KAJIAN PUSTAKA
2.3 Uraian Teori
2.3.2 Kompetensi Komunikasi Antarbudaya
Slocum dan Hellriegel (2009: 114) menyatakan kompetensi komunikasi adalah kemampuan untuk memilih perilaku komunikasi yang sesuai dan efektif dalam situasi tertentu. Kompetensi komunikasi adalah kemampuan dengan cara sosial. Sedangkan menurut Spitzberg dalam Samovar dan Porter (2010:460) bahwa kompetensi komunikasi antarbudaya adalah perilaku yang pantas dan efektif dalam suatu konteks tertentu. Selain itu, Young Yun Kim mengajukan sebuah definisi kompetensi komunikasi antarbudaya sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk mengelola seluruh aspek-aspek komunikasi antarbudaya yang meliputi perbedaan budaya, sikap in-group dan tekanan-tekanan. Dari definisi yang diajukan Kim, diperoleh pengertian bahwa peserta komunikasi antarbudaya disebut kompeten apabila mereka mampu mengelola segala faktor penghambat komunikasi antarbudaya. Untuk mencapai tujuan tersebut, kecakapan dalam melakukan komunikasi menjadi unsur yang sangat penting.
Karakter menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam mencapai kemampuan komunikasi. Karakter menjadi dasar penilaian bagi sekelompok orang karena karakter dapat diasosiasikan sebagai sifat seseorang yang terbentuk melalui proses interaksi dengan lingkungan. William Howel (1982) menyebutkan terdapat empat tingkatan dari kompetensi komunikasi, yaitu:
1. Unconscious Incompetence
Tidak sadar dan tidak bisa melakukan apa-apa. Dimaksud tidak sadar adalah telah salah menafsirkan pesan atau perilaku komunikasi pihak lain secara tidak sadar. Sedangkan tidak bisa melakukan apa-apa adalah tidak cukup
peduli dengan perilaku komunikasinya sendiri. Bentuk kompetensi ini adalah yang paling rendah dari bentuk lainnya.
2. Conscious Incompentence
Sadar dalam berkomunikasi, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Sadar adalah komunikasi yang dilakukannya tidak efektif dan seringkali terjebak pada salah paham, seperti penanganan konflik yang tidak produktif.
3. Conscious Competence
Sadar dalam hal berkomunikasi dan mampu melakukan sesuatu. Orang pada bentuk ini mampu mengontrol perilaku komunikasinya secara sadar dan melakukannya terus menerus sehingga menjadi komunikasi yang lebih efektif.
4. Unconscious Competence
Tidak sadar karena telah menjadi sebuah kebiasaan dan mampu melakukan sesuatu. Bentuk ini merupakan tingkatan paling tinggi dalam kompetensi komunikasi. Orang pada tingkatan ini memiliki kemampuan untuk menyatukan tindakan komunikasi menjadi bagian dari perilakunya sehari-hari. Dia tidak perlu lagi sibuk untuk mengatur perilakunya terus menerus karena secara otomatis dirinya telah menyesuaikan (Griffin, 2006: 431).
Spitzberg dan Cupach (1984) dalam Salleh (2007: 53) berpendapat kompetensi komunikasi perlu memiliki 2 kriteria : ketepatan dan efektivitas.
Untuk bertindak secara tepat dan efektif kita harus memiliki tiga komponen kompetensi komunikasi yaitu motivasi, pengetahuan dan ketrampilan. Motivasi terkait dengan keinginan kita untuk mempelajari cara berinteraksi dengan orang yang berbeda budaya. Pengetahuan mengenai pemahaman tentang kesiapan kita
untuk berkomunikasi secara tepat dan efektif. Ketrampilan berkaitan dengan komampuan perilaku yang tepat dan efektif dalam konteks komunikasi.
Pendekatan Spitzberg dan Cupach menyajikan sebuah model yang bermanfaat bagi kompetensi komunikasi antarbudaya. Spitzberg dan Cupach dalam Salleh (2007: 54) komponen-komponen kompetensi komunikasi adalah sebagai berikut :
a) Motivasi
Motivasi seringkali terkait dengan kejadian seseorang untuk mendekati atau menghindari interaksi dengan yang lain. Kebanyakan penelitian motivasi komunikasi masuk dalam kerangka karakteristik, seperti rasa takut atau rasa malu. Jadi, sebagai komunikator yang penuh motivasi, adanya sikap ketertarikan, berusaha untuk berbicara serta mengerti dan menawarkan bantuan. Selanjutnya, menunjukkan keinginan berhubungan dengan orang lain dalam tingkat personal dan memiliki perspektif internasional ketika berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda budaya.
Jonathan H. Turner dalam Gudykuns (2003: 276) menegaskan bahwa motivasi didasari hanya oleh kebutuhan dasar manusia untuk berkomunikasi.
Turner merinci kebutuhan dasar tersebut adalah sebagai berikut :
(a) Kebutuhan manusia akan perasaan aman (saya terdorong berkomunikasi karena saya tahu seseorang butuh perlindungan);
(b) Kebutuhan akan rasa percaya terhadap orang lain (saya terdorong untuk menugaskan anda karena saya percaya anda mampu menjadi pemimpin);
(c) Kebutuhan akan keterlibatan dalam kelompok (saya terdorong untuk menjadi anggota suatu kelompok tertentu karena saya percaya kelompok itu dapat melibatkan saya);
(d) Kebutuhan untuk menjauhi kecemasan (saya terdorong untuk berkonsultasi dengan anda karena saya tahu saya cemas menghadapi ancaman teror);
(e) Kebutuhan untuk membagi pengalaman (karena saya terdorong untuk mengetahui informasi itu dari anda);
(f) Kebutuhan terhadap faktor pemuas seperti material dan simbolis (saya terdorong untuk berkomunikasi dengan anda karena saya tahu anda dapat membantu meminjamkan uang); dan
(g) Kebutuhan akan bertahannya konsep diri (saya terdorong bergaul dengan anda karena anda tahu saya mempertahankan diri saya).
Lustig dan koester (2010: 69) motivasi merujuk pada seperangkat perasaan, kehendak, kebutuhan, dan dorongan yang diasosiasikan dengan antisipasi atau keterlibatan dalam komunikasi antarbudaya. Lustiq dan Koester juga merinci aspek motivasi mencakup aspek perasaan dan tujuan.
Aspek perasaan meliputi reaksi emosional dan psikologis manusia merespon pengalaman mereka seperti kegembiraan, kesedihan, hasrat dan kemarahan. Sedangkan aspek tujuan mengarahkan pilihan komunikator ke sebuah kelompok interaksi antarbudaya, seperti sasaran, rencana, dan tujuan keinginan yang ingin dicapai dalam interaksi tersebut.
b) Pengetahuan
Pengetahuan yang cukup tentang budaya menjadi penting karena dengan mempunyai komponen ini dengan sendirinya seseorang menyadari dan memahami peraturan, norma dan harapan yang dapat dikelompokkan dengan budaya orang-orang yang berinteraksi dengannya. Adapun komponen pengetahuan ini terdiri dari pengetahuan bagaimana kita dapat mengumpulkan informasi tentang orang asing, pengetahuan perbedaan kelompok, pengetahuan tentang pribadi yang sama dan pengetahuan menafsirkan pesan mereka secara akurat.
1. Pengetahuan bagaimana kita dapat mengumpulkan informasi
Berger mengemukakan tiga tipe umum strategi yang digunakan untuk mengumpulkan informasi, yakni strategi pasif, strategi aktif dan strategi interaktif.
- Strategi pasif yakni memfungsikan diri sendiri sebagai pengamat terhadap seseorang yang akan dilibatkan dalam proses interaksi.
- Strategi aktif yakni dilakukan dengan cara mencari tahu pribadi seseorang melalui orang lain yang mengenalnya dengan akrab serta membandingkan hasil pengamatan dan literatur mengenai budaya orang tersebut.
- Strategi interaktif merupakan strategi yang langsung berhubungan dengan seseorang untuk mencari informasi mengenai dirinya. Strategi ini dianggap menguntungkan karena dapat mengurangi bias dalam perolehan informasi.
2. Pengetahuan tentang perbedaan kelompok
Banyak orang beranggapan bahwa untuk tercapainya komunikasi yang efektif dengan anggota kelompok lain, kita harus memiliki kesamaan dengan anggota kelompok tersebut. Hal ini tidak mungkin terjadi karena setiap anggota kelompok berasal dari budaya, etnis, kelompok usia atau kelas sosial yang berbeda. Perbedaan-perbedaan itu dapat diihat dari sikap etnosentrisme, prasangka dan strereotif. Kita harus memahami perbedaan yang ada di kelompok kita sendiri dan kelompok orang lain sehingga terciptanya komunikasi yang efektif.
3. Pengetahuan tentang kesamaan personal
Selain memahami perbedaan, kita juga harus memahami kesamaan ketika kita berkomunikasi secara efektif dengan orang asing. Memahami kesamaan di dalam kelompok dapat ditemukan apabila individu ingin membangun hubungan yang baik dengan orang asing.
4. Pengetahuan tentang interpretasi alternatif
Komunikasi yang efektif mengharuskan kita meminimalkan kesalahpahaman atau memaksimalkan kesamaan dengan cara pesan diinterprestasikan. Untuk mencapai hal ini, kita harus mengakui bahwa ada banyak pesan yang dapat ditafsirkan dan interprestasi dengan melibatkan penilaian dari perilaku orang asing. Kita cenderung menafsirkan perilaku orang asing berdasarkan kerangka berpikir kita sendiri.
c) Keterampilan
Keterampilan merujuk pada kinerja perilaku yang sebenarnya yang dirasakan efektif dan tepat dalam konteks komunikasi. Hal ini seringkali
merupakan bagian yang sulit bagi komunikator mengubah motivasi dan rencana menjadi tindakan. Individu seringkali termotivasi untuk berkomunikasi dan memiliki pengetahuan, namun kurang keterampilan dalam berkomunikasi secara aktual. Pendekatan-pendekatan dalam ketrampilan lain fokus kepada kemampuan seseorang untuk berbicara, mendengar, melihat dan mengungkapkan pesan secara non verbal dalam situasi tertentu.
Spitzberg mengemukakan bahwa ketika keterampilan komunikator meningkat maka kompetensi komunikasi pun meningkat. Komponen keterampilan ini menurut Gudykuns terdiri dari beberapa unsur, yakni (1) kemampuan untuk memberi perhatian; (2) kemampuan untuk memaklumi keracuan; (3) kemampuan mengelola kecemasan; (4) kemampuan berempati dengan anggota budaya lain; (5) kemampuan untuk menyesuaikan perilaku;
(6) kemampuan untuk memberikan ketepatan dalam memprediksikan dan menjelaskan perilaku orang lain (Gudykuns & Kim, 2003: 285-292).
Komponen dari Kompetensi antarbudaya dapat dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini :
Tabel 2.2
Komponen Kompetensi Komunikasi Antabudaya
Komponen Komunikasi Antarbudaya Elemen
1. Motivasi - Kebutuhan untuk memprediksi
- Kebutuhan untuk menghindari penyebaran kecemasan, dan
- Kebutuhan untuk mempertahankan konsep diri (Gudykunst & Kim, 2003: 276-279)
2. Pengetahuan - Pengetahuan tentang bagaimana
mengumpulkan informasi,
- Pengetahuan tentang perbedaan kelompok,
- Pengetahuan tentang kesamaan personal,
- Pengetahuan interprestasi alternatif (Gudykunst & Kim, 2003: 279-283)
3. Ketrampilan - Kemampuan untuk memberi
perhatian/ mengamati dan mendengarkan,
- Kemampuan untuk bertoleransi pada ambiguitas,
- Kemampuan untuk mengelola kecemasan,
- Kemampuan untuk berempati, - Kemampuan untuk menyesuaikan
perilaku,
- Kemampuan untuk memberikan ketepatan dalam memprediksi dan menjelaskan perilaku orang lain (Gudykunst & Kim, 2003: 285-292) Sumber : Gudykunst & Kim, 2003
2.3.3 Bahasa Verbal dan Non Verbal