Bagian II : Studi Kasus
3 Policy Regime
3.4. Revitalisasi Kehutanan
Berdasarkan Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009 ditegaskan bahwa RPJM merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Presiden hasil Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. Lebih lanjut dijelaskan bahwa Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah melaksanakan program dalam RPJM Nasional yang dituangkan dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga dan RPJM Daerah.
Dengan demikian RPJM sebagai acuan pembangunan seluruh sektor untuk periode 5 tahun mendatang sekaligus memberikan mandat kepada Kementerian/Lembaga negara dan pemerintah daerah untuk menjabarkan kebijakan dan program-program didalamnya dalam rangka mewujudkan target sukses agenda-agenda pembangunan nasional.
Pembangunan kehutanan dalam RPJM Nasional tahun 2004-2009 diarahkan untuk mendukung kebijakan-kebijakan nasional yang ditetapkan antara lain:
a) Peningkatan keamanan, ketertiban dan penaggulangan kriminalitas;
b) Penanggulangan kemiskinan dalam rangka pemenuhan hak atas Lingkungan Hidup (LH), Sumberdaya Alam (SDA), dan Akses masyarakat terhadap SDA;
d) Pembangunan perdesaan; dan
e) Perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Kebijakan-kebijakan tersebut dijabarkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Departemen Kehutanan tahun 2005-2009, sebagai pedoman pembangunan kehutanan dalam lima tahun mendatang yang memuat rencana makro dan bersifat strategis.
Dalam rangka mendukung pencapaian kebijakan dan pembangunan nasional, maka program-program pembangunan kehutanan telah ditetapkan antara lain:
a. Program Pemantapan keamanan dalam negeri:
1) Merevitalisasi kelembagaan polisi hutan sebagai bagian dari desentralisasi kewenangan;
2) Peningkatan pengamanan hutan berbasis sumberdaya masyarakat;
3) Intensifikasi upaya monitoring bersama aparatur dan masyarakat terhadap kawasan hutan; dan
4) Penegakan Undang Undang (UU) dan peraturan serta mempercepat proses penindakan pelanggaran hukum di sektor kehutanan.
b. Program pemantapan pemanfaatan potensi SDH:
1) Rehabilitasi ekosistem (lahan kritis, lahan marginal, hutan bakau, terumbu karang, dll) berbasis masyarakat;
2) Pengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan usaha perhutanan rakyat;
3) Pengembangan produk-produk kayu bernilai tinggi dan pengembangan kluster industri berbasis wilayah;
4) Restrukturisasi kapasitas industri pengolahan kayu dan diversifikasi sumber bahan baku industri perkayuan;
6) Pembinaan industri kehutanan primer;
7) Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada kawasan hutan non produktif dan areal konsesi yang belum ditanami termasuk kemudahan perijinan dan permodalan/pinjaman;
8) Pengembangan hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan, termasuk pemberian hak pengelolaan untuk periode tetentu kepada masyarakat untuk mengembangkan hutan tanaman dan hasil hutan non kayu;
9) Peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan hutan tanaman;
10) Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menunjang produktivitas sektor kehutanan;
11) Penetapan kawasan hutan;
12) Penetapan kesatuan pengelolaan hutan khususnya di luar P. Jawa;
13) Penatagunaan hutan dan pengendalian alih fungsi, dan status kawasan hutan;
14) Pembinaan kelembagaan hutan produksi; dan
15) Pengembangan sertifikasi pengelolaan hutan lestari.
c. Program perlindungan dan konservasi SDA:
1) Restrukturisasi peraturan tentang pemberian hak pengelolaan SDA;
2) Penguatan organisasi masyarakat adat/lokal dalam pengelolaan SDA dan LH;
3) Pengembangan dan penyebar luasan pengetahuan tentang pengelolaan SDA yang berkelanjutan, termasuk kearifan lokal;
4) Pengembangan sistem insentif bagi masyarakat miskin untuk menjaga lingkungan;
5) Pengembangan kerjasama kemitraan dengan lembaga masyarakat setempat dan dunia usaha dalam pelestarian dan perlindungan SDA;
7) Rehabilitasi ekosistem (lahan kritis, lahan marginal, hutan bakau, terumbu karang, dll) berbasis masyarakat;
8) Perlindungan SDA dari pemanfaatan yang eksploitatif dan tidak terkendali terutama di kawasan konservasi seperti DAS dan kawasan lain yang rentan terhadap kerusakan;
9) Pengelolaan dan perlindungan keanekaragaman hayati dari ancaman kepunahan;
10) Pengembangan sistem insentif dan disinsentif dalam perlindungan dan konservasi SDA;
11) Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam perlindungan SDA;
12) Pengembangan dan pemasyarakatan teknologi tepat guna;
13) Pengkajian kembali kebijakan perlindungan dan konservasi SDA;
14) Perlindungan hutan dari kebakaran;
15) Pengembangan koordinasi kelembagaan pengelolaan DAS terpadu;
16) Perumusan mekanisme pendanaan bagi kegiatan perlindungan dan konservasi SDA;
17) Pengembangan kemitraan dengan perguruan tinggi, masyarakat setempat, lembaga swadaya, legislatif, dan dunia usaha dalam perlindungan dan pelestarian SDA; dan
18) Pengusahaan DAK sebagai kompensasi daerah yang memiliki dan menjaga kawasan lindung.
d. Program Pengembangan kapasitas pengelolaan SDA dan LH:
1) Pengembangan sistem pengawasan pemanfaatan SDA oleh masyarakat;
2) Pengembangan sistem pengolahan SDA yang memberikan hak secara langsung kepada masyarakat;
3) Re-orientasi kerjasama dengan perusahaan multi nasional yang memanfaatkan SDA dan LH agar lebih berpihak kepada masyarakat;
4) Kerjasama dan tukar pengalaman dengan negara lain dalam meningkatkan kemampuan pengelolaan SDA yang berkelanjutan;
5) Peningkatan kapasitas kelembagaan, termasuk lembaga masyarakat adat serta aparatur pengelola SDA dan LH di pusat dan daerah;
6) Peningkatan peranserta masyarakat dalam pengelolaan SDA dan LH melalui pola kemitraan;
7) Penegakan hukum terpadu dalam penyelesaian hukum atas kasus perusakan SDA dan LH; dan
8) Pengkajian kembali penerapan kebijakan pembangunan melalui internalisasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
e. Program rehabilitasi dan pemulihan cadangan SDA:
1) Peningkatan rehabilitasi daerah hulu untuk menjamin ketersediaan pasokan air irigasi untuk pertanian;
2) Penetapan wilayah prioritas pertambangan, rehabilitasi hutan, lahan, dan kawasan pesisir serta pulau-pulau kecil;
3) Peningkatan kapasitas kelembagaan, sarana, prasarana rehabilitasi hutan, lahan, dan kawasan pesisir serta pulau-pulau kecil;
4) Peningkatan efektifitas reboisasi yang dilaksanakan secara terpadu; dan
5) Rehabilitasi ekosistem dan habitat yang rusak dikawasan hutan, pesisir, perairan, bekas tambang, disertai pengembangan sistem manajemen pengelolaanya.
f. Program peningkatan kualitas dan akses informasi SDA dan LH:
1) Penyusunan data SDA baik data potensi maupun data daya dukung kawasan ekosistem, termasuk pulau-pulau kecil;
2) Pengembangan valuasi sumberdaya alam meliputi hutan, air, pesisir, dan cadangan mineral;
6) Pendataan dan penyelesaian tata batas hutan dan kawasan pebatasan dengan negara tetangga;
7) Penyebaran dan peningkatan akses kepada masyarakat;
8) Pengembangan sistem informasi terpadu antara sistem jaringan pemanfaatan kualitas LH pusat dan daerah; dan
9) Sosialisasi, pelaksanaan dan pemantauan berbagai perjanjian internasional baik di pusat dan daerah.
Dengan demikian, revitalisasi kehutanan ditujukan untuk meningkatkan produktivitas sumber daya hutan melalui peningkatan peran serta para pihak, baik dunia usaha, masyarakat maupun pemerintah. Peningkatan produktivitas sumber daya hutan berarti peningkatan output baik dalam bentuk hasil hutan kayu maupun non-kayu (termasuk jasa lingkungan).
Peningkatan produktivitas sumber daya hutan tersebut diharapkan akan membuka lapangan pekerjaan dan peluang usaha yang lebih luas bagi masyarakat maupun dunia usaha. Peningkatan kesempatan kerja dan peluang usaha, selain mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan dan peningkatan taraf hidup masyarakat, juga mendukung pembangunan perekonomian lokal, regional dan nasional secara berkelanjutan (sustainable development).
Program revitalisasi perikanan yang akan dikembangkan mencakup revitalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang ada berupa berbagai kegiatan usaha di bidang penangkapan ikan dan budidaya Perikanan, serta mengoptimalkan operasional unit usaha pengolahan ikan dalam negeri. Program revitalisasi perikanan juga mencakup penciptaan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru berupa pemanfaatan peluang usaha perikanan yang masih memiliki prospek yang baik.