“Kapan kau kawin Har? Kau jangan mikirin dirimu sendiri, anakmu itu butuh seorang ibu, lho!” sembur emak saat baru saja kuluruskan kaki di dipan, mengurangi penat di perjalanan tadi.
Emak yang notabenenya sudah lama menjadi single parent, paham betul bagaimana keadaanku setelah ditinggal Elis empat bulan lalu.
“Lha, badanmu sendiri aja masih Mbok Tugi yang ngurusin!” sambung emak menyindir. Ya, alasan apapun yang kuberi, wanita yang dua minggu lagi usianya genap enam puluh tahun itu, sangat ulet meneror. Kukuh memintaku untuk segera menikah lagi.
“Yang kayak mana sih yang kau suka, Har? Nanti mamak carikanlah buatmu, apa kayak...”
“Mak, nggak usahlah. Hari lagi nyari kok, cuman nggak secepat inilah mak” potongku cepat sambil melempar pandangan ke pekarangan, melihat Rai yang kegirangan mengejar serombongan ayam kampung peliharaan emak.
“Kayaknya Belum ada yang cocok, Mak,” kataku lagi. Wanita tua itu hanya geleng-geleng melihatku. Dalam pikirnya, betapa mudah bagi duda yang mandor kelapa sawit dan masih berusia tiga puluh dua tahun sepertiku ini untuk dapatkan istri lagi.
”Atau kau belum bisa lupakan Elis?” tanya emak menginterogasi sambil memotongi kangkung di tampahnya.
Aku diam, menghela nafas. Elis, meski sudah tiada, nyatanya ia masih menyita hatiku. Biar bagaimanapun, Elis itu cinta sejatiku. Dulu alumnus psikologi itu benar-benar membuatku nekat menolak tawaran keluarga besarku untuk menikah dengan Helda yang tak lain paribanku.
Oh tuhan! Wanita di depanku ini terlalu sulit untuk kubohongi.
“Iya, Mak,” aku mengaku dengan mata bening berkaca karena mengingat kecelakaan itu.
“Kasi Hari waktu ya, Mak?” suaraku begitu serak, seperti ada yang mengganjal di kerongkongan.
“Yaudalah, mamak bukannya memaksamu. Cuman kasian sama Rai, biar bagaimanapun anak itu butuh kasih sayang seorang ibu!” terang emak panjang lebar.
Aku mengiyakan, seraya mereguk tandas teh tubruk sidamanik yang sudah tak panas lagi.
***
Rencananya, seminggu ke depan Rai akan tinggal di rumah neneknya. Mumpung Playgroup tempatnya belajar sedang libur, mumpung juga aku sedang sibuk dengan pengiriman sawit ke kilang pengolahan dan sebenarnya, memberi kesempatan Rai untuk bermanja dengan neneknya. Toh begitu, sejumlah bekal, susu dan pakaian sudah kusiapkan. Mbok Tugi pun kusuruh turut tinggal. Ah, rasanya tak sampai hati membiarkan emak mengurus sendiri cucunya itu.
Ya, aku besok pagi-pagi buta sudah harus kembali ke Laut Tador, sebuah daerah perkebunan di Batubara dengan perjalanan tiga jam dari kota Siantar. Kerjaan di perkebunan yang tak kenal istirahat, membuatku harus pintar-pintar mengatur waktu. Di sini hanya cuti yang ada, itupun dalam setahun hanya dijatah seminggu tiap orang.
Dalam hati aku sudah berencana menghabiskan sisa jatah cuti nanti untuk lebaran tahun ini. Lebaran di kampung dengan harapan sudah didampingi pengganti Elis. Harapan untuk melihat senyum bahagia di wajah emak yang sudah berlipat merangkum waktu. Ya, lebaran yang tak kan sudi kutinggalkan. Kapan lagi kami sekeluarga bisa ngumpul lengkap dengan dua saudaraku yang berjanji akan datang dari pulau
Bulan bundar. Langit mendupa asap. Awan berarak lekas-lekas. Sepertinya hujan akan jatuh petang ini. Semua lelap. Hanya binatang malam yang berkeliaran di pekatnya malam.
Aku bermimpi. Ya, sepasang tahi lalat di kedua jemari manisku hilang! Aku panik dan ketakutan. Sepotong ucapan wanita yang kutemui di mimpi itu terdengar jelas. Sangat jelas!
Aku terbangun. Hanya kerik jangkrik dan kecipak air pancur yang kudengar. Kuseka keringat yang membanjir di kening. Rai masih terlelap kelelahan di sampingku. Amat lasak tidurnya malam ini, kecapean sepertinya, batinku. Pelan-pelan aku melepas kaki Rai yang melintang di perutku. Aku duduk di pinggir dipan dengan tangan menopang wajah yang bertumpu di kedua pangkal pahaku.
***
Aku masih ingat jelas. Dulu, emak sering berkata, ”Tahi lalat di tubuh itu ada maknanya masing-masing,” Seperti Bang Rimba yang tahi lalatnya di punggung, kelak ia bakal menjadi pemimpin. Kenyataannya sekarang, meski bukan skala besar, abangku itu sukses dan punya sebuah pabrik pengolahan jamur di Bogor. Abangku yang satu lagi, Bang Timur yang punya tahi lalat di bibirnya, dibilang emak bakal jadi orang yang berpengaruh. Terang saja, sekarang abangku yang satu itu jadi pengacara dan bermukim di Jogja.
Nah, kalau aku, yang menonjol dan unik itu ada tahi lalat di kedua jari manis tanganku. Kata emak itu pemanis. Semula aku tak percaya, tapi kata-kata emak selalu mengiang mistis, ”Kelak, itu menunjukkan mudahnya kamu dapat kepercayaan dari siapapun,” Dulu, begitu mendengar takwil tahi lalatku, langsung hidungku kembang-kempis, kupingku memerah. Aku bahagia.
Lantas kini, entah karena memang do’a orang tua itu lekas dikabulkan, atau memang karena mitos tahi lalat itu, atau kombinasinya, atau entahlah, yang pasti, berkaca pada perjalananku yang begitu cepat dan mulus menjadi mandor,
rasa-rasanya aku harus percaya. Setidaknya sampai detik ini. Makanya, mimpi kali ini begitu membuatku kalut. Ya, ini mimpi yang sama, seperti malam saat akan berangkat ke rumah emak. Persis. Sumpah!
Aku terus terjaga. Mataku sulit sekali untuk mengatup, hingga sayup kokok ayam menggedor telinga. Saat itu pun aku belum bisa melanjutkan tidur. Kucoba memicingkan mata, merapatkan kelopak mata. Memaksa untuk terpejam sekejap saja, tapi rasa takut akan mimpi yang sama itu terulang lagi, membuatku urung untuk tidur kembali.
Alhasil, pagi ini mataku sembab. Kelatnya kopi Kok Tong di meja makan hanya membuat terjaga sejenak. Ah! sebelum berangkat, aku harus ceritakan tentang mimpi ini pada emak. Ya, harus! Gumamku.
Emak yang sedang menjerang air di perapian, terbatuk-batuk saat asap dari kayu bakarnya mengepul hebat dari tungku bata. Beberapa kali semprong yang dibuat dari buluh bambu itu ditiupnya guna memantik api menyulut kayu bakar. Ah, kompor gas yang kubelikan empat bulan lalu rupanya tak terpakai, teronggok di atas bufet.
”Mak, Hari bisa ngomong sebentar?” tanyaku sembari menggeser diri menduduki kursi kayu di sampingku. Sesaat terdengar keryit kursi yang kududuki.
”Eeh, jangan kursi itu yang kau dudukin, itu mau patah!” seru emak yang seketika membuatku berdiri lagi. Ah, padahal aku ingin sekali duduk di kursi yang dulu selalu kurebutkan bersama dua saudara lelakiku. Ya, dulu kami memang begitu, karena jatah kursi sedikit, maka yang tak kebagian pasti harus rela duduk sila di lantai tanah, beralas tikar pandan.
Aku berpindah menduduki sofa di sebelahnya. Sofa yang kubeli patungan dengan kedua saudaraku itu. Sofa empuk yang kuyakin jarang diduduki.
”Mau ngomong apa?” Tanya emak sembari menyodorkan sepiring emping belinjo yang barusan digorengnya. Kuseruput
kopi sembari menatap lekat wajah emak, aku menceritakan mimpiku tadi malam.
Hening. Emak diam. Wajahku tegang, apa emak mengerti ihwal mimpi yang kualami ini? Berkelebat tanya di pikiran. Hatiku bergemuruh.
”Emak tahu makna mimpi itu, Mak?” kejarku tak sabar ”Ceritakanlah, Mak!” wajahku berubah menjadi Rai yang merengek meminta dibelikan permen warna-warni.
Emak menatapku lurus. Lekat-lekat.
”Kau benar-benar memimpikan itu?” emak mencoba memastikan. Aku menganguk cepat.
Emak menghela nafas dalam-dalam, lantas mengatakan sesuatu yang membuatku semakin sulit untuk segera menikah.
Ough!
*** Sore. Di kantor.
Usman sahabat dekatku sesama mandor menyodorkan sebuah foto.
”Dia Rani, adik kandungku. Bulan kemarin baru lulus di UI ekonomi, sekarang dia sedang di Medan, bagaimana menurutmu? Aku sudah sedikit cerita tentangmu, dia sih nggak milih-milih, cuman dia ingin ketemu dulu, kalo cocok, bisa lebih serius,” papar Usman sembari menepuk-nepuk pundakku.
Aku diam. Berfikir ulang. Bukan sekali ini saja Usman menawarkan calon untukku, meski semuanya kandas, karena belum juga aku menemukan kecocokan atau mungkin masih dibayang-bayangi wajah almarhumah, entahlah. Kini, ditambah lagi perihal takwil emak akan mimpiku itu. Semakin tipis saja kurasa peluang untuk segera menikah lagi.
”Duh, cemana mana ya Us, aku segan kali sama kau. Kau udah banyak bantu, tapi sampai sekarang belum juga ada yang
sreg dari calon-calon yang kau kasi itu,” ulasku agak sungkan, merasa serba salah.
”Halah! Macam bukan kawan aja kita. Udah, yang penting ikhtiar aja, oke?” Usman meyakinkanku. Nah, kalau kau pengen cepat jumpa, cocok kali! Sabtu ini si Rani datang ke rumah, cemana?” sambungnya bersemangat.
Aku merasa kurang yakin. Memang, sekilas dari foto, Rani adalah gadis yang cantik, dan lebih cantik lagi saat kulihat jelas tahi lalat di kiri atas hidung. Foto itu kuletakkan di samping Foto Elis. Ada Kemiripan, gumamku sembari terus mengembangkan keyakinan.
*** Hari yang ditunggu tiba.
Sesuai rencana, saat jam makan siang, aku diundang Usman makan di rumahnya. Di perjalanan, dalam Jeep, aku sempatkan menghubungi emak.
”Oi mak! Minta doa restu dia bah!” Ledek Usman sambil terkekeh, tangannya mengelakson sapi-sapi ternak di depan kami supaya minggir.
”Haha, dasar kau!” sikutku, tapi tak kena. Aku tak melanjutkan obrolan dengan Usman, karena kini aku sudah terhubung dengan emak. Berbincang serius.
Akhirnya, kami sampai. Di halaman rumah sudah cukup ramai. Wita, istri Usman sibuk melap beberapa piring porselen. Seorang perempuan muda ikut menata gelas-gelas di nampan.
Usman mengelakson beberapa kali. Seolah mengisyaratkan ia sudah pulang. ”Narsis!” Gumamku. Kami turun dan turut bergabung.
Takjub! Saat aku mengenali perempuan muda yang sedang menata gelas. Gadis itu lebih cantik dari yang kulihat di foto. Tapi sungguh! Aku tak akan lupa misiku, janjiku pada emak, yakni untuk melihat tanda yang sesuai dalam mimpi itu. Gusar, tentu saja. Harapan ada itu terus kusulut, ada yakin yang
meroket, saat kulihat wajah oriental gadis itu memiliki tanda seperti yang kucari. Ada getar yang menjalar. Ough!
Acara makan besar rupanya sengaja digelar, karena beberapa kerabat Usman yang tinggal di perkebunan pun turut berdatangan. Maklumlah orang kampung, sedikit-banyak dirasa bersama. Makanya, sengaja Istri Usman menggelar makan bersama itu di halaman agar lebih leluasa. Membentang tikar pandan dan duduk melingkar di bawah naungan dua pohon jambu air yang tumbuh subur di dua sisi rumah, rasanya pilihan yang tepat ketimbang berjejal di dalam rumah.
Usai makan, aku nimbrung dengan kerabat Usman yang kerja di perkebunan yang sama. Sembari mengupas dan mencicipi buah markisa, sesekali gelak tawa terdengar.
”Har, kemarilah!” Panggilan Usman dari dalam rumah menyitaku. Aku permisi sembari beringsut membungkuk-bungkuk badan melewati orang di depanku. Sesampaiku, hanya ada Usman dan adiknya, Rani.
”Nah, biar enak, saling kenalanlah kelen,”
Hampir setengah jam berlalu, aku dan Rani saling bertukar cerita, beberapa kali Usman nimbrung sembari meledekku yang menurutnya kaku di hadapan adiknya itu.
”Saat minum nanti, itu yang kutunggu. Dengan menjulurkan tangannya, aku pasti bisa melihat tanda itu dengan jelas,” gumamku dalam hati.
”Hei! Kok pada diam? Ayo diminum sirupnya,” Usman menyela sambil menyambar gelasnya.
”Ayo Bang, silahkan...” tangan Rani menyodorkan gelas ke arahku.
Aku melihatnya. Jelas sekali! Oh, nihil! Kecewaku meluap. Surut sudah asa. Meskipun lekas-lekas aku menyembunyikan kikuk dengan menyeruput sirup dan menyembunyikan gelisah di balik gelas yang kuteguk. Sempat kulirik jam di dinding, sudah mendekat ke angka dua sore.
Tiba-tiba muncul dari balik gorden kamar, tepat di atasnya tergantung jam di dinding yang barusan kulihat. Perempuan yang persis mirip Rani. Aku hampir tersendak. Air sirup sedikit tertumpah ke kemejaku. Aku segera melap dengan sapu tangan, dan tanpa sadar, aku mencuri pandangan mengikuti arah perempuan itu yang ke dapur.
Usman terkekeh, ia menangkap keherananku, lantas memanggil sosok itu.
“Oh, iya, aku lupa ngasi tau ke kau, kalau Rani ini punya saudara kembar. Ini dia, Rena . Sekarang lagi nyusun skripsi dia. Payah kali membedakan mereka berdua ini, ayo kenalan jugalah kelen!” Usman mengisyaratkan Rena.
Aku terpaku melihatnya. Mataku tak lepas dari tangan gadis itu yang bertangkup sepuluh jari di depan dadanya. Adapun gerak gerikku mengamati itu, membuat Rani dan Rena heran dan tersenyum geli. Aku mematung. Pikiranku berkelebat mengingat mimpiku.
“Bang, jika di jemari manisnya ada tanda itu, tanda yang sama dengan tanda milikku dan milikmu. Maka, dialah wanita yang layak menggantikanku,” kata wanita yang kedatangannya dalam mimpi membuat sendiku serasa lepas itu. Sosok yang begitu kukenali, dia Elis.
Aku tak sabar, kedua telapak tangan Rena kutarik paksa dan kubuka lebar-lebar. Mataku liar menyusuri jari manisnya. Semua tercekat! Usman menggoyang-goyangkan badanku, kurasa ia mengira aku kerasukan jin.
Aku melempar senyum padanya. Senyum yang pastinya kan mengambang juga di wajah emak.
”Tuhan, semoga ini bukan mimpi!” pekikku. (Rumah mimpi, Rainy September 2011)