Aku dan Lelaki Sore Itu
Aku tahu. Sedari awal lelaki yang di depanku ini berbohong. Terlihat sekali gelagatnya. Oh, tapi demi tatap sendu itu, melihat uban yang menjamur di kepalanya, aku tak tega. Iba tiba-tiba menyergap, masuk menyusup ke rongga dada.
Padahal biasanya aku hanya mengibaskan tangan pertanda penolakan. Terlalu banyak tipu daya di kota besar seperti ini. Terlalu banyak kepura-puraan yang membuatku harus waspada.
Melihatnya sekilas membuatku teringat ayah yang di luar kota. Ada getar yang menjalari nadi. Ah! Kali ini tak apalah aku berbaik hati, gumamku. Lekas-lekas kuajak lelaki itu menyeberangi jalan menuju satu ruko berarsitekstur rumah gadang.
“Sreekk..!” kutarik kursi plastik hijau marmer di depan. Lelaki itu sudah lebih dulu duduk. Tangannya dilipat. Matanya jelalatan, wajahnya berbias cerah. Mata kami bertubrukan. Aku mengangguk.
“Mau pesen pakai apa, Pak?” tanyaku sebelum memanggil pelayan.
“Apa aja, Nak. Yang murah-murah aja,” jawabnya dengan senyum, seolah berterimakasih yang sangat besar. Kutatap lagi lelaki itu. Oh, Pak, hanya ini yang bisa kubantu, bisik hatiku.
“Bang!” panggilku pada pelayan dan segera memesan dua porsi nasi dengan lauk lele goreng, sambal hati dan sayurnya.
Aku menekuri meja. Wajahku berhadapan dengan lelaki itu. Ah! Pak Tua,
“Dari pagi tadi Nak, Bapak belum makan,” ujarnya bergetar, aku terdiam, padahal baru saja aku menghabiskan dua potong bistik ayam yang kubeli di depan kampusku. Kutatap matanya, ada keruh di sana. Aku menyabar-nyabarkan hati agar jangan gerimis melihat ini.
Pesanan sampai, sebelum pelayan beranjak dari meja, kupesankan dua porsi nasi putih lagi untuk tambahan.
Lahap sekali. Bahkan belum habis setengah nasi di piringku, lelaki itu sudah menambah. Ia menatapku, segan, mungkin. Aku mengangguk, mengiyakan, jangan sungkan-sungkan Pak, batinku.
Dalam tiap suapan nasi aku masih berdiam, menekuri, betapapun keadaanku saat ini, aku masih lebih
beruntung ketimbang lelaki itu. Hufh! Sebuah tarikan panjang kuhela, lelaki itu melirik, aku tersenyum, melegakannya,
“Anak sudah kerja?” tanyanya ditengah prosesi makan, “Nyambi Pak, pagi kerja siang kuliah…” jawabku sesegeranya
“Kerja di mana, Nak?” “Ngajar, Pak,” sahutku
“Wah, pasti gajinya besar ya… ada tiga juta?” Tanya Bapak itu kalem,
Heks! Aku hampir tersendak. Tiga juta? Gaji guru di mana itu? Batinku, aku mesam-mesem dan menjawab,
“Nggak sampai segitu, Pak,” balasku
“Jujur lho, sedari tadi bapak mengamati Anak, Bapak lihat, Anak orangnya sosialnya tinggi, makanya Bapak berani minta tolong, hmmm… Siapa tadi namamu?”
“Lilik, Pak,” sahutku
“Iya, Lilik, tapi maaf ya Lik, kamu itu sebenarnya nggak cocok jadi guru,” unggah lelaki itu.
Druk! Hampir aku mendelik, tapi kutahan. Sial! Sungut hatiku. Kenapa ada orang seperti ini. Ah! biar bagaimanapun, sekarang aku sudah mengajar dan aku menikmati itu, batinku.
Aku mencoba mengalihkan percakapan kami, “Jadi Bapak sendirian ke sini?” selidikku
“Iya, kemarin bapak dikabari kawan, ada lowongan kerja jaga malam di…” katanya sambil menyebutkan satu nama gudang besar di jalan H.M.Yamin ini, aku mengangguk mengiyakan, meski tak tahu persis tempatnya.
“Terus…” tanyaku penasaran.
“Sayangnya tempatnya sudah ditempati orang lain,” ujarnya lirih, sedih jelas tergurat di wajahnya yang pucat.
Hening. Hanya suara kipas angin yang seperti berdengung-dengung.
“Sabar ya, Pak, belum rezeki sepertinya…” hiburku seraya mengajaknya menyambung makan kami. Lelaki itu hanya mengangguk. Aku mencoba tersenyum tapi gagal, hanya bisa mengangkat separuh bibir menyiku ke kanan.
“Ya, walau gitu, besok-besok akan Bapak coba lagi. Oya,Lilik anak keberapa?” tanya lelaki tua itu
“Saya anak ke empat, Pak. Nomor 2 dari belakang,” balasku mencoba merenyah, setidaknya mencoba mengusir angin gusarku.
“Bapak mau minum teh manis?” tawarku saat melihat piringnya sudah licin, sementara matanya masih berkilat-kilat seolah masih lapar. Lelaki itu diam. Mungkin sungkan. Aku memutuskan memesan dua gelas besar teh manis hangat. Ini tentu berimbas, kami akan lebih lama lagi di rumah makan ini gumamku.
“Kok ngerepotin gitu, Nak?” tuturnya halus, halus sekali. “Orangtua saya mengajari saya buat bantu siapa saja selagi mampu, anggap saja saya sedang mengamalkan amanah orang tua saya, Pak,” ujarku menenangkan pada lelaki itu untuk tidak perlu sungkan-sungkan.
Sambil menyeruput teh manis obrolan terus mengalir, seirama dengan mengalirnya orang-orang yang menyinggahi rumah makan ini, sekilas kulihat tumpukan dus kotak nasi. Kubaca: Rumah makan Restu Bunda. seulas senyumku tersuguh mengagumi kata “Restu Bunda”
“Jadi Bapak tinggal sendiri?” sambungku prihatin setelah mengetahui darinya bahwa ia sebatang kara.
“Iya, Nak, Bapak sekarang tinggal di…” lelaki itu menyebutkan salah satu kawasan Medan Diski, aku mengangguk, mengiyakan meski tak tahu menahu tentang tempat itu.
“Anak-anak Bapak?” tanyaku kali ini berputar pada keluarganya. Sesaat matanya berbinar, aku tersenyum, lelaki itu sekarang tersulut semangatnya, meski sedikit.
“Anak sudah kerja semua, satu di … dan satu lagi di…” ujarnya menyebutan dua pulau besar di seberang kota Medan. Aku mengangguk.
“Istri Bapak masih…”
“Kami sudah cerai,” potong lelaki itu seraya menuduk, Matanya menerawang, sayu. “Dia nggak tahan hidup denganku yang masih luntang-lantung,” parau suaranya merambat ke gendang telingaku. Menggeletarkan.
Aku menelan ludah. Sebegini pahitkah hidup? Ketidakadilan seolah berada dekat dengan penciuman hidungku, konyol sekali negeri ini! Sosok tua seperti di depanku ini, seharusnya berada di lingkaran keluarganya yang hangat, diperhatikan. Bukan seperti ini, terbuang dan mencari sendiri sekadar menyambung sisa hidupnya. Miris, miris sekali! Kuremas celana flanelku, kusut.
Ashar dalam gerimis. Azan sudah bersahut-sahut. Lelaki tadi sudah kunaikkan ke sebuah angkutan menuju Diski, hanya selembar dua puluh ribu yang bisa berpindah ke tangannya. Selepas membayar makan tadi, uang di saku milikku tinggal beberapa ribuan.
Banjir menggenangi aspal. Aku seolah bisa berkaca melihat tubuhku yang basah kuyup diguyur hujan. Lekas-lekas aku menyebrangi jalan. Selepas wudhu langsung kuamankan ransel yang memuat laptop dan kamera tripod di dekat tiang penyangga mesjid.
“Allahu akbar!” imam mulai membaca Al fatihah. Khusyuk hingga tahiyatul akhir.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Salam terakhir. Entah mengapa seketika bulu kudukku meremang. Aku menoleh, terperanjat! Hampir saja aku
melompat dan berteriak saat mengenali wajah itu, wajah yang seharusnya sudah pulang ke satu tempat di kota ini. Ada teduh di wajahnya. Aku menatap lelaki itu tak percaya. Lelaki itu kini bersorban dan memakai jubah putih, ia tersenyum, hanya tersenyum, dan entah bagaimana, tiba-tiba dengan perlahan sosoknya menghilang dalam kepulan kabut putih. Putih sekali.
Aku menganga tak percaya dengan apa yang kulihat. Kususur sekeliling, semua sepertinya tak melihat sosok itu. Bergumul tanya dalam hati. Berarti hanya aku yang melihatnya? Getar bulu kudukku makin meremang.