“[P]ada dini hari 1 Oktober 1965 enam orang jenderal dan seorang perwira tinggi Angkatan Darat diculik dan dibunuh di ibu kota Indonesia, Jakarta. Sebuah kelompok militer yang bernama Gerakan 30 September menyatakan diri bertanggung jawab atas penculikan dan pembunuhan itu. Selama hari-hari yang kacau pada awal bulan Oktober 1965 itu, surat kabar resmi milik Angkatan Darat, Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha, menurunkan berita-berita yang menuduh para pemimpin dan anggota PKI bertanggung jawab atas pembunuhan para jenderal tersebut. Surat kabar lainnya
dilarang terbit. Koran milik Angkatan Darat itu memberitakan sebuah cerita yang menyebutkan bahwa ‘tindakan-tindakan biadab’ telah dilakukan oleh para anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, sebuah organisasi perempuan yang terkait dengan PKI), yakni menista jenazah para jenderal. Karena pemberitaan yang semacam ini, dalam beberapa hari saja cerita-cerita tentang ‘kekejaman komunis’ langsung menyebar di seluruh negeri, terutama di Jawa dan Bali. Sementara itu, di tengah-tengah keadaan yang kacau ini Mayor Jenderal Suharto (Kepala Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat/Kostrad saat itu, yang nantinya akan menjadi Presiden Indonesia) tampil ke muka sebagai ‘penyelamat’ bangsa dari ancaman komunisme dan dengan cepat membasmi ‘konspirasi jahat’ tersebut.”22
22 Baskara T. Wardaya, SJ., 2013, “Tragedi Kemanusiaan 1965 dan Konteksnya” dalam 1965 Indonesia dan Dunia, Jakarta: Gramedia, hlm. 220-221.
Peristiwa Gerakan 30 September dan pembentukan keadaan darurat militer pada Oktober 1965 merupakan dua peristiwa yang berbeda, meskipun saling terkait. Peristiwa Gerakan 30 September yang berlangsung pada tengah malam menjelang 1 Oktober adalah kejadian yang terjadi secara rahasia dan berdampak langsung pada sekelompok orang dalam jumlah relatif kecil. Dalam waktu 2-3 hari, gerakan itu telah “membubarkan diri dan pergi ke arah yang berbeda-beda.”23 Peristiwa itu menjadi besar setelah perwira elit Angkatan Darat di bawah Jenderal Suharto memberlakukan keadaan darurat militer. Pembentukan Komando Operasi
Pemulihan dan Ketertiban (Kopkamtib) oleh Mayjen Suharto pada awal Oktober 1965 adalah cikal bakal pengalihan kekuasaan pada institusi militer. Kopkamtib
memberikan izin kepada personilnya untuk bertindak di luar hukum dengan dalih keadaan darurat militer. Badan ini dipergunakan untuk melakukan pemeriksaan, penangkapan, mempersiapkan kamp-kamp tahanan dan mengambil alih harta orang-orang yang dituduh sebagai PKI dan simpatisannya. Estimasi korban yang dibunuh pada tahun 1965/1966 berkisar antara 500.000 sampai satu juta orang. Diperkirakan satu juta orang lainnya mengalami penahanan tanpa proses pengadilan. Pada tahun 19743 dan 1974, MPR dan kemudian Presiden Suharto mengeluarkan TAP MPR X/1973 dan Keppres No 9/1974 yang menempatkan lembaga ini langsung di bawah kendali Presiden. Kopkamtib berdiri tegak hingga tahun 1988 dan kemudian disederhanakan menjadi Bakorstanas (Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional). Pada tahun 2000 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4, membubarkan badan ini.
Peristiwa Gerakan 30 September sangat penting karena menjadi momentum pengukuhan kekuasan Suharto yang kemudian dikenal sebagai Orde Baru. Kekerasan massal yang berlangsung menjadi tonggak merasuknya impunitas ke dalam perjalanan bangsa. Peristiwa Gerakan 30 September hanya terjadi di sebagian Kota Jakarta, diikuti dengan penculikan lima komandan militer di Jawa Tengah. Dalam waktu 1-2 hari saja gerakan ini telah pudar tanpa bekas. Namun, dampaknya meluas dengan keadaan darurat militer yang membuka keran kekerasan massal di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera, dan berbagai wilayah lain di Indonesia. Jutaan rakyat pedesaan di seluruh Indonesia tidak mengetahui tentang peristiwa itu tetapi harus menanggung beban yang luar biasa. Berbagai kesaksian korban yang dikumpulkan anggota KKPK menggambarkan bagaimana aparat keamanan menginterogasi rakyat biasa tentang sebuah kejadian yang tidak diketahui sama sekali. Misalnya, seorang kader pertanian dari Sulawesi Tengah, sedang menjalani sekolah pertanian di Cipanas, Bogor, ketika peristiwa tersebut terjadi. Saat kembali ke desanya di Parigi, di pelabuhan ia sudah ditunggu oleh polisi untuk diinterograsi. Dalam pemeriksaan itu ia ditanya tentang masalah yang tidak ia ketahui, terutama
23 John Roosa, 2008, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, ISSI dan Hasta Mitra, hlm. 83.
peristiwa Gerakan 30 September. Ia bercerita tentang subjek utama pemeriksaan tersebut.
“Itu mengenai masalah rencana kup Dewan Revolusi, sedangkan itu saya tidak tahu. Yang katanya yang menculik termasuk saya katanya, saya sebagai anak buahnya Untung, Letnan Kolonel Untung katanya. Saya diutus dari Sulawesi Tengah mengikuti itu. Supaya diakui itu, untuk supaya
mengikuti gerakan yang ada di sana. Saya tidak pernah mendapat instruksi dari pemimpin, baik pemimpin organisasi maupun pemimpin sekolah, tidak ada pernah menyampaikan saya, betul. Untuk menghadiri apa? Saya diutus ke sana untuk mengikuti pendidikan pertanian, itu saya jawab.”24
Momumen Pancasila. Seorang prajurit TNI sedang memperhatikan relief Kolonel Suharto saat memimpin operasi penumpasan pemberontakan G30S yang menghiasi Taman Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur. (Foto: Koran TEMPO/Arif Ariadi)
Kebanyakan orang mengetahui peristiwa itu secara samar-samar. Artinya, sebagian orang memperoleh informasi dari mulut ke mulut, sebagian lainnya dari radio. Pada umumnya, penduduk tidak mengetahui peristiwa itu secara lengkap. Ratmini adalah seorang aktivis Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) dan guru yang mengalami
penahanan. Ketika ditanya apa yang ia ketahui tentang peristiwa Gerakan 30 September, Ratmini mengatakan,
“Ya meletus itu kan, itu selang beberapa hari ada siaran-siaran radio itu, kan saya dengan, lha orang-orang ke pasar itu bakul-bakul itu sama bicara itu, tapi sebenarnya kan itu tidak tahu, cuman mendengar tapi tidak tahu. Sesungguhnya, apa kejadian itu tidak tahu, sebab di desa-desa itu ya n’dak ada apa-apa, tidak ada pergolakan di desa-desa. Cuma setelah itu ada siaran RPK, itukan terus suruh menyerah, menyerah kita itu berbuat apa, menyerah itu wong kita tidak lari.” 25
Ribuan orang yang tidak mengetahui secara benar, harus mengakui peristiwa Gerakan 30 September itu. Untuk mengakui keterlibatan dalam peristiwa itu, tahanan politik mengalami siksaan luar biasa dari militer. Pada malam hari mereka dibawa dengan truk ke sebuah tempat rahasia untuk dieksekusi atau kerja paksa untuk kepentingan pembangunan ala militer.
Tindakan kekerasan terhadap perempuan juga terjadi dalam skala luas. Kekerasan terhadap perempuan dibangun oleh militer untuk membenarkan sebuah propaganda hitam bahwa organisasi Gerwani ikut terlibat dalam pembunuhan para jenderal. Seorang korban dari Solo bersaksi,
“Sekujur badan saya dicacah tak henti-henti oleh algojo-algojo DPKN (Djawatan Polisi Keamanan Negara). Saya dituduh Gerwani, ikut ke Lubang Buaya, menari Genjer-Genjer, dan menyiksa para jenderal sebelum mereka dibunuh dan dilempar mayat mereka di Lubang Buaya. Semua saya bantah dengan mudah, karena saya memang merasa tidak seperti yang mereka tuduhkan.” 26
Pemicu menyebarnya peristiwa Gerakan 30 September ke desa-desa pelosok adalah pengiriman pasukan militer yang dikenal sebagai RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat). Pasukan RPKAD didatangkan ke kota-kota besar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, mereka masuk dari Semarang, kemudian menyebar ke Solo, Boyolali, dan daerah lainnya. Di sana mereka melatih organisasi-organisasi massa untuk menjadi milisi. Mereka juga membentuk Tim Pemeriksa Daerah
(Teperda). Situasi ini dilukiskan oleh Christina Sriharyati, bekas anggota Sukarelawan (Sukwan) Pemuda Rakyat, Solo.
“Aku melihat orang-orang yang membakar juga satu kelompok dengan orang-orang yang mendobrak dan kemudian menjarah rayah isinya, juga dengan mereka yang menyiramkan bensin pada bangunan-bangunan
25 Wawancara dengan Ratmini, Solo, 12 April 2005. Arsip ISSI.
26 Sarbinatun (2006). “Laki-laki Dimanfaatkan Tenaganya, Permpuan Seluruh-Luruhnya”. dalam, (ed) Setiawan, Hersri. Kidung untuk Korban: Dari Tutur Sepuluh Narasumber Eks Tapol Sala. Solo: Pakorba-Sala. hlm. 54.
sasaran pembakaran. Barangkali benar mereka pemuda-pemuda Masyumi, Banser NU, dan Pemuda Demokrat PNI. Tapi di belakang mereka, tentara-tentara berpakaian sipil. Walaupun begitu desas-desus yang disebarkan menunjuk kepada pemuda rakyat dan orang-orang PKI.” 27
Dengan menyerbu melalui pembakaran, memudahkan pasukan militer untuk melakukan pembunuhan besar-besaran. Sepanjang tahun 1965-1966, Soekarno mengkritik Angkatan Darat dengan berkata, “Kalau mau membunuh tikus yang
memakan kue dalam rumah, janganlah bakar rumah itu.”28 Namun, protesnya
mudah dibungkam karena pada saat itu ia telah dilarang berpidato dan tidak lagi diliput oleh media massa.
Dengan menggunakan milisi-milisi bentukannya untuk menyerang, menangkap, dan membunuh anggota-anggota yang dituduh PKI, aparat militer lebih mudah untuk melarikan tanggung jawab. Strategi mempersenjatai kelompok sipil mengaburkan rantai komando terhadap kejahatan yang terjadi dalam skala luas.29 Militer yang bergerak dapat mengatakan bahwa pembunuhan dan penangkapan sebagai kekerasan massal di kalangan rakyat sendiri. Seusai melakukan penumpasan terhadap orang-orang yang dituduh komunis, kebanyakan kelompok milisi tersebut bubar begitu saja.
Demikian pula di perkebunan-perkebunan Sumatera Utara, tentara membentuk milisi yang diberi nama Komando Aksi. Pemimpin Komando Aksi dipinjamkan senjata api dan, yang terpenting, ia kebal hukum. Di perkebunan Tanjung Keliling, misalnya, Komando Aksi dipimpin oleh seseorang yang diberi izin dari Koramil untuk menggunakan senjata api. Pemimpin Komando Aksi adalah mandor sekaligus centeng perkebunan. Posisi centeng perkebunan pada tahun 1960an meredup dan dihidupkan kembali untuk mengganyang anti-PKI. Setiap kali menangkap pemimpin serikat buruh, Pemimpin Komando Aksi senantiasa ikut di dalam mobil karena dialah yang menentukan siapa yang akan ditangkap. Komando Aksi dibubarkan pada akhir 1966, setelah penangkapan dan pembunuhan mereda di perkebunan Sumatera Utara.
Setelah pembunuhan dan penangkapan mereda, media massa meliput pemberitaan tentang cara aparat militer mengamankan para tahanan yang tidak terbunuh. Sejak Oktober 1965, media massa telah dikuasai oleh Angkatan Darat. Bahkan, media massa yang menjadi acuan hingga kini seperti Kompas, juga dikontrol Angkatan
27 Christina Sriharyati (2006). “Aku Tidak Malu Jadi ET”. dalam, (ed) Setiawan, Hersri. Kidung untuk Korban: Dari Tutur Sepuluh Narasumber Eks Tapol Sala. Solo: Pakorba-Sala. hlm. 237.
28 Iman Toto K . Rahardjo, Suko Sudarso (ed.),2010, Bung Karno: Masalah Pertahanan-Keamanan, Himpunan Amanat pada TNI/POLRI, Jakarta: Grasindo, hlm. 379.
29 Sesuai hukum HAM internasional dan Statuta Roma (1998), tanggung jawab komando juga berlaku dalam konteks kelompok sipil yang dipersenjatai dan dikontrol atau dikomando oleh militer.
Darat.30 Media massa yang tidak mau menyensor berita, terancam ditutup. Hampir seluruh halaman utama media massa nasional memberitakan konflik horizontal antara massa yang anti-PKI dan pro-PKI pada rentang 1965-1967.