• Tidak ada hasil yang ditemukan

Catatan Sahari

Dalam dokumen Antara Aku Kau Dan Hujan (Halaman 99-105)

Pukul 11.17 WIB

Siang menelan pagi. Kusandarkan tubuhku pada pepohonan di pinggiran jalan raya. Sudah seminggu ini ada sesosok yang begitu menarik perhatianku. Sebenarnya tiap hari aku melihatnya, tapi entah kenapa belakangan ini serasa otak investigasiku berkerja lebih, hingga sosok itu masuk dalam daftar penelitianku.

Bukan, bukan sosok Medina Kamil yang ingin ku kenal lebih dekat, bukan. Juga bukan sesosok avonturir yang hobi parkour . Ini begitu lain, entahlah… agak sukar menjelaskan untuk kau – aku : kita. Dunia kian hari kian membingunkanku sobat.

Ceritanya bermula saat aku pergi dan pulang kuliah. Selalu kulintasi ia. Sosok yang masih tetap begitu, berhari, berbulan, bertahun.

Hingga kini, saat aku hendak menyesaikan kuliah magister psikologi, Ia tak bosan dengan gaya nyentrik layaknya sebuah arca.

Maka demi menandaskan rasa penasaranku, hari Minggu ini, ku khususkan waktu untuk mengenalnya lebih jauh.

Tapi untuk originalitas data yang kudapat, akhirnya kuputuskan utuk mengamatinya dari jarak yang cukup aman dan tak mencurigakan.

Pukul 12.56 WIB

Kuambil notes dari ranselku. Kutuangkan sosok itu dalam kata-kata. Wajahnya lusuh terbenam menghujam ke aspal yang ia duduki. Bulir matanya tak pernah bertatapan dengan sosok-sosok di sekitarnya. Sedetikpun ia tak mendongakkan wajahnya. Sementara puluhan lalat yang setia menemaninya dibiarkan menghinggapi tubuhnnya.

Sebuah handuk hijau kecil melingkar di lehernya. Tangan kiri masih membentuk siku 90 ? . Ujung tangan itu membentuk mangkuk kecil yang tersusun dari ruas jemari berkuku panjang dan kotor.

Ia hanya bercelana pendek dan bertelanjang dada, sehingga jelas terlihat pahanya yang tak mulus dan tubuh yang menonjolkan tulang-tulang berhiaskan koreng. Sebuah busa bekas yang kumal dan berlumur debu mengalasi duduknya.

Sosoknya terhidang di gerbang sebuah pusat perbelanjaan dan bioskop ternama di Medan, tempat yang strategis untuk mendulang iba dari lalu-lalang sophaholic dan movieholic.

Itu pun bagi yang iba, seringkali gadis – gadis genit berdandang eksotis mengamit-amit diri sambil meludah, memalingkan muka dari realitas yang tersuguh di dekatnya.

Siang kian melekat, mentari mulai tergelincir ke barat. Sosok itu bagaikan patung, tak peduli dengan ganasnya mentari membakar kulitnya yang hitam kelam.

Pukul 13.14 WIB

Waktu terus mengalir, tak satupun dari ribuan orang di sana mengetahui bahwa di seberang sana, di balik rerimbun pagar bonsai ada dua sosok yang sesekali memperhatikanku.

Seorang pria bertopi kuning lusuh yang menyanding rokok dengan kepulan yang tiada henti dan seorang pria bertubuh kekar penuh tato dengan botol-botol hijau yang berserak di dekatnya. Keduanya meliarkan matanya yang memerah padaku. Tapi aku tak sadar akan hal itu.

Pukul 14.45 WIB

Awan menangis. rintik gerimis satu-satu menimpa. Beberapa sophaholic tampaknya tergesa, takut tersentuh tetes bening hujan atau takut baju mahalnya basah. Ah.. orang sekarang kian sulit dipahami.

Kutatap sosok itu, masih tak bergeming. Tangannya mengapit kantung dari karung plastik. Ia bagaikan tembok yang tak peduli akan hingar-bingar lagu yang berhulu dari tenda-tenda berisi puluhan kaset CD bajakan di dekatnya.

Kukira dunia sudah tak ada arti baginya, begitu pahitkah hidup ini?, hatiku miris juga teriris.

Pukul 15.13 WIB

Gerimis berganti hujan lebat. Sosok bertopi yang duduk di rerimbun pagar bonsai itu bergegas menghampiri sosok itu. Ia berbicara sepatah kata, mengambil karung plastik milik sosok itu dan segera ia menuntun lelaki itu.

“Ah…! sosok itu buta!” malang nian kau pak tua jeritku dalam hati.

Keduanya berjalan sangat cepat, pria bertopi menarik sosok tua itu dengan tarikan – tarikan paksa. Aku ingin

menghampiri, tapi kufikir apa aku ada hak atas itu?. Maka aku urungkan niat, lebih baik kuselesaikan investigasiku dengan membuntuti keduanya lewat selasar Mall.

Pukul 15.57 WIB

Hujan kian lebat. Seorang ojek payung menyumpahi sesosok wanita yang tak memberinya uang walau ia sudah ojekin ke mobilnya.

“Bah ! pelit…. barang gopek sekalipun tak kau kas !“ umpatnya ditengah guyuran hujan.

Kedua sosok itu berteduh di emperan ruko. Aku tak mau kehilangan momen, segera kuturut membelah hujan menguntit dan bernaung tepat di ruko sebelah kedua sosok itu.

Sesekali kucuri pandang ke kedua sosok itu, lelaki bertopi lusuh itu tampak mengaduk-aduk karung goni mereka. Sosok tua dan buta itu hanya menggulung tangan mencoba mengibaskan dingin yang mulai menusuki kulit dan mendirikan bulu kuduknya.

Pukul 16.18 WIB

Mobil-mobil bermandikan air hujan. Begitu rapat seolah tak menyisakan celah untuk tak tersentuh ruang hampa. Angin masih mendesir. Keduanya masih berdiri tegak di emper ruko. Lelaki bertopi lusuh itu mengambil sesuatu dari sakunya, lalu ia duduk nongkrong sambil menikmati batangan tembakaunya.

Seorang pria yang berteduh di situ, memberinya segenggam rambutan yang – sepertinya- ia beli. Lelaki bertopi lusuh itu menerimanya dan menyimpan semua rambutan itu.

Sejurus kemudian ia mengambil sebuah, lalu ia kupas untuk si lelaki buta.

“ Amang oi….!, si buta itu tak beralas kaki…. duh…!” jerit hatiku.

Hujan mereda. Air menggenang. Hanya tersisa titik-titik halus yang sekedar mampu membelai dan meninggalkan jejak embun di rambutku.

Aku terduduk di halte sebuah kampus swasta yang posisinya tepat di belakang Mall.

Ratusan sepeda motor berjejer rapi. Kedua sosok itu melintasi kampus ini, bergegas keduanya menuju satu gang sempit.

Di depan ruko, pada lorong yang sunyi. Si pria bertopi membuka karung plastik, tangannya sibuk menghitung penghasilan hari ini. Puluhan lembar ribuan dan keping ratusan ia jumput dari dalam kantung itu.

Mulutnya menggumam. “Seratus tujuh puluh enam ratus …!“ . ada nada tidak puas meluncur dari bibirnya. Matanya semakin memerah saga. Adrenalin memuncak menimbun emosi di ubun-ubun. Ditatapnya sosok tua itu. Tiba-tiba sesuatu yang tak kuduga terjadi.

“Bug…!, Plak…!, plak…!“ Tinju dan tamparannya mengena pas di wajah tua itu. Darah muncrat dari hidung. Sosok buta itu juga berkumur darah. Satu giginya tanggal.

“Kau…! biasanya dua ratusan lebih….!! ini kurang?, mana kau sembunyikan sisanya…. ?”

“Mana …. ? hah!“ Lelaki bertopi lusuh itu masih membabi buta menanyainya.

Sementara sosok buta itu sudah tersungkur, memeluk tanah basah.

***

Dari balik tembok kulihat sosok tua itu tergolek kaku. Hatiku berontak memaksa untuk segera bertindak.

“Sahari, kuatkan keberanianmu lekas kau tolong pria tua itu “

Tapi, baru selangkah kakiku terayun. Sebuah cengraman kasar menyentuh pundakku. Aroma bahaya menyeruak dalam diriku. Tanpa berfikir panjang segera ku berbalik dan mencoba menepis tangan kekar itu. Berhasil…! aku bisa lepas dari cengraman sosok itu.

Tapi terlambat, tubuhku oleng dan sosok itu tak membuang kesempatan. Dengan seringai bengisnya, bertubi-tubi ia daratkan kepalan tinju ke wajah dan perutku. Terakhir ia membenamkan sesuatu ke dadaku. Aku bersimbah darah. Pandanganku gelap. Alam mengirim sepi, angin menjemput amis. gerimis kembali hadir.

Dunia KOMA UMN, 15 – 22 Januari 2010 Keterangan :

Parkour : olah raga kemampuan melintasi medan/rintangan sulit,seperti melompat dari satu gedung ke gedung lain . Sophaholic: orang yang kecanduan belanja

Movieholic : orang yang kecanduan nonton

Lelaki yang menunda damai

Dalam dokumen Antara Aku Kau Dan Hujan (Halaman 99-105)