5.5 Hubungan Respon dan Implementasi Kebijakan
6.1.5. Kegiatan yang diperlukan
Elemen kegiatan yang diperlukan dalam pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat diuraikan menjadi sembilan sub elemen (Tabel 28).
Tabel 28 Elemen kegiatan yang diperlukan
No Sub Elemen
1. Koordinasi antar sektor dalam pengelolaan HTR 2. Peningkatan kegiatan pendampingan masyarakat 3. Penyediaan anggaran pemda untuk kegiatan HTR 4. Peningkatan kapasitas petani dalam membangun HTR 5. Penyediaan permodalan bagi petani HTR
6. Meningkatkan aktifitas LSM untuk mendorong kegiatan HTR 7. Peningkatan kegiatan kemitraan dengan Industri Hasil Hutan 8. Penyediaan tenaga pendamping non LSM
Struktur hirarki dari elemen yang menggambarkan posisi masing-masing sub elemen disajikan dalam Gambar 38. Sementara itu Gambar 39 menunjukkan klasifikasi masing-masing sub elemen berdasarkan driver-power dan dependence. Hasil analisis data ISM dapat dilihat pada Lampiran 10.
Gambar 38 Struktur hirarki sistem elemen kegiatan yang diperlukan
Struktur hirarki elemen kegiatan yang diperlukan terdiri dari empat tingkat. Sub elemen yang menjadi kegiatan kunci adalah koordinasi antar sektor dalam pengelolaan kegiatan HTR berkelanjutan. Peubah kunci ini menjadi penggerak utama dan mempengaruhi peubah pada tingkat berikutya. Pada level kedua terdapat 2 sub elemen, yaitu : penyediaan permodalan bagi petani dalam rangka membangun HTR dan peningkatan kegiatan pendampingan masyarakat. Klasifikasi sub elemen kegiatan yang diperlukan berdasarkan pada driver power dan dependence menunjukkan.bahwa koordinasi antar sektor dalam pengelolaan HTR berada pada kuadran independent, artinya sub elemen tersebut memiiliki kekuatan penggerak yang tinggi untuk berjalannya sistem pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan. Sub elemen penyediaan permodalan dan peningkatan kegiatan pendampingan bagi petani HTR berada pada batas antara kuadran independent dan autonomous. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan penggerak
dari kedua sub elemen tersebut berada pada level menengah. Akan tetapi berdasarkan struktur hirarki yang dihasilkan, kedua elemen tersebut berada pada level kedua setelah peubah kunci. Ini berarti bahwa kedua elemen ini menjadi faktor yang penting untuk dikendalikan.
Gambar 39 Matriks driver power-dependence sub elemen pad elemen kegiatan yang diperlukan
Peubah yang termasuk dalam kuadran linkage adalah penyediaan tenaga pendamping masyarakat non LSM dan penyediaan anggaran pemda untuk kegiatan HTR. Peubah yang berada pada kuadran ini memiliki kekuatan penggerak yang tinggi, dan intervensi kebijakan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut memiliki keterkaitan yang erat terhadap peubah-peubah lain. Dengan demikian, strategi yang dilakukan untuk menyelenggarakan kegiatan HTR perlu memperhitungkan faktor tersebut. Penyediaan tenaga pendamping merupakan hal penting yang perlu segera ditangani agar kegiatan HTR berjalan dengan baik. Kegiatan pendampingan dapat dilakukan oleh pihak LSM bekerjasama dengan pemerintah daerah. Kegiatan LSM untuk mendukung HTR menurut hasil analisis pakar berada pada kuadran dependent. Hal ini berarti bahwa kegiatan ini memiliki tingkat dependency yang tinggi. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan LSM tidak dapat ditemui secara merata di setiap kabupaten. Sekalipun di kabupaten tertentu telah ada LSM, akan tetapi
motivasi mereka untuk mendukung keberhasilan HTR perlu didorong oleh pihak pemerintah daerah, misalnya melalui penyediaan insentif pendanaan. Dengan demikian, pendampingan oleh LSM memerlukan intervensi kegiatan di sektor pemerintah daerah melalui koordinasi antar pihak.
Alternatif lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kegiatan pendampingan adalah melalui kegiatan lain selain LSM. Ada beberapa alternatif kegiatan yang dapat dilaksanakan untuk melaksanakan kegiatan pendampingan petani HTR, yaitu :
1. Pemberdayaan penyuluh. Setiap kabupaten memiliki tenaga penyuluh baik penyuluh pertanian, peternakan, maupun kehutanan. Tenaga penyuluh merupakan SDM potensial untuk menjadi pendamping petani HTR. Peraturan terbaru merubah lembaga penyuluh di kabupaten yang semula berada di setiap dinas teknis, saat ini digabung dalam Badan Penyuluh Kabupaten. Oleh karenanya kegiatan koordinasi antar dinas di pemerintah daerah sangat menentukan keterlibatan penyuluh untuk menjadi pendamping masyarakat peserta HTR.
2. Pemberdayaan lulusan baru sarjana kehutanan (fresh graduate). Program ini dapat dilakukan dengan mengambil pelajaran dari pengalaman program BUTSI pada tahun 1980-an. Sarjana kehutanan yang baru lulus direkrut oleh Kementerian Kehutanan untuk ditempatkan sebagai tenaga pendamping masyarakat di desa-desa yang memiliki IUPHHK HTR. Tenaga pendamping tersebut difasilitasi dengan insentif yang memadai, sehingga dapat menarik minat para sarjana lulusan baru untuk mendampingi masyarakat. Pengalaman dari program BUTSI menunjukkan bahwa strategi ini cukup efektif dalam melakukan program pemberdayaan masyarakat.
Analisis strukturisasi sub elemen pada elemen kegiatan yang diperlukan memperlihatkan adanya sub elemen yang termasuk dalam kuadran autonomus yaitu peningkatan kegiatan kemitraan antara petani dan industri hasil hutan. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa peubah autonomous yang teridentifikasi dari hasil ISM, adalah peubah yang dapat diabaikan dalam kajian karena dapat diinterpretasikan sebagai peubah di luar sistem (Adiprasetyo, 2010). Akan tetapi dalam hal ini interpretasi terhadap peubah autonomous adalah peubah yang masih harus diidentifikasi sebagai bagian dari sistem, namun kekuatan penggeraknya lemah dan sangat tergantung pada sub elemen
lain. Oleh karena itu dalam konteks pengelolaan program HTR interpretasi terhadap peubah yang termasuk dalam kuadran autonomous adalah peubah yang tidak terkait dengan kegiatan lainnya, akan tetapi merupakan kegiatan yang juga penting untuk dilakukan. Intervensi kebijakan tidak terlalu menjadi prioritas dilakukan terhadap peubah autonomous, melainkan lebih dulu ditujukan terhadap peubah kunci dan peubah-peubah lain yang terletak pada level yang lebih penting.
Pengembangan Kebijakan
Pengembangan kebijakan didasari oleh tujuan untuk mencapai pembangunan HTR yang berkelanjutan. HTR yang berkelanjutan merupakan upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi. Strategi pembangunan tersebut diperlukan untuk dapat menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Keterpaduan aspek lingkungan hidup, ekonomi, sosial kelembagaan dalam pendekatan sistem dikembangkan menjadi suatu Sistem Pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat Berkelanjutan. Kerangka sistem tersebut diilustrasikan dalam Gambar 40 .
Sistem Pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat Berkelanjutan memadukan 3 aspek. Aspek yang pertama adalah aspek ekologi yang menitikberatkan pada peningkatan produktivitas lahan hutan terdegradasi. Hutan yang terdegradasi dimanfaatkan untuk pembangunan Hutan Tanaman Rakyat sehingga dihasilkan produksi kayu dalam rangka menambah supplai bahan baku kayu ke industri. Aspek yang kedua adalah aspek ekonomi yang menitikberatkan pada peningkatan pendapatan masyarakat. Masyarakat sekitar hutan yang mendapatkan izin usaha HTR (IUPHHK-HTR) mendapat peluang berusaha di bidang hutan tanaman yang berarti meningkatkan peluang pendapatan keluarga dan pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan. Aspek yang ketiga adalah aspek sosial kelembagaan yang menitikberatkan pada pemberdayaan kelompok tani. Kapasitas kelompok tani dinilai sebagai faktor penting untuk berjalannya sistem HTR, sehingga pemberdayaan kelompok memegang peran utama dalam aspek sosial kelembagaan HTR.
Gambar 40 Sistem pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat berkelanjutan
Kebijakan pengelolaan akan dituangkan dalam bentuk model konseptual kebijakan yang memenuhi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Permasalahan yang teridentifikasi dari hasil strukturisasi sitem menggunakan metode ISM adalah : 1) belum adanya koordinasi antar sektor baik di pusat maupun di daerah dalam pengelolaan HTR 2) keterbatasan modal petani untuk membangun HTR yang merupakan akibat dari belum terealisasinya penyaluran kredit modal dari BLU 3) kapasitas petani dan kelompok tani yang rendah sehingga diperlukan adanya kegiatan pendampingan.
Perumusan kebijakan strategis pengelolaan HTR yang berkelanjutan mengacu pada lima tema pembangunan berkelanjutan COMHAR (2007) seperti disajikan pada Gambar 41. Lima tema ini meliputi pengambilan keputusan yang baik (good decision making), berkeadilan sosial (social equity), berkeadilan antar generasi (equity between generations), pemenuhan kebutuhan manusia melalui pemanfaatan sumber daya secara efisien (satisfaction of human needs by the efficient use of resources), dan penghargaan terhadap integritas ekosistem dan keanekaragaman hayati (respect for ecological integrity and biodiversity).
Aspek Ekologi: Produktivitas lahan hutan Aspek sosial Kelembagaan: Pemberdayaan Kelompok tani Aspek ekonomi: Mata pencaharian petani Sistem Pengelolaan HTR berkelanjutan
Gambar 41 Pemodelan kebijakan berdasarkan konsep COMHAR (2007)
Pengembangan kebijakan HTR dilandasi oleh good decision making. Untuk mendapatkan pengambilan keputusan yang tepat dalam perumusan kebijakan maka diperlukan partisipasi pemangku kepentingan dalam proses perumusan. Di samping itu perumusan kebijakan juga mempertimbangkan aspek keadilan sosial sehingga kebijakan pengelolaan bersifat inklusif yang memberikan manfaat secara adil bagi semua pihak. Kebijakan yang dibangun juga memungkinkan untuk berlangsungnya partisipasi pemangku kepentingan dan pendelegasian pengambilan keputusan. Kebijakan yang dirumuskan dirancang bangun untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemanfaatan sumber daya hutan secara efisien tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memperoleh manfaat yang sama.
Pengembangan kebijakannya didasarkan atas hasil ISM elemen tujuan, kendala utama, dan kegiatan yang diperlukan. Pada elemen tujuan diperoleh 3 tujuan utama yaitu: 1) meningkatkan produktivitas lahan hutan terdegradasi; 2) meningkatkan kapasitas kelompok tani; dan 3) meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani HTR. Pada elemen kendala utama, terdapat 3 faktor yang menjadi kendala, yaitu : 1) kurangnya koordinasi antar sektor; 2) keterbatasan modal; 3) terbatasnya kualitas SDM petani HTR. Pada elemen kegiatan yang diperlukan terdapat 3) kunci kegiatan yang harus dilakukan, yaitu: 1) meningkatkan koordinasi antar sektor; 2) penyediaan fasilitas pendanaan; 3)
pengembangan program pendampingan. Kebijakan tersebut dijabarkan dalam Model Konseptual Pengelolaan HTR berkelanjutan.
Model Konseptual Kebijakan Hutan Tanaman Rakyat Berkelanjutan
Model Pengelolaan HTR dibangun dengan strukturisasi sistem permasalahan, kendala, dan tujuan program. Alat analisis yang digunakan untuk melakukan strukturisasi system yang kompleks adalah metode Interpretative Structural Modeling (ISM). Proses ISM menghasilkan perubah kunci pada lima elemen yang dikaji (Tabel 29).
Tabel 29 Peubah kunci sistem pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat
No Elemen Peubah Kunci
1 Lembaga yang
berpengaruh
1. Kelompok tani HTR
2 Kebutuhan 1.
2.
Peningkatan produktivitas lahan hutan terdegradasi Keseimbangan lingkungan hidup
3 Tujuan 1.
2. 3.
Meningkatkan produktivitas lahan hutan Meningkatkan kapasitas petani/kelompok tani Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
4 Kendala utama 1.
2. 3.
Kurangnya koordinasi Keterbatasan modal
Terbatasnya kualitas SDM petani 5 Kegiatan yang
diperlukan
1. 2. 3.
Koordinasi antar sektor
Penyediaan fasilitas pendanaan
Pengembangan program pendampingan
Menurut hasil strukturisasi pendapat pakar, program HTR mempunyai tiga tujuan utama, yaitu; peningkatan produktivitas lahan hutan, peningkatan kapasitas kelompok/koperasi petani HTR, dan peningkatan pendapatan petani HTR. Ketiga tujuan tersebut merupakan representasi dari sistem ekologi, sistem sosial budaya, dan sistem ekonomi. Integrasi dari ketiga sistem tersebut digambarkan dalam model Pengelolaan HTR Berkelanjutan (Gambar 42 ).
Sistem Pengelolaan HTR Berkelanjutan terdiri dari tiga model, yaitu : 1. Model Manajemen HTR
2. Model Hubungan Lembaga Pengelola HTR 3. Model Pendanaan HTR
Gambar 42 Sistem pengelolan HTR berkelanjutan