Bagian II : Studi Kasus
3 Policy regime
3.1. Kebijakan moneter
Sebagai otoritas kebijakan moneter, Bank Indonesia tentu memiliki sasaran akhir moneter. Untuk mencapai sasaran tersebut Bank Indonesia melaksanakan kebijakan yang mempengaruhi:
1. Stabilitas harga;
2. Pertumbuhan ekonomi; 3. Perluasan kesempatan kerja; 4. Keseimbangan neraca pembayaran
Namun, dalam pelaksanaan dengan tujuan mencapai sasaran tersebut di atas seringkali terjadi konflik pencapaian sasaran kebijakan. Pencapaian keempat sasaran akhir tersebut tidak jarang mengandung berbagai kontradiksi, misalnya: sasaran untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja ternyata berdampak negatif terhadap kestabilan harga dan keseimbangan pada neraca pembayaran. Tentu saja hal ini membuat Bank Indonesia sangat perlu untuk merumuskan kebijakan moneter secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai aspek. Hal ini dilakukan agar kebijakan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Berdasarkan keterbatasan tersebut, diperlukanlah sebuah pencapaian sasaran tunggal. Hal ini kemudian ditegaskan mengenai sasaran tunggal Bank Indonesia sesuai dengan yang tertuang dalam Undang-Undang Bank Indonesia No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yaitu berusaha untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Stabilitas nilai rupiah yang dimaksud tersebut tidak hanya menyangkut nilai mata uang rupiah namun juga hal-hal lain yang meliputi:
Kedua hal di atas kemudian dianggap sebagai prasyarat dasar untuk tercapainya pertumbuhan ekonomi.
3.1.1. Kebijakan moneter dengan sasaran kestabilan harga: menuju Inflation Targeting
Sejalan dengan semangat UU No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sejak tahun 2000 Bank Indonesia mulai menempuh langkah-langkah penerapan kerangka kebijakan moneter yang disebut sebagai inflation targeting. Kebijakan ini memiliki karakteristik tersendiri, di mana kebijakan ini lebih dipandang bukan sebagai sebuah rule (aturan), namun lebih pada sebuah kerangka kerja (framework).
Kebijakan inflation targeting secara umum mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakan dengan kebijakan-kebijakan lainnya, antara lain ditunjukkan dengan adanya hal-hal sebagai berikut:
1. Pernyataan resmi (dan dikuatkan dalam Undang-Undang) bahwa tujuan akhir kebijakan moneter adalah inflasi yang rendah dan stabil.
2. Penetapan dan pengumuman target inflasi dalam jangka menengah sampai dengan jangka panjang.
3. Adanya elemen independensi, komitmen, komunikasi, disiplin dan mekanisme akuntabilitas kebijakan moneter.
Kerangka kebijakan moneter dalam hal ini akan ditandai oleh pemberitahuan kepada masyarakat mengenai target inflasi yang hendak dicapai dalam kurun waktu tertentu oleh Bank Indonesia. Dalam kerangka kebijakan ini, laju inflasi yang rendah dan stabil dijadikan sebagai sasaran utama pada jangka panjang.
Jadi, secara umum dapat disimpulkan bahwa kebijakan inflation targeting akan dicirikan dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Target inflasi diumumkan secara eksplisit.
2. Kebijakan moneter dilakukan secara “forward-looking.” 3. Adanya transparansi dan akuntabilitas kebijakan.
3.1.2. Dasar Pemilihan Kebijakan Inflation Targeting
Pemilihan kebijakan inflation targeting tentu memiliki latar belakang alasan tertentu, bukan hanya kebijakan yang taken for granted saja. Selain kebijakan inflation targeting sebenarnya ada beberapa framework lain seperti: exchange rate atau monetary targeting. Namun, mengapa akhirnya yang dijadikan pilihan adalah kebijakan inflation targeting? Beberapa hal yang mendasari pemilihan kebijakan inflation targeting antara lain:
Terkait dengan pilihan regim nilai tukar (exchange rate). Dengan ditetapkan kebijakan nilai tukar adalah flexible exchange rate, maka pilihannya adalah antara monetary targeting versus inflation targeting. Dengan ini, diambilah kebijakan inflation targeting.
Kebijakan inflation targeting dipilih karena kebijakan ini memiliki fokus pada kestabilan harga sehingga dapat digunakan sebagai ‘anchor’ atau acuan ekspektasi inflasi bagi masyarakat.
Kebijakan inflation targeting mendorong peningkatan transparansi dalam kebijakan moneter.
Kebijakan inflation targeting memberikan ukuran keberhasilan bank sentral. Dalam hal ini berkaitan dengan kejelasan akuntabilitas yang dilakukan bank sentral.
Kebijakan inflation targeting bersifat forward looking dan juga memperhitungkan lag kebijakan moneter. Hal ini penting dimana kebijakan moneter seringkali memiliki lag yang cukup besar antara kebijakan yang dilakukan dengan dampak atau hasil yang diharapkan pada perekonomian. Kebijakan inflation targeting tidak memerlukan asumsi berupa stabilitas
hubungan antara uang beredar, output dan harga.
Pengalaman negara-negara lain yang menerapkan kebijakan inflation targeting menunjukkan perekonomian dengan tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Beberapa studi Bank Indonesia juga menyimpulkan bahwa strategi kebijakan moneter melalui pengendalian uang beredar semakin sulit diandalkan. Hal ini terjadi karena semakin merenggangnya hubungan antara besaran moneter
dengan variabel ekonomi riil. Dengan demikian, seolah-olah kebijakan moneter yang dilaksanakan tidak memiliki dampak apapun pada sektor riil. Dengan berlakunya UU No.23 th.1999 tentang Bank Indonesia yang
menyatakan bahwa tujuan Bank Indonesia memiliki fokus pada pencapaian dan pemeliharaan kestabilan Rupiah. Melalui kebijakan inflation targeting diharapkan dapat mencapai fokus tujuan dari Bank Indonesia tersebut.
Kebijakan inflation targeting kini semakin banyak diterapkan sebagai kerangka kebijakan moneter di berbagai bank sentral, antara lain:
- Pada negara-negara maju, contoh: Kanada (1991), Israel (1991), Inggris (1992), Swedia (1993), Finlandia (1993), Australia (1993), Spanyol (1994).
- Negara-negara emerging economies, contoh: Amerika Latin (antara lain: Chili, Meksiko, Brazil); Eropa Timur (a.l. Polandia, Check Republik); dan Asia (a.l. Korea Selatan, Thailand, Philipina dan Indonesia).
3.1.3. Faktor–Faktor Lain yang Terkait dengan Kebijakan Inflation Targeting
Situasi perekonomian seringkali menunjukkan bahwa fenomena tingkat inflasi (kenaikan harga secara umum) sebenarnya tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter, namun kebijakan pemerintah dalam hal ini dari sisi fiskal ataupun kebijakan di bawah menteri koordinator perekonomian yang terutama berkaitan dengan bidang harga dapat juga memberikan dampak terjadinya inflasi. Dalam hal ini kebijakan-kebijakan seperti: perubahan harga BBM; penerapan upah minimum; penyesuaian tarif dasar listrik, serta kemampuan pemerintah dalam menangani gangguan produksi dan distribusi barang kebutuhan primer masyarakat juga turut andil dalam memberikan kontribusi terhadap terjadinya inflasi. Tingkat inflasi yang merupakan dampak dari kebijakan pemerintah biasanya disebut sebagai administered prices, sedangkan tingkat inflasi yang menjadi tanggung jawab otoritas moneter dalam hal ini Bank Indonesia biasa disebut sebagai inflasi inti (core inflation).
Selain itu, tingkat inflasi juga dipengaruhi oleh keadaan sistem keuangan dalam suatu perekonomian. Sistem keuangan yang sehat sangatlah diperlukan untuk menjaga
tingkat inflasi rendah. Berbagai upaya penanganan inflasi tentu akan menjadi sulit apabila keadaan sistem keuangan dalam perekonomian tidak sehat.
Berikut ini adalah kerangka kebijakan inflation targeting berdasarkan acuan teoritis yang dipakai secara umum:
Mulai bulan Juli 2005, Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan menggunakan Inflation Targeting Framework (ITF), yaitu dengan mengadaptasi empat elemen dasar, antara lain:
1. Penggunaan suku bunga (BI Rate) sebagai reference rate; 2. Proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif; 3. Strategi komunikasi yang lebih transparan;
4. Penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah.
Berdasarkan empat point di atas merupakan upaya Bank Indonesia untuk meningkatkan efektivitas dan tata kelola (governance) kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir kestabilan harga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan juga mencapai kesejahteraan masyarakat.
proses percepatan konsolidasi perbankan. Dengan ini, BI-rate diharapkan menjadi suku bunga acuan baik pada suku bunga kredit konsumsi, investasi maupun modal kerja, serta suku bunga tabungan dan investasi lainnya.
Berdasarkan pemaparan di atas, secara umum ada tiga prinsip dasar penyempurnaan framework kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia, yaitu:
1. Bank Indonesia akan menggunakan suku bunga (BI-rate) sebagai sasaran operasional. Dalam hal ini menggantikan penggunaan base money;
2. Kebijakan moneter akan dilakukan secara lebih transparan dan akuntabel;
3. Bank Indonesia akan melakukan penguatan mekanisme perumusan dan pengambilan kebijakan moneter.
Sedangkan untuk proses percepatan konsolidasi perbankan, Bank Indonesia menetapkan kebijakan sebagai berikut:
1. Jumlah modal minimum pada tahun 2010 mencapai Rp.100 miliar; 2. Memperkenalkan konsep bank jangkar
Dalam rangka memperkuat sektor perbankan, baru-baru ini (Awal Juli 2007) dibentuk Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK), sebagai upaya memperkuat koordinasi antar institusi dalam rangka memonitor kesehatan sistem keuangan secara menyeluruh.
3.1.4 Konsep Dasar Kebijakan Moneter Bank Indonesia dengan Kerangka Inflation Targeting
Konsep dasar ini akan menggambarkan arah dan bentuk kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia dalam mencapai sasaran utamanya untuk menjaga tingkat inflasi.
1. Kebijakan moneter mengarah ke depan (forward looking):
Kebijakan moneter yang memperhatikan aspek-aspek yang mungkin dan akan terjadi ke depannya tentu memiliki tujuan dan latar belakang, antara lain:
Kebijakan moneter yang dilakukan berusaha lebih bersifat antisipatif ke depan. Hal ini dilakukan karena adanya tenggang waktu dari pengaruh kebijakan moneter terhadap inflasi.
Memperkirakan pergerakan inflasi ke depan terhadap sasaran yang ditetapkan. Mengetahui transmisi kebijakan moneter dalam mempengaruhi inflasi dan
perekonomian.
Berdasarkan hal tersebut, diharapkan kebijakan moneter yang diambil dapat lebih responsif terhadap berbagai fluktuasi ekonomi baik berasal dari faktor internal maupun eksternal perekonomian. Selain itu juga dapat memelihara keadaan stabilitas makro ekonomi yang kondusif.
2. Transparansi
Bentuk transparansi kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia memiliki tujuan sebagai berikut:
Untuk menunjukkan komitmen bank sentral dalam mengatasi inflasi;
Agar masyarakat atau pelaku ekonomi memahami arah dan kebijakan moneter ke depannya seperti apa.
Dengan pelaksanaan transparansi tersebut ke depannya diharapkan memperkecil ruang ketidakpastian keadaan perekonomian, dalam hal ini dilihat dari sisi kebijakan moneter. Masyarakat atau pelaku ekonomi dengan ini dapat memperhitungkan atau mengkalkulasikan keputusan ekonominya dengan mempertimbangkan kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Hal ini penting terutama berkaitan dengan pelaku-pelaku di dalam pasar keuangan, terutama keputusan untuk berinvestasi dalam portofolio atau aset-aset keuangan.
3. Akuntabilitas dan Kredibilitas
Aspek ini akan sangat berkaitan dengan bagaimana posisi dan peran Bank Indonesia dalam mengkoordinasikan dan mengkonsolidasikan kebijakan moneter dengan memperhatikan kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah. Selain itu, hal ini
proses perumusan yang baik dengan mempertimbangkan berbagai aspek terkait. Secara umum, mengenai akuntabilitas dan kredibilitas akan terkait pada poin-poin sebagai berikut:
Akuntabilitas bank sentral akan mempengaruhi kredibilitas bank sentral itu sendiri.
Dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal untuk merumuskan dan menghasilkan kebijakan moneter yang kredibel.
Koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait perlu dilakukan dengan baik. Hal ini dikarenakan bahwa sumber inflasi berasal dari faktor yang bermacam-macam.
Pada point terakhir di atas menunjukkan bahwa diperlukan suatu koordinasi serta komitmen lintas lembaga otoritas baik moneter maupun fiskal dalam mencapai sasaran stabilitas makro ekonomi. Hal ini untuk mengurangi kebijakan yang saling bertabrakan antar kedua otoritas kebijakan dalam ekonomi.
3.1.5. Implementasi Kebijakan Inflation Targeting di Indonesia
Pelaksanaan kebijakan inflation targeting di Indonesia tidak dilaksanakan begitu saja. Tentu ada sejumlah asumsi atau syarat yang perlu dipenuhi agar kebijakan tersebut dapat dilaksanakan secara efektif oleh Bank Indonesia.
Syarat-Syarat Implementasi Kebijakan Inflation Targeting:
• Bank sentral yang independen (minimal “instrument independence”). • Memiliki komitmen untuk mencapai kestabilan harga.
• Tidak adanya dominasi dari sisi kebijakan fiskal. • Sistem keuangan yang kuat.
• Transparansi dan akuntabilitas.
• Tidak ada ‘anchor’ yang lain (exchange rate harus fleksibel/floating). • Kebijakan moneter yang bersifat “forward looking.”
• Memiliki kemampuan operasional, yaitu sebagai berikut: Kemampuan dalam forecast inflasi.
Memiliki prosedur operasional kebijakan moneter yang baik.
Dengan berbagai syarat dalam pengimplementasian kebijakan inflation targeting tersebut tentu saja dilakukan dengan harapan sasaran yang diinginkan tercapai dengan tetap menjaga kredibilitas Bank Indonesia dalam menjaga independensinya dan juga akuntabilitas lembaga otoritas moneter tersebut dalam menghasilkan atau merumuskan kebijakan moneter yang tepat.
Seperti telah kita ketahui, berdasarkan UU No. 3/2004 sebagai perubahan atas UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia memberikan landasan legal bagi independensi Bank Indonesia selain inflasi merupakan satu-satunya tujuan kebijakan moneter. Bank Indonesia memiliki independensi dalam cara mencapai inflasi (instrumen moneter), dan institutional (tidak ada campur tangan, intervensi dan anggaran). Sementara sasaran inflasi akan diumumkan oleh pemerintah dengan berkerjasama dengan Bank Indonesia
.
3.1.6. Sasaran Inflasi
Sasaran inflasi dirumuskan dan ditetapkan oleh pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia. Sasaran inflasi yang ditetapkan meliputi jangka menengah hingga jangka panjang (3 - 5 tahun). Data inflasi yang digunakan dalam hal ini adalah Indeks Harga Konsumen (IHK), yang biasa dikembangkan melalui konsep sampling data sejumlah barang dan jasa tertentu di kota-kota besar di Indonesia. Indeks ini mengukur tingkat perubahan harga dengan mengacu pada tahun dasar tertentu. Melalui indeks ini, akan terlihat tingkat perubahan harga baik dari waktu ke waktu.
Untuk merumuskan kebijakan moneter ke dalam, Bank Indonesia mengembangkan inflasi inti (core inflation), yaitu inflasi yang dapat dikendalikan oleh kebijakan moneter. Jadi, yang menjadi tanggung jawab Bank Indonesia dalam menekan laju inflasi adalah berupa inflasi inti, bukan inflasi secara keseluruhan. Perlu diperhatikan bahwa ada unsur kebijakan pemerintah yang turut berkontribusi dalam inflasi
(administered prices). Bagian ini adalah di luar wewenang dan tanggung jawab Bank Indonesia.
3.1.7. Kebijakan Moneter Mengarah Ke Depan
Setiap awal tahun pemerintah menetapkan sasaran inflasi dan ini disampaikan kepada masyarakat dan para pelaku ekonomi. Bank Indonesia pada setiap triwulan diadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober dengan tujuan untuk menetapkan arah dan sasaran kebijakan moneter triwulanan. Kemudian hal ini akan terangkum dalam laporan kebijakan moneter triwulanan yang diterbitkan Bank Indonesia dan dapat diakses oleh publik.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) juga dilaksanakan setiap sebulan sekali dengan tujuan untuk mengevaluasi dan menetapkan sasaran serta menetukan operasional moneter bulanan. Sedangkan operasi mingguan (RDG) dilakukan untuk menetapkan operasi moneter pada minggu yang bersangkutan.
Dalam merumuskan dan mengevaluasi kebijakan, Bank Indonesia tentu membutuhkan sejumlah data dan informasi yang berfungsi sebagai alat analisa serta prediksi keadaan ekonomi pada periode tertentu.
Setidaknya dua set indikator dibutuhkan, yaitu:
(1) Leading indicators sebagai early warning system; dan (2) Policy indicators.
Di samping evaluasi data statistik ekonomi, moneter dan perbankan, pasar uang rupiah dan valas, juga dilakukan survey prospek ke depan. Survey ini antara lain untuk mengetahui tingkat kepercayaan masyarakat (consumer confidence), dan juga tingkat kepercayaan investor atau pelaku bisnis (business confidence). Dengan berbagai informasi yang dimiliki Bank Indonesia baik melalui data-data ekonomi keuangan maupun melalui survey tingkat kepercayaa, diharapkan Bank Indonesia menghasilkan analisa dan perumusan kebijakan moneter yang tepat baik pada tataran indikator makro ekonomi maupun pada pemeliharaan ekspektasi dan tingkat kepercayaan masyarakat atau pelaku bisnis terhadap kondisi perekonomian.
Selain berdasarkan data-data aktual ekonomi dan keuangan serta survey secara langsung. Bank Indonesia juga memiliki kerangka analisa yang dibuat melalui model ekonomi. Ini berguna untuk melakukan prediksi melalui metodologi yang teruji dan juga melakukan simulasi kebijakan. Dengan demikian, kebijakan yang akan dilaksanakan dapat diujicobakan melalui model sehingga dapat memberikan gambaran terhadap dampak yang akan terjadi dari pelaksanaan suatu kebijakan. Hal ini diharapkan Bank Indonesia memiliki sejumlah persiapan terhadap berbagai dampak yang mungkin terjadi ke depannya.
3.1.8. Bank Indonesia Sebagai Pengelola Cadangan Devisa
Berdasarkan UU No. 24/1999 menerangkan bahwa setiap penduduk dapat dengan bebas memiliki dan menggunakan devisa. Namun, penggunaan devisa tersebut di mana untuk keperluan transaksi di dalam negeri, wajib memperhatikan ketentuan mengenai alat pembayaran yang sah sebagaimana diatur dalam UU tentang Bank Indonesia.
Bank Indonsia dalam hal ini berwenang meminta keterangan dan data mengenai kegiatan Lalu Lintas Devisa yang dilakukan oleh penduduk. Yaitu dengan memberikan keterangan dan data mengenai kegiatan Lalu Lintas Devisa yang dilakukannya, secara langsung atau melalui pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian, Bank Indonesia menetapkan ketentuan atas berbagai jenis transaksi devisa yang dilakukan oleh Bank, yaitu ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.
3.1.9. Wewenang BI atas Cadangan Devisa:
1. Pengelolaan Cadangan Devisa :
• Pengelolaan dilakukan dengan diversifikasi menurut jenis valuta dan jenis penempatan.
• Pengelolaan dilakukan berdasarkan prinsip keamanan dan kesiagaan untuk memenuhi kewajiban segera tanpa mengabaikan prinsip pendapatan yang optimal.
2. Pengembangan Pasar Valuta Asing
Melalui penyempurnaan berbagai ketentuan di bidang transaksi devisa, yaitu menetapkan ketentuan transaksi devisa yang dilakukan oleh bank dalam rangka menetapkan prinsip kehati- hatian :
1. Ketentuan mengenai Posisi Devisa Netto Bank-bank. 2. Ketentuan mengenai Transaksi Derivatif.
3. Pembatasan transaksi rupiah dan pemberian kredit valas.
3. Pengelolaan Nilai Tukar
• Sterilisasi/Intervensi di pasar valuta asing. • Penentuan Kurs Jual / beli yang terdiri dari; 1. Kurs Transaksi
2. Kura Uang Kertas Asing.
Pergerakan nilai tukar sendiri dipengaruhi oleh :
• Faktor fundamental variabel-variabel ekonomi makro pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, perkembangan BOP.
3.1.10. Kebijakan Bank Indonesia terhadap Nilai Tukar
• Menjaga kondisi fundamental makro ekonomi yang sehat. • Melakukan intervensi ke pasar valas.
• Pengawasan langsung pada bank pelaku terbesar. • Pemantauan rekening vostro.
• Non-internasionalisasi Rupiah, dengan membatasi akses non-residen terhadap rupiah untuk menekan tindakan spekulasi.
• Pembatasan Internationalisasi Rupiah (PBI No.3/3/2001):
1. Pelarangan transfer rupiah oleh perbankan Indonesia kepada nonresiden, khususnya untuk transfer rupiah tanpa didasari transaksi riil yang mendukung kegiatan ekonomi Indonesia;
2. Pembatasan terhadap transaksi derivatif yang tidak didasari oleh kegiatan ekonomi riil atau non-underlying transaction, yakni dengan menurunkan batas maksimum transaksi derivatif penjualan valuta asing dari bank domestik kepada nonresiden dari $5 juta menjadi $3 juta.
Kerangka Pemikiran Keuangan Internasional dalam Perekonomian Terbuka
3.1.11. Kebijakan Nilai Tukar dan Devisa
Sejarah Sistem Nilai Tukar Sistem Nilai Tukar Tetap
(1971 – Maret 1983)
Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali scr ketat (April 1983 – Sep 1986)
Sistem Nilai Tukar Mengambang bebas
(14 Agustus 1997)
Bank Sentral menetapkan nilai tukar terhadap mata uang tertentu sebagai “anchor”. Dalam sistem ini, excess demand dan supply akan dipenuhi/ diserap oleh Bank Indonesia melalui intervensi.
Nilai tukar ditentukan tidak hanya pada mekanisme pasar, tetapi juga dipengaruhi oleh unsur “managed” dari bank Sentral melalui intervensi.
Nilai tukar dibiarkan bebas, tergantung pada mekanisme pasar.
Sistem Nilai Tukar Mengambang Fleksible