• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTI PENDIDIKAN AKIDAH DAN AKHLAK

Dalam dokumen Pendidikan Karakter Bangsa (Halaman 144-148)

Pendidikan Moral

F. Sifat Amanah Rasulullah SAW

2.4 INTI PENDIDIKAN AKIDAH DAN AKHLAK

Sesungguhnya inti pendidikan itu adalah perobahan. Namun perobahan yang dimaksudkan dalam pendidikan kita adalah perobahan ke arah yang positif dan lebih baik daripada yang pernah kita alami sebelumnya. Karena itu setiap institusi/lembaga pendidikan harus mampu menciptakan perubahan terhadap hasil lulusan dari lembaga tersebut khususnya perubahan yang bermakna.

Untuk memahami makna pendidikan, marilah kita kutip sebuah pernyataan Abu Hanifah tentang pendidikan. “Pendidikan bermakna pemahaman tentang penyucian jiwa: dan belajar suatu ilmu tanpa mengamalkannya, maka ianya sama sekali tidak berguna. Oleh karena itu seseorang harus mengetahui bagaimana membedakan antara yang baik dan yang buruk apakah untuk kepentingan dunia ataupun kepentingan akhirat, dan harus memilih jalan yang benar dan berakhlak yang bagus

sehingga tidak salah arah dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Kalau manusia salah memilih jalan, maka azab Allah akan menimpanya.” 127 Inilah inti pendidikan yang harus dipertimbangkan oleh setiap pendidik. Dengan wujudnya sebuah perpaduan antara pendidik, orang tua, masyarakat luas dan pemerintah, maka hasil didikan dari sebuah lembaga pendidikan akan terlihat dampaknya dalam masyarakat.

Masyarakat senantiasa menanti-nantikan orang-orang berilmu yang berbakti terhadap mereka dan sekaligus dapat membawa perubahan yang hakiki dalam masyarakat. Artinya perubahan dari kebodohan menjadi kecerdasan atau kecemerlangan, perubahan dari kebrutalan menjadi kelembutan, perubahan dari miskin ilmu menjadi kaya ilmu, dan perubahan dari kemalasan menjadi orang-orang yang rajin dan aktif dalam meniti kehidupan ini.

Pendidikan adalah proses dan aktivitas yang tujuannya adalah untuk melahirkan perubahan yang diinginkan dalam diri seseorang.128 Ia juga merupakan proses memelihara atau menjaga sifat-sifat bawaan anak sehingga dapat menyesuaikan dengan bakat mereka dan berkembang dengan baik sesuai dengan tingkat kematangannya.129 Proses yang dimaksudkan dalam pendidikan adalah proses yang terus menerus untuk menjaga agar jasmani dan rohani manusia tetap sempurna suapaya manusia dapat memakanai nilai-nilai kehidupan yang lebih baik.130 Namun sebahagian para pakar pendidikan Islam memberikan makna pendidikan sebagai proses pelaksanaan falsafah pendidikan dengan tujuan pembinaan insan secara sempurna.131 Pembinaan insan berdasarkan pada

127 Lihat Mansoor A. Quraish 1983). Some Aspects of Muslim Education. Lahore: Universal Books, hal. 3

128 Atan Long.(1982). Psikologi Pendidikan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Hlm. 25

129 Mohd Fadzil . (1967). Al-Jamalie Tarbiyah al-Insan al-Jadid. Syarikat Tunisiyah Li al-Tauzi’. Tunis. Hlm. 62

130 Lihat Zawawi Haji Ahmad. (1984). Pendidikan Islam: Kaedah dan Teknik Pengajaran. Kuala Lumpur: International Book Service. Hlm. 1

al-nilai-nilai Islam sehingga dapat menjamin keberhasilan pendidikan dalam rangka membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia dan memiliki aqidah yang benar.

Jika pendidikan Islam tidak mampu meningkatkan kualitas aqidah dan akhlak murid, bermakna lembaga pendidikan tersebut gagal membuat perubahan ke arah yang lebih baik dan berkualitas. Tidak terlalu berlebihan kalau dibilang bahwa intisari pendidikan Islam adalah terlihat pada kualitas akhlak seseorang. Inilah tolok ukur keberhasilan pendidikan Islam, jika ini tidak nampak dalam kehidupan lulusan sebuah lembaga pendidikan atau lembaga pendidikan Islam, maka sirnalah harapan masyarakat terutama sekali keluarga.

Kita bisa melihat kebelakang pada masa awal Islam bagaimana Rasulullah saw mendidik para muallaf atau para shabatnya yang baru bergabung ke dalam barisan Islam. Mereka tidak begitu lama menjadi muslim tetapi langsung bertugas menjadi pendakwah-pendakwah untuk menyebarluaskan risalah Islam kepada penduduk Mekkah walaupun masih sangat dangkal ilmunya dan sangat terbatas geraknya. Namun mereka sangat aktif dan berani melakukan penyebaran agama Islam walaupun beresiko tinggi.

Pendidikan Rasulullah saw adalah sangat menekankan pentingnya menebar kasih sayang diantara sesama dan keikhlasan sehingga semua kaum muslimin walau dari segi kuantitas kalah dibandingkan kaum musyrikin, tetapi semangat jihad tidak pernah padam dalam dada mereka. Rasulullah saw mempersiapkan para pengikutnya sesuai dengan kebutuhan zaman. Banyak jenderal sejati yang yang benar-benar menjalankan jihad tanpa harus menyerah sebelum mati.

Semua ini karena mereka telah pernah mengikuti pendidikan Rasulullah. Rasulullah mempersiapkan petempur yang islami,

pedagang yang jujur, pemimpin yang adil, penda’i yang ikhlas dan penuh tanggungjawab. Mereka tidak cepat menyerah dengan keadaan dan tantangan sebelum ajal merenggut mereka. Kalau mereka diperintahkan untuk berperang , maka mereka terus berjihad hingga syahid atau hudup mulia walaupun cacad.

Mereka sangat kokoh dari segi akhlak dan kuat dari segi pendirian terhadap agama Allah. Karena mereka hidup dimasa Rasulullah saw dan sering mengenyam inti pendidikan Rasulullah saw yang sangat mengutamakan pendidikan akidah dan akhlak mulia yang diwariskan oleh Nabi saw.

Prof. Dr. Syed Muhammad Al-Naqib al-Attas memberikan pendapatnya bahwa bahwa pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia.132 Dalam penanaman itu perlu waktu dan tempat, perlu metode dan sistim bagaimana ilmu itu disampaikan kepada manusia lain. Isi (materi) yang disampaikan itu kepada manusia itu terdiri dari apa saja. Makanya pendidikan itu terdiri dari berbagai unsur atau komponen sehingga terjadilah proses penanaman sesuatu kepada manusia. Di sini diperlukan guru, kurikulum, fasilitas, tempat yang aman, waktu yang tersedia dan adanya murid sebagai penerima/penuntut ilmu. Ilmu itu adalah Nur (cahaya). Ilmu itu adalah permata yang hilang milik umat Islam, oleh karena itu wajib bagi setiap muslim mencari ilmu. Demikian pula banyak hadis Nabi saw yang menganjurkan kita untuk mencari ilmu. Ilmu yang bermanfaat akan menerangi otak dan hati serta mencerahkan manusia dengan keutamaan-keutamaan.

Demikianlah makna pendidikan yang paling sederhana dan karena itu setiap orang yang bertugas sebagai guru, pendidik dan pengasuh di lingkungan pendidikan sudah seharusnya harus menghasilkan manusia yang berpikiran yang jernih, berpikiran bersih yang jauh dari kedengkian dan kebrutalan dalam mengambil sesebuah keputusan. Setiap institusi pendidikan baik formal ataupun

132 Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas. (1990). Konsep Pendidikan Dalam Islam. Bandung: Mizan, cetakan III, akan tetapi mereka hal.35

informal serta non-formal sekalipun, harus memiliki visi dan misi yang jelas dalam rangka membina ummat. Kemana ummat akan dibawa atau digiring, harus jelas objektifnya dan demikian pula bagaimana membekali ummat dengan tauhid yang benar yang jauh dari kesyirikan dan kemunafikan, serta bagaimana membentuk akhlak ummat ke arah kemuliaan dan keagungan sebagaimana akhlak Rasulullah saw.

Lembaga pendidikan Islam bersama dengan para pendidiknya, stakeholder dan orang-orang yang bertanggung jawab sudah sepantasnya menghasilkan generasi muda yang kokoh dari segi akidah dan agung dari segi akhlaknya. Inilah tujuan pendidikan Islam yang harus benar-benar dicapai baik dalam waktu jangka pendek ataupun dalam jangka masa yang lama. Di sini peran pendidik sangat dinanti-nantikan demi melahirkan caring society yang penuh kasih sayang antara sesama, hormat menghormati, bantu membantu dan nasehat menasehati dalam kebenaran. Caring Society adalah masyarakat yang sama rasa dan sama rata dalam menyikapi hidup dan sama pula derajat mereka dalam masyarakat selama mereka masih berpegang pada nilai-nilai murni yang berlaku di dalam masyarakat di mana mereka berdomisili.

Masyarakat seperti ini tidak pernah merasa diri hebat atau unggul terhadap yang lainnya, akan tetapi mereka menganggap diri mereka di hadapan Khalik dan orang yang lebih ta’atlah yang membuat mereka bernilai lebih dalam pandangan Allah swt.

Dalam dokumen Pendidikan Karakter Bangsa (Halaman 144-148)