsek) harus mencari berbagai sumber pinjaman untuk mengatasi keterlambatan itu. Bahkan, ada yang meminjam kepada rentenir dengan bunga tinggi. Untuk menutupi biaya ini, kepala sekolah memanipulasi surat pertanggungjawaban yang wajib disampaikan setiap triwulan kepada tim manajemen BOS daerah. Hal ini mudah terjadi karena kuitansi kosong dan stempel toko gampang didapat. Kepsek memiliki berbagai kuitansi kosong dan stempel dari beragam toko. Kepsek dan bendahara sekolah dapat menyesuaikan bukti pembayaran sesuai dengan panduan dana BOS, seakan- akan tidak melanggar prosedur. Tidaklah mengherankan apabila praktik curang dengan mudah terungkap oleh lembaga pemeriksa, seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). BPK Perwakilan Jakarta, misalnya, menemukan indikasi penyelewengan pengelolaan dana sekolah, terutama dana BOS tahun 2007-2009, sebesar Rp 5,7 miliar di tujuh sekolah di DKI Jakarta. Sekolah- sekolah tersebut terbukti memanipulasi Surat Perintah Jalan (SPJ) dengan kuitansi fiktif dan kecurangan lain dalam SPJ. Berdasarkan audit BPK atas pengelolaan dana BOS tahun anggaran 2007 dan semester I 2008 pada 3.237 sekolah sampel di 33 provinsi, ditemukan nilai penyimpangan dana BOS lebih kurang Rp 28 miliar. Penyimpangan terjadi pada 2.054 atau 63,5 persen dari total sampel sekolah itu. Rata- rata penyimpangan setiap sekolah mencapai Rp 13,6 juta. Penyimpangan dana BOS yang terungkap antara lain dalam bentuk pemberian bantuan transportasi ke luar negeri, biaya sumbangan PGRI, dan insentif guru PNS.
Periode 2004-2009, kejaksaan dan kepolisian seluruh Indonesia juga berhasil menindak 33 kasus korupsi terkait dengan dana operasional sekolah, termasuk dana BOS. Kerugian negara dari kasus ini lebih kurang Rp 12,8 miliar. Selain itu, sebanyak
33 saksi yang terdiri dari kepsek, kepala dinas pendidikan, dan pegawai dinas pendidikan telah ditetapkan sebagai tersangka. Perubahan mekanisme penyaluran dana BOS sesuai dengan mekanisme APBD secara tidak langsung mengundang keterlibatan birokrasi dan politisi lokal dalam penyaluran dana BOS. Konsekuensinya, sekolah menanggung biaya politik dan birokrasi.
Sekolah harus rela membayar sejumlah uang muka ataupun pemotongan dana sebagai syarat pencairan dana BOS. Kepsek dan guru juga harus loyal pada kepentingan politisi lokal ketika musim pilkada. Dengan demikian, praktik korupsi dana BOS akan semakin marak karena aktor yang terlibat dalam penyaluran semakin banyak. Salah satu penyebab utama maraknya penyelewengan dana BOS adalah minimnya partisipasi dan transparansi publik dalarn pengelolaannya. Pengelolaan dana BOS selama ini mutlak dalam kenclali kepsek tanpa keterlibatan warga sekolah, seperti orangtua muricl, komite sekolah, guru, dan masyarakat sekitar sekolah. Partisipasi warga sekolah clibatasi hanya dalam urusan pembayaran uang sekolah. Di luar urusan tersebut, warga sekolah tidak boleh ikut campur. Pemahaman pihak sekolah dan dinas pendidikan atas partisipasi publik ini perlu diluruskan. Partisipasi publik merupakan syarat mutlak untuk menekan kebocoran dana pendidikan. Partisipasi publik harus senantiasa dimunculkan, bahkan dilembagakan, sampai pada tingkat pengambilan keputusan kebijakan strategis sekolah. Warga sekolah seharusnya berperan menentukan kondisi masa clepan sekolah lima atau sepuluh tahun menclatang. Oleh karena itu, mereka juga diclorong untuk terlibat merumuskan kebijakan sekolah mulai perencanaan, pengalokasian, sampai pengelolaan anggaran sekolah. Lebih dari itu, warga sekolah dapat mencermati pengelolaan dana sekolah lebih dalam.
Warga sekolah dapat melihat seluruh dokumen pencatatan dan pelaporan keuangan sekolah. Hal ini dimungkinkan karena Kornisi Informasi Pusat (KIP) telah memutuskan dokumen SPJ dana BOS adalah dokumen terbuka sepanjang telah diperiksa oleh lembaga pemeriksa dan disampaikan kepada lembaga perwakilan. Publik, terutama warga sekolah, dapat memanfaatkan putusan ini guna mendapatkan informasi pengelolaan dana sekolah. Mereka juga dapat menggunakan putusan ini untuk menilai apakah penggunaan dana sekolah sudah wajar atau tidak. Partisipasi dan keterbukaan informasi publik akan menguntungkan sekolah. Selain dapat menekan kebocoran anggaran, pihak sekolah juga dapat mengajak orangtua muricl untuk menghimpun dan mengerahkan sumber daya untuk menutupi kekurangan sekolah dan meningkatkan mutu pendidikan.
Sekolah yang jujur dalam pengdolaan dana sekolah dengan muclah meraih simpati orangtua murid. Segala kekurangan sekolah, terutama dana pendidikan, akan mudah diatasi karena warga sekolah dengan ikhlas mencari dana itu pada pemerintah, swasta, atau mereka sencliri. Mereka pasti menginginkan sekolah yang jujur dan terbaik bagi anak-anak mereka.
3. Beberapa Temuan dalam lmplementasi BOS oleh BOS-KITA (BOS -