3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan ini memungkinkan seorang peneliti untuk menginterprestasikan dan menjelaskan suatu fenomena secara holistik dengan menggunakan kata-kata tanpa harus bergantung pada sebuah angka. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2007:4), metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi tidak boleh mengisolasi individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari sesuatu keutuhan.
Creswell (2010) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan.
Bogdan dan Biklen (2003) memaparkan ciri-ciri penelitian kualitatif yaitu:
(1) sumber data dalam penelitian kualitatif ialah situasi yang wajar atau “natural setting” dan peneliti merupakan instrumen kunci; (2) riset kualitatif bersifat deskriptif; (3) riset kualitatif lebih memperhatikan proses daripada hasil atau produk semata; (4) periset kualitatif cenderung menganalisa data secara induktif;
(5) makna merupakan soal esensial bagi pendekatan kualitatif.
Berdasarkan ciri-ciri diatas, peneliti dapat berkomunikasi secara langsung dengan subjek yang diteliti serta dapat mengamati mereka sejak awal sampai
akhir proses penelitian. Fakta atau data yang ditemukan itulah yang nantinya akan dianalisis. Seperti yang dipaparkan oleh Bogdan dan Biklen (2003) bahwa pendekatan kualitatif berusaha untuk memahami dan menafsirkan makna tentang suatu peristiwa dan interaksi manusia dalam situasi tertentu.
Penelitian kualitatif ini secara spesifik lebih diarahkan pada penggunaan metode studi kasus. Sebagaimana pendapat Lincoln dan Guba (Sayekti Pujosuwarno, 1992: 34) yang menyebutkan bahwa pendekatan kualitatif dapat juga disebut dengan case study ataupun qualitative, yaitu penelitian yang mendalam dan mendetail tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan subjek penelitian. Lebih lanjut Sayekti Pujosuwarno (1986: 1) mengemukakan pendapat dari Moh. Surya dan Djumhur yang menyatakan bahwa studi kasus dapat diartikan sebagai suatu teknik mempelajari seseorang individu secara mendalam untuk membantunya memperoleh penyesuaian diri yang baik.
Menurut Lincoln dan Guba (Mulyana Dedy, 2004: 201) penggunaan studi kasus sebagai suatu metode penelitian kualitatif memiliki beberapa keuntungan, yaitu : (1) Studi kasus dapat menyajikan pandangan dari subjek yang diteliti. (2) Studi kasus menyajikan uraian yang menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca kehidupan sehari-hari. (3) Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden. Studi kasus dapat memberikan uraian yang mendalam yang diperlukan bagi penilaian atau transferabilitas.
Pada dasarnya penelitian dengan jenis studi kasus bertujuan untuk mengetahui tentang sesuatu hal secara mendalam. Maka dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode studi kasus untuk mengungkap tentang
bagaimana kompetensi komunikasi kemitraan bidan desa dan dukun bayi dalam mendukung menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta upaya-upaya yang dilakukan bidan desa dan dukun bayi dalam mempertahankan kemitraan.
3.2 Aspek kajian
Penelitian ini akan mengkaji kompetensi komunikasi kemitraan bidan desa dan dukun bayi dalam mendukung penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Adapun aspek kajian yang akan diteliti adalah motivasi, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki bidan desa dan dukun bayi dalam menjalin kemitraan bidan desa dan dukun bayi dalam mendukung penurunan angka kematian ibu dan bayi selain itu upaya-upaya yang dilakukan bidan desa dan dukun bayi dalam mempertahankan kemitraan.
3.3 Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil.
Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan atas informasi yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil bahwa pelaksanaan kemitraan yang di terapkan di Puskesmas yang ada di 11 (sebelas) Kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil masih berjalan dengan baik dan menjadi percontohan oleh Dinas Kesehatan. Pemilihan lokasi ini menjadi penting untuk menganalisa kompetensi komunikasi kemitraan bidan desa dan dukun bayi serta upaya-upaya yang dilakukan bidan desa dan dukun bayi dalam mempertahankan kemitraan itu.
Peneliti menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu cara penentuan informan yang ditetapkan secara sengaja atas dasar kriteria atau pertimbangan tertentu, adapun kriteria (unit analisis) yang digunakan untuk menentukan subjek (informan) yang diteliti adalah :
1. Bidan desa dan dukun bayi yang berdomisili di Kecamatan Singkohor
2. Bidan desa dan dukun bayi yang ikut dalam program kemitraan bidan desa dan dukun bayi di Kecamatan Singkohor.
3. Bidan desa dan dukun bayi yang melakukan persalinan bersama lebih dari 10 Kali dan masih aktif menolong bersama terhitung dari bulan Januari 2016 sampai dengan bulan Juli tahun 2017.
Berdasarkan kriteria-kriteria diatas, peneliti akan melakukan pencarian informan yang tepat untuk menjawab permasalahan penelitian. Informan lain yang dijadikan sebagai informan pendukung dibutuhkan dengan tujuan untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari dukun dan bidan. Adapun informan pendukung itu adalah :
1. Ibu nifas atau ibu yang persalinannya ditolong oleh bidan bersama dukun.
2. Tokoh masyarakat 3. Pemegang program
4. Keluarga yang ibu bersalin/ bayinya meninggal pada saat proses persalinan
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang dipakai adalah :
a. Wawancara Mendalam
Menurut Kriyantono (2012:102) wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam, dan sejalan dengan Bungin (2011), untuk memperoleh keterangan sesuai dengan tujuan penelitian, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan informan yaitu tanya jawab sambil bertatap muka, dengan atau tanpa pedoman. Peneliti melakukan kegiatan wawancara tatap muka secara mendalam dan terus menerus (lebih dari satu kali) untuk menggali informasi dari responden, responden bisa disebut juga informan.
Dalam hal ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan detail dari jawaban informan yang antara lain mencakup opininya, motivasi, nilai-nilai maupun pengalaman-pengalaman. Dalam penelitian ini, wawancara akan dilakukan kepada bidan desa dan dukun bayi yang ikut dalam program kemitraan bidan desa dan dukun bayi serta ibu hamil yang persalinannya ditolong oleh bidan desa dan dukun bayi.
b. Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2013), dokumentasi merupakan metode pengumpulan data yang digunakan untuk menelusuri data peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumentasi yang menjadi panduan dalam penelitian ini dapat berupa dokumen, foto-foto, buku-buku, catatan formal, jurnal, internet dan sebagainya yang
berhubungan dengan masalah penelitian sebagai bahan penunjang penelitian.
Kemudian peneliti menggunakan analisis deskriptif, artinya dari data yang terkumpul dijabarkan dengan memberikan analisis-analisis untuk kemudian diambil kesimpulan akhir.
3.5 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman (dalam Usman dan Akbar, 2009:85) bahwa analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yang secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
1. Reduksi Data; diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanan, pengabstrakan, atau transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data, dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode menelusuri tema, membuat gugus-gugus, menulis memo dan lain sebagainya dengan maksud menyisihkan data/informasi yang tidak relevan.
2. Penyajian Data; adalah pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif.
Penyajian juga dapat berbentuk matriks, bagan, grafik dan jaringan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah dipahami.
3. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi; penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan kegiatan di akhir penelitian. Peneliti harus sampai pada kesimpulan dan melakukan verifikasi, baik segi makna maupun kebenaran.
Kesimpulan yang disepakati oleh subjek tempat penelitian itu dilaksanakan.
Makna yang dirumuskan peneliti dari data harus dapat diuji kebenaran, kecocokan, dan kekokohannya. Peneliti harus menyadari bahwa dalam mencari makna ia harus menggunakan pendekatan emik dan bukan penafsiran makna menurut pandangan peneliti.
Model interaktif yang menggambarkan keterkatan ketiga kegiatan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan digambarkan pada gambar berikut:
Sumber: Usman dan Akbar (2009)
3.6 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Salah satu cara paling penting dan mudah dalam uji keabsahan hasil penelitian adalah dengan menggunakan triangulasi penelitian, metode, teori dan sumber data. Teknik pemeriksaan keabsahan data merupakan teknik yang digunakan peneliti untuk mengkaji kebenaran data yang diperoleh dan dilaporkan dalam hasil penelitian dengan keadaan objek dilapangan sesungguhnya.
Moleong (2014: 330), menyatakan triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang dimanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data untuk keperluan pengecekkan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Jadi, triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain, melalui triangulasi peneliti dapat me-recheck temuannya dengan jalan membandingkan dengan berbagai sumber, metode atau teori.
Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teknik keabsahan data dengan teknik triangulasi (Iskandar, 2009: 155). Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut :
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara
2. Membandingkan apa yang dikatakan oleh seseorang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi
3. Membandingkan apa yang dikatakan seseorang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang jalan
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain.
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan.
Teknik triangulasi dimanfaatkan sebagai pengecek keabsahan data yang ditemukan dari hasil wawancara informan inti dibandingkan dengan wawancara informan pendukung kemudian dibandingkan dengan studi dokumentasi yang berhubungan dengan hasil wawancara sehingga kemurnian dan keabsahan data terjamin.
BAB IV