113 Tabel 3. Persyaratan teknis minimal pupuk organik padat
IDENTIFIKASI PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN BUAH NAGA SUPER MERAH
(Hylocereus costaricensis) DI KABUPATEN KEPAHIANGPROVINSIBENGKULU
IDENTIFICATION OF MAJOR DISEASES ON RED SUPER DRAGON FRUIT (Hylocereus costaricensis) IN KEPAHIANG DISTRICT, PROVINCE OF BENGKULU
Reni Andista1, Tunjung Pamekas2 dan Usman Kris Joko Suharjo1
1
Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
2
Program Studi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Jl. W.R.Supratman, Kandang Limun, Bengkulu 38371 Telp : (0736) 21290
e-mail : [email protected] ABSTRAK
Buah naga (Hylocereus sp.) merupakan salah satu tanaman tropika yang populer dan diminati karena memiliki banyak khasiatnya bagi kesehatan tubuh. Pengembangan tanaman buah naga merupakan salah satu program unggulan Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang. Namun demikian, upaya pengembangan itu menghadapi hambatan terkait dengan serangan penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit utama pada tanaman buah naga berdasarkan ketinggian tempat yang berbeda di Kabupaten Kepahiang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai dengan bulan September 2015, di 3 kebun buah naga Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu dan di Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Pemilihan kebun buah naga dilakukan dengan metode stratified sampling dan pengambilan sampel tanaman sakit dilakukan dengan metode purposive sampling sebanyak 10 % dari jumlah tanaman sakit dari jumlah tanaman per kebun. Isolasi patogen dilakukan dengan 2 cara yaitu penanaman jaringan dan pengenceran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 4 penyakit utama yang menyerang tanaman buah naga di daerah tersebut yaitu penyakit kuning sulur, penyakit karat merah kecoklatan (Cephaleuros sp), penyakit putih sulur (Pleiochaeta sp., Fusarium sp.), dan penyakit busuk sulur (Trihocladium sp., Acremonium sp., dan Sclerotium sp).
Kata kunci : Buah naga super merah, penyakit utama, Bengkulu
ABSTRACT
Dragon fruit (Hylocereus sp.) is one of the most exotic tropical plants. It is very popular in Indonesia due to its nutrition values. The fruit has been extensively grown by the local government of Kepahiang district. The objective of this research was to identify and measure the disease severity of the major diseases on dragon fruits at three different elevations in Kepahiang district. The research was carried out from May 2015 to September 2015 on three dragon fruit orchards at District of Kepahiang and at the Laboratory of Plant Protection Departement, College of Agriculture, Bengkulu University. The sampling methods employed in this research were stratified sampling and purposive sampling, in which 10 % of the crop population in each orchard was used as the object of observation. Identification of the pathogens has been done by tissue culture and dilution methods. The results showed that four major diseases we`ve found at each orchard causing yellowish vine, brownish red rust (Cephaleuros sp.), whitish vine wilt (Pleiochaeta sp., Fusarium sp.), and vine wilt (Trihocladium sp. , Acremonium sp., and Sclerotium sp).
Keywords: super red dragon fruit, diseases infection, Bengkulu
PENDAHULUAN
Buah naga mulai dikembangkan dan dibudidayakan secara komersial di Indonesia pada sekitar tahun 2000 (Jaya, 2010). Ada 4 jenis buah naga yang sudah dibudidayakan, yaitu buah naga daging merah (Hylocereus polyrizus), buah naga daging putih (H. undatus), buah naga daging merah super (H. costaricensis), dan buah naga kulit kuning (Selenecerius megalanthus) (Renasari, 2010). Untuk memenuhi permintaan pasar domestik yang cukup tinggi maka upaya peningkatan produksi melalui perluasan budidaya harus dilakukan, sehingga budidaya buah naga merupakan peluang bisnis yang menjanjikan di bidang pertanian, khususnya pada tanaman hortikultura yang sudah mendunia tersebut. Permintaan buah naga di pasaran terus meningkat, maka semakin berkembang pula budidayanya. Buah naga ini mulai populer dan digemari oleh masyarakat Indonesia karena rasanya
153
yang manis dan memiliki beragam manfaat dan khasiat untuk kesehatan serta kaya akan nutrisi, seperti vitamin C, beta karoten, kalsium, dan karbohidrat serta mengandung gula yang cukup tinggi (Kristanto, 2008).
Tanaman buah naga tidak lepas dari adanya gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menyerang, kerusakan oleh OPT berpengaruh terhadap hasil panen seperti penurunan jumlah dan mutu produksi yang mengakibatkan kerugian ekonomi (Palungkun dan Indrayani, 1992). Peluang terjadinya outbreak hama atau penyakit ini dikarenakan penanaman suatu komoditas pertanian yang secara luas dan monokultur serta dengan jarak tanam yang rapat (Jaya, 2009). Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu sangat potensial sebagai daerah penghasil buah naga. Sejauh ini, belum ada data mengenai penyakit yang menyerang pada tanaman buah naga di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Mengingat data penyakit sangat penting untuk perkembangan perkebunan buah naga di Kabupaten Kepahiang, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi penyakit utama pada tanaman buah naga berdasarkan ketinggian tempat yang berbeda di Kabupaten Kepahiang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi penyakit utama tanaman buah naga Super Merah di Kabupaten Kepahyang Provisnsi Bengkulu.
METODOLOGI
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan bulan September 2015 di kebun buah naga Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu dan di Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Pengambilan sampel kebun penelitian diambil dengan metode stratified sampling dengan melihat ketinggian tempat semua kecamatan yang ada di Kabupaten Kepahiang. Kemudian semua kecamatan dikelompokkan berdasarkan 3 ketinggian tempat yang berbeda. Kebun penelitian berada pada 3 tempat yang berbeda ketinggiannya yang mewakili semua Kecamatan di Kabupaten Kepahiang, ketiga kebun tersebut adalah : 1= kebun buah naga pada ketinggian < 500 m dpl, 2= kebun buah naga pada ketinggian 500-600 m dpl dan 3= kebun buah naga pada ketinggian > 600 m dpl.
Bahan yang digunakan adalah sampel bagian tanaman buah naga yang sakit, sampel tanah di sekitar perakaran tanaman sakit, medium Potato Dextrose Agar (PDA), medium Natrium Agar (NA), alkohol 96 %, aquades, NaOCL 1 %, tisu, dan kertas saring steril. Sedangkan alat yang digunakan adalah mikroskop dan perangkatnya, cawan petri, tabung reaksi, gelas ukur, gelas erlenmeyer, pipet tetes, pipet mikron, jarum ent/ose, pinset, bunsen, ent case, vortex, gunting, timbangan analitik, dan ruang inkubasi.
Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi: Pengamatan kondisi lahan buah naga, isolasi dan identifikasi patogen.
1. Pengamatan kondisi lahan buah naga.
Pada tahap ini dilakukan survei lahan buah naga di Kabupaten Kepahiang. Survei lahan dilakukan dengan mengamati ketinggian tempat, kelembaban, temperatur kebun, kondisi tanaman, jarak tanam, jenis buah naga yang ditanam, dan sejarah lahan.
2. Isolasi dan identifikasi patogen.
a) Isolasi patogen dilakukan dengan metode menanam jaringan dan pengenceran.
Isolasi dengan metode menanam jaringan dilakukan sebagai berikut : Bahan tanaman sakit dibersihkan dari tanah atau kotoran yang melekat dengan air mengalir. Kemudian bahan tanaman sakit dipotong antara bagian yang sehat dan sakit dengan ukuran 1 x 1 cm2. Potongan direndam dalam larutan NaOCl 1% selama 1 menit. Selanjutnya potongan tanaman sakit diangkat dengan pinset steril dan dikeringkan di atas tisu steril untuk menghilangkan sisa-sisa larutan NaOCl. Selanjutnya potongan tanaman sakit diletakkan di atas media tumbuh (PDA/NA). Kemudian diinkubasikan di suhu kamar selama 5-7 hari. Hifa-hifa jamur atau koloni bakteri yang tumbuh pada potongan tanaman sakit selanjutnya diamati dan direisolasi ke medium PDA/NA baru hingga didapatkan biakan murni.
Isolasi dengan metode pengenceran dilakukan sebagai berikut : Tanah dari rizosfer tanaman sakit dibersihkan dari sisa-sisa tanaman. Kemudian tanah sebanyak 10 g dicampur dengan 90 ml aquades steril dan dihomogenkan. Sebanyak 1 ml suspensi diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml aquades steril dan dihomogenkan. Proses tersebut diulangi sampai diperoleh pengenceran 10-5. Sebanyak 1 ml suspensi dengan pengenceran 10-5 diteteskan di atas medium PDA/NA yang telah membeku, selanjutnya cawan
154
petri diinkubasikan di suhu kamar selama 5-7 hari. Hifa-hifa jamur atau koloni bakteri yang tumbuh pada potongan tanaman sakit selanjutnya diamati dan direisolasi ke medium PDA/NA baru hingga didapatkan biakan murni.
b) Identifikasi patogen
Identifikasi makroskopisdilakukandenganmengamatibentuk (lingkaran konsentris), warna koloni, elevasi (permukaan miselium), ketebalan koloni,dan keberadaan miselium udara. Identifikasi mikroskopis dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop dengan meliputi bentuk dan ukuran konidia, bentuk konidiofor dan fialit, warna konidia.
Semua data makroskopis dan mikroskopis patogen akan dipakai untuk mengidentifikasi
patogen berdasarkan buku identifikasi Domsch (1993), Barnet (1988) dan Bergey’s (2007).
Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif dilengkapi dengan gambar-gambar. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanaman buah naga tidak terlepas dari gangguan OPT apalagi kondisi tanaman buah naga di setiap lahan secara umum kurang terawat. Setelah dilakukan pengamatan ditemukan beberapa penyakit yang menyerang tanaman buah naga di setiap lahan, seperti terlihat dalam Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Jenis penyakit yang ditemukan di 3 lahan penelitian
Jenis penyakit Lahan
Kepahiang Ujan Mas Kabawetan
Kuning sulur + - +
Putih sulur + - +
Karatmerah kecoklatan + + +
Busuk sulur + + +
Ket: + (ada), - (tidak ada). Sumber : Data Primer (2016)
1. Penyakit kuning sulur
Gejala penyakit kuning sulur yaitu sulur berwarna kuning sebagian atau menyeluruh ini cukup banyak ditemukan pada kebun naga pada umumnya. Pada sulur tidak ditemukan bekas tusukan atau gigitan yang menyebabkan sulur menguning (Gambar 1). Untuk mengetahui jenis penyakit yang menyerang, maka dilakukan dengan cara pengamatan gejala di lapangan, setelah itu dilanjutkan dengan uji laboratorium yaitu isolasi dan identifikasi. Namun, pada tahap isolasi dengan cara penanaman jaringan tidak ditemukan patogen yang tumbuh pada medium PDA tersebut. Sulur menguning diduga akibat kondisi lingkungan yang tidak menyediakan hara dalam jumlah cukup sehingga menyebabkan gangguan fisiologis.
Gambar 1. Gejala penyakit kuning sulur pada tanaman buah naga super merah. Sumber: Data primer (2015)
Bagian yang mengalami klorosis dapat menghambat pertumbuhan tanaman atau bahkan gagal
untuk membentuk bunga dan buah, selain itu sulur yang klorosis akan lebih rentan terhadap penyakit.