Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dikemukakan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat- kan pendidikan”. Fungsi mendapatkan pendidikan tertuang dalam UU Sisdiknas 20/ 2003 pasal 3 yang berbunyi “ .. menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Diperjelas lagi dalam Peraturan Pemerintah No.19/2005 atau No 32/2013 yang mengatakan bahwa pendidikan diatur dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).
SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah NKRI untuk mengembangkan kurikulum di sekolah. Fungsinya SNP sebagai pengikat KTSP yang dikembangkan oleh setiap sekolah. Ada delapan SNP yaitu Standar Isi, Standar Proses, Standar kompetensi lulusan, Standar tenaga dan kependidikan, Standar sarana dan prasarana, Standar pengelolaan, Standar pembiayaan, dan Standar penilaian. Untuk Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Ruang lingkup Standar Isi terdiri dari Kerangka dasar dan struktur kurikulum, KTSP, Beban belajar, dan Kalender akademik yang dijabarkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan No. 22/2006 dan Permendiknas No. 81A /2013.
Menurut UU Sisdiknas Pasal 1 ayat 19 dikatakan bahwa kurikulum adalah Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan sebuah sistem, memiliki sejumlah komponen- komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan. Hal itu memberikan gambaran bahwa pendekatan sistem dalam pengembangan kurikulum merupakan bentuk berputar dan dinamis dimana empat komponen dari suatu model saling berhubungan yaitu komponen tujuan,
materi, evaluasi, dan metode. Kurikulum sebagai rencana untuk pengalaman yang dihadapi siswa di sekolah maka guru harus menyusun mata pelajaran, pengalaman belajar, program belajar, dan hasil apa saja yang diharapkan dapat jelas terlihat. Oleh karena itu kurikulum berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan, pendidikan, menjamin adanya pemeliharaan keseimbangan selama proses pendidikan, dan pemakai lulusan.
Dalam perkembangannya Kurikulum Pendidikan Dasar sudah mengalami sebanyak 9 kali perubahan yaitu kurikulum 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013 sedang dalam proses perubahan lagi. Sejak kemerdekaan Indonesia 1945 hingga 2003 pendekatan kurikulum yang digunakan adalah kurikulum berbasis materi (content-based curriculum development) sedangkan 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan Kurikulum 2013 Standart Based Curriculum yang menekankan pada pemikiran ilmuwan dengan metode ilmiah.
Organisasi kurikulum sebagai struktur program kurikulum berupa kerangka umum program pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Pandangan Nasution (1989:80) menyebutkan terdapat dua bentuk kurikulum, yakni: (1) Subject Curriculum (lebih menekankan pada pembentukan intelektual); dan (2) Integrated Curriculum (lebih menekankan pada pembentukan intelektual dan kepribadian);.
Subject Curriculum terbagi dalam 3 bentuk yaitu: Separated Curriculum (mata pelajaran terpisah dan tidak terkait satu dengan lain), Correlated Curriculum (mata pelajaran terkait satu lain dengan lain tetapi tetap ada karakteristik mata pelajaran), dan Broad-field Curriculum (beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri- ciri yang sama dikorelasikan dalam satu bidang pengajaran). Sedangkan Integrated Curriculum terbagi dalam 3 bentuk yaitu: Core Curriculum (meniadakan batasan mata pelajaran dan me- nyajikan pelajaran dalam bentuk unit secara keseluruhan), Social Curriculum (pelajaran didasarkan pada akivitas dalam masyarakat dan kebudayaannya), dan Activity Curriculum (pengalaman langsung dan minat lebih diutamakan dalam proses belajar).
Perbedaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 dan Kurikulum 2013
b. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Landasan penyusunan KTSP adalah UU RI 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No 19/2005 tentang SNP. Untuk pendidikan dasar dan menengah mengacu pada Permendiknas 22/2006 tentang Standar isi, Permendiknas 23/2006 tentang SKL, Permendiknas 24/2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidi- kan, Permendiknas 22 dan 23/2006 tentang panduan disusun oleh BSNP.
Tujuan KTSP 2006 memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk mengambil keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan struktur kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. Struktur KTSP merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus
Tabel 1: Struktur Kurikulum SD/MI KTSP
Struktur Kurikulum Kelas dan Alokasi Waktu
A. Mata Pelajaran I II III IV V VI
1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Tematik terpadu 5 2 Bahasa Indonesia 2 3 Matematika 5
4 Ilmu Pengetahuan Alam 4
5 Ilmu Pengetahuan Sosial 3
6 SBK 4 7 Penjaskes 4 8 Pendidikan Agama 2 B. Pengembangan Diri 2 C. Muatan Lokal 2 Jumlah 26-28 32
ditempuh oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran. Muatan Lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian terpadu dari strukutur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, pengembangan stuktur kurikulum dilakukan dengan mengatur alokasi waktu tatap muka seluruh pelajaran, memanfaat- kan waktu 4 jam tambahan untuk pelajaran baru, mencantumkan jenis mata pelajaran muatan lokal. Struktur kurikulum SD/MI dapat dilihat pada tabel berikut.
Dari tabel di atas beban belajar untuk kelas 1-3 SD bahwa satu jam pembelajaran tatap muka adalah 35 menit; Jumlah jam pembelajaran per minggu adalah 26 - 28 jam pembelajaran; Minggu efektif per tahun pelajaran adalah 34 - 38 minggu. sedangkan untuk kelas 4-6 SD satu jam pembelajaran tatap muka adalah 35 menit. Jumlah jam pembelajaran per minggu minimal 34 jam pembelajaran; Minggu efektif per tahun pelajaran adalah 32 minggu
Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Contoh kegiatan pengembangan diri yaitu kegiatan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. Dalam pelaksanaannya kegiatan pengembangan diri dipadukan dengan program muatan lokal yang bekerja sama dengan masyarakat. Oleh karena itu pengembangan diri bukan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru namun guru bertindak sebagai fasilitator untuk kegiatan tersebut.
Strategi pembelajaran yang digunakan contextual leaning agar siswa lebih responsif dalam menggu-
nakan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan nyata. Beberapa strategi yang digunakan seperti pembelajaran berbasis masalah, memanfaatkan lingkungan untuk memperoleh pengalaman belajar, memberikan aktivitas kelompok, membuat aktivitas belajar mandiri, bekerjasama dengan masyarakat, dan menerapkan penilaian autentik. Pendekatan yang digunakan terpadu untuk kelas 1-3 SD dan fragmented untuk kelas 4-6 SD.
KTSP menuntut guru, kepala sekolah, pengawas, dan jajaran terkait untuk mengem- bangkan kurikulum sesuai kondisi sekolah. Implementasi KTSP akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran sebagai muara dari Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Guru harus dapat menjabarkan dalam Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru juga harus dapat menjelaskan Standar Kompetensi Minimal (SKM) yang harus dicapai oleh peserta didik dan cara belajar untuk mencapai kompetensi tersebut. Untuk mencapai kompe-tensi guru dituntut
sebagai fasilitator dan motivator untuk mewujud- kan SK dan KD. c. Kurikulum 2013 Landasan Kurikulum 2013 adalah UU RI 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No 32/2013 tentang SNP. Untuk pendidikan dasar dan menengah mengacu pada Permendikbud 64/2013 tentang Stan- dar isi; Permendikbud 54/2013 tentang SKL. P e n g e m b a n g a n Kurikulum 2013 meru- pakan kelanjutan dari KTSP 2006 yang men- cakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Untuk mengantisipasi p e r k e m b a n g a n teknologi yang makin
pesat , lonjakan usia produktif , dan perdagangan pasar bebas 2015 maka disusun kurikulum 2013. Menciptakan manusia yang mandiri, mampu memecahkan masalah, mempunyai kepribadian yang kuat, inovatif dan kreatif dan menguasai teknologi.
Struktur Kurikulum 2013 mata pelajaran di SD dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok A dan B. Mata pelajaran Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran Kelompok B yang terdiri atas mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah. Berdasarkan Kompetensi Inti disusun mata pelajaran dan alokasi waktu yang sesuai dengan karak-
Tabel 2.: Struktur Kurikulum SD/MI Kurikulum 2013
Mata Pelajaran
Alokasi Waktu Perminggu
I II III IV V VI
Kelompok A
1 Pendidikan Agama danBudi Pekerti 4 4 4 4 4 4 2 Pendidikan Pancasiladan Kewarganegaraan 5 6 6 4 4 4
3 Bahasa Indonesia 8 10 7 7 7 7
4 Matematika 5 6 6 6 6 6
5 Ilmu Pengetahuan Alam 3 3 3
6 Ilmu Pengetahuan Sosial 3 3 3
Kelompok B
1 Seni Budaya & Prakarya 4 4 4 6 6 6 2 Pendidikan. Jasmani,Olahraga dan Kesehatan 4 4 4 3 3 3
Jumlah Alokasi Waktu
Perbedaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 dan Kurikulum 2013
teristik satuan pendidikan. Susunan mata pelajaran dan alokasi waktu untuk SD/MI pada tabel 2.
Dari tabel di atas beban belajar untuk kelas 1 SD bahwa satu jam pembelajaran tatap muka adalah 35 menit; Jumlah jam pembelajaran per minggu adalah 30 jam pembelajaran; kelas 2 SD 32 jam pelajaran ; kelas 3 SD jumlah jamnya 34 . Untuk kelas 4-6 SD jumlah jam pembelajaran per minggu 36 untuk satu jam pembelajaran tatap muka adalah 35 menit.
Strategi pembelajaran Kurikulum 2013 yang digunakan adalah pendekatan ilmiah (scientific approach). Pendekatan ilmiah dipergunakan sebagai jembatan untuk mengembangkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa dalam proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. Ada 7 kriteria dalam pendekatan scientific disampaikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu: (1) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu ; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. (2) Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru. (3) Siswa terbebas dari prasangka yang sertamerta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. (4) Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. (5) Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan,kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran. (6) Mendorong dan menginspirasi siswa dalam memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran. (7) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertang- gungjawabkan.
Proses pembelajaran ilmiah merupakan perpaduan antara proses pembelajaran yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomu- nikasikan (Kemendikbud, 2013). Meskipun ada yang mengembangkan lagi menjadi mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengolah data,
mengkomunikasikan, menginovasi dan mencipta. Namun, tujuan dari beberapa proses pembelajaran yang harus ada dalam pembelajaran scientific sama, yaitu menekankan bahwa belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat. Selain itu, guru cukup bertindak sebagai scaffolding ketika siswa mengalami kesulitan, serta guru bukan satu- satunya sumber belajar. Sikap tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan keteladanan. Pendekatan yang digunakan kelas 1-6 SD adalah tematik terpadu. metode yang digunakan bervariasi seperti diskusi kelompok, studi lapangan, percobaan, bermain peran , dll.
Kerangka kurikulum 2013 jenjang SD disusun berdasarkan kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). Penyusunan silabus sudah disiapkan oleh pemerintah guru hanya mengembangkan RPP dari buku panduan guru dan buku siswa yang sudah disiapkan oleh pemerintah.