SUSTER MEDIOR PBHK DAERAH MALUKU DAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF
B. Kepemimpinan Transformatif
4) Kepemimpinan dalam Organisasi
Seorang pemimpin bisa berfungsi dengan baik dalam arena kepemimpinan organisasi bergantung pada hasil perspekti kepercayaan, dan komunitas yang dicapai pada tiga level pertama dalam perjalanan kepemimpinan yang mengubah hidup (transformasional). Hasil akhir pemfokusan pada level ini adalah efektivitas organisasi, baik karena kinerja tinggi maupu kepuasan manusia yang tinggi.
Penting untuk dicatat bahwa ketika Yesus memulai pelayanan-Nya di dunia, Dia tidak mulai pada level organisasi. Dia bisa saja datang kepada organisasi orang beriman yang ada pada masa hidup-Nya dan berkata, "Baik, tuan-tuan, saya telah hadir di sini, saya bertugas, dan ini merupakan satu cara yang kita pakai untuk mengubah segala sesuatu!" Sebaliknya Yesus memilih untuk mengambil pendekatan sebagai pemimpin pelayan dan mulai dengan mempengaruhi kehidupan sekelompok kecil orang. Kepada merekalah Dia memberikan kepercayaan dan kemampuan untuk mempengaruhi dunia (Ken Blanchard, 2006 :37).
Dengan menilai hubungan dan hasilnya, Yesus menciptakan lingkungan untuk mengembangkan organisasi yang efektif. Dalam hidup-Nya sendiri, Dia melaksanakan tujuan yang Bapa-Nya tetapkan baginya. Yesus mengetahui betul tujuan itu dan memberitahu secara jelas kepada para pengikut-Nya dan organisasi mereka ketika Dia memberi mereka perintah utama dan perutusan penting. Tetapi Yesus, dalam bentuk inkarnasinya, tidak pernah menjalankan kepemimpinan itu dalam suatu organisasi. Dia mempersiapkan para murid-Nya dengan memberi latihan tentang tiga kepemimpinan pertama dan kemudian mengutus Roh Kudus untuk membimbing mereka dalam menjalankan kepemimpinan organisasi, suatu proses yang berkembang dalam Kisah Para Rasul.
Ketika kepemimpinan organisasi masuk ke arena kepemimpinan komunitas, Yesus menuntut para pemimpin untuk secara sukarela memperluas pelayanan demi kebaikan orang banyak. Kepemimpinan peran kehidupan dalam suatu
komunitas berfokus pada penemuan dasar dan rekonsiliasi dengan orang-orang dengan pikiran yang beragam, latar belakang yang berbeda, prioritas yang berbeda, dan perspektif spiritual yang lain. Kepemimpinan komunitas menuntut cinta yang harus dinyatakan secara benar dan keberanian dengan kehendak baik dan toleransi tanpa mengorbankan keyakinan moral dan etika.
Yesus menggunakan waktu yang penting untuk berinteraksi secara positif dengan orang yang tidak sependapat dengan-Nya. Dia tidak mengisolasi diri-Nya dari mereka yang tidak sependapat dengan-Nya; Dia merangkul orang yang berbeda pendapat. Dia tidak mengubah ajaran atau pesan-Nya untuk mendapatkan dukungan, tetapi Dia terus mencintai mereka yang tidak menerima pesan-Nya (Ken Blanchard, 2006 :38).
b. Belajar dan Menginternalisasi Empat Ranah Kepemimpinan 1) Empat Ranah Memimpin Seperti Yesus
Memimpin seperti Yesus menuntut penyatuan empat ranah kepemimpinan: hati, kepala, tangan, dan kebiasaan. Ranah internal - motivasi dari hati dan perspektif kepemimpinan di kepala, hal-hal yang tetap dijaga di dalam atau bahkan tersamar jika hal itu sesuai dengan tujuan. Ranah eksternal -perilaku kepemimpinan publik atau tangan dan kebiasaan seperti yang dialami oleh orang lain akan menentukan apakah orang akan mengikuti. Ketika hati, kepala, tangan, dan kebiasaan bersatu, hasilnya adalah tingkat kesetiaan, kepercayaan dan produktivitas yang luar biasa. Ketika bidang-bidang ini tidak bersatu, muncul
kekecewaan, ketidakpercayaan, produktivitas yang merosot dalam jangka panjang. Kitab Suci seperti Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Kisah Para Rasul diisi dengan teladan yang kaya tentang bagaimana Yesus menjalankan fungsi pada setiap ranah hidup (Ken Blanchard, 2006 :41).
a) Hati
Kepemimpinan pertama-tama merupakan tindakan atau urusan spiritual di dalam hati. Jikalau manusia memiliki kesempatan dan tanggung jawab untuk memengaruhi pemikiran dan perilaku dari orang lain, pilihan pertama yang perlu dilakukan adalah apakah suatu yang dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri atau oleh sesuatu yang manfaatnya dirasakan oleh orang yang dipimpin. Pertanyaan menyangkut hati yang diberikan Yesus adalah, "Apakah Anda seorang pemimpin pelayan atau pemimpin yang melayani diri sendiri?" Berulang kali pertanyaan itu jelas dinyatakan, apakah ketika Yesus memberi perintah "tidaklah demikian di antara kamu" kepada para murid-Nya sesudah ibu Yohanes dan Yakobus meminta tempat khusus bagi kedua puteranya di surga (Mat 20:20-28) dan ketika Yesus menggunakan handuk dan baskom untuk mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:3-5), bahwa Dia memberi satu model kepemimpinan pertama-tama dan terutama sebagai tindakan pelayanan. Kesamaran hati dan selubung pembenaran yang kita taruh di atas motif melayani diri sendiri menuntut ketulusan yang luar biasa untuk dibuka dan disembuhkan (Ken Blanchard, 2006 :41).
b) Kepala
Perjalanan untuk memimpin seperti Yesus mulai dari dalam hati dengan menegaskan motivasi. Niat itu kemudian bergerak masih melalui ranah internal, kepala, yang memeriksa keyakinan dan teori tentang memimpin dan memotivasi orang lain. Semua pemimpin besar memiliki pandangan tentang kepemimpinan mereka sendiri yang menegaskan tentang bagaimana mereka melihat peran dan hubungan mereka dengan orang-orang yang mereka hendak pengaruhi. Melalui suasana kepemimpinan di dunia, Yesus terus mengajar dan menekankan pandangan-Nya, yaitu kepemimpinan yang melayani. Seperti Yesus katakan dalam Mrk 10:45, "Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani orang lain, dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Ken Blanchard, 2006 : 42).
c) Tangan
Orang lain akan mengalami dan mengetahui apa yang terdapat di dalam hati dan kepala jika motivasi dan kepercayaan tentang kepemimpinan mempengaruhi tindakan (tangan). Jika seseorang memiliki hati yang melayani dan pandangan tentang kepemimpinan sebagai tindakan pelayanan, ia bisa menjadi pelatih dengan kinerja yang baik. Hal itu menyangkut penetapan tujuan yang jelas dan kemudian mengamati kinerjanya, yang diikuti dengan memuji kemajuan dan mengarahkan kembali perilaku yang tidak tepat. Pelatih yang mempunyai kinerja baik menyadari bahwa orang yang mengeluarkan hasil yang baik merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Yesus mencurahkan diri-Nya kepada para murid-Nya selama tiga tahun sehingga ketika Dia
meninggalkan pelayanan-Nya, mereka akan bisa menjalankan visi-Nya. Prinsip penetapan tujuan yang jelas dan pengukuran kinerjanya merupakan konsep yang umum bagi semua jenis organisasi dan menerapkannya dengan cara yang sama kuatnya pada hubungan kepemimpinan peran hidup. Dalam satu keluarga, prinsip-prinsip ini berlaku pada segala hal, mulai dari penetapan nilai dan tuntunan berperilaku hingga penggambaran seperti apa ruang yang bersih bagi remaja yang gelisah dan kurang perhatian (Ken Blanchard, 2006 :43).
d) Kebiasaan
Kebiasaan adalah cara bagaimana membarui komitmen sehari-hari sebagai seorang pemimpin untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebagai seorang pemimpin yang berkomitmen untuk melayani walaupun banyak tekanan, cobaan dan godaan yang dihadapi, bagaimana Yesus mengisi kembali energi dan perspektif pelayananNya dan kebiasaan-Nya! Melalui pola hidup hening dan doa, pengetahuan akan kehendak Allah yang diungkapkan melalui Firman-Nya yang kudus dan komunitas dimana Dia hidup, satu kelompok teman yang akrab, Yesus terus menerus disegarkan dan diperbarui (Ken Blanchard, 2006 : 44).