Bagian II : Studi Kasus
4 Evaluasi Proses Kebijakan
4.3. Evaluasi Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter
• Di Indonesia, koordinasi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter masih menjadi masalah, hal ini diakibatkan dengan adanyan ketidakjelasan penugasan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada Departemen Keuangan dan Bank Sentral .
• Payung hukum mengenai kedudukan Bank Sentral dalam pemerintahan, yaitu sejauh mana Bank Sentral mempunyai kedudukan yang independen dari pemerintah masih belum ada kejelasan, dan UU yang ada menjelaskan terlalu general dan rawan terhadap multi interpretasi mengenai bagaimna bentuk indepndensinya.
• Persepsi dari pimpinan tertinggi Bank Sentral dan Departemen Keuangan mengenai koordinasi yang harus dilakukan terlihat masih belum sejalan.
• Dari sisi pelaksanaan, sepetinya masih belum disadari bahwa kedua otoritas kebijakan (fiskal dan moneter) adalah ujung tombak dari kebijakan ekonomi. Karena itu kinerja keduanya adalah vital dalam menjalankan fungsi pemeritah dalam pengertian luas (yaitu mencakup bank sentral).
terjadinya inflasi dalam skala besar dan waktu yang lama. Demikian pula sebaliknya.
• Koordinasi yang ada, masih selalu mengidentikkan dengan sentralisasi. Seperti pada pada era Orde Baru, kebijakan moneter dan fiskal tersentralisir, dimana kebijakan moneter dikendalikan melalui Dewan Moneter. Dalam hal ini koordinasi menjadi seolah-olah menunjukkan tidak ada independensi bank sentral sedangkan di satu sisi lain, independensi bank sentral dianggap syarat mutlak untuk menghindari pemberian kredit likuiditas tak terkendali dan pengawasan bank yang lemah.
• Sentralisasi kebijakan fiskal dan moneter sebenarnya harus diartikan dengan sendirinya dengan berarti bahwa terdapat satu tujuan bersama yang akan dicapai oleh kedua perangkat tersebut.
• Melihat pada contoh di Inggris, departemen keuangan menentukan target inflasi yang harus dicapai bank sentralnya, selain tentunya merupakan otoritas fiskal. Namun, pelaksanaan kebijakan untuk mencapai target tersebut ditentukan secara independen oleh bank sentral. Hal ini disebut operational independence.
• Di Selandia Baru, dimana inflasi tidak ditargetkan oleh departemen keuangan tetapi tertuang dalam Undang-undang Bank Sentral yang mengatakan bahwa bank sentral bertanggung jawab atas kestabilan harga. Selanjutnya disebutkan bahwa dalam mencapai hasil tersebut bank sentral harus memperhitungkan berbagai perkembangan dalam perekonomian yang berpengaruh, termasuk perubahan kebijakan fiskal. Artinya, meskipun otoritas fiskal tidak secara langsung dapat menentukan target inflasi, akan tetapi esensinya adalah bahwa kebijakan moneter memasukkan implikasi kebijakan fiskal sebagai faktor eksternal (yang given). • UU Bank Sentral Selandia Baru juga dapat dijadikan acuan, di mana secara
eksplisit melarang bank sentral melakukan monetisasi defisit fiskal yang berlebihan (yang potensil berdampak besar pada inflasi). Jadi seandainya terdapat implikasi kebijakan fiskal yang membahayakan pencapaian tujuan kestabilan harga, bank sentral dapat menolaknya. Pemerintah pada prinsipnya dapat memaksa bank sentral untuk mengakomodasi defisit anggaran, tetapi hal ini harus dilakukan secara transparan dan dalam waktu yang terbatas.
• Belum adanya sandingan UU Bank Indonesia, yaitu UU mengenai Tanggung Jawab Fiskal yang tujuan utamanya adalah transparansi dan prediktibilatas serta kesinambungan anggaran dalam jangka panjang. Dengan demikian, pada intinya otoritas fiskal dan moneter memiliki tujuan jangka menengah dan jangka panjang yang berlainan, akan tetapi keduanya saling bekerja sama untuk mencapai tujuan masing-masing. Pada hal ini kuncinya adalah transparansi, baik dalam mengumumkan tujuan maupun cara mencapainya serta evaluasi pelaksanaanya. • Hingga kini, dalam rangka menghadapi kondisi perekonomian yang begitu cepat
berubah, adaptabilitas (yang terbantu oleh transparansi) dan fleksibilitas kebijakan antara Depkeu dan BI belum berjalan dengan baik.
• Kebijakan fiskal dapat dikatakan relatif lebih kaku dalam arti untuk merubah kebijakan secara mendasar karena membutuhkan persetujuan DPR. Oleh karena itu, fleksibilitasnya kurang dibandingkan kebijakan moneter. Di sisi lain oponen penggunaan kebijakan moneter untuk stabilisasi berargumen bahwa kebijakan moneter hanya mempengaruhi insentif menabung dan berbelanja sedangkan kebijakan fiskal langsung berpengaruh pada anggaran pelaku ekonomi. Dalam hal ini berarti belum disadari bahwa pengaruh kebijakan moneter justru akan memiliki dampak pada struktur insentif, yaitu memberi peluang lebih besar bagi pelaku ekonomi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan insentif tergantung pada kondisi masing-masing. Dan dengan demikian terbuka peluang kebijakan moneter lebih efisien secara mikroekonomi.
• Masih belum optimalnya pertukaran dan pemanfaatan informasi dari dua otoritas tersebut, misalnya dalam pengeluaran pemerintah, seharusnya otoritas fiskal memberi informasi dan bekerja sama dengan otoritas moneter agar terjadi smoothing pengeluaran dan juga pada pemasukan. Melalui perkiraan timing dan magnitude pengeluaran pemerintah, otoritas moneter juga dapat menyesuaikan penyedotan dan injeksi likuiditas untuk tujuan stabilisasi. Sebaliknya, jika otoritas fiskal mengetahui dengan jelas tujuan dan strategi otoritas moneter, maka akan dapat melakukan smoothing pengeluaran untuk membantu tercapainya tujuan stabilisasi harga.
Terbuka (OPT). Hal ini secara struktural dalam jangka menengah dan panjang akan membebani dan menempatkan kebijakan makro ekonomi tersebut dalam posisi dilematis, yaitu upaya menyerap kelebihan likuiditas oleh Bank Indonesia (BI) yang konsisten dengan upaya pengendalian inflasi akan menimbulkan beban bagi neraca bank sentral dan perekonomian di masa mendatang. Beban bagi BI adalah peningkatan biaya bunga SBI yang akan meningkatkan risiko neraca bank sentral. Beban ini kemudian dapat mengalir dan membebani kebijakan fiskal, jika risiko neraca bank sentral itu terus meningkat, maka akan harus ditutupi dari dana APBN.
• Dalam konteks perekonomian secara lebih luas, penggunaan SBI berpotensi memberikan tekanan inflasi ke depan, jika beban bunga real SBI meningkat lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Risiko peningkatan inflasi ke depan lebih besar jika pada saat bersamaan penyerapan likuiditas yang bersumber dari pajak relatif tidak elastis.
• Belum adanya upaya memformalkan kerjasama antara kedua otoritas tersebut, yaitu dalam bentuk struktur kelembagaan yang mengikat. Misalnya, di bank sentral dibentuk suatu komite kebijakan yang keanggotaannya mencakup wakil dari Depkeu dalam kapasitas non-voting. Dengan demikian komunikasi antara BI dan Depkeu berjalan lebih mulus dan kredibel. Selama ini, pertemuan sewaktu-waktu antara Dewan Gubernur BI dengan tim ekonomi pemerintah tidak dapat dianggap kredibel karena tidak secara langsung berkaitan dengan pengambilan keputusan. • Belum adanya pemikiran jangka panjang mengenai format dan efektifitas
kebijakan fiskal dan moneter, serta koordinasi keduanya dalam mencapai sasaran-sasaran ekonomi seperti stabilitas harga, nilai tukar, suku bunga riil dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Dalam hal ini termasuk mengenai transparansi target dan strategi, kredibilitas, akuntabilitas, adaptabilitas serta fleksibilitas.
• Koordinasi kebijakan moneter dan fiskal belum mempertimbangkan urutan tindakan kebijakan secara matang. Misalnya, terkait dengan lingkungan global yang kurang menguntungkan dengan perkembangan harga komoditas dan pasar finansial global yang memberikan beban tersendiri kepada kebijakan fiskal, dan pengurangan bea masuk berbagai komoditas industri dan pemberian subsidi
kebutuhan pokok juga turut mempengaruhi kesinambungan fiskal. Pada sisi lain, tekanan kenaikan harga komoditas global berpotensi memberikan tekanan secara permanen terhadap inflasi domestik. Inilah yang akan menjadi ancaman bagi BI dalam pemenuhan target inflasinya.
• Koordinasi kebijakan moneter dan fiskal belum diletakkan dalam tataran yang labih strategis, yaitu dalam perumusan semacam contingency plan atau format tertentu untuk merespons kejutan struktural (shocks) dan ketidakpastian yang mungkin muncul.