• Tidak ada hasil yang ditemukan

nari, di kamarku

Dalam dokumen Antara Aku Kau Dan Hujan (Halaman 127-133)

Kini ia merayapkan kayuh kaki, lamat ia mendekat. Udara seakan bersahabat dengannya, terlihat semilirnya membuatku lekas membenamkan wajah ke bantal. Sebentar saja aku larut dalam ramuannya. Entah apa yang kuimpikan, sesuatu yang membingungkanku dan tentu saja akan membingungkanmu bila aku menjelaskannya sekarang.

Ah, begini saja. Mau dirimu ikut bersamaku? Iya, di kamarku ini, mau? Sebentar, kamu jangan berpikir aneh-aneh. Aku hanya mengjak sebentar saja, merasakan mimpi yang entah kenapa harus aku yang mengalaminya. Jika engkau memahamiku, betapa sulit keadaan aku saat ini.

Jadi, bisakah engkau membantuku? Nah, kalau setuju marilah ikuti aku. Aku menggamit tanganmu yang putih. Seputih awan.

Kamar itu terletak di lantai tiga pada rumah tua di pojok desa kita. Rumah yang penuh dengan sejarah. Betapa tidak! Di sinilah pernah tinggal orang hebat yang namanya tidak pernah terdengar atau sekadar tercatat dalam tinta emas perjuangan kemerdekaan, tapi itulah yang dituai dari sebuah keikhlasan. Nama yang tersapu oleh penguasa berjiwa materialis dan oportunitis.

Hmm, namanya akan tetap aku simpan, karena masih ada teka-teki atas dirinya dan karena memang aku masih ingin mengejanya lebih jauh. Nanti suatu waktu engkau akan aku beritahu.

Baiklah, kita sudah tiba di kamarku. Kawan, berbaringlah di kasurku, biarlah aku di sini, merebah diri pada dipan kayu berlapis tikar rotan. Tak mengapa kawan, semoga engkau bergegas merasakan mimpi itu, mimpi yang sama aku rasakan. Ah! Betapa sangat inginnya aku akan hal itu.

Derap langkah itu, seret ayunannya dan aroma wewangi khas itu datang. Ya! Itu peramu mimpi, ”Dia datang!” bisikanku samar. Tapi sebentar, lihatlah apa yang dibawanya itu, mengapa lain dengan botol-botol yang kemarin?

Kenapa saat ini cairan itu berubah menjadi merah pekat? ada prasangka mengudara, tapi masih kusimpan rapi hingga jejak itu merapat mendekatiku. Ah ya! Kenapa ia mendekatiku? Mengapa tidak dirimu kawan? Tanya menyeruak memenuhi langit-langit pikiranku.

Seperti dalam rahim. Ini pekat. Tak ada cahaya, walau kucoba memicingkan mata, masih juga gelap menyerta. Namun, perlahan cahaya menyapa dan hei! Lihatlah itu! Wajah yang bercahaya, bening, rapi. Tapi maaf, mengapa masih begitu abstrak untuk aku katakan di sini. Entahlah, sulit memang dilukiskan dalam kata-kata.

Begini saja kawan, jika esok pagi engkau masih berdetak, maka lihatlah semburat mega pagi nanti. Benar, tepat ketika hanya secercah yang menyingsing pekat, seperti itulah cahaya si peramu mimpi ini. Bukankah susah engkau gambarkan? Benar kan?

Sosok itu terus melangkah dan menempelkan bibir botolnya ke pucuk tangannya. Air itu terpercik ke tubuhku. Aku ambruk! seketika aku memulai lagi perjalanan mimpi yang kemarin. Tidak! Ini bukan mimpi yang kemarin. Ini berbeda, sangat berbeda!

Astaga! Terdampar di manakah aku? Kini aku duduk di dalam kafetaria yang kurasa tak layak disebut begitu. Bayangkanlah, di sini berserak sampah membusuk, remah-remah makanan sisa pun masih jelas terlihat dari kacamata minusku ini.

Apalagi di pojok sana, lihatlah! Tikus got pun ikut memeriahkan malam ini. Hmm... Tapi dengarlah alunan jazz mengalir di gendang telinga. Entah kenapa musik itu menguapkan perasaan jijik pengunjung kafe ini, mereka terlihat lahap, menikmati sekali. Tapi bagi aku? Ini menyesakkan!

Tempat apa ini? Aku masih bertanya-tanya dan belum bisa menjelaskannya padamu. Hei kawan! Kau belum beranjak

pergi kan? Baguslah, walau tak besertaku setidaknya engkau mendengar kisahku ini, sebentar lagi.

Sosok yang pernah merasuk dalam mimpiku selama ini kembali muncul, sosok samar itu kini dengan wujud manusia. Dalam hatiku bergumul tanya ”Benarkah peramu mimpi itu manusia juga?” tanyaku terus mengalir dan terus menabung gelisah.

Lelaki itu, ia duduk di pojok kanan kafe. Sebentar kemudian asap putih menyelimutinya. Rokok yang disulutnya lekas menyebar tatkala sebuah kipas angin tua memutar. Kencang.

Lelaki itu, ia memesan minuman. Tangannya memainkan gelas yang tinggal setengah isi. Sepertinya ia gelisah, mungkin ia menanti seseorang, atau jangan-jangan kekasihnya?

Namun entah kenapa tiba-tiba prasangka tertuang ke tubuhku. Jangan-jangan ia ingin merencanakan rencana buruk, tapi pada siapa? ”Ah!” Aku menepuk jidatku seraya membelalakkan mata dan serta-merta memosisikan diri untuk siaga. Aku sadar kini siapa yang ia tunggu.

Lelaki itu menyengir ke arahku. Lama. Manis tapi sedingin es. Wajah samarnya tersapu sinar lampu bohlam, ada gurat di pipinya. Oi mak! Matanya meneteskan darah. Aneh, sungguh aneh. Semua pengunjung tak ada peduli. Ah! Bisa gila aku!

Ingin aku menanyakan pada salah satu tamu tentang siapa sosok itu, tapi selalu kuurungkan niat melihat wajah yang tak bersahabat dari mereka. Aku masih gelisah, jujur penasaran masih menggelayut, walau dalam hati meyakini memang dialah peramu mimpi itu. Ciumlah aromanya yang masih kurasa, ia sama dengan yang kurasa tatkala sosok itu beberapa kali menyambangiku. Sosok yang kerap menuangkan mimpi tak berkesudahan, ia si peramu mimpi itu!

Kesabaranku habis. Segera aku beringsut mengayuhkan langkah menemuinya dan hei! Dalam beberapa langkah

tiba-tiba ada sesuatu, kenapa ini? Asap putih raksasa-kuyakin bukan asap rokoknya- menyelubungiku dan entah kenapa tiba-tiba sebuah jendela perak tersuguh di hadapku. Angin mendorong tubuhku. Aku terpental masuk ke labirin yang serba putih. Kemana aku? Entahlah, rupanya mimpi ini masih berlanjut.

Dalam dokumen Antara Aku Kau Dan Hujan (Halaman 127-133)