Pengukuran bobot badan domba awal dilakukan pada awal penelitian setalah masa adaptasi selesai. Pengukuran bobot badan akhir dilakukan dihari terakhir penelitian yaitu hari
3) Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan dihitung dengan cara membagi rata-rata produksi PBB/ekor/hari dengan rata-rata konsumsi BK (ekor/hari) dikalikan 100%.
Efisiensi Pakan = PBBH / KBKH x 100% KBK : Konsumsi bahan kering pakan harian(gram)
PBB : Pertambahan bobot badan harian (gram)
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x3. Faktor pertama adalah pakan, yang terdiri atas 2 level yaitu pakan A dan pakan B. Faktor kedua adalah DFM terdiri atas 3 level yaitu 0, 0,4 dan 0,6%, yang dihitung berdasarkan bahan kering (BK). Setiap perlakuan diulang 3 kali, sehingga terdapat 6 kombinasi faktor dengan 18 unit percobaan.
Pakan A P1 : Pakan A P2 : Pakan A + DFM 0,4% P3 : Pakan A + DFM 0,6% Pakan B P4 : Pakan B P5 : Pakan B + DFM 0,4% P6 : Pakan B + DFM 0,6%
Model matematika yang digunakan adalah sebagai berikut: Yij = μ + Ai + Bj + ABij + εij Keterangan :
Yij : Nilai pengamatan dari ulangan ke-j yang memperoleh perlakuan ke-i μ : Rata-rata sebenarnya
Ai : Pengaruh perlakuan ke-i Faktor A Bj : Pengaruh perlakuan ke-j Faktor B
ABij : Pengaruh interaksi antara taraf ke-i Faktor A dan taraf ke-j Faktor B εij : Pengaruh galat (error) yang timbul pada ulangan ke-j yang
memperoleh perlakuan ke-i i : Banyaknya taraf perlakuan j : Banyaknya taraf ulangan
Apabila hasil yang diperoleh berbeda, maka dilakukan uji lanjutan yaitu uji Duncan (Steel & Torrie,1991).
Hasil dan Diskusi
1) Nilai KcBK
Nilai KcBK pada perlakuan dengan penambahan DFM pada jenis pakan menunjukan hasil yang tidak jauh berbeda. Nilai rataan KcBK dengan peambahan DFM dalam pakan dapat dilihat pada Tabel 4.
117 Tabel 4. Nilai rataan KcBK yang Diberi Perlakuan DFM dan Jenis Pakan
Pakan DFM (%) Rataan 0 0,4 0,6 --- gram.hari-1 --- Pakan A 1174,45 1193,16 1116,17 1161,43a Pakan B 1065,70 975,31 1101,43 1047,48 b Rataan 1120,33a 1084,24a 1108,80a 1104,45
Keterangan: Superskrip huruf kecil berbeda kearah baris rataan menyatakan berbeda nyata. Nilai KcBK pada masing-masing perlakuan berada pada kisaran 975,31 – 1193,16 gram.hari-1. Nilai rata-rata pakan A 1161,43 gram.hari-1 dan pakan B 1047,48 gram.hari-1.
Ilustrasi 1. Pengaruh Faktor DFM dan Pakan terhadap KcBK (in vivo).
Ilustrasi 1 memperlihatkan grafik KcBK dari pakan A dan pakan B. Nilai KcBK dari pakan A meng mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya level DFM sesuai persamaan (y = 1186.78
– 76.57 x) namun berbeda dengan nilai KcBK dari pakan B, yang menunjukkan nilainya semakin
dengan bertambah penggunaan level DFM sesuai persamaan (y = 1041.22 + 18.76 x ).
Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat interaksi antar faktor. Nilai KcBK tidak dipengaruhi DFM tapi dipengaruhi jenis pakan. Hal ini terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi nilai KcBK seperti jumlah konsumsi pakan.
Penambahan DFM yang dicampurkan ke dalam pakan ternak ruminansia dapat memberikan respon positif pada ternak sapi yang digembalakan tanpa pemberian konsentrat yang sama perlakuannya pada pakan A (Olson dkk.,1994 dalam Wina, 1999). Penambahan ragi dalam ransum dengan konsentrasi relatif tinggi menyebabkan peningkatan KcBK (Williams dkk.,1991).
Konsumsi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Pond dkk.,1995). Faktor internal yaitu jenis kelamin, bobot badan, nafsu makan, kesehatan, dan kondisi ternak. Faktor eksternal berasal dari pakan dan lingkungan ternak hidup. Faktor yang mempengaruhi konsumsi antara lain adalah palatabilitas dan kandungan nutrisi pakan (Church, 1974).
Konsumsi pakan dihitung dalam bentuk bahan kering (BK). Bahan kering yang dikonsumsi ternak dipengaruhi oleh rasio pakan hijauan dan konsentrat untuk domba (Tillman dkk.,1991). Pada penelitian ini, walaupun rasio hijauan dan konsentrat berbeda pada pakan yang digunakan, tetapi tingkat konsumsi dalam bentuk bahan kering relatif sama. Hal ini bisa saja terjadi disebabkan faktor internal yang terjadi seperti ternak berhenti makan karena kapasitas rumen telah penuh. Kapasitas rumen akan menentukan tingkat konsumsi pakan, karena ternak akan berhenti makan ketika rumennya telah penuh terisi pakan meskipun kebutuhan nutriennya belum terpenuhi (Orskov, 1988).
118 2) Pertambahan Bobot Badan Harian Domba
Nilai PBBH pada perlakuan dengan penambahan DFM pada jenis pakan menunjukan hasil yang jauh berbeda walaupun sama-sama menunjukan peningkatan PBBH. Nilai rataan PBBH dengan penambahan DFM dalam pakan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai PBBH yang Diberi Perlakuan DFM dan Jenis Pakan
Pakan DFM (%) Rataan 0 0,4 0,6 --- gram.hari-1 --- Pakan A 25 40 52 39 b Pakan B 63 68 93 74a Rataan 44b 54b 73a 57
Keterangan: Superskrip huruf kecil berbeda kearah kolom dan baris rataan menyatakan berbeda nyata. Nilai rataan PBBH yang diberi perlakuan faktor level DFM dan pakan dapat dilihat pada Tabel 5.Pertambahan bobot badan harian domba penelitian berada pada kisaran 25 – 93 gram.hari-1. Pakan A memiliki rata-rata PBBH 39 gram.hari-1dan pakan B memiliki rata-rata PBBH 74 gram.hari-1.
Ilustrasi 2. Pengaruh Faktor DFM dan Pakan terhadap PBBH
Ilustrasi 2 memperlihatkan grafik PBBH dari pakan A dan B yang diberi berbagai level DFM. Pertambahan bobot badan harian pada pakan A dan pakan B mengalami peningkatan sejalan dengan penambahan DFM sesuai persamaan (y = 24.78 + 25.98 x + 32.91 x2) untuk pakan A dan persamaan (y = 62.89 - 64.37 x + 191.62 x2) untuk pakan B, serta menunjukan PBBH maksimum pada pakan B dengan penambahan DFM 0,6% yang mencapai rataan PBBH 92,89 gram.hari-1. Kenaikan bobot badan harian domba di pedesaan antara 20-40 gram.hari-1(Mathius dkk.,1998). Pertambahan bobot badan domba lokal dapat ditingkatkan dengan pemberian pakan dengan DFM 0,6% sehingga PBBH bisa mencapai 93 gram.hari-1.
Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat interaksi antar ke dua faktor. Penambahan DFM pada ke dua jenis ransum dapat meningkatkan PBBH domba lokal. Penggunaan DFM pada pakan A memperlihatkan nilai rataan PBBH lebih rendah dari pakan B (P>0.05). Nilai rata-rata PBBH pakan A 39 gram.hari-1lebih rendah dibandingkan dengan pakan B, yang memiliki rata-rata PBB 74 gram.hari -1. Pertambahan bobot badan harian domba pada pakan A masih pada kisaran kenaikan bobot badan harian domba lokal pedesaan yaitu antara 20-40 gram.hari-1(Mathius dkk.,1998).
Kualitas dan kuantitas pakan mempengaruhi pertambahan bobot tubuh (Cheeke, 1999). Penambahan DFM pada pakan ternak ruminansia dapat meningkatkan pertambahan bobot badan (Yoon dan Stern, 1995). Penambahan DFM yang mengandung bakteri dan ragi secara sinergis menjalankan aktifitanya di dalam ekosistem rumen. Ragi di dalam rumen mampu memanfaatkan oksigen sehingga menjamin kondisi anaerob bagi bakteri rumen dan menstimulasi populasi bakteri rumen tertentu.
119 Keadaan tersebut diikuti meningkatnya pemanfaatan amonia dan asam laktat sehingga pH rumen menjadi stabil. Kondisi anaerob dan pH rumen yang stabil memungkinkan terjadinya sintesis protein mikroba yang lebih optimal sehingga populasi bakteri rumen meningkat dan kecernaan serat kasar meningkat. Meningkatnya kecernaan serat kasar, otomatis meningkatkan konsumsi dan suplay nutrien ke usus. Pada akhirnya akan meningkatkan respon produksi keseluruhan (Yoon dan Stern, 1995).
Hijauan yang tumbuh didaerah tropis umumnya memiliki kandungan nutrien rendah. Salah satu ciri yang sangat menonjol adalah mempunyai serat kasar yang tinggi sehingga nilai kecernaannya rendah dikonsumsi oleh ternak dengan demikian pemberianya sebagai ransum tunggal memberikan produksi yang kurang optimal bagi ternak yang mengkonsumsinya (Williamson dan payne, 1993). Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan cara manipulasi pakan. Manipulasi pakan yang digunakan adalah dengan cara menambahkan DFM pada pakan. Manipulasi pakan dilakukan pada pakan B, dengan hasil yang menunjukan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan pakan A yang merupakan pakan rendah protein tanpa manipulasi pakan.
Pertambahan bobot badan tidak terlepas dari kandungan nutrient seperti protein yang dirombak menjadi asam amino yang nantinya disintesis menjadi bahan pembangun sel pembentuk otot pada domba (Preston dan Leng, 1987). Semakin banyak asam amino yang disintesis dan dikonversi menjadi otot maka, PBB domba akan semakin meningkat. Penambahan level DFM juga bisa meningkatkan penyerapan nutrient dengan lebih mempromosikan pembangunan jaringan otot melalui meningkatkan mikroflora saluran pencernaan dan komposisinya (Zhou dkk.,2015).