• Tidak ada hasil yang ditemukan

Parameter Populasi

Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

A. Parameter Populasi

1. ukuran dan Kepadatan Populasi

Hasil investarisasi owa jawa di ssWK Bodogol yang di-lakukan dengan metode langsung ditemukan 10 kelom-pok owa jawa yang secara total terdiri dari 19 ekor owa jawa. secara rinci lokasi pertemuan owa jawa beserta ukuran kelompoknya dapat dibaca pada Tabel 1.

Grup lokasi

Blok/Pos JantandewasaBetina BetinaAnak Jantan Bayi Jumlah

1 Cisuren/Bodogol 0 1 0 1 0 2 2 Cisuren/Bodogol 1 1 0 1 0 3 3 Cisuren/Bodogol 1 1 1 0 0 3 4 Pasir buntung/Bodogol 1 1 1 0 0 3 5 Pasir buntung/Bodogol 1 0 0 0 0 1 6 Pasir buntung/Bodogol 1 0 0 0 0 1 7 Bendungan/Bodogol 0 1 0 0 1 2

8 Gombong Koneng/ Bodogol 0 1 0 0 0 1

9 Pasir Peteuy/Cimande 1 1 0 0 0 2

10 Pasir Peteuy/Cimande 1 1 0 0 0 2

Jumlah 7 8 1 2 1 19

Hasil pengamatan secara tidak langsung yaitu melalui suara di ssWK Bodogol ditemukan 7 kelompok owa jawa. lokasi pertemuan tak langsung di Wilayah Pos Bodogol adalah di Tugu luhur, Cipadaranten dan Pa-sir ipis (masing-masing 1 kelompok). di wilayah Pos Cimande pertemuan secara tidak langsung terdapat di Pasir ipis, Bojong Pinango dan Pasir Beunyeung (masing-masing 1 kelompok). sedangkan perte-muan secara tidak langsung di Wilayah Pos Cisarua tedapat di Cimisblung sebanyak 1 kelompok. dengan demikian dari hasil kegiatan inventarisasi owa jawa di ssWK Bodogol berdasarkan pertemuan langsung dan tak langsung terdapat 17 kelompok owa jawa dengan ukuran kelompok 1,9 ekor/kelompok. sedangkan di ssWK selabintana dari hasil pen-gamatan secara langsung di temukan 7 kelompok owa jawa yang terdiri dari 20 ekor owa jawa. secara rinci lokasi pertemuan owa jawa beserta ukuran ke-lompoknya dapat dibaca pada Tabel 2.

Hasil pengamatan tak langsung di ssWK selabintana ditemukan 4 kelompok owa jawa. sebanyak 2 kelompok di temukan di Wilayah Pos nagrak yaitu di Pasir Hantap dan Pasir Tengah. satu kelompok di temukan di Wilayah Pos Goalpara yaitu di Gombong Papak dan satu kelompok di Ciodeng yang termasuk Wilayah Pos Cimungkat. maka di ssWK selabintana berdasarkan pengamatan langsung dan tidak langsung pada kegiatan inven-tarisasi ini ditemukan 11 kelompok owa jawa den-gan ukuran kelompok 2,4 ekor/kelompok.

dari hasil pengamatan langsung di dua lokasi ini di temukan perbedaan dalam jumlah kelompok dan

jumlah individu yang ditemukan di ssWK selabin-tana lebih besar dibandingkan jumlah individu yang ditemukan di ssWK Bodogol, tetapi jumlah kelompok owa jawa yang ditemukan di ssWK Bodogol lebih besar dibandingkan jumlah kelompok owa jawa di ssWK selabintana. Hal ini dikarenakan ukuran kelom-pok owa jawa di ssWK Bodogol (1,9 ekor/kelomkelom-pok) lebih kecil dibandingkan ukuran kelompok owa jawa di ssWK selabintana (2,4 ekor/kelompok).

Beberapa hal yang diperkirakan menjadi penyebab perbedaan ukuran kelompok ini adalah:

1. dari hasil pengamatan di ssWK Bodogol ditemu-kan beberapa owa jawa jantan dewasa yang menje-lajahi sendiri. Hal ini menunjukan owa jawa jantan muda ini baru di pisahkan dari kelompok untuk mencari pasangan dan membentuk kelompok send-iri. Atau terjadi kematian pada pasangan owa jawa akibat pemangsaan atau faktor lain sehingga terjadi pengurangan ukuran kelompok.

2. Kelompok yang hanya terdiri dari sepasang jan-tan dan betina kemungkinan merupakan pasangan muda yang belum memiliki anak atau pasangan yang baru memisahkan anaknya untuk membentuk kelom-pok anak sendiri. sementara literatur menyebutkan bahwa owa jawa mampu melahirkan seekor anak dalam satu tahun dan owa jawa muda yang telah berusia lebih kurang sembilan tahun akan dipisahkan dari kelompoknya.

dari hasil pengamatan langsung dihitung nilai kepa-datan populasi dan di peroleh nilai kepakepa-datan popu-lasi owa jawa di ssWK Bodogol adalah 0,551 ekor/ hektar dan di ssWK selabintana adalah 0,497 ekor/

Grup lokasi

Blok/ Pos JantandewasaBetina Betina Anak Jantan Bayi Jumlah

1 Cibeureum/selabintana 1 1 2 0 0 4 2 Cigeber/selabintana 1 1 0 1 0 3 3 situgunung/selabintana 1 1 0 1 0 3 4 Cilebak siuh/selabintana 1 1 0 0 0 2 5 Pasir panon/Goalpara 1 1 0 1 0 3 6 Paniisan/Cimungkat 1 1 1 0 0 3 7 Baru Kadua/Cimungkat 1 1 0 0 0 2 Jumlah 7 7 3 3 0 20

hektar. Perbedaan kepadatan antara dua lokasi ini selanjutnya akan dibahas pada pembahasan habitat. dengan demikian berdasarkan hasil pengamatan langsung dan tak langsung serta berdasarkan rata-rata ukuran kelompok pada kegiatan inventarisasi owa jawa ini, diperoleh hasil bahwa prediksi jumlah owa jawa di ssWK Bodogol adalah 32 ekor dan di ssWK selabintana adalah 32 ekor.

3. struktur umur

struktur umur adalah komposisi jumlah individu dalam populasi menurut sebaran umur. untuk melakukan identifikasi umur di lapangan ditemui kesulitan, sehingga perlu dilakukan pendekatan ter-tentu yang lebih sederhana. dalam pengamatan owa jawa dilapangan untuk penentuan kelas umur ini juga menggunakan besar-besaran kualitatif dengan membagi kelas umur ke dalam katagori bayi, anak dan dewasa.

Tabel 3 merupakan matrik untuk membedakan jenis kelamin dan kelas umur di lapangan.

dari hasil pengamatan secara langsung di ssWK Bodogol kelas umur dewasa merupakan persentase

terbesar yaitu 78,95%. sedangkan persentase ter-kecil adalah kelas umur bayi yaitu sebesar 5,26%. Adapun persentase kelas umur anak adalah 15,79%. sedangkan hasil pengamatan secara langsung di ssWK selabintana, presentase kelas umur dewasa adalah 70% dan presentase kelas umur anak 30%. Presentase kelas umur bayi di ssWK selabintana ti-dak dapat dihitung karena pada ketinggian inventari-sasi melalui pengamatan langsung ini tidak di temui individu kelas umur bayi.

dalam suatu populasi, kelas umur dewasa selalu menduduki persentase terbesar karena selang umur pada kelas umur dewasa paling lebar yaitu antara 9 – 33 tahun. Kelas umur bayi memiliki selang umur tersempit yaitu 0 – 2 tahun, maka jumlah individu-nya akan menjadi paling kecil. sedangkan kelas umur anak memiliki selang 2 – 9 tahun.

maka untuk memperoleh komposisi struktur tahu-nannya, setiap kelas umur di susun dalam selang waktu yang sama.

dari gambar di atas terlihat bahwa struktur umur owa jawa di ssWK Bodogol merupakan struktur

Bayi Anak dewasa

Warna Putih kekuning-kuningan Abu-abu Abu-abu pucat

Terdapat rambut segitiga di atas

kepala Terdapat rambut putih pada muka

ukuran Kecil sedang Betina: besar

Jantan: relatif paling besar

morfologi Jantan: scrotum mulai terlihat

berwarna hitam Jantan: scrotum mulai terlihat jelas

Betina: kelenjar susu masih kecil Betina: kelenjar susu besar

suara Betina:bunyi suara rendah Jantan: Bunyi suara pendek-pendek

dan keras

Betina: Bunyi suara panjang dan monoton

Perilaku sering dalam gendongan

induk

Belum berpasangan selalu berpasangan

Jantan: sering memisahkan diri dari kelompok,cenderung bersaing/ berkelahi dengan sesama anak jantan

Jantan: sering berada di pinggir kelompok, cenderung paling besikap waspada terhadap gangguan Betina: sering berada dalam

kelompok Betina: sering dekat dengan individu anak dan menggendong bayi Tabel 3. Matrik Identifikasi Struktur Umur dan Jenis Kelamin di Lapangan

umur populasi yang mengalami gangguan, karena jumlah individu dewasa lebih banyak dari jumlah individu bayi dan anak. Beberapa hal yang menye-babkan hal ini adalah:

a. laju mortalitas kelas umur anak ke dewasa tinggi

b. laju natalitas relatif rendah

dalam setiap kegiatan inventarisasi, begitupula dalam kegiatan ini memang tidak tertutup kemung-kinan terjadi biasa karena adanya human error atau kesalahan dalam menilai dan mengukur sehingga pada kasus ini bisa saja terjadi kesalahan pada

pen-Gambar 1. Struktur Umur Tahunan Owa jawa di SSWK Bodogol

gamat lapang yang salah membedakan kelas umur owa jawa di lapangan.

dari gambar 2 diatas terlihat bahwa struktur owa jawa di ssWK selabintana juga merupakan struktur populasi yang mengalami ganguan karena tidak ad-anya individu bayi. Hal ini akan sangat membahay-akan bagi kelangsungan hidup populasi owa jawa di selabintana.

struktur umur populasi yang sehat adalah struktur umur populasi yang seimbang atau yang sedang berkembang dimana laju natalitas dan mortalitas Gambar 2. Struktur Umur Tahunan Owa jawa di SSWK Selabintana

relatif sama serta jumlah jantan dan betina relatif sama. dalam hal ini diasumsikan tidak ada migrasi dalam populasi.

3. rasio seks

sex ratio merupakan perbandingan komposisi kela-min antara jumlah individu jantan dengan betina. Berdasarkan hasil analisis data rasio seks populasi owa jawa di ssWK Bodogol adalah 1 : 0,8 dengan selang dugaan 1,25 ± 0.021. sedangkan nilai rasio seks populasi owa jawa di ssWK selabintana adalah 1 : 0,86 dengan selang dugaan 1,17 ± 0,0052. nilai rasio seks yang mendekati 1 : 1 ini menunjuk-kan bahwa owa jawa cenderung membuat kelom-pok dengan keluarga inti. Telah di ketahui owa jawa merupakan satwa monogami, jantan dan betina kawin untuk seumur hidup. Apabila ditinjau dari rasio seks ini jumlah jantan dan betina relatif sama sehingga dalam hal ini populasi bisa dianggap sehat 4.natalitas

natalitas merupakan jumlah individu yang lahir dalam suatu populasi yang dapat dinyatakan dalam beberapa cara yaitu produksi individu baru dalam suatu popu-lasi, laju kelahiran persatuan waktu atau laju kelahiran persatuan waktu per individu.

Perkawianan pada owa jawa dapat terjadi sepanjang tahun. setiap kali melahirkan seekor induk hanya mampu melahirkan satu anak dengan masa bunting ± 7 bulan. dalam waktu 2 tahun seekor induk dapat beranak 2 kali.

dari hasil pengamatan nilai natalitas populasi owa jawa di ssWK Bodogol adalah 0,14 dengan asumsi yang melahirkan adalah betina dewasa. sedangkan nilai na-talitas populasi owa jawa di ssWK selabintana tidak dapat dihitung karena tidak ditemui individu bayi. 5. mortalitas

mortalitas merupakan kematian individu dalam popu-lasi. dalam kehidupan satwa liar mortalitas dapat ter-jadi karena adanya pemangsaan, bencana alam, per-saingan ruang dan sumberdaya makanan serta akibat aktivitas manusia.

Pada ketinggian ini mortalitas dihitung melalui pendekatan peluang hidup untuk setiap kelas umur.

Pada populasi owa jawa di ssWK Bodogol laju moralitas kelas umur bayi ke anak adalah sebesar 0,67 dan laju mortalitas kelas umur anak ke dewasa adalah 0,8.

sedangkan hasil pengamatan di ssWK selabintana laju mortalitas kelas umur bayi ke anak tidak dapat dihitung karena pada pengamatan secara langsung tidak di temui individu bayi. Adapun laju mortalitas kelas umur anak ke dewasa adalah 0,6.

dari nilai-nilai tersebut diatas terlihat bahwa laju mortalitas terbesar adalah laju mortalitas kelas umur anak ke dewasa. Hal ini diperkirakan karena pada ke-las umur anak kurang mampu bertahan dalam meng-hadapi ancaman dari luar misalnya bila ada predator sering terjadi kepanikan sehingga lepas kendali dan terjatuh. sedangkan untuk kelas umur bayi masih ter-lindung karena selalu dalam gendongan induknya.