• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompetensi Komunikasi a. Motivasi

Dalam dokumen TESIS. Oleh: ERNAWATI KOTO NIM (Halaman 167-171)

DAFTAR PUSTAKA

B. Kompetensi Komunikasi a. Motivasi

1. Bagaimana pandangan anda mengenai program kemitraan bidan desa dan dukun bayi?

Kemitraan itu kerjasama antara bidan dan dukun dalam merawat dan menolong ibu hamil, dengan dia berbagi informasi mengenai keberadaan bidan itu juga kerjasama kak, dan juga terkadang ibu yang baru hamil pergi ngasih tau ke rumah dukun, nanti dukunnya over ke saya walaupun sebagian ke saya langsung periksanya tapi adanya masyarakat kedukun dulu nanti dukunnya suruh pasiennya datang ke saya. Yang penting dalam kemitraan ini “alih fungsi” dukun tidak lagi menolong persalinan yang menolong tugas bidan.

15

masalah kehamilan diceritakan kedukun pertama kali jadi dengan bermitra ke dukun kita dapat informasi yang lebih dan kebiasaan masyarakat yang masih percaya dukun bayi sebagai penolong persalinan dengan adanya kemitraan ini terdapat alih fungsi yang awalnya dukun sebagai penolong kelahiran sekarang menjadi mitra kerja dalam merawat ibu dan bayinya.

3. Manfaat apa yang anda dapat dalam program kemitraan ini?

Iya bagi saya itu ada untungnya, kadang kalau pasien kedukunnya nanti dukunnya langsung nelpon saya, kalau ada masalah cepat dia manggil saya, cepat lah saya dapat informasi keberadaan ibu hamil dan ibu yang akan bersalin.

...kadang kalau ada dulu persalinan “ini enggak bisa” dia jawab

“nanti aja dulu tunggu jam sekian kayak gitu, kalau sekarang enggak kalau saya bilang “ini enggak bisa mbah” langsung dia bilang “ ya udah bawa aja” langsung dia tanggap, enggak ada lagi sanggahan.

Kalau dulu nanti aza “nanti jam segini-jam segini” kalau sekarang enggak lagi, ya enaknya disitulah.

...saling membantu gitu kak, meringankan beban, jadinya dengan adanya kemitraan sedikit banyak ya terbatulah pekerjaan saya.

4. Apakah masyarakat mendukung proses kemitraan ini?

Mendukung sekali karena mereka disini masih percaya sekali dengan dukun, kalau melahirkan harus didampingi kalau tidak ada perasaan tidak nyaman. Karena dukun ini bermanfaat bagi masyarakat sehingga dukun diberi honor dari desa sebesar Rp. 350.000/ bulan.

5. Apakah sebelum kemitraan ini berjalan, kerjasama antara bidan desa dan dukun bayi sudah terjalin?

Sudah kak, sebelum ada kemitraan (penandatanganan SK) kami udah lama bermitra kak. Karena mungkin dulu nya mbah iyem nya sudah dapat ketrampilan dari bidan untuk pelatihan dukun terlatih daerah terpencil, jadi pada saat saya ditugaskan disingkohor dia percaya dengan kemampuan bidan.

16

Itu mungkin karena dukunnya itu enak kali ya, kalau kita ajari atau kasih tau cepat tanggap, makanya itu kami jarang ada masalah dan sampai sekarang tetap bermitra.

b. Pengetahuan

1. Darimana pengetahuan persalinan anda peroleh?

Dari bangku sekolah kak, saya dulu sekolah di Akademi Kebidanan Mona di Medan tamat tahun 2010, selain itu sering ikut pelatihan-pelatihan dari Dinas Kesehatan Aceh Singkil Maupun Dinas Kesehatan Provinsi Aceh.

2. Apakah ada pertemuan/ pelatihan yang dilakukan untuk menambah pengetahuan mitra anda mengenai kemitraan ini?

Kalau pertemuan kami berdua secara formal tidak ada hanya pada saat ada posyandu di desa kami nanti dukun khan di ajak jadi di situ aja ngobrolnya. Kalau pelatihan dari Dinas ada kak, pelatihan berupa sosialisasi mengenai kemitraan ini, ada 3 kali pelatihan dilakukan sejak kemitraan ini (tahun 2015), pertama Dinas Kesehatan di Singkil, dua kali di aula Kantor Camat untuk sosialisasi dan penandatanganan Mou dan juga evaluasi mengenai kemitraan ini.

Kalau saya pun ikut pelatihan, ada informasi baru mengenai kesehatan apapun hasilnya saya kasih tahu, gini-gini saya bilang. Ya alhamdulillah dia mau mendengarkan dan melaksanakan.

3. Bagaimana pendapat anda mengenai mitra anda setelah ada kemitraan ini?

Lebih mudah lagi untuk diarahkan dan dikasih pengertian karena pada saat sosialisasi sering ditekankan, sering diberi peringatan bahwa mereka tidak boleh bertindak sendiri. Jadi sekarang dukunnya lebih mau lagi mendengarkan, kalau ada masukkan dari kita dia jadi lebih cepat menerima.

4. Apakah ada hambatan dalam pelaksanaan kemitraan ini?

Kayaknya enggak, mudah-mudahan janganlah. Jadi memang ya tergantung kita gimana kita pande-pande bawanya, ya namanya orang tua ya, kalaupun ngalah-ngalah sikit ya enggak apa-apa yang penting jangan sampai putus komunikasi.

17

...karena kami sama-sama orang jawa jadi lebih enaklah komunikasinya dan ada beberapa kebudayaan yang sama misal kalau orang jawa itu kalau putus tali pusar kita dikasih uang Rp. 50.000,-kalau aku sering ku suruh kasih ke dukun aja.

...kalau dari masyarakatnya sendiri juga sudah ada kesadaran untuk mau bersalin di Puskesmas karena disamping peralatan lebih lengkap, melahirkan di rumah juga memaksa mereka untuk membayar persalinan sebesar Rp. 1.000.000,- kalau di faskes khan gratis di bayar BPJS.

c. Ketrampilan

1. Bagaimana cara anda menolong persalinan?

Kalau cara menolong persalinan, kalau kami bidan ya sesuai APN kak, semua aturan nya ada disitu semua.

2. Menurut anda bagaimana ketrampilan mitra anda dalam kemitraan ini?

Kepercayaan masyarakat karena menurut mereka kalau ada dukun lancarlah persalinannya, ya saya enggak apa-apa dibilang kayak gitu selama dukun tahu tugasnya, dan pasien juga merasa nyaman dan aman.

...Kalau sama dukun ada istilahnya kusuk setelah melahirkan, kadang orang melahirkan capek terus dikusuk biar segar enggak pegal-pegal lagi itu sampai 7 hari ngusuk badannya.

...Mbah iyem enggak ada baca-baca mantera-mantera yang aneh palingan istighfar dan shalawat nabi

3. Apakah anda percaya dengan kemampuan mitra anda dalam merawat pasien persalinan?

Ya percayalah kak, masyarakat yang menggunakan jasa dia aja percaya dan merasakan manfaat dari pelayanannya bagi saya kalau pasien yang dirawat sama dia aman-aman aja ya enggak ada masalah bagi saya.

...Masyarakat juga sudah terbiasa di kusuk setelah melahirkan karena setelah melahirkan badan terasa pegal-pegal dengan di kusuk ibu bersalin menjadi segar kembali.

18

Secara tertulis enggak ada kak, udah tau kerjaan masing-masinglah.

Kalau saya sebagai penolong kelahiran dan memberikan pertolongan secara medis sedangkan mbah iyem mendampingi dan memberikan motivasi pada ibu hamil.. Kalau posisi saya khan bagian bawah, sedangkan mbah iyem bagian atas. Setelah bersalin dukun ikut pulang ke rumah dengan pasiennya untuk mengurus ari-arinya dan juga merawat seperti mengusuk ibu, sampai putus tali pusar saya pun tetap datang juga sekali dua kali, kalau memandikan bayi kadang saya kadang dukunnya karena udah kita ajarkan juga kak.

C. Apa saja Upaya-Upaya Yang Dilakukan Untuk Mempertahankan

Dalam dokumen TESIS. Oleh: ERNAWATI KOTO NIM (Halaman 167-171)