Senyawa Jumlah Unsur Jumlah
SiO2 (%) 65,06 Si (%) 30,42 TiO2 (%) 0,11 Ti (%) 0,07 Al2O3 (%) 2,20 Al (%) 1,17 Fe2O3 (%) 2,09 Fe (%) 1,46 MnO (%) 0,09 Mn (%) 0,07 CaO (%) 8,61 Ca (%) 6,16 MgO (%) 6,90 Mg (%) 4,16 Na2O (%) 0,17 Na (%) 0,12 K2O (%) 8,41 K (%) 6,98 P2O5 (%) 3,24 P (%) 1,42 SO3 (ppm) 767,00 S (ppm) 307,00 ZnO (ppm) 31,00 Zn (ppm) 25,00 CuO (ppm) 316,00 Cu (ppm) 252,00 SrO (ppm) 73,00 Sr (ppm) 62,00 Cr2O3 (ppm) 200,00 Cr (ppm) 137,00 Rb2O (ppm) 373,00 Rb (ppm) 341,00 LOI (%) 2,93 - -
Sumber : Eliartati et al., 2014
Pelaksanaan kegiatan terdiri dari beberapa tahap, yaitu penggilingan kerak boiler, persiapan media tanam, pembibitan, penanaman dan panen. Penggilingan kerak boiler dilakukan menggunakan mesin penggiling batu kapur. Kerak boiler yang telah halus diayak dengan ayakan 500 μm (32 mesh).
a b
Sumber : Eliartati et al., 2014
Gambar 1 Kerak boiler sebelum (a) dan setelah (b) digiling
Tanah untuk media tanam diambil sampai kedalaman 20 cm. Tanah dikeringudarakan, kemudian dihaluskan dan diayak menggunakan ayakan 5 mm. Tanah ditimbang 4,5 kg berat kering udara (BKU). Tanah dicampur kerak boiler yang sudah dihaluskan dan diaduk secara merata, kemudian dimasukkan ke dalam pot plastik dan diinkubasi selama satu minggu.
Pembibitan menggunakan bak plastik dengan media campuran tanah dan kompos. Bibit dipindahkan pada umur 2 minggu atau saat bibit mempunyai 4 daun. Setiap pot ditanami dengan 2 tanaman yang dipelihara sampai panen. Pemeliharaan yang dilakukan meliputi pemupukan, penyiraman, pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pemberian pupuk dilakukan sekali yaitu pada saat tanam dengan dosis Urea 400 kg/ha, SP-36 300 kg/ha dan KCl 200 kg/ha atau Urea 3,2 gr/pot, SP-36 2,4 gr/pot dan KCl 1,6 gr/pot. Penyiraman dilakukan dua kali yaitu pagi dan sore hari. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan mengikuti konsep pengendalian hama dan penyakit terpadu.
Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam (HST) dengan cara memotong bagian atas tanaman. Bagian atas tanaman ditimbang untuk mengetahui berat basah tanaman yang digunakan untuk mencerminkan produksi tanaman. Kemudian bagian yang dipanen dimasukkan ke dalam amplop kertas untuk selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 60oC
181
selama 24 jam atau sampai berat menjadi tetap. Setelah kering tanaman ditimbang untuk mengetahui berat kering tanaman, kemudian digiling untuk digunakan dalam analisis kadar hara tanaman.
Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, sehingga diperoleh 20 satuan percobaan. Perlakuan yang dimaksud adalah :
A0 : Kontrol (tanpa kerak boiler)
A1 : Kerak boiler 250 mg/pot (100 kg/ha) A2 : Kerak boiler 500 mg/pot (200 kg/ha) A3 : Kerak boiler 1000 mg/pot (400 kg/ha)
Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, berat basah tanaman serta kadar hara N, P, K, Ca dan Mg tanaman.Data hasil pengamatan dianalisis secara statistika menggunakan Analisys of Variance (ANOVA) dengan uji F pada tarafnyata 5 %. Jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji lanjutan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Hasil pengukuran tinggi tanaman, panjang daun terpanjang, lebar daun terlebar, jumlah daun dan berat basah tanaman disajikan pada Tabel 2. Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa perlakuan berbagai dosis kerak boiler tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan berat basah tanaman. Hal ini diduga disebabkan jumlah unsur hara yang terlepas dari kerak boiler sangat sedikit, sehingga belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Hasil penelitian Eliartati et al., (2014) yang menunjukkan bahwa kelarutan kalium dari kerak boiler dengan pelarut H2O hanya 0,06% dan dengan pelarut HCl 0,05 N 0,19%. Dengan demikian dibutuhkan waktu yang lebih lama agar terjadi pelepasan unsur hara secara maksimal dari kerak boiler.
Tabel 2. Pengaruh aplikasi kerak boiler terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman caisim umur 30 HST Perlakuan Tinggi Tanaman (cm) Jumlah Daun (helai) Panjang Daun (cm) Lebar Daun (cm) Berat Basah (gr/tan)
Kontrol (Tanpakerak boiler) 41,06 a 11 a 38,42 a 15,30 a 111,84 a
Kerak boiler 250 mg/pot 41,02 a 11 a 38,50 a 14,90 a 113,98 a
Kerak boiler 500 mg/pot 41,92 a 11 a 39,54 a 15,42 a 112,52 a
Kerak boiler 1000 mg/pot 42,48 a 11 a 39,02 a 15,50 a 118,54 a
KK (%) 4,40 9,22 4,31 6,98 12,46
Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil yang sama, tidak berbeda nyata menurut Duncan Multiple Range Test pada taraf nyata 5 %.
Sumber : Diolah dari data primer
Walaupun secara statistik tidak berpengaruh nyata, tetapi secara angka-angka terlihat adanya kecenderungan pemberian kerak boiler meningkatkan tinggi tanaman, panjang daun terpanjang, lebar daun terlebar dan berat basah tanaman sejalan dengan peningkatan dosis abu boiler yang diberikan (Tabel 2). Perlakuan kerak boiler dosis 1000 mg/pot memperlihatkan tinggi tanaman, lebar daun terlebar dan berat basah tanaman yang tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hasil penelitian Purwati et al. (2007) menunjukkan bahwa abu sisa (fly ash) pembakaran kulit kayu dari boiler industri pulp and paper meningkatkan pertumbuhan tanaman akasia baik di rumah kaca maupun di lapangan. Selain itu hasil penelitian Harmalinda (2012) menunjukkan bahwa pemberian terak baja baik tanpa maupun dikombinasikan dengan bahan organik mampu meningkatkan produksi tanaman caisim.
Kandungan senyawa CaO dan MgO dalam kerak boiler (Tabel 1) dapat meningkatkan pH tanah. Seperti yang dikemukakan oleh Ai Dariah et al. (2015) bahwa senyawa CaO dan MgO dalam tanah akan bereaksi dengan air membentuk CaCO3 dan MgCO3 yang berperan dalam penurunan Aldd.Pada tanah mineral masam, sumber kemasaman tanah yang utama adalah Al3+ yang akan menyumbangkan H+ ke dalam larutan tanah melalui proses hidrolisis.Selain itu pengapuran juga
182
berfungsi meningkatkan aktivitas mikroba tanah (Shah et al., 1990; Andersson dan Nilsson, 2001). Mikroba mempunyai peranan penting dalam penyediaan unsur hara dalam tanah, melalui aktifitasnya dalam proses dekomposisi bahan organik dan mineral tanah.
Kandungan unsur hara esensial yang terdapat pada kerak boiler (Tabel 1) akan meningkatkan ketersediaanya dalam tanah. Walaupun sumbangan terhadap ketersediaan unsur hara dalam tanah kecil, tetapi mempunyai peranan cukup penting dalam menyokong pertumbuhan dan perkembangan tanaman caisim. Tanaman membutuhkan unsur hara yang cukup agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kadar N, P, K, Ca dan Mg Tanaman Setelah Panen
Data hasil analisis statistik kadar N, P, K, Ca dan Mg tanaman setelah panen disajikan pada Tabel 3. Pada Tabel 3 terlihat kerak boiler berpengaruh nyata terhadap kadar P, K, Ca dan Mg tanaman setelah panen, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar N tanaman setelah panen. Tabel 3. Pengaruh aplikasi kerak boiler terhadap kadar hara N, P, K, Ca, dan Mg tanaman caisim
umur 30 HST
Perlakuan
Variabel yang Diamati N (%) P (%) K (%) Ca (%) Mg (%)
Kontrol (Tanpakerak boiler) 4,14 a 0,40 b 1,64 b 0,99 b 0,106 b
Kerak boiler250 mg/pot 4,20 a 0,44 b 1,76 ab 1,14 ab 0,112 ab
Kerak boiler 500 mg/pot 4,28 a 0,44 b 1,71 ab 1,15 ab 0,114 ab
Kerak boiler 1000 mg/pot 4,13 a 0,49 ab 1,81 a 1,21 a 0,122 a
KK (%) 7,30 7,34 5,76 12,24 8,81
Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil yang sama, tidak berbeda nyata menurut Duncan Multiple Range Test pada taraf nyata 5 %
Sumber : Diolah dari data primer
Pada Tabel 3 terlihat bahwa kadar N tanaman tidak dipengaruhi oleh pemberian kerak boiler. Hal ini diduga karena pada komposisi kerak boiler tidak terdapat N (Tabel 1). Nitrogen bersifat volatil sehingga hilang pada saat terjadi pembakaran cangkang dan serat kelapa sawit. Dengan demikian pemberian kerak boiler tidak menyumbangkan N ke dalam tanah, sehingga N yang diserap tanaman berasal dari tanah dan pupuk an organikyang diberikan.
Kadar P, K, Ca dan Mg tanaman cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan dosis kerak boiler yang diberikan. Hal ini diduga disebabkan kerak boiler yang diberikan meningkatkan ketersediaan P, K, Ca dan Mg tanah dengan jalan melepaskan sebagian unsur hara yang dikandungkan ke dalam tanah, sehingga jumlah yang diserap oleh tanaman juga meningkat. Makin banyak jumlah kerak boiler yang diberikan, makin banyak unsur hara yang dilepaskan.
Selain itu kerak boiler yang diberikan diduga meningkatkan pH tanah. Peningkatan pH tanah akan meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah. Ai Dariah et al. (2015) pada tanah mineral masam, sumber kemasaman tanah yang utama adalah Al3+ yang akan menyumbangkan H+ ke dalam larutan tanah melalui proses hidrolisis. Pada tanah masam sebagian besar unsur hara terdapat dalam bentuk tidak tersedia karena berikatan dengan Al. Peningkatan pH tanah akan menurunkan Aldd tanah yang menyebabkan unsur hara lepas dan menjadi tersedia bagi tanaman. Sejalan dengan hasil penelitian Bintang dan Lahuddin (2007) menunjukkan bahwa peningkatan pH tanah meningkatkan N-total, P tersedia dan K-tukar tanah ultisol.
KESIMPULAN
1. Pemberian kerak boiler memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman caisim. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan dan hasil tanaman caisim yang mendapat perlakuan kerak boiler lebih baik dibandingkan dengan tanpa perlakuan kerak boiler. Pemberian kerak boiler dapat meningkatkan hasil tanaman caisim berkisar antara 0,6 – 6 %. 2. Pemberian kerak boiler meningkatkan kadar hara P, K, Ca dan Mg tanaman caisim.
183
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang telah mendanai penelitian ini serta Bapak Dr Ir Iskandar, Bapak Dr Ir Basuki Sumawinata, M.Agr dan Ibu Dr Ir. Sri Djuniwati, MSc (alm) atas bimbingan dan saran selama penelitian ini dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Ai Dariah, S. Sutono, N.L. Nurida, W. Hartatik dan E. Pratiwi. 2015. Pembenah tanah untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Jurnal Sumberdaya Lahan 9(2) : 67-84. Altwair, N.M., M.A.M Johari dan S.F.S. Hashim. 2011. Influence of calcination temperature on
characteristics and pozzolanic activity of palm oil waste ash. Aust. J. Basic & Appl. Sci.5(11) 1010-1018.
Andersson, S. dan S.I. Nilsson. 2001. Influence of pH and temperature on microbial activity, substrate availability of soil-solution bacteria and leaching of dissolved organic carbon in a mor humus. Soil Biol. Biochem 33 : 1181–1191.
Bezdicek, D.F., T. Beaver dan D. Granatstein. 2003. Subsoil ridge tillage and lime effects on soil microbial activity, soil pH, erosion, and
wheat and pea yield in the Pasific Northwest, USA. Soil & Tillage Research 74 : 55-63. Available online at www.sciencedirect.com.
Bintang dan Lahuddin. 2007. Suplai hara N, P, K dan perubahan pH serta pertumbuhan tanaman kedelai dengan pemberian abu serbuk gergaji pada tanah Ultisol. Prosiding Seminar Nasional Inovasi dan Alih TeknologiSpesifik Lokasi Mendukung Revitalisasi Pertanian. Medan, 5 Juni 2007. Hal : 296-303
Borhan, M.N., A. Ismail and R.A. Rahmat. 2010. Evaluation of palm oil fuel ash on asphalt mixtures. Aust. J. Basic & Appl. Sci.4(10) : 5456-5463.
Eliartati, Iskandar dan B. Sumawinata. 2014. Pengaruh penambahan abu boiler terhadap kualitas kompos tandan kosong kelapa sawit. Agrica Ekstensia 8(1) : 26-38.
Karim, Md.R., M.F.M. Zain, M. Jamil dan Md.N Islam. 2011. Strength of concrete as influence by palm oil fuel ash. Aust. J. Basic & Appl. Sci. 5(5) : 990-997.
Mulyani, A. dan M. Sarwani. 2013. Karakteristik dan potensi lahan sub optimal untuk pengembangan pertanian di Indonesia. Jurnal Sumberdaya Lahan 7(1) : 47-55.
Phillips, R. dan M. Rix. 1993. Vegetables. A Pan Garden Plants Series. Pan Books Ltd. London. Poincelot, R.P. 2004. Sustainable Horticulture : Today and Tomorrow. Pearseon Education, Inc.
Upper Saddle River. New Jersey.
Purwati, S., R. Soetopo dan Y. Setiawan. 2007. Potensi penggunaan abu boiler industri pulp dan kertas sebagai bahan pengkondisi tanah gambut pada aeral hutan tanaman industri. BS 42(1) : 8-17.
Shah, Z., W.A. Adams dan C.D.V. Haven. 1990. Composition and activity of the microbial population in an acidic upland soil and effects of liming. Soil Biol. Biochem 22, 257–264.
Subagyo, H., N. Suharta dan A.B. Siswanto. 2000. Tanah-tanah Pertanian di Indonesia. Dalam Buku Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Hal. 21-66.
184
PENAMPILAN FENOTIPIK 17 GENOTIP ANYELIR INTERSPESIFIK DAN TETUA JANTANSK 11_1 DI LAHAN TERBUKA
PHENOTYPIC PERFORMANCE OF 17 INTERSPECIFIC CARNATION GENOTYPES AND MALE PARENT SK 11-1 IN THE OPEN FIELD
Dewanti, M.1, Neni Rostini2, Murdaningsih H. K.2, Anas2
1
Balai Penelitian Tanaman Hias, Jl. Raya Ciherang-Pacet, Cianjur 43253
2
Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran Bandung e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Selama ini anyelir dibudidayakan di bawah rumah lindung. Genotip anyelir interspesifik hasil persilangan Dianthus caryophyllus L. x Dianthus chinensis secara visual cocok dimanfaatkan sebagai tanaman hias taman, sehingga perlu dilakukan percobaan penanaman genotip-genotip tersebut di lahan terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotip anyelir interspesifik yang berpenampilan unggul sebagai tanaman hias taman. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Penelitian Tanaman Hias Cipanas-Cianjur, dari bulan Juni 2015 sampai Desember 2015. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan terdiri dari 17 genotip anyelir interspesifik dan satu tetua jantan SK 11_1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip C5 memiliki perpaduan enam karakter unggul sebagai tanaman hias taman, yaitu tanaman kokoh, daun panjang dan lebar, umur genjah dan diameter bunga cukup besar. Genotip B5 dan E6 memiliki empat karakter unggul sebagai tanaman hias taman, yaitu tanaman pendek, umur genjah, kesegaran bunga bertahan lama, jumlah bunga mekar per satu waktu cukup banyak. Genotip C8, C4, C10, C14, E1, D6 dan E4 masing-masing memiliki tiga karakter unggul sebagai tanaman hias taman. Genotip-genotip tersebut dapat dijadikan sebagai genotip anyelir taman harapan.
Kata kunci : penampilan fenotipik, anyelir interspesifik, tanaman hias taman.
ABSTRACT
Up to now, carnation is cultivated under protected houses. Interspecific carnation genotype product of interspecific hybridization between Dianthus caryophyllus L. x Dianthus chinensis, in a visual manner suitable be used as landscape ornamental plant, so need to be cultivated in the open field. The objective of this study was to get some interspecific carnation genotype which has superior performance as landscape ornamental plant. The experiment was conducted at the Indonesian Ornamental Crops Research Institute experiment station in Cipanas – Cianjur, from June 2015 –
December 2015. The experiment was arranged using randomized block design (RBD). The treatment consisted of 17 genotypes of interspecific carnation and one male parent SK 11_1. The result showed that C5 genotype has six superior characters as landscape ornamental plant, i.e steady plant, length and width leaf, early flowering and large flower diameter. B5 and E6 genotype have four superior characters as landscape plant, i. e. Short plant, early flowering, long vase life and large number of bloomed flower per period. C8, C4, C10, C14, E1, D6 and E4 genotypes have three superior characters as landscape plant. That genotypes could became as expected landscape carnation genotypes.
Keywords : phenotypic performance, interspecific carnation, landscape ornamental plant
PENDAHULUAN
Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu komoditas bunga potong komersial yang sangat penting di dunia, selain mawar dan krisan (Tarannum dan Hemla Naik, 2014). Ketiga komoditas bunga potong ini menguasai hampir 50% pasar bunga potong dunia (Jawaharlal et al. 2010). Anyelir komersial yang ada saat ini merupakan turunan dari spesies D. caryophyllus yang berasal dari Eropa bagian selatan dan Asia bagian barat (Mii et al. 1990). Anyelir potong mulai menduduki pasar domestik tahun 1987 (Hardjoko, 1999).
Di Indonesia anyelir dikenal sebagai tanaman hias bunga potong yang dibudidayakan di bawah rumah lindung/rumah serre. Anyelir sebagai tanaman hias taman belum berkembang, namun melihat komoditas tanaman hias taman yang cenderung meningkat permintaan pasarnya, maka sudah seharusnya mulai merakit anyelir taman.