• Tidak ada hasil yang ditemukan

NTT berpenduduk 4,7 juta orang yang sebagian besar bermukim di pedesaan dan daerah terpencil yang tersebar di 20 kabupaten/kota. Selain sebagai ibu kota Provinsi NTT, Kota Kupang adalah satu-satunya pemerintah kota. Tujuh belas kabupaten lainnya tersebar di tiga pulau utama yaitu Flores (8), Sumba (4) dan Timor Barat (5). Empat kabupaten lainnya terletak di pulau-pulau kecil seperti Alor, Lembata, Rote dan Sabu. NTT mempunyai 1.192 pulau dimana hanya 43 pulau yang berpenghuni. Penduduk dan sekolah (umumnya berukuran kecil) tersebar di pulau-pulau ini hingga mengakibatkan sulitnya manajemen dan tata-kelola di tingkat provinsi, kabupaten dan sekolah. Status gizi dan kesehatan secara nasional tergolong paling buruk; demikian juga dalam indikator-indikator pendidikan. 21% keluarga hidup di bawah garis kemiskinan dan 14% di antaranya tergolong miskin kronis. Angka partisipasi murni (APM) untuk SD, SMP dan SMA masing-masing adalah 93%, 56% dan 39%. Angka ulang kelas dan putus sekolah di NTT tergolong yang tertinggi di Indonesia. Untuk hasil ujian nasional (UN), NTT tergolong dalam peringkat yang paling rendah dari total 33 (kini 34) provinsi. Sebesar 33% penduduk tidak pernah atau tidak tamat sekolah dasar dan angka tuna-aksara di NTT adalah sebanyak lima kali angka tuna-aksara rata-rata di tingkat nasional.

NTT terdiri dari 3 pulau utama yaitu Flores, Sumba dan Timor Barat; yang membentang dari Barat (Flores) ke Timur (Timor Bagian Barat) sejauh 1.000 km. Daerahnya bergunung-gunung dan berbukit dengan sedikit dataran rendah. Iklimnya sangat dipengaruhi oleh letaknya yang dekat utara Australia. Dibandingkan dengan Bali yang mempunyai lebih banyak hutan tropis, NTT menngalami 7 hingga 8 bulan musim kemarau (Maret/April hingga September/Oktober) dengan curah hujan yang rendah terutama di pesisir utara. Bencana alam seperti kemarau panjang, banjir dan tanah longsor acap mengakibatkan rusaknya jalan dan jembatan, gagalnya panen, serta terhambatnya transportasi, komunikasi dan pasar nyaris setiap tahun. Bencana tahunan seperti ini nyata mempengaruhi kehadiran dan prestasi murid di sekolah.

NTT adalah bagian dari daerah sasaran MP3KI. Lebih khusus lagi, NTT adalah salah satu wilayah atau daerah 3T yang masuk dalam kebijakan khusus sesuai Keputusan Presiden untuk mengejar ketertinggalan pembangunan di daerah terbelakang, terdepan dan terluar. Sebagai kebijakan afirmatif untuk memberantas kemiskinan, MP3KI bertujuan untuk memperbaiki perekonomian 40% penduduk termiskin di Indonesia. Menurut Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, 20 dari total 21 kabupaten di NTT tergolong sebagai kabupaten tertinggal. Terdapat 5 pulau di NTT yang tergolong sebagai pulau-pulau terluar yakni Kabupaten Alor di Pulau Alor, Pulau Batek dan Pulau Dana; Kabupaten Kupang dan Pulau Mangudu; serta Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba. Pulau-pulau ini berbatasan dengan Timor Leste dan Australia.

Jumlah penduduk NTT adalah sebanyak 4,9 juta orang (BPS, 2013), terdiri 2,4 juta laki-laki dan 2,5 juta perempuan - tidak termasuk mantan penduduk Timor Timur yang baru-baru ini menjadi penduduk NTT sebanyak sekitar 122 jiwa. Lebih dari 80% atau 3,8 juta penduduk tinggal di daerah pedesaan dan daerah

nasional yakni 26 per 1000 kelahiran (BPS, 2012). Setiap 73 penduduk usia non-produktif harus bergantung pada 1000 penduduk usia produktif. Rasio ini jauh melampaui angka nasional yakni 53/1000 (BPS, 2012).

21% penduduk atau setara 1 juta orang (atau 1 dari setiap 5 penduduk) di NTT hidup di bawah garis kemiskinan (BPS, Maret 2013), dibandingkan dengan angka nasional yang sebesar 11,37%. NTT berada pada peringkat ke-31 dari 33 proivinsi dalam hal kemakmuran (provinsi terendah adalah Papua dengan angka kemiskinan sebesar 31,13%). Pola kemiskinan bahkan lebih parah jika dibandingkan antar kabupaten di NTT. Data kemiskinan tahun 2012 mencatat 32,66% penduduk di Kabupaten Sabu Raijua tergolong miskin; Kabupaten Sumba Tengah 32,10%; Kabupaten Sumba Timur 30,35%; Kabupaten Sumba Barat 29,16%; Kabupaten Rote Ndao 29,11%; Timor Tengah Selatan 27,53%; dan Kabupaten Lembata 25,17%. Mayoritas dari total 1.014 rumah tangga bergantung pada pertanian skala kecil dan tadah hujan. Kekurangan pangan dan air minum sehat - terutama di musim kemarau - tergolong kronis dan terutama mempengaruhi anak dan perempuan. Tingkat harapan hidup adalah 67,5 tahun; jauh di bawah angka nasional yakni 70,7 tahun (BPS 2010). Pertumbuhan tubuh yang kerdil (akibat kurang gizi kronis) di antara anak-anak balita adalah 58,4% dan merupakan angka yang tertinggi di Indonesia (RISKESDAS, Kemkes, 2010). Angka ini jauh di atas batas kritis WHO yakni 40%. 29,4% anak balita tergolong kekurangan berat. Angka-angka ini mengakibatkan angka IPM di NTT berada di peringkat 31 dari 33 provinsi.

Dari segi ketidakmerataan, Indeks Gini tahun 2013 untuk NTT tergolong rendah yakni 0,352, dimana angka rata-rata nasional adalah 0,413. Hal ini menempatkan NTT pada peringkat 7 dari 33 provinsi.

Pendidikan

Pada 1862, sekolah rakyat (kini dasar) pertama didirikan di Larantuka, Kabupaten Flores Timur oleh Pastor Jesuit. Pada 1879, sekolah putri pertama didirikan di Larantuka. Pada 1890, sekolah pertama berdiri di Belu, Timor. Pada 1921, sekolah putri pertama berdiri di Pulau Timor. Sejak itu peran misionaris Katolik Roma terpusat di Flores dan Lembata, sementara peran Zending Protestan terpusat di Timor, Alor, Sabu, Roti dan Sumba. Peran misi dan zending kini diambil alih oleh yayasan pendidikan dan/atau persekolahan dan terutama oleh dinas pendidikan kabupaten/kota. Meski peran dinas pendidikan/pemerintah amat nyata pada sekolah negeri, peran sekolah swasta dan sekolah yang berbasis agama masih kuat.

terhadap layanan holistik-integratif Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD di tahun 2010 adalah sebagai berikut: 62,3% mempunyai cukup Vitamin A; 27,4% bersekolah di TK; anak dengan cukup gizi: 67,5%; anak yang memiliki akte kelahiran: 25%. Total 31% penduduk tamat SD/MI; 27% tidak tamat SD; 16% (432,000 jiwa) tidak pernah bersekolah; 11% tamat SMP/MTs); 12% tamat SMA atau yang setara; dan hanya 3% tamat perguruan tinggi (BPS, 2012, lihat

Gambar 1). Sementara itu, 13% penduduk NTT (total 611,000 jiwa) buta aksara.

Mayoritas sekolah berukuran kecil. Rasio murid per guru adalah 16. Di 13 kabupaten, rasio murid per guru berkisar dari 11 sampai 20. Di antara 5 kabupaten, rasio ini berkisar dari 21 sampai 25 murid per guru (BPS, 2011).

Terdapat pula 119 Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang melayani hampir 38.000 murid. Jumlah murid per guru di MI adalah 13. Demikian pula, rasio murid per guru untuk SMP adalah 16 dan untuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah 10. Di lain pihak, sekolah di pedesaan dan daerah terpencil hanya mempunyai satu hingga dua guru per sekolah. Rasio murid per guru akibatnya melonjak menjadi 60-70 (Save the Children UK, 2007). Rasio murid per guru untuk SMA dan Madrasah Aliyah (MA) jauh lebih kecil, yakni masing-masing 15 dan 10 murid.

Ketidakhadiran murid tergolong tinggi. Di Sumba Barat Daya misalnya, rata-rata murid tidak sekolah selama 48 hari atau sepanjang 8 minggu antara Juli 2007 - Mei 2008. Ini sungguh kontras dengan murid di Kota Kupang yang absen hanya 6 hari pada periode yang sama. Angka ketidakhadiran murid yang mengkawatirkan ini mencerminkan keadaan pendidikan di pedesaan dan daerah terpencil di NTT. Pada musim hujan atau kemarau panjang misalnya anak-anak dan keluarga kekurangan bahan pangan, sulit air dan harus mengambil air dalam jarak yang jauh; murid pergi ke sekolah kerap tidak makan/sarapan; dan anak malu ke sekolah karena tidak mempunyai pakaian seragam (Save the Children UK, 2007).

Tidak Bersekolah Tidak Tamat SD Lulusan SD Lulusan SMP/MTs Lulusan SMA/SMK/MA Lulusan Pendidikan Tinggi

Pulau Sumba terletak di selatan Pulau Flores dan berbatasan dengan NTB (lihat peta di bawah). Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur, adalah kota terbesar. Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Tengah adalah kabupaten baru; dua-duanya adalah pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat pada tahun 2007.

Pulau Sumba mempunyai luas 11.153 km persegi dengan 4 kabupaten: Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Pulau ini mempunyai hutan tropis yang bervariasi. Di bagian barat Sumba tergolong subur dan padat penduduk ketimbang di bagian timur. Namun, sebagian besar hutan telah gundul akibat digunakan untuk menanam jagung, singkong dan tanaman palawija lainnya. Hutan juga menjadi gundul akibat bertambahnya jumlah penduduk. Sementara di bagian barat Pulau Sumba, lansekapnya tergolong bergunung-gunung dengan bukit kapur.

Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat adalah dua dari lima kabupaten di NTT (dari total 22 kabupaten/kota) yang menerima jumlah DAU terendah pada 2012, masing-masing Rp 239.76 juta dan Rp 278.59 juta.

Kabupaten Kecamatan Desa Penduduk Jmlh Miskin (%) Penduduk Buta huruf (%) murid per Rasio guru SD Sumba Timur 22 156 238.241 30,35 12,14 16 Sumba Barat Daya 11 131 302.241 27,71 19,71 72 Sumba Barat 6 74 116.621 29,61 16,74 20 Sumba Tengah 5 65 65.606 32,1 16,17 15 NTT 306 3246 4.899.260 20,41 9,7 18 Sumber: BPS, 2013.

(2013). Diikuti oleh Kabupaten Sabu Raijua dan Pulau-pulau Raijua (1,53%), serta Sumba Barat (2,38%). Sumba Timur mempunyai kepadatan penduduk terendah (34 jiwa/km2), dibandingkan dengan Kota Kupang yang sebanyak 2.009 jiwa/km2. Ini adalah akibat dari Sumba Timur yang kekurangan daya tarik ekonomi atau terbatasnya perumahan yang layak. Kepadatan penduduk di Sumba Tengah berada di bawah rata-rata nasional.

Mayoritas penduduk Sumba masih menganut kepercayaan Marapu, sementara lainnya beragama Protestan dan Katolik Roma. Juga ada sebagian kecil penduduk beragama Islam terutama sepanjang pesisir pulau. Tradisi dan adat kebiasaan penduduk asli masih amat kuat. Terdapat beberapa kelompok etnis yang tersebar di beberapa kecamatan.

Persentase penduduk miskin di seluruh empat kabupaten di Pulau Sumba lebih tinggi ketimbang rata-rata Provinsi NTT (20%). Sumba Tengah mencatat angka kemiskinan tertinggi yaitu 32%, diikuti oleh Sumba Timur (31%), Sumba Barat (30%) dan Sumba Barat Daya (28%).

Indeks Kesenjangan Kemiskinan (poverty gap index) yang mengukur rata-rata tingkat kemiskinan dibandingkan dengan garis kemiskinan penduduk (dengan menghitung penduduk non-miskin berada di garis nol), merefleksikan persentase dari garis kemiskinan. Alat ukur ini menggambarkan dalamnya atau parahnya kemiskinan serta beratnya akibat dari kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan bahwa kesenjangan antara rata-rata pengeluaran keluarga miskin dan garis kemiskinan yang telah diberi bobot, semakin lebar. Seperti yang tampak di tabel di bawah, indeks kesenjangan kemiskinan di Sumba tergolong lebih tinggi ketimbang di NTT. Ini adalah indikasi bahwa penduduk di Pulau Sumba secara umum lebih miskin daripada total penduduk di NTT.

Indeks Keparahan Kemiskinan mengukur ketidak-merataan di antara penduduk miskin. Semakin tinggi angka indeks berarti ada ketidak-merataan pengeluaran antara sesama penduduk miskin. Angka di bawah menunjukkan bahwa penduduk Sumba selain lebih miskin daripada rata-rata penduduk di NTT, juga menunjukkan tingginya kesenjangan ekonomi di antara sesama penduduk miskin itu sendiri.

Kabupaten Penduduk Miskin (%) Indeks Kesenjangan Kemiskinan Indeks Keparahan Kemiskinan

Sumba Barat 29,61 5,6 1,52 Sumba Timur 30,35 6,93 2,35 Sumba Tengah 32,1 5,35 1,24 Sumba Baratdaya 27,71 4,09 0,93 NTT 20,41 3,47 0,91 Sumber: BPS, 2013.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari yang terendah ke yang tertinggi di Sumba adalah: Sumba Tengah (61,7), Sumba Barat Daya (62.48), Sumba Timur (63,33) dan Sumba Barat (64,88). Rata-rata persentase

penduduk usia kerja yang secara ekonomi aktif yaitu 71,35%.

Malaria tergolong rawan dan akses terhadap air bersih minim. Pasokan air amat terbatas di musim kemarau (Jakarta Post, 2010). Pada 2010 hanya ada satu rumah sakit umum yang beroperasi di Sumba Timur. Puskesmas tidak tersedia di beberapa kecamatan di Sumba Timur dan Sumba Barat Daya. Sumba Timur mempunyai usia harapan hidup terendah yakni 62,33 tahun; dibandingkan dengan rata-rata harapan hidup di NTT (68,04 tahun) pada 2012.

Pada 2012, Sumba Barat Daya mempunyai angka buta aksara tertinggi (25%) dibandingkan dengan angka rata-rata di NTT yang 10%, disusul Sumba Barat (19%), Sumba Tengah (16%) dan Sumba Timur (13%).

Rata-rata tahun bersekolah yang terendah adalah di Sumba Tengah (5,34 tahun), Sumba Barat Daya (6,21 tahun), Sumba Timur (6,44 tahun) dan Sumba Barat (6,62 tahun). Sebagai perbandingan, rata-rata lama bersekolah di NTT adalah 7,09 tahun. Menurut data BPS NTT, rasio murid per guru di SD adalah 31 murid per guru namun demikian terdapat disparitas antar kabupaten; tertinggi di Sumba Barat Daya (72 murid per guru) dan terkecil di Sumba Tengah (15 murid per guru). Rasio murid per guru di MI adalah 15. Tertinggi adalah di Sumba Barat Daya (21) dan terendah di Sumba Timur (12). Sementara, Sumba Tengah tidak mempunyai MI.

Terdapat 4 sekolah bagi anak berkebutuhan khusus di Pulau Sumba tapi tidak ada satu pun di Sumba Barat Daya. Rata-rata rasio murid guru di sekolah ini adalah 5 hingga membolehkan guru untuk menyesuaikan kurikulum dan pedagogi sesuai kebutuhan khusus anak-anak.

Rincian Lokakarya yang diselenggarakan ACDP di Kupang dan Pulau Sumba,