• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh: ERNAWATI KOTO NIM (Halaman 78-82)

TEMUAN PENELITIAN

4.1 Proses Penelitian

Setelah melewati seminar kolokium tanggal 13 April 2017, peneliti baru melaksanakan proses penelitian di awal bulan Juli 2017 karena terlebih dahulu melepas masa bersalin dan masa nifas. Selama masa nifas peneliti terus mencari informasi mengenai kemitraan bidan desa dan dukun bayi yang ada di Kabupaten Aceh Singkil. Setelah habis masa nifas, peneliti datang ke Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil untuk menyerahkan surat izin penelitian kepada Kepala Dinas Kesehatan. Saat itu penulis diterima oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan, karena Kepala Dinas Pak Edy Widodo sedang melaksanakan dinas luar daerah ke Jawa Tengah, Alhamdulillah peneliti diizinkan untuk melakukakan penelitian di Puskesmas kecamatan Singkohor.

Kemudian tanggal 17 Juli 2017 pukul 10.00 Wib peneliti berangkat dengan diantar oleh suami peneliti dengan mobil dikarenakan peneliti belum memahami alur jalan yang harus ditempuh ke tempat lokasi penelitian. Jarak tempuh ke lokasi penelitian sekitar 25 Km dari tempat tinggal penelitian di Desa Tanah Bara Kecamatan Gunung Meriah dan memakan waktu sekitar 45 menit.

Menempuh jalan yang lumayan mulus, meski ada beberapa bagian yang belum beraspal dan juga melintasi beberapa jembatan kayu yang nampaknya tidak terlalu aman untuk dilalui, jalan berkelok-kelok, naik turun dan di sepanjang kanan kiri jalan adalah hutan kelapa sawit yang rapat. Sesekali diselingi dengan pemandangan berupa bukit-bukit dan lembah-lembah nan hijau. Pendapatan Asli

Daerah (PAD) terbesar Kabupaten Aceh Singkil memang dari sawit dan ikan, juga sektor pariwisata, jadi tidak heran jika puluhan truk tangki yang mengangkut CPO (minyak mentah) dan truk pengangkut kelapa sawit kami jumpai disepanjang perjalanan kami.

Tepat pukul 11.00 peneliti tiba di Puskesmas Singkohor dan langsung ke meja piket tamu untuk melaporkan tujuan dari peneliti ingin menghadap Kepala Puskesmas untuk mendapatkan informasi mengenai kemitraan bidan desa dan dukun bayi di wilayahnya. Sekitar 15 menit kami akhirnya berjumpa dengan Kepala Puskesmas Singkohor dan setelah memperkenalkan diri, peneliti langsung menyampaikan maksud dan tujuan datangnya peneliti. Alhamdulillah Kepala Puskesmas mengapresiasi adanya penelitian ini dan memberikan informasi berupa gambaran umum mengenai kemitraan bidan desa dan dukun bayi yang ada di wilayah kerjanya. Hasil perbincangan di dapat informasi bahwa pada tahun 2015 program kemitraan di Kecamatan Singkohor ini telah di sosialisasikan dan disepakati akan dilaksanakan di 5 (lima) desa yang ada di Kecamatan Singkohor, kesepakatan ini menghasilkan Mou yang ditandatangani oleh bidan desa dan dukun bayi. Daftar nama bidan desa dan dukun bayi tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini :

Tabel 4.1

Data Bidan Desa dan Dukun Bayi yang Bermitra dan Menandatangani SK Tahun 2015 Di Kecamatan Singkohor

No Nama Desa Nama Bidan Nama Dukun

1 Singkohor Umdatul Muniroh, Amd.Keb Parsiyem 2 Mukti Jaya Natran Wahyuni, Amd. Keb Imronah

3 Srikayu Nuridawati, Amd. Keb Asiah

4 Lae Sipola Lusiana Fransiska Suter

5 Pea Jambu Yenni Preskawati, Amd. Keb Meriem Sumber : Temuan Peneliti , tahun 2017

Berbekal dari data diatas dan nomor handphone bidan desa yang diberikan kepala Puskesmas, peneliti mulai mencari informan sesuai dengan kriteria yang peneliti inginkan. Ada 2 (dua) bidan desa yang bisa peneliti jumpai langsung karena kebetulan berada di Puskesmas Singkohor, 1 (satu) bidan peneliti jumpai di rumahnya karena memang tidak jauh jaraknya dengan Puskesmas Singkohor, sedangkan 2 (dua) bidan lain nya peneliti hubungi melalui handphone. Dari komunikasi tersebut, didapat hanya 3 (tiga) desa saja yang peneliti jadikan informan dikarenakan 2 (dua) desa yaitu Desa Srikayu dan Desa Lae Sipola sudah lama tidak bersama-sama dalam menolong persalinan, karena kondisi kesehatan dari dukun yang ada di desa tersebut. Peneliti juga langsung menanyakan kesediaan dari bidan desa tersebut untuk diwawancara sebagai informan pada penelitian ini. Serta mendiskusikan mengenai waktu dan tempat untuk menggali informasi.

Adapun yang menjadi informan inti penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bidan Desa Singkohor : Umdatul Muniroh, Amd. Keb

2. Bidan Desa Mukti Jaya : Natran Wahyuni, Amd. Keb 3. Bidan Desa Pea Jambu : Yenni Preskawati, Amd. Keb 4. Dukun Desa Singkohor : Parsiyem

5. Dukun Desa Mukti Jaya : Imronah 6. Dukun Desa Pea Jambu : Asiah

Untuk mendapatkan suatu keabsahan data yang telah peneliti dapatkan dari para informan initi diatas, selanjutnya peneliti juga perlu untuk membandingkan fakta-fakta dari perspektif ibu nifas atau ibu yang persalinannya ditolong bersama oleh informan diatas. Adapun ibu nifas yang telah peneliti

wawancarai berasal dari 3 desa yaitu Desa Singkohor, Desa Mukti Jaya dan Desa Pea Jambu. Peneliti juga menambahkan 3 informan lagi untuk menambah keterangan dan membandingkan dengan hasil wawacara informan inti. Mereka terdiri dari pemegang program KIA, tokoh masyarakat dan keluarga dari ibu dan bayi yang meninggal dunia saat persalinan. Adapun nama-nama para informan tambahan yaitu :

1. Masliani S.Pd : Ibu nifas dari Desa Singkohor 2. Murlina Riyanti, S.Pdi : Ibu nifas dari Desa Mukti Jaya 3. Jimah Fariyanti, SP : Ibu nifas dari Desa Pea Jambu 4. Haryono, AMK : Kepala Puskesmas Singkohor

5. Samiun : Kepala Desa Mukti Jaya

6. Pujianto, S.Pd : Abang kandung dari Almh. Eviana, SP

Hambatan dalam proses penelitian ini tidak banyak peneliti rasakan dikarenakan peneliti saat tiba di Desa Singkohor ditemani oleh salah seorang teman seJawat peneliti. Beliau bekerja sebagai Kepala UPTB BPP Kecamatan Singkohor sehingga hampir semua desa beliau tahu dan pernah menjadi Wabin (wilayah binaan). Kendala yang dirasakan hanya ketakutan peneliti untuk berangkat sendiri dari rumah peneliti Desa Tanah Bara Kecamatan Gunung Meriah ke Desa Singkohor karena jalan yang harus peneliti lalui sangat sepi, daerah ini sebagian besar dikelilingi tanaman kelapa sawit dan hanya terdapat beberapa rumah saja yang ada. Jalan ke Desa Singkohor hanya ramai dilalui pada jam-jam tertentu, kalau pagi, yaitu antara pukul 05.00 sd pukul 08.00 pagi, karena bertepatan dengan berangkat kerjanya karyawan perkebunan kelapa sawit PT.

Ubertraco dan PT. Runding, kalau sore antara pukul 16.00 Wib sampai dengan

pukul 18.00 Wib saat karyawan tersebut pulang kerja. Diluar jam itu hanya sekitar 3 sampai 6 kendaraan saja yang peneliti jumpai selama menempuh perjalanan selama 60 menit.

Dalam dokumen TESIS. Oleh: ERNAWATI KOTO NIM (Halaman 78-82)