• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

1.5. Kerangka Pemikiran Penelitian

Pengembangan ekowisata hutan mangrove Blanakan dimaksudkan untuk meningkatkan keuntungan (nilai) ekonomi baik bagi masyarakat lokal maupun pemerintah daerah. Pertumbuhan kunjungan wisatawan yang meningkat dapat menyebabkan ancaman terhadap kelestarian kawasan hutan lindung mangrove Blanakan dan daya tarik objek wisata. Hal tersebut terjadi, apabila pemanfaatan melebihi daya dukungnya. Kapasitas maksimum daya dukung perlu diketahui, sehingga dalam pemanfaatannya tidak melebihi kapasitasnya.

Untuk mengatasi permasalah tersebut perlu dikembangkan suatu model pengelolaan yang mengintegrasikan aspek-aspek yang berpengaruh terhadap daya dukung dan resiliensi ekologi. Berdasarkan analisis daya dukung dan resiliensi ekologi tersebut ekowisata hutan mangrove Blanakan dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi wilayah dan masyarakat. Daya dukung tidak bersifat statis, tetapi bervariasi sesuai dengan kondisi ekologis wilayah dan juga kebutuhan manusia akan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan dari wilayah tersebut. Daya dukung dapat menurun akibat kegiatan manusia.

Pendekatan sistem merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mencari solusi pengembangan pengelolaan ekowisata mangrove yang berkelanjutan yang berbasis daya dukung dan resiliensi ekologi. Pendekatan tersebut mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial.

Dari uraian di atas maka kerangka pemikiran penelitian ini dapat digambarkan seperti Gambar 1.

1.6 Novelty (Kebaruan)

Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini dan telah dilakukan adalah:

1. Lee et al. (2002) melakukan penelitian mengenai pengembangan penilaian daya dukung lingkungan di Taman Nasional Chi-Ri. Penelitian ini menggunakan pendekatan penataan ruang untuk kegiatan wisatawan dengan menggunakan aplikasi GIS. Overlay peta ditentukan berdasarkan faktor ekologi, fasilitas dan institusi.

2. Garsetiasih dan Pratiwi (2003) telah melakukan penelitian mengenai dampak pengunjung terhadap sifat fisik tanah di Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan densitas tanah dan penurunan porositas dan permeabilitas tanah terutama pada tanah yang tidak bervegetasi dan dekat dengan fasilitas rekreasi. Peningkatan kompaksitas tanah menyebabkan Gambar 1 Kerangka Pemikiran

Analisis Kondisi Sosial Analisis Ekonomi

Kondisi sosial masyarakat Pengunjung

Dampak ekonomi

PENDEKATAN SISTEM (Aspek Ekologi, Ekonomi, Sosial)

Model Pengelolaan Ekowisata Hutan Mangrove Berbasis Daya Dukung dan Resiliensi Ekologi

Strategi Pengelolaan Ekowisata Hutan Mangrove Berbasis Daya Dukung dan Resiliensi Ekologi Pengembangan Ekowisata Hutan

Mangrove Blanakan

Pertumbuhan wisatawan Konservasi SDA Nilai ekonomi

Analisis Daya Dukung Analisis Resiliensi Ekologi

Pemanfaatan lahan Biofisik

Biofisik Flora dan Fauna

terjadinya penurunan daya dukung tanah terutama menyebabkan peningkatan run off.

3. Sawitri (2003) melakukan pengkajian daya dukung, karakteristik, dan dampak pengunjung terhadap flora dan fauna di Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan rerata kunjungan wisatawan dari tahun 1993 sampai tahun 2000 sekitar 20,6% pertahun. Dari prediksi daya dukung Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran akan rusak pada tahun 2004. Kerusakan yang terjadi terhadap flora adalah pemotongan dan vandalisme pada pohon sekitar 39 pohon per hektar. Gangguan terhadap fauna adalah terjadinya perubahan perilaku makan dan waktu aktif Macaca fascicularis, Trachypithecus sondaicus dan Cervus timorensis.

4. Lankford et al. (2006) melakukan penelitian mengenai daya dukung dari prespektif sosial (daya dukung sosial). Indikator yang diteliti adalah tingkat kepuasaan wisatawan terhadap peningkatan ikatan antara teman pada saat rekreasi, keindahan pantai, perubahan mood wisatawan dan perasaan kebebasan. Faktor yang menjadi pengaruh adalah tingkat kepadatan pengunjung. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan kepadatan menyebabkan prespektif negatif menjadi meningkat, sehingga menurunkan tingkat kepuasan wisatawan.

5. Khair (2006) meneliti tentang kapasitas daya dukung fisik kawasan TWA Sibolangit. Penelitian dilakukan dengan menentukan kapasitas daya dukung wisata dengan menghitung nilai daya dukung fisik, daya dukung sebenarnya dan daya dukung efektif. Kapasitas daya dukung fisik di kawasan TWA ditentukan di dua lokasi yang berbeda, yaitu di area parkir sebagai lokasi 1 dengan variabel transportasi dan pengunjung, sedangkan lokasi 2 adalah trail. Hasil penelitian menunjukkan daya dukung efektif lokasi 1 adalah 751 kunjungan per hari, sedangkan di lokasi 2 adalah 87 kunjungan per hari.

6. Roussel dan Valette ( 2007) Meneliti mengenai daya dukung sosial pada zona coastal. Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh pertumbuhan populasi wisatawan terhadap tingkat kepuasaan wisatawan dan pengembangan pengaturan pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penguatan pada partisipasi masyarakat dapat berdampak positif terhadap kebijakan pengaturan pengunjung.

7. Hayati (2010) meneliti tentang model ambang batas fisik dalam perencanaan kapasitas area wisata di kompleks Candi Gedong Songo, Semarang. Hasil penelitian menunjukkan nilai ambang batas jumlah wisatawan sesuai daya dukung fisik adalah 514 orang per hektar. Tindakan konservasi disarankan untuk mempertahankan kenyamanan fisik dan ekologis di objek wisata Candi Gedong Songo adalah dengan penanaman vegetasi.

8. Bahar dan Tambaru (2010) meneliti tentang analisis kesesuaian dan daya dukung kawasan wisata bahari di Kabupaten Polewali Mandar. Hasil penelitian menunjukkan kawasan yang sesuai untuk kegiatan rekreasi pantai adalah Pulau Pasir Putih dan Pantai Labuang beserta dengan perairan laut di sekitarnya dengan daya dukung masing-masing 1.200 orang per hari dan 39.200 orang per hari. Kawasan yang sesuai untuk kegiatan snorkling dan penyelaman adalah sebelah utara Pulau Pasir Putih, perairan Pantai Labuang dan Palippis dengan daya dukung masing-masing 1.680 orang per hari, 4.280 orang dan 920 orang per hari. Berdasarkan uraian kajian-kajian tentang daya dukung wisata di atas, maka kebaruan (novelty) dalam penelitian ini adalah model pengelolaan ekowisata mangrove berbasis daya dukung dan resiliensi ekologi. Adanya pemanfaatan yang seimbang ekosistem hutan mangrove untuk kegiatan ekowisata tidak menimbulkan gangguan yang berlebihan terhadap lingkungan. Untuk mengatasi kompleksitas permasalahan pengelolaan ekowisata hutan mangrove Blanakan perlu dikembangkan suatu model pengelolaan yang mengintegrasikan aspek-aspek (ekologi, ekonomi, dan sosial) yang berpengaruh terhadap daya dukung dan resiliensi ekologi. Model pengelolaan yang dibuat adalah dengan mengontrol tekanan terhadap lingkungan (ekologi) agar tidak melampaui daya dukung dan resiliensi ekologi. Resiliensi yang dikaji adalah daya lenting perairan di perairan Blanakan untuk kembali ke kondisi awal, sehingga kemampuan tersebut akan meminimalisir dampak negatifnya. Dampak negatif berupa pencemaran akan menyebabkan kerusakan ekosistem mangrove. Pendekatan sistem menggunakan model dinamik merupakan pendekatan yang dapat digunakan untuk mencari solusi strategi pengembangan pengelolaan ekowisata mangrove yang berkelanjutan.