• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpu lan

Dalam dokumen jurnal No22 Thn13 Juni2014. pdf (Halaman 88-92)

Pestalozzi terpanggil untuk memperhatikan, memberikan dan mengembangkan pendidikan bagi semua anak-anak tanpa membedakan status sosialnya. Setiap anak laki-laki dan perempuan mendapat kesempatan untuk memperoleh pengetahuan. Ia berhasrat untuk menolong anak memperoleh pendidikan supaya terdapat kemungkinan mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Pemikiran Pestalozzi tentang praktik dan teori dalam pendidikan sesuai dengan pandangan Paulo Freire. Pandangan tersebut menegaskan bahwa teori bukanlah sesuatu yang terlepas dari praktik. Setelah melalui pengalaman belajar di kelas maka akan menciptakan teori yang berguna untuk menumbuhkembangkan pendidikan karakter.15

Tujuan pelaksanaan PAK diarahkan untuk menghasilkan seorang yang hidup beriman kepada Allah dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya. Tujuan khusus adalah untuk memperlengkapi peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi perannya dalam masyarakat. Pendidikan tidak hanya membagikan pengetahuan saja tetapi membagi hidup dengan sesama. Pandangan ini selaras dengan pendapat Russell yang menegaskan bahwa sasaran pendidikan memberikan

Partisipasi Johann Heinrich Pestalozzi dalam Pendidikan Karakter

pengajaran tentang pengetahuan dan pelatihan perilaku yang baik. 16 Demikian juga pandangan Albertus Patty yang menuliskan bahwa pendidikan adalah soal mengkomunikasikan kabar baik dan soal membagi hidup bukan hanya memindahkan pengetahuan semesta.17 Titik berat pendidikan adalah pembentukan karakter dan keimanan kepada Allah untuk mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Pembekalan pengetahuan peserta ddik tidak hanya pada kemampuan kognitif saja tetapi memperhatikan kearifan sebagai moralitas mereka dalam mempelajari pengetahuan. Kurikulum Pestalozzi yang kontekstual senada dengan pandangan Paul Suparno yang menegaskan bahwa dalam pelaksanaan pendidikan, kurikulum disesuaikan dengan konteks yang ada dan fungsi sekolah yang bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat sebagai laboratorium pengembangan nilai-nilai ketulusan dan kejujuran.18 Adalah bijaksana jika penyampaian materi pembelajaran kepada anak- anak didik memperhatikan konteks dimana mereka tinggal. Mereka mempunyai hak atas kelangsungan hidup, perlindungan, perkem- bangan dan mendapatkan pendidikan.

Keteladanan hidup Pestalozzi menjadikan dia sebagai seorang pendidik yang penuh kasih dan selalu menciptakan hubungan persau- daraan di antara peserta didik. Seorang pendidik harus memiliki keteladanan hidup atas dasar kasih sehingga diperlukan ketulusan dalam pendidikan melalui kejujuran dalam menyam- paikan pengetahuan yang lebih dialogis atas dasar kasih. Pendidikan yang didasari kasih dapat dilakukan dengan cara menghindari terciptanya kompetisi yang tidak sehat dan tidak akan menciptakan kekerasan bagi peserta didik. Pendidikan anak berlangsung juga dalam keluarga di bawah bimbingan orang tua. Mereka dapat menolong anak-anaknya untuk mempelajari pengetahuan dan membimbing untuk mengenal Allah atas dasar kasih. Kepercayaan kepada Allah peserta didik dinyatakan melalui kasih kepada Allah dan sesama. Mengasihi Allah dapat dinyatakan melalui kepedulian untuk mendatangkan kebahagiaan bagi sesama. Penghayatan akan ajaran Kristus dinyatakan melalui pendidikan yang menyentuh sisi kemanusiaan peserta didik.

Saran

Di akhir tulisan ini penulis menyampaikan beberapa saran yang berhubungan dengan pikiran dan praktik PAK Johann Heinrich Pestalozzi bagi pendidikan yaitu: Pertama, Model pendidikan yang dipraktikkan hendaklah berdasarkan kasih kepada Allah dan sesama. Para guru memiliki kasih yang dapat dinyatakan melalui pendidikan bagi anak-anak didiknya. Suasana pendidikan yang dipenuhi kasih dapat menghasilkan anak-anak didik yang memiliki kepedulian dan mendatangkan kebahagiaan bagi sesamanya. Kedua, Model pendidikan di sekolah-sekolah perlu memperhatikan pengembangan kemampuan anak-anak didik yang pada akhirnya menjadi keterampilan yang akan mereka miliki. Keterampilan yang mereka miliki dapat menjadi bekal ketika berada di tengah-tengah masyarakat. Anak-anak didik dapat memanfaatkan apa yang ada di tengah- tengah masyarakat. Anak-anak didik dapat memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya untuk mengembangkan keterampilannya. Ketiga, Usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas guru. Usaha tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan jenjang pendidikan mereka dan pembekalan melalui pelatihan serta kursus- kursus yang sesuai dengan bidang keahliannya. Sekolah yang bermutu memerlukan sosok guru yang baik dan menjadi teladan bagi anak-anak didiknya dalam pengetahuan dan perilakunya. Ia dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak didik tidak merasa bosan dan jenuh belajar. Guru masuk kelas tidak hanya untuk memberi tugas bagi anak-anak didiknya tanpa menerangkan dan mengajak mereka terlibat setelah itu ia pergi dari ruang kelas. Keempat, Perlu memberdayakan potensi para ibu dalam mendidik anak-anaknya. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahu- an dalam mendidik anak-anak adalah melalui keterlibatan peranan gereja. Gereja dapat mempraktikkan beberapa metode pengajaran kepada para ibu yang bertemakan tentang mendidik anak-anak. Metode tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan, diantaranya: kegiatan pemahaman Alkitab, kelompok kecil, pembinaan warga gereja dan

khotbah. Kelima, Teori dan praktik PAK Pestalozzi dapat dipraktikkan di sekolah- sekolah umum atau negeri. Pernyataan tersebut diasumsikan karena tujuan praktik pendidikan Pestalozzi yaitu untuk memperbaiki akhlak, memberikan pengetahuan dan memperlengkapi anak-anak didik dengan keterampilan baik untuk dipakai di sekolah-sekolah itu. Keenam, Pada akhirnya pendidikan yang dilaksanakan harus dapat membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan, keterbelakangan, keterasingan, keterpurukkan dan kemiskinan. Pendidikan sebagai sarana untuk menuju pada kualitas kehidupan yang lebih baik dengan mempraktikkan karakter mereka.

Catatan kaki

1 Doni Koesoema, ‘Pendidikan dan Kekerasan,’

Kompas, 11 April 2007, kol.4, hlm.6.

2 http://myais.fsktm.um.edu.my/6578/1/

JPPSee_(113-129) B.pdf, 26 Agusus 2012

3 http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Suiceide_

rates_map-en.svg, 24 Agustus 2012

4 http:// sorot.vivanews.com/, 20 Desember 2012. 5 Frederick Eby, The Development of Modern Education

2 ed (New Delhi: Prentice-Hal of India PVT.LTD, 1964), 431.

6 Robert R.Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan

Praktek PAK (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1997), 188. Lihat juga Mark K. Smith, “Johann Heinrich Pestalozzi” (Encuclopedia on-line) didapat dari http://dipergunakan 3 Maret 2012. Dan Kate Silber, Pestalozzi: The Man and His Work, (London: Routledge and Kegan Paul, 1960), 4.

7 Heafford, Pestalozzi: His Though and Its Relevance

Today (London: Methuen, 1967), 11.

8 Erikson, The Reformers : An Historical Survey of

Pioneer Experiments in The Treatment of Criminals

(NewYork : Elsevier, 1976), 108.

9 Johann Heinrich Pestalozzi, How Gertrude Teaches

Her Children, Ed and Prefaces by Daniel Robinson (Washington D.C: University Publications, 1977), 347-348

10 Holman. H, Pestalozzi: An Account of His Life and

Work (London: Longmans, Gereen and co, 1908), 367.

11 Frederick Eby, The Development, 458. Lihat

Fredalene B Bowers and Thom Gehring,’Johann Heinrich Pestalozzi: 18 th Century Swiss Educator and Correctional Reformer’ didapat dari http:// dipergunakan 12 Maret 2014.

12 Donald Clark, Pestalozzi and Pestalozzianism ,

didapat dari http:// dipergunakan 23 Maret 2014

13 Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran, 228 14 Kate Silber, Psetalozzi The Man and His Work, 140. 15 Frederick Eby, The Development of Modern Education,

439

16 Kate Silber, Pestalozzi The Man and His Work, 134. 17 Mark K. Smith, Johann Heinrich Pestalozzi,

Encyclopedy on line: didapat dari http// dipergunakan 24 Maret 2014

18 Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran, 235. 19Ibid, 236.

20 Paulo Freire, Pendidikan, Pembebasan, Perubahan

Sosial, terj. Mien Joebbaar (Jakarta: PT Sangkala Pusar, 1984), 43-44.

21 Bertrand Russell, Pendidikan dan Tatanan Sosial, terj.

A.Setiawan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993), 39.

22 Albertus Patty,’membangun Pendidikan Kristiani

di Era Globalisasi’, Pleno BPK Penabur, 23 Februari 2007.

23 Paul Suparno, Apakah Pendidikan Menghasilkan

Ketulusan, BASIS edisi ketulusan (2000), 64. Lihat pendapat . Harold G. Shane, Arti Pendidikan bagi Masa Depan (Jakarta: CV Rajawali, 1997), 17.

Daftar Pustaka

Boehlke, Robert R. (1997). Sejarah perkembangan pikiran dan praktek PAK Jakarta: BPK Gunung Mulia

Bowers, Fredalene B. and Gehring, Thom. Johann Heinrich pestalozzi: 18 th century swiss educator and correctional reformer’ didapat dari http://dipergunakan 12 Maret 2014 Clark, Donald. Pestalozzi and pestalozzianism , didapat dari http:// diunduhn 23 Maret 2014

Eby, Frederick. (1964). The development of modern education 2 ed. New Delhi: Prentice-Hal of India PVT.Ltd

Erikson. (1976). The Reformers : An historical survey of pioneer experiments in the treatment of criminals. NewYork: Elsevier

Freire, Paulo. (1984). Pendidikan, pembebasan, perubahan sosial, terj. Mien Joebbaar Jakarta: PT Sangkala Pusar

Heafford (1967). Pestalozzi: His thougth and its relevance today, London: Methuen

Partisipasi Johann Heinrich Pestalozzi dalam Pendidikan Karakter

Holman, H. (1908). Pestalozzi: An account of his life and work, London: Longmans, Gereen and co

ht t p: // id . wik ip ed i a. o r g /wi ki/ B e r ka s: Suiceide_rates_map-en.svg, 24 Agustus 2012

http://myais.fsktm.um.edu.my/6578/1/ JPPSee_(113-129) B.pdf, 26 Agusus 2012 Koesoema, Doni. ‘Pendidikan dan kekerasan,’

Kompas, 11 April 2007

Patty, Albertus. (2007). Membangun pendidikan Kristiani di era globalisasi. Pleno BPK PENABUR, 23 Februari

Pestalozzi, Johann Heinrich. (1977). How gertrude teaches her children. Ed and Prefaces by Daniel Robinson. Washington D.C: University Publications

Russell, Bertrand. (1993). Pendidikan dan tatanan sosial. Terj. A.Setiawan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Shane, Harold G. (1997). Arti pendidikan bagi masa depan, Jakarta: CV Rajawali

Silber, Kate (1960). Pestalozzi: The man and his work, London: Routledge and Kegan Paul Smith, Mark K. Johann Heinrich Pestalozzi, Encyclopedy on line: didapat dari http// dipergunakan 24 Maret 2014

Smith, Mark K. Johann Heinrich pestalozzi. (Encuclopedia on-line) didapat dari http:/ /dipergunakan 3 Maret 2012

Suparno,Paul.(2000). Apakah pendidikan meng- hasilkan ketulusan, BASIS edisi ketulusan

Perbedaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006

Dalam dokumen jurnal No22 Thn13 Juni2014. pdf (Halaman 88-92)