Review Kebijakan Sosial
C. Bidang Perlindungan Anak: Program Keluarga Harapan (PKH) 1. Gambaran Umum Program
4. Hasil Evaluasi Pelaksanaan/ lmplementasi Program
Program PKH di laksanakan secara bertahap, dimulai tahun 2007. Tahap pertama dimulai pada tahun 2007 meliputi 7 provinsi, Provinsi Jawa Timur salah satu diantara yang termasusk dalam tahap I tersebut. Sedangkan Provinsi Jawa Tengah berada pada tahap ke 4 yang dimulai pada tahun 2011. Daftar lokasi selengkapnya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.7 Lokasi Implementasi Program PKH
No. Tahun Provinsi
I Tahun 2007 1 Sumatera Barat 2 DKI Jakarta 3 Jawa Barat 4 Jawa Timur 5 Sulawesi Utara 6 Gorontalo 7 NTT
II Tahun 2008 1 Nusa Tenggara Barat 2 Banten
3 DI Yogjakarta
5 Kalimantan Selatan 6 Sumatera Utara II Tahun 2010 1 Bengkulu 2 Kepulauan Riau 3 Kalimantan Barat 4 Kalimantan Tengah 5 Bali 6 Sulawesi TenQ:Ul 7 Sulawesi Selatan II Tahun 2011 1 Jawa Tenzah
2 Riau
3 Sumatera Selatan 4 Lampung 5 Maluku Utara Sumber : Data dan Analisa penelitian
Di Provinsi Jawa Tengah pelaksanaan program baru dimulai tahun 2011, sarripai dengan penyusunan laporan kajian ini, kegiatan yang dilaksakaan sedang dalam persiapan, antara lain berupa inventarisasi rencana program kerja dari masing•masing daerah kabupaten/kota, dan menentukan rencana program Tim Koordinasi selama satu tahun kedepan. Gubernur Jawa Tengah telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 463/2/2001 tentang Pembentukan Tim-Tim Koordinasi Program Keluarga Harapan Provinsi Jawa Tengah.
Di provinsi Jawa Tengah ini PKH dilaksanakan di 5 Kabupaten yaitu Kabupaten Brebes, Cilacap, Sragen, Wonogiri dan Pemalang. Sedangkan jumlah sasarannya adalah 87.708 RTSM, 90 Kecamatan dan 1.118 desa.
Untuk pelaksanaan kegiatan PKH di Jawa Timur Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor: 188/184/KPTS/013/2007, tanggal 9 Mei 2007, tentang Koordinasi (fK) PKH tingkat Provinsi Jawa Timur. Pelaksanaan program di Wilayah Jawa Timur meliputi 21 Kabupaten. Untuk menggambarkan secara umum pelaksanaan program ini dapat dilihat dari Hasil Evaluasi Pelaksanaan PKH di Jawa Timur oleh Tim Evaluasi Pelaksanan PKH yang dibentuk oleh Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Kedeputian Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan Dan Usaha Kecil Menengah Bappenas pada bulan Desember 2008, studi kasus di Kabupaten Kediri dan Sidoarjo digambarkan sebagai berikut :
a. Kabupaten Kediri i. Pengamatan Umum
Beberapa permasalahan yang dihaclapi di tingkat Tim Koordinasi Provinsi berdasarkan hasil temuan Tim Evaluasi Pelaksanan PKH Bappenas bulan Desember 2008 antara lain sebagai berikut:
petunjuk dari atasan, walaupun dari Menteri Kesehatan sudah ada surat kepada jajaran di bawahnya untuk membantu Program PKH. Diharapkan koordinasi di tingkat pusat dapat lebih ditingkatkan. Belum adanya kesamaan visi dan misi antara kabupaten yang satu dengan yang lain, padahal Provinsi Jatim menjadi lokasi Pilot Project PKH dengan wilayah terbanyak (21 kabupaten).
• Sosialisasi: Adanya kesalahpahaman terkait kriteria pendataan dan persyaratan
penerima maupun pelaksana PKH. Hal ini menimbulkan penolakan terhadap hasil pendataan. Sebagai contoh, munculnya surat pemyataan dari Aliansi Kepala Desa di Kecamatan Labang (Bangkalan) yang menyatakan menolak hasil pendataan dan menuntut dilakukan pendataan.ulang oleh pendamping dan ditundanya pembayaran. Kurang tepatnya pemahaman petugas yang berwenang dalam sosialisasi PKH dari Depkominfo yang dibantu oleh Aisyah dan Muslimat NU, berakibat timbulnya potensi gejolak dengan meningkatnya tekanan masyarakat kepada .pendamping dengan berbagai tuduhan. Kurangnya sosialisasi tentang fasilitas pendidikan dan kesehatan di luar area PKH yang menjadi rujukan terdekat bagi RTSM penerima PKH. Dinas Pendidikan Provinsi menyatakan bahwa mereka tidak bisa langsung sosialisasi ke kecamatan, yang mempunyai wewenang adalah pihak.kabupaten. PT. Pos
menyampaikan bahwa di Kabupaten Situbondo ada demonstrasi dari anggota masyarakat yang seharusnya berhak menerima tetapi tidak menerima bantuan, hal ini disebabkan karena masih adanya data RTSM yang belum tervalidasi.
• Verivikasi: Belum adanya kejelasan tentang verifikasi pendidikan di luar kabupaten,
termasuk verifikasi pendidikan di wilayah perbatasan provinsi, misalnya perbatasan kabupaten Ponorogo (Iatim) dengan Kabupaten Wonogiri (Iateng). Belum adanya kejelasan tentang kriteria usia 5•6 tahun, apakah termasuk balita atau sudah masuk usia SD. Penjelasan dari Pemerintah Pusat untuk masalah ini dirasakan tidak pernah tuntas.
• UPPKH (Operator & Pendamping): Surat keluar dari UPPKH kabupaten/ kota
kurang memiliki legalitas karena tidak ada Kop dan stempel resmi. Proses pengadaan barang inventaris kesekretariatan memerlukan waktu yang lama. Alokasi anggaran listrik/telepon untuk seluruh kabupaten disama ratakan, padahal kebutuhannya berbeda•beda. Adanya beberapa instruksi melalui e•mail yang mengatasnamakan Tim UPPKH Pusat yang saling bertolak belakang dan kurang dapat dipertanggung jawabkan. Sementara itu, UPPKH Pusat kurang merespons terhadap pengaduan yang disampaikan lewat e-mail Net- Meeting, dan sarana komunikasi lainnya.
Adanya keengganan pihak•pihak terkait PKH (sekolah, puskesmas, pustu, BPS, Infokom) ketika operator PKH atau Pendamping melakukan koordinasi dan berperan aktif untuk ikut menyelesaikan permasalahan yang muncul di lapangan, dengan alasan tidak ada surat perintahnya, padahal sudah jelas tercantum dalam Pedum PKH. Belum ada sistem penilaian yang jelas terhadap kinerja, dan jika ada
operator/pendamping yang bermasalah tidak ada penanganan lebih lanjut. Belum adanya mekanisme ijin untuk cuti/tidak aktif karena hamil/urusan lain bagi operator dan pendamping. Masih adanya kerancuan dan kesalahpahaman tentang kedudukan dan tupoksi petugas Technical Support (TS) dan entry data Vendor terhadap operator PKH daerah. Adanya beberapa kabupaten yang belum menerima dengan lengkap seragam dan atribut operator dan pendamping.
• IT dan Data Base: Tidak adanya SDM yang mengelola IT di UPPKH Provinsi sehingga terkesan peranan provinsi sangat kurang, padahal sebenamya sangat penting untuk melakukan pengendalian dalam satu provinsi. Data RTSM sebagai pedoman pencairan banyak yang mengalami perubahan dan tidak sesuai dengan hasil validasi yang dilakukan pendamping. Sementara itu, tingkat kabupaten tidak memiliki copy file data basenya. Hal ini dapat berakibat pada operator yang diduga melakukan kesalahan entry data bila ada ketidaksesuain. Ketika terjadi perubahan data pada waktu data entry, detail history pembayaran tidak berubah sehingga sulit memastikan apakah entry data sudah dilakukan dengan benar atau tidak benar.
Data RTSM tidak bisa ditampilkan berdasarkan Fasilitator Pendidikan atau Fasilitator Kesehatan tertentu, dan mekanisme entry data Fasdik dan Fakes berubah•ubah dalam aplikasi. Dalam aplikasi tidak tersedia fasilitas untuk kondisi tertentu, misalnya; jika jumlah bantuan yang diterima tidak sesuai dengan kriteria, RTSM pindah alamat, kartu salah cetak/ hilang, anak cacat, dan tambal sulam peserta PKH. Ketika dilakukan proses data entry, umur anak RTSM hanya berubah berdasarkan pada tahun kelahiran saja, padahal acuan usia harus berdasarkan tanggal dan bulan kelahiran juga. Sejauh ini, tidak ada juklak dan juknis yang rinci tentang data entry, sementara itu buku panduan Sistem Informasi Manajemen (SIM) masih sangat umum. Kartu PKH yang sudah tercetak, didistribusikan oleh PT. Pas tanpa sepengetahuan atau berkoordinasi dengan UPPKH Kabupaten.
Adanya perbedaan data base sebagai acuan penyusunan anggaran dari daerah (versi operator dan BPS), sementara data base yang digunakan tidak sesuai dengan hasil validasi pendamping. Di Mojokerto, masih terdapat banyak anggota PKH yang belum menerima kartu hingga bulan April 2008. Jika masalah ini tidak direspon dengan baik, dapat berpotensi menimbulkan persoalan. Tidak adanya forum pertemuan antar petugas SIM/ Operator sebagai sarana pertukaran informasi untuk perbaikan aplikasi Informasi Teknologi PKH.
ii. Partisipasi Penyedia Layanan Kesehatan
Dari sisi kesiapan penyediaan layanan kesehatan, Kabupaten Kediri sudah memiliki fasilitas kesehatan untuk tingkat kecamatan yang baik. Dalam satu kecamatan bisa terdapat beberapa fasilitas kesehatan yang memadai. Di Kecamatan Ngadiluwih misalnya terdapat 2 buah Puskesmas, sehingga akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan sangat baik. Namun demikian, masih terdapat beberapa masalah dalam
pelaksanaan PKH terutama terkait dengan sosialisasi serta verifikasi yang harus dilakukan oleh puskesmas atau penyedia layanan kesehatan lainnya. Di beberapa kecamatan, antara lain Kecamatan Kras, Puskesmas mengetahui program PKH melalui pendamping. Hingga Tim Survey berkunjung sudah dilaksanakan 3 kali pertemuan antara pendamping dengan pihak Puskesmas. Pendamping melakukan pendataan penerima PKH yang sudah melakukan kewajibannya, sementara itu Puskesmas memerlukan data penerima PKH yang ada di Kecamatan ini. Data yang tersedia baru berupa daftar nama•nama penerima bantuan tanpa dilengkapi alamat atau lokasinya. Untuk memonitor pelaksanaan program dengan lebih baik, harus pula dilakukan koordinasi dengan bidan desa. Karena tidak jarang masyarakat desa lebih memanfaatkan bidan desa daripada Puskesmas. Kendala yang sering menjadi pertimbangan ini adalah lokasi puskesmas yang jauh.
Para pendamping mengusulkan agar dapat dilakukan penjelasan khusus yang melibatkan pendamping, pengelola puskesmas, dan para bidan desa untuk diberikan penjelasan tugas masing•masing, siapa harus berbuat apa, dan bagaimana koordinasi diantara mereka. Terkait dengan kebutuhan Puskesmas seperti obat•obatan, vitamin dan lain•lain, pihak pengelola menyatakan sejauh ini tidak ada permasalahan, karena persediaan di Puskesmas sudah dihitung berdasarkan jumlah tnasyarakat yang perlu dilayani di Kecamatan tersebut. Dengan demikian, seluruh masyarakat miskin baik itu masuk dalam Program PKH ataupun tidak sudah tercakup dalam layanan Puskesmas dan sudah teranggarkan melalui Dinas Kesehatan. Sementara itu, pelayanan secara umum puskesmas di Kecamatan Kandat sudah baik. Namun para petugasnya belum memahami PKH dengan baik, walaupun sebetulnya Kepala Puskesmas sudah mengikuti sosialisasi awal yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial.
Permasalahan yang terpantau di puskesmas ini adalah belum berjalannya transfer informasi dengan baik, khususnya mengenai program ini, baik kepada petugas puskesmas, maupun kepada layanan•layanan lainnya, seperti Puskesmas Pembantu (Pustu), Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), dan bidan desa. Namun demikian, peran pendamping cukup mendukung dan dapat menjelaskan PKH kepada pemberi layanan kesehatan ini.
Koordinasi, sosialisasi, ataupun surat pemberitahuan dari Departernen Kesehatan, sejauh ini belum pernah dilakukan, baik sebelum ataupun sesudah pembayaran terhadap penerima bantuan PKH. Hal ini berpengaruh pada proses verifikasi yang kurang mendapat tanggapan. Puskesmas mengharapkan agar ada surat atau bisa mendapatkan surat dari Departemen Kesehatan yang menyatakan mendukung PKH. Surat yang ditanda tangani oleh Sekjen Depkes ini sudah dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, namun sejauh ini banyak Puskesmas yang belum menerimanya.
Permasalahan yang terpantau lainnya adalah adanya puskesmas yang tidak bisa menjamin RTSM peserta PKI•I untuk mendapatkan layanan gratis karena tidak memiliki Askeskin. Daftar peserta Askeskin merupakan keputusan Bupati, sementara itu belum semua peserta PKI•I tercakup dalam Askeskin. Untuk menanggulangi
masalah ini, berdasarkan informasi petugas Dinsos maupun Kepala Puskesmas, untuk peserta yang belum tercakup oleh Askeskin akan mendapatkan dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Alternatif solusi lain yang telah berjalan di Kecamatan Ngadiluwih adalah masyarakat miskin yang belum mendapat askeskin, termasuk penerima PKI•I yang belum didaftar, ditanggung melalui kuota tambahan yang disediakan melalui APBD. Namun, khusus untuk kuota ini hanya dapat dilayani di salah satu Rumah Sakit, yaitu RS Pare. Sampai saat ini penambahan kuota tersebut masih dalam proses pendataan.
Secara umum, petugas puskesmas merasa terbantu dengan adanya PKH karena dengan program ini, masyarakat miskin khususnya keluarga RTSM penerima bantuan dengan sendirinya memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan keluarga. Diharapkan kondisi ini dapat pula membangkitkan kesadaran keluarga miskin lainnya untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan melalui puskesmas. b. Pelaksanaan PKH di Kabupaten Sidoarjo
i. Pengamatan Umum
Tim Koordinasi (TK) PKI•I tingkat Kabupaten Sidoarjo dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sidoarjo Nomor: 188/720/404.1.1.3 / 2008, tanggal 12 Maret 2008 tentang "Tim Koordinasi Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan (UPPKI•I) Kabupaten Sidoatjo Tahun Anggaran 2008". Dengan demikian, pembentukan Tim Koordinasi di tingkat kabupaten sangat terlambat, padahal SK pembantukan tim koordinasi di tingkat Provinsi Jawa Timur sudah ditandatangani pada tanggal 9 Mei 2007. Sebagaimana terjadi di Kabupaten lain di Jawa Timur, pada awal pelaksanaan PKI•I tahun 2007 di Kabupaten Sidoarjo belum terkoordinasikan dengan maksimal. Pada tahun 2007, dari 18 Kecamatan yang ada, Kabupaten Sidoatjo mendapat alokasi 6 kecamatan, yaitu Kecamatan tarik, Prambon, Balong Bendo, Krian, Wonoayu, dan Sukodono dengan jumlah 4.152 RTSM. Peluncuran PKH sekaligus pembayaran tahap pertama tahun 2007 dilakukan oleh Bupati Sidoarjo pada tanggal 27 Februari 2008. Pada tahun 2008, kabupaten Sidoarjo mendapat tambahan alokasi di 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Krembung, Buduran, Gedangan, Waru dan Sedati dengan jumlah 3.594 RTSM. Beberapa permasalahan yang dihadapi di tingkat Tim Koordinasi Kabupaten Tim Evaluasi Pelaksanan Bappenas pada bulan Desember 2008 antara lain sebagai berikut: • Koordinasi: Permasalahan koordinasi yang banyak dihadapi adalah dengan adanya
pergantian pimpinan pada instansi•instansi yang menjadi Tim Koordinasi inti dari pelaksanaan PKH di tingkat Kabupaten, misalnya pergantian Kepala Bappeda, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Infokom. Pergantian pimpinan suatu instansi yang tanpa dibarengi dengan adanya transfer iformasi yang lengkap dan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas terhadap suatu kegiatan atau program yang sedang dijalankan, sering mengakibatkan
koordinasi yang sudah dibangun dengan baik dari awal menjadi kurang efektif karena lemahnya leadership.
Di tingkat kecamatan dan desa penerima PKH juga banyak terjadi pemekaran wilayah menjadi kecamatan atau desa baru yang menyulitkan koordinasi dengan aparat desa, terutama untuk proses validasi karena alamatnya menjadi berubah jika pemekaran tersebut terjadi setelah pendataan awal. Koordinasi antar program penanggulangan kemiskinan, seperti BOS, BLT, Jamkesmas, dan PNPM yang ada di kabupaten juga belum terjadi dengan baik. Hal tersebut menyebabkan pemahaman aparat pemerintahan dari tingkat kabupaten sampai desa kurang memadai, sehingga pertanyaan dari camat atau kepala desa yang mempertanyakan "mengapa yang diberi bantuan/program orang•orang itu saja" selalu muncul dalam setiap kunjungan lapangan.
• Sosialisasi: Sosialisasi menggunakan mekanisme kerjasama dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Fatayat NU dan Aisyiah yang dilaksanakan di provinsi Jawa Timur terbukti kurang efektif. Selain substansi yang disampaikan kurang bisa dipahami masyarakat karena cenderung menggunakan bahasa yang profokatif, dari pihak pemerintah daerah juga kurang setuju karena tidak melibatkan instansi yang sudah ada di daerah, yaitu Dinas Infokom. Sosialisasi ke masyarakat umum melalui kerjasama antara pemerintah daerah dengan media lokal (baik cetak maupun elektronik) sudah dilakukan dan lebih efektif, namun tidak jarang dimuati dengan isu•isu politis, sehingga perlu adanya pengawalan dan kontrol yang ketat dari Tim Koordinasi Pendamping sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan PKH di lapangan yang secara langsung berhadapan dan berinteraksi secara intensif dengan RTSM dan masyarakat setempat, masih kurang memahami program•program pemerintah dalam rangka penanggulangan kemiskinan yang lain (Raskin, BOS, BLT, Jamkesmas, PNPM). Hal ini • sering menyulitkan mereka sendiri ketika RTSM mapun masyarakat secara umum ingin mengetahui tujuan dari PKH dan keterkaitannya dengan program•program yang lain. Target dari program•program di atas adalah orang miskin, dan jika pendataan bisa dilakukan seakurat mungkin, maka RTSM adalah pihak yang mendapatkan semua program di atas.
• Verifikasi: Sampai dengan pencairan tahap II untuk TA 2008, verifikasi komitmen
untuk TA 2007 sebagai dasar penghitungan pembayaran tahap berikutnya belum sepenuhnya berjalan, baik untuk bidang pendidikan maupun kesehatan. Format verifikasi yang pernah dikirimkan ke daerah pada bulan Maret•April 2008 ditarik kembali oleh UPPKH Pusat dengan alasan formatnya masih banyak yang tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan, misalnya salah nama, jumlah anggota rumah tangga, dan lain•lain.
Pada saat itu pendamping di beberapa daerah sudah memperbaiki informasi yang ada dalam format tersebut dan sudah disampaikan kepada penyedia layanan pendidikan dan kesehatan. Beberapa penyedia layanan pendidikan dan kesehatan
bahkan sudah mulai mengisi format yang diterima yang kemudian dikembalikan lagi kepada pendamping. Secara umum, pihak penyedia layanan pendidikan dan kesehatansudah mengetahui kewajiban mereka untuk mengisi format veriifikasi dan kapan harus dilakukan, namun untuk penyedia layanan kesehatan masih ada yang kurang memahami cara pengisian format tersebut. Dari hasil wawancara dengan beberapa kepala puskesmas, baik di Jawa Timur maupun Gorontalo memang tetjadi peningkatan kunjungan ke pusat• pusat layanan kesehatan, bahkan sampai melebihi target kunjungan yang ditetapkan, meskipun tidak dilakukan pencatatan dan rekapitulasi yang detail terutama untuk RTSM penerima PKH.
Meskipun demikian, ada inisiatif dari salah satu Kepala Puskesmas di Kabupaten Sidoarjo yang membuat dan mencetak sendiri format verifikasi dengan anggaran dari Puskesmas dengan tujuan untuk memudahkan pemantauan dan pencatatan kunjungan dan pemeriksaan RTSM di Puskesmas, selama format verifikasi yang dari UPPKH Pusat belum dikirimkan. Dari beberapa kabupaten di tiga Provinsi Jawa Timur, NTT, dan Gorontalo) yang dikunjungi, baik sekolah maupun puskesmas sebagai pihak penyedia layanan pendidikan dan kesehatan tidak mempunyai data khusus RTSM penerima PKH. Alasan umum yang disampaikan adalah karena pendamping tidak memberikannya, tidak ada aturan yang mengharuskannya atau karena memang tidak ada inisiatif dari kepala sekolah dan puskesmas untuk meminta data RTSM penerima PKH secara lengkap kepada pendamping di wilayah kerja mereka. Kepala sekolah dan puskesmas baru minta kepada pendamping berupa rekapitulasi data RTSM penerima PKH di wilayah kerja mereka, setelah ada pemberitahuan bahwa akan ada kunjungan Tim Evaluasi PKH dari Jakarta.
Kendala lain yang dihadapi pada saat pengiriman format verifikasi kepada penyedia layanan pendidikan dan kesehatan adalah kurangnya SDM di PT. Pos dan seringkali tidak mengetahui alamatnya secara detail, sehingga tugas tersebut dibebankan kepada pendamping. Hal ini tentunya menambah beban pendamping terutama di daerah•daerah yang kondisi geografisnya sulit dijangkau, sementara aturan penambahan insentifbagi pendamping karena hams mengerjakan tugas yang seharusnya dilakukan PT. Pos belum jelas.
• Pembayaran: Secara umum proses pembayaran di beberapa kecamatan yang dikunjungi berjalan dengan lancar, baik dilakukan di kantor kecamatan atau Kantor Pos setempat tanpa ada antrian yang panjang dan berdesak•desakan karena pendamping bekerja dengan aparat setempat sudah mengatur penjadwalan sebelum pembayaran dilakukan. Hal yang masih menjadi keluhan pendamping misalnya, daftar nama RTSM atau wesel yang dikirim PT Pos ke masing•masing kecamatan belum dikelompokkan berdasarkan desa atau sesuai jumlah RTSM masing•masing pendamping. Hal ini membuat para pendamping harus memilah•milah ulang nama•nama RTSM berdasarkan desa dalam satu kecamatan
atau berdasarkan jumlah RTSM dampingan mereka, padahal banyak sekali nama yang sama dalam satu kecamatan yang membuat kerja pendamping kurang efisien. • UPPKH (Operator & Pendamping): Sistem IT yang digunakan di kantor UPPKH
Kabupaten saat ini sudah bis a berjalan, namun beberapa operator masih mengeluhkan seringnya error atau lambatnya akses ketika melakukan entry data. Data RTSM yang berdasarkan hasil validasi sudah tidak eligible (tidak memenuhi syarat) dan sudah digugurkan sebagai peserta PKH, namun masih dapat diakses dalam sistem dan dapat dilakukan perubahan data.
Pada saat dilakukan kunjungan ke kantor UPPKH kabupaten dan UPPKH Kecamatan, ternyata belum semua pendamping membuat laporan rutin mengenai tugas•tugas dan kegiatan yang dilakukan baik secara mingguan atau bulanan, termasuk mengenai pengaduan dari masyarakat. Hal ini akan menyulitkan Tim UPPKH Pusat untuk mengevaluasi apakah pendamping telah melaksanakan tugas•tugasnya dengan baik, karena tidak ada bukti tertulis yang bisa dijadikan pegangan. Hal positif yang dilakukan pendamping terutama di Kabupaten Kediri dan Sidoarjo misalnya adanya inisiatif dari para pendamping yang membimbing RTSM misalnya untuk belajar membuat susu keclelai, membuka warung kecil, dan memelihara ikan hias dalam rangka meningkatkan penghasilan RTSM. Upaya tersebut dikoordinasikan ketika pertemuan kelompok ibu•ibu, bahkan beberapa penclamping ada yang menyatakan akan memberikan sanksi kepada RTSM jika dalam pertemuan kelompok ibu•ibu ada yang sengaja tidak hadir tanpa alasan yang jelas.
ii. Kesiapan Penyedia Layanan Kesehatan
Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo relatif memiliki fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan memaclai. Akses masyarakat menuju fasilitas layanan kesehatan juga sangat mudah dan tidak memerlukan biaya yang mahal. Sampai tahun 2007, dari 18 kecamatan yang ada, terdapat 25 Puskesmas induk dan 56 Puskesmas pembantu. Selain itu, Kabupaten Sidoarjo juga memiliki 18 Rumah Sakit (1 RS Pemerintah, 3 RS ABRI, dan 14 RS Swasta). Dalam satu kecamatan bisa terdapat beberapa fasilitas kesehatan yang memadai dan mudah dijangkau, beberapa puskesmas bahkan sudah melayani rawat inap yang bisa menampung lebih dari 20 pasien.
Dari sisi suplay penyedia layanan kesehatan, Kabupaten Sidoarjo bisa dikatakan tidak mengalami kesulitan, bahkan dukungan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakatnya cukup tinggi. Pada tahun 2006 dan 2007 pemda menganggarkan sebesar 2 Milyar untuk mendukung program Askeskin, dan pada tahun 2008 senilai 5 Milyar berupa Block Grant Kesehatan dalam rangka mengcover seluruh warga miskin yang tidak tetjangkau oleh Jamkesmas sekitar
Sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sidoarjo, jumlah tenaga medis (dokter) yang tersebar di rumah sakit atau puskesmas sudah cukup, namun untuk tenaga paramedis masih perlu mandapatkan penambahan di beberapa puskesmas. Meskipun perekrutan tenaga kesehatan telah diserahkan oleh Menteri