• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUSTER MEDIOR PBHK DAERAH MALUKU DAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF

B. Kepemimpinan Transformatif

1) Kebiasaan Keheningan

Tentang lima kebiasaan yang hendak dibahas, keheningan merupakan suatu kebiasaan yang sangat sulit ditemukan dalam dunia jaman ini. Keheningan merupakan perilaku yang menantang arus kebudayaan modern. Keheningan menarik manusia keluar dari suatu tempat yang biasanya manusia berusaha menghindarinya, yakni berada bersama sendirian Allah tanpa agenda. Berhenti bekerja dan hanya hadir atau berada merupakan suatu perasaan yang jarang muncul dan sering tidak pasti. Namun rasanya perlu sikap aktif untuk mendapatkan kesempatan untuk “berhenti berusaha” (Mzm 46:11), hasilnya berupa perubahan hidup.

Keheningan berarti berada sendirian bersama Allah jauh dan kontak dengan semua manusia selama periode waktu yang dipersiapkan. Hal itu sama dengan keluar dari kesibukan hidup sehari-hari yang jadwalnya sudah terisi penuh dengan kegiatan dan mendapatkan suatu hubungan lain untuk menghirup udara segar. Keheningan berarti disegarkan dan dipulihkan oleh irama alam hidup yang tidak dipengaruhi oleh usaha-usaha atau sesuatu yang lain. Dibutuhkan waktu untuk mendengarkan "suara yang paling halus" di mana Allah berbicara kepada jiwa dan berbicara dengan manusia bahwa manusia adalah kekasih-Nya (1Raj 19:12). Kadang-kadang, duduk diam dan tidak

melakukan sesuatu merupakan hal terbaik yang manusia bisa lakukan bagi sesama dan bagi diri sendiri (Ken Blanchard, 2006 :207).

Yesus memberi contoh keheningan sebagai komponen strategis integral dari kepemimpinan-Nya sebagai berikut :

- Ketika mempersiapkan ujian kepemimpinan dan pelayanan publik anda, Yesus menggunakan waktu selama empat puluh hari untuk menyendiri di padang gurun (Mat 4:1 -11).

- Sebelum Yesus memilih dua murid-Nya dari antara para pengikut-Nya, Dia menggunakan waktu selama semalam untuk menyendiri di bukit gurun (Luk 6:1 2-13).

- Ketika Yesus menerima kabar kematian Yohanes Pembaptis, Dia menarik diri dengan sebuah perahu dan pergi ke tempat yang sunyi (Mat 14:13).

- Sesudah mukjizat pemberian makan kepada lima ribu orang, Yesus naik ke sebuah bukit sendirian (Mat 14:23).

Pada saat-saat mempersiapkan diri untuk memimpin, membuat keputusan penting, menangani berita sedih, dan menghadapi pujian dan pengakuan inilah, Yesus memberi kepada manusia nilai atau manfaat dari pemanfaatan waktu dalam kesendirian untuk mengenang dan merayakan sarana spiritual untuk menemukan "pedoman sejati" kehendak dan kegembiraan Allah (Ken Blanchard, 2006 :211).

Contoh yang paling jelas dan penting tentang peran penting keheningan dalam kehidupan dan kepemimpinan Yesus digambarkan dalam Yoh 6:14-15, di

mana Dia dihadapkan pada pilihan sulit tentang bagaimana sebaiknya Dia menggunakan waktu-Nya sebagai berikut :

Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata, "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri (Yoh 6:14-15).

Keberhasilan dan puja-puji orang banyak bisa menjadi racun bagi seorang pemimpin, khususnya mereka yang memiliki pemikiran bahwa harga diri merupakan kombinasi dari kinerja yang bagus dan pendapat orang lain. Mengambil waktu untuk berada seorang diri bersama Allah sebagai pendengar satu-satunya merupakan satu kebiasaan penting yang menjaga ego agar tidak membahayakan kepemimpinan. Seperti dikatakan dalam Ams 27:21 sebagai berikut : Kuil untuk melebur perak dan kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil. Karena untuk itulah Aku telah datang. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat sunyi dan berdoa di sana.

Kata-kata ini terletak antara Yesus dan godaan untuk menggunakan waktunya sangat berharga untuk melakukan hal-hal baik dan disukai oleh orang banyak dan melakukan pekerjaan utamanya yang menjadi alasan kehadiran-Nya di dunia. Bayangkan perhatian Yesus yang mendalam terhadap orang sakit dan kerasukan setan yang hendak Dia tinggalkan. Banyangkan betapa kuatnya godaan yang dihadapi-Nya untuk tetap di sana dan menggunakan kekuasaan penyembuhan-Nya demi meringankan penderitaan orang banyak. Para murid-Nya

berharap Yesus memanfaatkan kesempatan ini karena Dia adalah Mesias yang memanggil Israel kepada Allah. Tetapi mereka berpikir seperti pikiran manusia, dan Yesus mendengarkan Bapa-Nya. Apa yang menyebabkan Yesus menolak melakukan hal baik dan mencari hal terbaik? Dalam keheningan dan doa, jauh dari harapan dan luka-luka orang-orang yang memandang-Nya dengan harapan yang tinggi dan memaksa, bahwa Yesus sekali lagi menerima jawaban mengenai penggunaan waktu terbaik pada hari berikutnya bersama Allah (Ken Blanchard, 2006 :211).

Dalam Leadership Encounter, para peserta mengambil waktu selama empat puluh lima menit. Dalam waktu itu, mereka tidak boleh berbicara satu sama lain, tidak menggunakan, atau tidak menerima gangguan apapun. Mereka mulai meletakkan tangan mereka di paha mereka dan memikirkan sesuatu yang mereka sangat ingin perhatikan. Ketika suatu keprihatinan muncul dalam pikiran mereka, secara seremonial mereka langsung menaruhnya di kaki salib. Ketika mereka selesai berpikir tentang apa yang menjadi perhatian mereka, mereka membalikkan telapak tangan mereka untuk menerima dan berkontemplasi tentang beberapa aspek sifat Allah, seperti belas kasih-Nya, cinta-Nya, rahmat-Nya dan kekuasaan-Nya. Mereka mendengar tanpa rencana. Sebelum melepaskan mereka dari periode keheningan, mereka diajak mendaraskan Mzm 46:11 dengan cara sebagai berikut: Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah, Diamlah dan ketahuilah, Diamlah,Diam! Ketika orang selesai menjalani masa keheningan, mereka memperlihatkan senyum lebar di wajah mereka. Sementara banyak orang merasa

sulit menenangkan pikiran mereka, orang lain berkata, mereka menemukan pengalaman yang luar biasa (Ken Blanchard, 2006 :210).

Kenyataannya adalah kebanyakan manusia menggunakan sedikit waktu, jika ada, untuk menyendiri dalam kesunyian. Namun kalau tidak melakukannya, bagaimana Allah berkesempatan berbicara dengan manusia?