• Tidak ada hasil yang ditemukan

hirup, turut dalam mimpi yang kau raut

Dalam dokumen Antara Aku Kau Dan Hujan (Halaman 67-73)

Ti, sunyi siang ini mengantarku untuk menatapmu. Ya, titik-titik gerimis mengantarku menujumu yang kini berpayung sendu. Ah, mengapa harus di saat begini kita bertemu. Saat lara menyemat di dirimu. Ketika gerimis hadir melandai di

cembung pipimu yang kuning langsat. Ingin kuseka bening itu, tapi ah, aku riskan.

Ti, sedari tadi kulihat kamu di sini. Kau membawa selembar kain berwarna biru laut. Sapu tangan yang pernah kuberikan dulu kah? Mengapa tak kau gunakan menyusut alir air yang mengalir deras dari matamu.

Ti, maaf, aku tak bisa melihatmu begini. Engkau tahu? Aku tak bisa melihat wanita menangis di dekatku, itu kelemahanku. Apa inginmu kini? Katakanlah, kiranya aku bisa bantu surutkan masalahmu.

Ti, mengapa engkau diam saja? Bukankah seperti yang kau ujar dulu, air mata tak selesaikan masalah. Ya, sekalipun lelaki, aku pun kerap mengadu lara dalam tangis. Ya, air mata memang dicipta sebagai peraduan rasa yang ada pada tiap manusia, kau pun juga bukan?

Ti, Engkau telah mengenalku. Meski sekejap memang. Rasanya kita bisa saling menjaga rahasia. Percayalah, apa aduanmu nanti tak kan pecah di mulutku. Tolonglah, aku tak bisa melihatmu begini terus.

Ti, mengertilah. Sejak jam tiga tadi kita hanya mengapungkan diam. Hanya isak dan derak nafasmu yang sesak naik turun. Aku tak mengerti lagi akan berbuat apa, aku bingung. Bisa kau beritahu aku harus apa?

Ti, jawablah tanyaku, engkau kenapa? Bantulah aku, lihat! Kini semua penjuru mata di tempat ini menatapku dengan tatapan menghakimi. Mereka mengira aku yang membuatmu menangis sebegini lama, sebegini dalam. Ah, manusia slalu saja melihat dari satu sisi. Apa karena aku memang salah? Ah, rasanya mencintaimu dan memendamnya hingga kini bukanlah sebuah kesalahan. Jadi, bisakah berhenti dan tumpahan padaku semuanya? Ayolah.

Ti, Senang melihatmu mau berdiri dengan wajahmu tegak. Meski dengan kantung mata yang hitam dan sembab, ah, yakinku sedari tadi pagi matamu basah dan mengalir landai di kedua sisi pipimu yang memerah. Kau menatap kearah langit sendu. Bibirmu yang merah muda pucat berkali-kali kau kulum. Kau menunduk lagi. Kau diam, kita diam.

Ti, maaf jika aku memegang bahumu. Aku harus menguatkanmu, seberapapun rapuhnya dirimu, seberapapun terpuruknya dirimu. Aku tahu, tiap orang akan menemu masalah dalam hidupnya, toh, kita faham, itulah pembeda yang hidup dengan yang telah mati bukan?

Ti, dengarlah aku. Segelap apapun waktu yang kau jalani. Setinggi apapun tanjakan hidup yang kau jejaki. Tumpahkan saja padaku, aku rela menjadi peraduanmu.

Ti, kau tentu bingung mengapa aku begitu perhatikanmu? Ah, apa kau lupa? Pada malam-malam yang pernah kita isi dengan pesan-pesan pendek. Ya, dulu, saat kau belum berlabuh pada dermagamu. Kau bilang pesanku terlalu romantis, padahal, balasanmu yang kau tulis kerap menginspirasiku untuk menulis puluhan puisi di sini. Kata-katamu bak amunisi, lesatkan imajinasiku kau inspirasiku dalam melahirkan sejumlah buku. Maka itu aku peduli padamu.

Ti, kalau boleh aku jujur. Dulu, aku lelah menunggumu. Berkali engkau berganti dermaga, pun tak sekali aku berpaling, mungkin konyol bagiku yang terlalu memilihmu. Membiarkan diri terbenam cemburu saat melihatmu dengan yang lain. Menolak tawar cinta dari sejumlah jiwa yang secara terang merapatkan kapalnya. Aku setia padamu, bahkan di saat ini, sekalipun kau tak menyadari itu.

Ti, engkau pernah berkisah tentang kesederhanaan yang kau ingini. Kebahagiaan yang hakiki. Meski kuyakini itu hanya basa-basi. Oooh, nyatanya kau mengagungkan kemewahan hidup. Bahkan di tempat seperti ini pun engkau berdandan ala ibu pejabat, padahal... Ah! maaf, aku ngelantur dan malah menceritakan burukmu, maaf.

Ti, mengapa engkau melepas penutup kepalamu itu? Apa yang kau lakukan? Seumur hidupku baru kali ini kulihat kau begini, rambut ikal sebahumu tergerai uapkan aroma pandan melati. Kau tak seharusnya sebegini putus asa, Mengertilah, tuhan punya rencana padamu.

Ti, telah cukup lama kita diam dalam keheningan. Kebekuan kata yang kau eram dalam mulutmu masih juga kau jaga. Hari sudah mulai gelap, bentar lagi senja akan ditelan malam. Kau masih ingin di sini? Tempat ini semakin sepi, kau tak takut?

Ti, bukannya aku ingin mengusirmu dari tempat ini, tapi mengertilah, berhenti di sini dan terbalut lara bukanlah pilihan yang tepat. Kau pintar, kau bisa mencerna tiap pelajaran yang terselip dari masalah-masalahmu. Tak hanya itu, kau cantik.

Ti, kulihat tanganmu mengepal, kepalamu mengangguk. Engkau mendengarkan ujarku rupanya, ah, syukurlah, aku senang lihat kilat semangat di matamu. Sedikit, tapi terlihat olehku, ya!

Ti, bangkitlah, berjalanlah ke arah cahaya mimpimu. Waktumu terlalu indah untuk kau habiskan larut dalam duku. Percayalah, dimanapun langit menyapamu. Yakini dengan sungguh-sungguh, doaku tergantung di sana, doa yang larut dalam arakan awan dan hujan, doa yang ikut serta pada langkah yang kau arah. Percayalah, aku ada di tiap waktumu.

Ti, tersenyumlah. Karena senyumanmulah yang kerap mengkanvas halaman-halaman putih di notes dan layar komputerku. Tersenyumlah seperti saat kau berbahagia melihatku berada di kerumunan desak orang berebut tandatangan di bukuku. Tersenyumlah sewaktu kau membaca tulisanku, tentang aku yang menulis diriku, dirimu di dalamnya, tentang kita. Tersenyumlah, ingatlah hal-hal yang menyenangkan saat lalu itu.

Ti, di sini basah. Dingin. Tanahnya masih merah dengan uap aroma bunga pandan dan melati. Ya, sedari tadi kita memang berrada di sini, di depan pusara lelakimu. Aku turut berduka. Ia kemarin tewas tertembak aparat saat merampok seseorang yang tak berdosa. Ia salah, tapi kesalahan yang fatal juga ia lakukan, meninggalkanmu yang sedang mengandung.

Ti, kini lelakimu berbaring dalam tanah bersebelahan dengan orang yang dibunuhnya. Ah, dunia orang mati ternyata lebih damai dan penuh keakraban, mungkin juga lebih bahagia dibanding duniamu yang katanya lebih hidup.

Ti, lihatlah, di sini bersanding jasad pembunuh dan yang terbunuh, koruptor dengan yang dikorupsi, pemimpin dengan rakyat, kiai dengan umat, juragan dengan pembantunya. Oh, semua tak seperti di duniamu kan?

Ti, kau tentu belum tahu, atau mungkin terlalu sibuk berurusan dengan aparat. Tak apalah bila harus aku yang memberitahukan ini padamu, tentang lelaki yang dirampok lelakimu kemarin. Sungguh benarlah adanya, lelaki itu adalah aku.

Dalam dokumen Antara Aku Kau Dan Hujan (Halaman 67-73)