Pendidikan Dari Sudut Pandang Islam
MAHASISWA Pendahuluan
A. Pendidikan Karakter
8. Busana Wanita
Perintah untuk menutup aurat adalah datangnya dari Allah SWT dalam al-Qur’an. Allah berfirman yang artinya: ”Hai Nabi,
katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, ’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu....” (
Menurut Imam Qurthubi dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para wanita biasa melakukan buang air besar di padang terbuka (sebelum dikenalnya jamban atau WC yang tertutup seperti sekarang ini). Di antara mereka itu dapat dibedakan antara budak dan wanita merdeka. Perbedaan yang sangat menyolok adalah wanita merdeka selalu memakai hijab. Sehingga para pemuda jahiliah tidak berani mengganggu wanita meredeka ini, karena kalau mereka diganggu pasti mereka berteriak minta tolong sehingga para pemuda takut dan lari. Kemudian peristiwa ini dilaporkan kepada Nabi SAW. Hingga turunlah ayat ini.74
Oleh sebab itu bagi wanita yang mempertontonkan auratnya, kecantikannya dan kemolekan tubuhnya di depan orang ramai, hal ini lebih berpotensi untuk di ganggu. Karena dengan memakai pakaian demikian, ia telah dengan sengaja membangkitkan hawa nafsu seksual yang terpendam. Sebaliknya wanita beriman adalah wanita yang berhijab, yang senantiasa menyembunyikan kecantikannya dan menyembunyikan perhiasannya.
Tidak ada yang kelihatan padanya kecuali dua telapak tangannya dan wajahnya. Namun ada dua pendapat tentang aurat wanita, pertama wanita boleh menampakkan hanya dua telapak tangan dan wajah, dan menurut pendapat lainnya bahwa yang boleh nampak pada wanita adalah hanya dua matanya saja. 75 Ayat di atas menggambarkan bagaimana sebenarnya perbedaan antara wanita yang beriman dan wanita musyrik (wanita dari kalangan budak) yang tidak menghiraukan auratnya. Demikian juga kalau kita melihat sekarang yang terjadi di mana-mana ada tiga macam wanita Islam dalam hal berpakaian yaitu: pertama, wanita muslimah yang memakai hijab seperti tuntuan syar’i, kedua, wanita muslimah yang hanya menutup aurat tetapi seperti bertelanjang karena pakaian
74 Tafsir Al-Qurthubi, (8/5325).
75 Abdul Hamid Al-Bilaly, Saudariku, Apa yang Menhalangimu untuk Berhijab?, Penerjemah Ainul Haris, (Ujung Pandang, Al-Haramain Islamic Foundation Perwakilan Indonesia, 1998), hal. 17-18
ketat, transparan dan tidak memenuhi syarat syar’i, ketiga, wanita muslimah tetapi tidak menutup aurat sama sekali (mereka juga mengakui dirinya muslimah). Semua itu adalah sangat tergantung pada sejauh mana mereka memahami ajaran Islam tentang aurat dan juga bagaimana konsekwensinya jika seorang wanita beriman menampakkan auratnya.
Ada bebera anjuran terhadap wanita dalam hal berpakaian yaitu:
1. Harus menutup aurat, yaitu menyembunyikan seluruh tubuh kecuali muka dan tangan.
2. Pakaian tidak boleh terlalu tipis atau transparan sehingga menampakkan tubuh.
3. Pakaian harus longgar dan tidak boleh ketat. 4. Tidak boleh meniru pakaian orang kafir.
5. Tidak boleh memakai pakaian seperti kaum lelaki.
6. Harus menghindari pakaian yang menarik perhatian orang lain.
7. Tidak menggunakan wangi-wangian di luar rumah.76
Ada beberapa hadis tentang berpakaian: Rasulullah SAW bersabda:
”Hai Asma sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah
cukup umur (baligh) tidak boleh dilihat daripadanya kecuali ini dan ini saja. Sambil Rasulullah SAW menunjukkan muka dan kedua belah tangannya.” (H.R. Abu Daud dan Thabrany).
Dalam hadis lain nabi SAW bersabda:
”Dua golongan termasuk penghuni neraka yang belum pernah aku lihat mereka yaitu: mereka yang berpakaian tetapi telanjang,
mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mendapatkan wanginya syurga, dan tidak akan mencium wanginya syurga dari kejauhan demikian, demikian” (H. R. Muslim). Demikian lagi dalam hadis yang lain bersabda Rasulullah SAW: ” dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah SAW mengutuk kaum lelaki yang menyerupai kaum wanita, dan kaum wanita yang menyerupai kaum lelaki”.
(H.R. Abu Daud).
Salah satu perbedaan antara Muslim dan non Muslim adalah termasuklah dalam berpakaian. Kalau Allah dan Rasul sudah mengasaskan adanya perbedaan dalam berpakaian antara lelaki dan wanita, antara wanita Islam dan wanita musyrik, dan antara lelaki Muslim dan lelaki non-Muslim, untuk apa lagi perlu didiskusikan? Bukankah kita yang namanya orang Aceh sudah menjadi Muslim mulai dari endatu kita? Bukankah kita mayoritas umat Islam ini adalah muslim? Kalau ya, apa makna enggan menjalankan syari’at Islam khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam yang sudah mendapat pengiktirafan Allah dan juga dibolehkan oleh undang-undang? Tulisan ini bisa memicu para pemimpin Aceh agar sumpah yang telah mereka tanda tangani mudah-mudahan tidak dilanggar dan tidak munafik terhadap umat Islam Aceh. Demikian pula tulisan ini agar dapat membangkitkan semangat dan ghairah para pemimpin bangsa dan masyarakat agar berkata benar walau itu pahit ujung-ujungnya, berlaku adillah walaupun mendapat kritikan tajam, berlaku jujurlah walaupun ada pihak-pihak yang tidak menyenangi anda.
Perlu dicamkan bahwa Islam sebuah pandangan hidup yang tidak hanya memusatkan perhatian pada masalah-masalah spiritual saja, akan tetapi hampir mencakup seluruh kehidupan bangsa dan negara. Akhlak yang ada dalam Islam-pun bukan hanya tertumpu untuk ayah dan ibu, guru, pemimpin, ulama akan tetapi akhlak berbangsa, bernegara dan akhlak berpakaian-pun diatur sedemikian rupa. Justru itu kalau memang sudah terlanjur lahir dalam kalangan Islam maka sisihkan waktu sedikit lagi untuk mempelajari Islam
secara kaffah agar tidak menjadi penghalang dalam menjalankan syari’at Islam.
Dalam al-Qur’an Allah berfirman: Artinya:
”Hai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada waktu memasuki setiap mesjid; makan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Q-S.
Al-’Araf: 310.
Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya:
”Hai anak Adam! Kami telah menyediakan pakaian bagi
kamu untuk menutup aurat dan sebagai perhiasan kamu. Tetapi pakaian berupa ketakwaan itulah yang lebih baik”. (Q.S. al-’Araf:
26).
Rasulullah SAW bersabda, artinya:
”Para wanita yang berpakaian tetapi telanjang,
berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang berberlenggak-lenggok, mereka tidak akan masuk Sorga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau Sorga dapat dicium dari jarak perjalanan begini dan begitu.”
(H.R. Muslim).
Maknanya bahwa bagi wanita yang membuka betisnya atau bagian tubuh lainnya dan jalannya berlenggak lenggok serta rambutnya dibuat tinggi seperti punuk unta, maka wanita tersebut tidak akan dimasukkan ke dalam Sorga oleh Allah. 77
Justru itu wahai kaum Muslimin dan Muslimat semuanya jagalah tubuhmu agar tidak tersentuh oleh api neraka dengan jalan menutupi semua anggota badanmu yang diharamkan Allah. Janganlah menampakkan auratmu seperti wanita-wanita jahiliyah dan pemuda-pemuda jahiliyah baik itu jahiliyah kuno ataupun jahiliyah moderen.
77 Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Mengenal Lebih Dekat Pribadi Nabi SAW., hal. 149-150
Membuka aurat adalah mengundang setan untuk berbuat zina, menjerumuskan muda mudi untuk melakukan sesuatu yang diharamkan Allah dan menjadikan iblis sebagai pemandunya dalam berpakaian. Hindarilah busana atau pakaian yang menyerupai kaum kafir dan kaum musyrikin yang sekarang terdapat dimana-mana. Selamatkan dirimu, jiwamu dan seluruh anggota badanmu dari jilatan api neraka yang maha dahsyat.
Bertawadhu’lah dalam berpakaian sehingga anda benar-benar menjadi manusia yang memperhambakan diri kepada Allah lewat berpakaian. Sebagai contoh, pada tanggal 26 Desember 2004 terjadilah gempa bumi dan tsunami Aceh yang menggemparkan dunia dan mayat-mayat bertebaran di pesisir Aceh sejak dari Kabupaten Bireun hingga ke Aceh Singkil. Namun diantara mayat-mayat tersebut adalah kaum lelaki dan perempuan. Kejadian yang paling aneh adalah diantara ratusan ribu manusia yang meninggal dunia, hanya sedikit sekali wanita-wanita beriman dan lelaki beriman yang tubuhnya masih utuh walau sudah lama belum dikubur.
Hanya ada beberapa wanita yang masih utuh dalam jilbabnya atau masih dalam pakaian shalatnya, mungkin mereka baru melakukan shalat dhuha. Yang demikian itu adalah hanya sebagain kecil saja wanita di antara ribuan yang mati. Kesimpulannya adalah karena mereka tetap teguh menjaga auratnya, maka Allah berhak pula menjaga tubuhnya agar tidak terbuka auratnya pada kha layak ramai, Allah juga memelihara tubuh mereka dari kebusukan. Demikianlah hikmahnya yang Allah perlihatkan kepada hamba-Nya di dunia ini dan yakinlah bahwa di akhirat mereka sudah pasti berada dalam Sorga penuh kenikmatan.
1.13 Kurikulum Pendidikan Islam