• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hujan yang Membawaku

Dalam dokumen Antara Aku Kau Dan Hujan (Halaman 29-35)

Aku mengamati bungkus permen transparan yang menggelinding di trotoar ini. Bersama segerombolan daun trembesi yang kering, menimbulkan gemerisik yang menenangkan. Sapuan angin senja, terlihat malas-malasan membawa aroma basah milik langit, aroma yang kini selalu mengingatkanku pada satu sosok, gadis berkepang dua dengan wajah oriental. Baju putih bermotif bunga lili merah yang kamu pakai sepadan dengan yang di bawahnya, rok merah marun.

“Manis,” pujiku.

Mendengar kuberkata begitu kamu merundukkan wajah, persis sekali seperti perangai biji-biji padi yang mulai berisi, menyembunyikan yang jelas-jelas terbaca sepertimu, dengan raut merona merah-muda.

Ada sesuatu yang selalu buatku rindu. Lesung pipit di kedua pipimu yang berisi. Tiap kali kamu tersenyum, ikut menyipitkan dua matamu yang semula sipit menjadi semakin sipit. Kuku-kukumu selalu rapi seolah pagar kerajaan yang saban hari dirawat.

Kali ini kamu membawa sesuatu, sesuatu yang mencurigakan di balik tubuhnya yang semampai. Oh, aku menatap kakinya, kali ini ia memakai kets merah saga, di punggung sepatu itu tali putih terpilin rapi, menciptakan bentuk bulatan dan garis lurus. Aku membayangkan kedua sepatu itu disatukan, “persis sayap kupu-kupu!” gumamku.

***

Sudah tiga hari aku duduk di sini, saat senja bertamu di kota yang mulai mengantongi karbondioksida yang banyak. Aku selalu duduk di sebelah timur taman kota, tempat yang paling sudut, yang seringkali jadi tempat pasangan muda-mudi kere melepas hasrat asmara mereka. Pertama kali menemukan pasangan seperti itu, aku mendengus dan mendamprat mereka dengan kata-kata serapah, aku beranggapan mereka telah menodai tempat ini, tempat kita terakhir kali membahas tentang sebuah legenda yang jarang didengar oleh manusia, tentang hujan dan genangan yang dicipta di ceruk-ceruk permukaan bumi, termasuk di tempat ini, ada ceruk sedang yang selalu setia menjadi tempat genangan singgah.

“Kamu percaya… di sana ada kehidupan layaknya di sini” katamu. Aku menatapnya lekat-lekat, namun lebih tepat aku hanya memperhatikan bibir tipisnya yang bergerak-gerak, mengingatkanku pada seputong rembulan yang pendar.

“Ah, masak? Nggak percaya aku, Na…” timpalku kurang setuju sambil melonggarkan dasi yang sedari pagi mencekikku dengan alas an aturan kantor.

Ia menatapmu, kali ini dengan mata yang benar-benar bulat, hitam dan sendu.

“Suatu saat kamu pasti tahu, kenapa aku percaya ini…” katamu sembari menyodorkan deretan gigi yang putih dan rapi, tak lupa lesung pipitmu ikut muncul. Aku mengangguk beberapa kali, sebenarnya belum mengiyakan, sebenarnya masih mencerna, atau yang lebih tepatnya sebenarnya menghargai keyakinannya. aku lalu duduk berbalik menghadap ke arahmu, memindahkan sebelah kaki, menduduki bangku taman seolah menaiki kuda pacuan,

“Emhh, ini kali ke tiga kita bertemu kan?” ujarku mengalihkan pembicaraan, sementar wajah di depanku menunduk, lantas mengangguk. Pelan. Untuk beberapa saat aku menunggu jawaban yang lebih dari sekedar anggukan, tapi Rahna tidak menjawab, kini ia malah menutup kedua wajah dengan telapak tangan, bebrapa saat kemudian ia menoleh dengan wajah yang digenangi air mata disertai sesengukan yang sesekali. Dalam. menyayat perasaan siapapun yang mendengarnya. Bening yang melandai di pipimu yang berisi, yang kemudian jatuh membasahi rok marun, meninggalkna bulatan kecil di beberapa tempat di sana..

Aku tertegun, segera aku meminta maaf dan menawarkan untuk pulang saja, ia mengangguk. kuat. Aku memintannya meredakan dahulu bening yang masih mengalir itu, ia merespon dengan mengayunkan telapak tangan untuk mengelapnya, pelan, di pipi dan dua kali di sudut matanya yang memerah.

Seperti biasa kamu tak mau diantar, kali ini aku menawarkan sampai empat kali, namun semua kau tolak halus dengan alasan “tidak ingin merepotkan,” terdengar klise tapi sedaya upayaku gagal karena kamu tetap tak bergeming dengan sikapmu, akhirnya seperti dua pertemuan sebelumnya

aku menyerah dan menjejeri langkahnya menuju pintu barat taman kota. segera setelah mengantarnya hingga di ujung jalan, melihatnya hingga menghilang di sebuah tikungan salah satu gang dekat tamam, dan kenyataan pahit yang terus kurasakan saat ini adalah; hari itulah akhir aku bertemu kamu.

***

Ini hari ke lima selepas pertemuan terakhir denganmu, hujan masih memberi tanda meski siang tadi sudah tiba dan membuat sebal rekanku Giny dan Hawa, rencana hang-out untuk merayakan proyek yang ‘gol’, makan siang di resto ternama, gagal. hujan membuat maan siang mereka disertai kerut dan lesu meski di hadapan mereka tersedia potongan rendang, cap cay, soto dan sambal udang gala tersedia.

Mendung masih menggulung, menebal, angin terus gelisah, mendesau, menimbulkan gemersik daun-daun trembesi untuk saling berlaga dan menjatuhkan daun lain yang sudah kecoklatan, juga beberapa yang kekuningan.

Hari ini aku meninggalkan tas kerja di lockerku, tepat jam dua tiga ppuluh dua menit aku memutuskan ke tempat ini, membiarkan pekerjaanku terbengkalai, juga beberapa surat yang mesti ku urus ke kantor pusat kutinggalkan dengan konsekuensi akan kena ceramah banyak dari bos keesokan pagi. Beberapa miss call ku-reject, “telepon-telepon yang memuakkan!” desisku.

“Hari…” seperti sebuah suara terdengar, itu kamu, ya! Ya! Ya! Aku menoleh kanan-kiri, kenal betul pendengaranku pada panggilan itu, suara yang muncul dari arah depanku tadi. Jantung berdegup kencang, sangat kontras dengan gerakanku yang lamban, sangat pelan guna melongok, menjorokkan wajah ke sebuah ceruk trotoar di depanku yang berisi genangan sisa hujan tadi.

“Owhh…!” seruku lantang, spontan.

Sial! Ini tidak seperti yang aku kira. Kenyataannya adalah; Nihil. Tidak ada wajahmu di sana. Aku terpaku

beberapa saat, mengerjap, mengucek, lalu mencoba melihat lagi, hasilnay tetap sama. Ah, Rahna, kukira kamu akan hadir di sini, lewat genangan ini. Hati kian senada dengan mendung.

Aku teringat, Tyas, sahabatku yang kuliah psikologi, “terkadang kita akan mengalami halusinasi yang berlebihan, adiktif, disebabkan kerinduan yag begitu dalam”, aku coba menepis kenyataan, berharap untuk kali ini aku tak salah. Aku tajamkan pandangan, ahh… hanya melihat wajah ini, aku sendiri yang kian menua dengan lipatan halus di beberapa tempat di wajah.

Aku meremas telapak tangan, mengumpat sejadi-jadinya di hati. Sebelum hujan jatuh, aku meninggalkan tempat ini dengan memikul berkarung-karung rindu. Akal mengambil kendali, bergegas aku melangkah menuju kantor, menemui Mira. Ya, sebelum semuanya terlambat.

“Dan ketika kerinduan itu sudah diikhlaskan, maka sisi-sisi imajiner itu akan hilang dengan sendirinya” terngiang ucapan Tyas di lain waktu.

***

Di sebuah tempat, di mana langit berwarna kuning keemasan, di salah satu sudut, di sebuah kamar yang bening, ada sebuah cermin yang terbuat dari air hujan, ada satu sosok yang memunggungi langit dan bercerita sendiri sambil sesengukan.

“Har, maafkan aku, lupa memberitahumu satu hal penting, bahwa kau baru bisa melihatku, bila ada air mata yang jatuh di genangan itu…”

Dalam dokumen Antara Aku Kau Dan Hujan (Halaman 29-35)