• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

5) Permainan Tradisional Pancasila 5 Dasar

a) Pengertian Permainan Tradisional Pancasila 5 Dasar

Permainan tradisional pancasila lima dasar biasanya dilakukan anak-anak ketika pulang sekolah atau sedang liburan. Berkumpul bersama, baik itu di teras rumah atau pos ronda sangat pas untuk memainkan permainan ini. Anak-anak

28 menentukan huruf berdasarkan jumlah jari yang ditunjukkan para pemainnya, lantas beradu cepat menyebutkan sesuatu yang diawali dengan huruf tersebut.

Sebelumnya, mereka telah menentukan kategori yang akan disebutkan. Misalnya, kategori nama kota, buah, hewan, atau yang lainnya (Mulyani, 2016: 158).

Permainan ABC 5 dasar atau biasa disebut Pancasila 5 dasar merupakan permainan tradisional yang sangat populer di era 1990-an. Ini salah satu permainan edukasi yang menyenangkan dan juga bermanfaat untuk mengasah keterampilan, kecerdasan bahasa serta konsentrasi peserta didik. Permainan ini juga mudah dimainkan karena tidak membutuhkan alat atau benda khusus untuk memainkannya, karena hanya menggunakan jari tangan (Febryana, 2019: 20-21).

Jadi, permainan tradisional pancasila 5 dasar atau ABC 5 dasar adalah permainan tradisional yang mudah dimainkan karena hanya menggunakan jari tangan. Cara memainkan permainan ini dengan menentukan kategori misalnya nama kota, buah, hewan, atau yang lainnya lalu pemain beradu cepat menyebutkan sesuatu yang diawali dengan huruf tersebut dengan menjumlah jari yang ditunjukkan para pemainnya untuk menentukan huruf.

b) Cara Memainkan Permainan Tradisional Pancasila 5 Dasar

Cara memainkan permainan tradisional pancasila 5 dasar adalah sebelum mulai, buat kesepakatan dengan teman yang lain, kategori apa saja yang akan dipakai. Yang paling umum biasanya nama buah, negara, hewan, artis, kota, dan lain-lain. Kemudian, tahap selanjutnya anak melakukan semacam hompimpa sambil menyerukan “pancasila lima dasar”. Anak bisa menentukan sendiri berapa jari yang hendak masuk ke hitungan. Setelah, digabungkan dengan jari-jari tangan temanmu yang lain, maka salah satu anak akan mengurutkan huruf sesuai dengan jumlah jari. Misalnya hitungan terakhir jatuh pada huruf K. Maka anak-anak dulu-duluan menebak kata tersebut. Misalnya kesepakatan kategori buah, anak-anak akan segera menyebut kelengkeng, kurma, dan lain-lain. Hal lucu sering terjadi dalam permainan ini. misalnya ketika ada anak yang tidak bisa menjawab karena kebingungan atau merasa grogi karena diganggu

teman-29 temannya. Teman yang kalah, akan mendapat hukuman, seperti dicoret, atau jongkok tergantung kesepakatan bersama (Mulyani, 2016: 159-160).

c) Modifikasi Permainan Tradisional Pancasila 5 Dasar

Permainan tradisional pancasila 5 dasar akan dimodifikasi pada nama dan cara bermainnya. Nama permainan tradisional pancasila 5 dasar setelah dimodifikasi adalah permainan Pembagian 5 Dasar yang berasal dari pancasila 5 dasar dan pembagian. Alat permainan pancasila 5 dasar tetap menggunakan jari tangan. Pancasila 5 dasar dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat dipadukan dengan materi pada tema 1 subtema 4 khususnya mata pelajaran matematika yaitu operasi hitung pembagian bilangan.

Modifikasi cara memainkan permainan tradisional pancasila 5 dasar adalah sebagai berikut : (1) Satu kelas dapat dibagi menjadi 2-3 kelompok, 1 kelompok terdiri dari (±) 5-6 orang dan setiap kelompok duduk melingkar agar mempermudah saat permainan sudah berlangsung. (2) Setiap anggota kelompok mengeluarkan jari seperti pada gambar di atas (harus mengulurkan 2 tangan, agar angka yang keluar nantinya besar dikarenakan jumlah total semua jari yang keluar, akan menjadi angka yang akan dibagi). (3) Jumlah jari yang muncul akan dijadikan sebagai bilangan yang akan dibagi, dan tugas setiap kelompok yaitu menyebutkan angka berapa saja yang bisa dijadikan bilangan pembaginya.

Sebagai contoh, jumlah jari yang muncul menunjukkan angka 40. Setiap anggota kelompok harus mampu menyebutkan sebanyak mungkin angka yang dapat digunakan untuk membagi habis angka 40. Setelah anggota mulai menyebutkan ada 1 orang anggota yang bertugas mencatat jumlah kemungkinan angka yang bisa menjadi bilangan pembagi. Setelah selesai, laporkan catatan tersebut ke guru. Misalkan anggota kelompok mampu menyebutkan 5 angka, maka kelompok tersebut akan mendapatkan 5 poin tambahan. (4) Permainan ini bersifat kompetisi, yang mampu menyebutkan / mendapatkan poin terbanyak, akan menjadi pemenangnya. (5) Dan untuk memberikan semangat kepada peserta didik, kelompok yang menang bisa mendapatkan reward berupa nilai tambah ataupun berupa hal lain yang lebih bermanfaat.

30 6) Permainan Tradisional Kartu Kuartet

a) Pengertian Permainan Tradisional Kartu Kuartet

Permainan kartu kuartet merupakan permainan kartu yang terdiri dari sejumlah kartu bergambar dengan tema yang telah ditentukan. Pada setiap kartu terdapat judul dan sub judul untuk menjelaskan gambar tersebut. Pada setiap kartu terdapat judul di bagian tengah atas, sedangkan di atas gambar terdapat kata-kata yang merupakan sub tema, yakni dua baris di bagian kanan dan dua baris di bagian kiri. Salah satu dari empat kata tersebut dan biasanya berwarna lain atau digaris bawahi dari keempat kata yang terdapat pada bagian atas kartu (Zulfikar, 2017: 159).

Kuartet yang berarti “berjumlah 4”, maka permainan kartu ini adalah membuat pasangan kartu berjumlah 4 sebagai satu pasangan. Di dalam satu set kartu kuartet yang digunakan untuk permainan, terdiri dari 24 atau bisa juga 32 lembar kartu. Di dalam setiap lembar kartu komposisinya terdiri dari gambar dan sebuah tema utama yang dituliskan di bagian tengah atas. Di bawah tulisan tema tersebut tertulis 4 anggota kelompok tema, dengan aturan susunan, tulisan yang paling atas dan dicetak tebal (atau diberi warna lain) adalah nama dari gambar yang tertera. Lembaran-lembaran kartu kuartet dipasangkan oleh tema yang mengikatnya. Misalnya dalam tema “binatang berkaki 4 pemakan rumput” maka anggotanya terdiri dari Kambing, Sapi, Kerbau, dan Kijang. Jadi akan ada 4 kartu dengan tema yang sama dengan memiliki gambar yang berbeda, contohnya adalah gambar binatang anggota tersebut. Jika kartu bergambar sapi, maka tulisan nama sapi akan berada di paling atas, selanjutnya tulisan hewan lain dalam satu pasangan tema yang harus dicari oleh si pemilik kartu tersebut. Seandainya seseorang berhasil mengumpulkan keempat kartu hewan berpasangan tersebut, maka ia dianggap berhasil dan mendapatkan poin nilai 1 (Karsono, 2014: 45).

Kartu kuartet adalah sejenis permainan yang terdiri atas beberapa jumlah kartu bergambar, dari kartu tersebut tertera keterangan berupa tulisan yang menerangkan gambar tersebut (Aryani, 2014: 118). Selain itu, kelebihan media gambar kartu kuartet adalah tidak membutuhkan alat pendukung penyajian gambar yang lain. Kartu kuartet sebagai media juga memiliki kekhususan dan

31 keunikan dari sisi bentuk permainannya yang bersifat kompetitif dan menarik, sehingga sesuai dengan gaya belajar peserta didik SD yang masih dalam usia anak-anak, yaitu belajar selayaknya bermain. Dengan demikian anak-anak dapat memainkan kartu kuartet di segala tempat dan di setiap waktu, dengan permainan yang menarik namun memuat materi pembelajaran (Karsono, 2014: 45).

Jadi, permainan tradisional kartu kuartet adalah permainan tradisional yang terdiri dari beberapa kartu bergambar dengan tema yang sudah ditentukan. Satu set kartu kuartet ini biasanya berisi 24 sampai 32 lembar kartu, dan dalam setiap kartu terdapat tema utama, gambar, serta tulisan yang menerangkan gambar tersebut. Sesuai namanya, permainan tradisional kartu kuartet ini berasal dari kuartet yang berarti “berjumlah 4” maka permainan ini membuat pasangan kartu berjumlah 4 sebagai satu pasangan.

b) Cara Memainkan Permainan Tradisional Kartu Kuartet

Cara memainkan permainan tradisional kartu kuartet adalah sebagai berikut : (1) peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok di mana setiap kelompok terdiri atas 4 orang. (2) setiap kelompok diberi satu set kartu kuartet. (3) setiap pemain dalam satu kelompok berusaha mengumpulkan dan mencari pasangan dari tema kartu yang dimilikinya yang belum lengkap. Pemain tersebut boleh bertanya kepada lawan yang duduk di depannya, atau yang duduk di samping kanan dan kirinya. (4) bila kartu yang dimaksud tepat maka lawan harus memberikannya kepada si peminta kartu, namun jika salah permainan dilanjutkan pada urutan penanya berikutnya. (5) bila sudah terkumpul 4 kartu berpasangan maka kartu tersebut harus ditumpuk berjajar rapi di depan pemain. (6) setelah semua kartu habis dan terkumpul maka diadakan perhitungan akhir siapa yang terbanyak dan siapa yang paling sedikit mengumpulkan kartu. (7) lebih menarik lagi jika pemenang diberikan penghargaan dan yang kalah diberikan hukuman yang sifatnya lucu tapi mendidik (Karsono, 2014: 45).

c) Modifikasi Permainan Tradisional Kartu Kuartet

Permainan tradisional kartu kuartet akan dimodifikasi pada nama, alat dan cara bermainnya. Nama permainan tradisional kartu kuartet setelah dimodifikasi

32 adalah permainan Kartu SI-OP yang berasal dari singkatan kartu kuartet dan sifat operasi hitung. Alat permainan kartu kuartet yang dimodifikasi adalah pada tampilan kartu yang digunakan. Desain kartu akan dimodifikasi dengan mencantumkan materi pada tema 2 subtema 1 khususnya mata pelajaran matematika yaitu sifat-sifat operasi hitung bilangan cacah (Komutatif, Asosiatif, Distributif, Tertutup, dan Terbuka).

Modifikasi cara memainkan permainan tradisional kartu kuartet adalah sebagai berikut : (1) Satu kelas dibagi menjadi 4-6 kelompok kecil, 1 kelompok terdiri (±) 5-6 orang. Satu kelompok diberi 1 set kartu SI-OP. (2) Kartu dikocok agar dapat teracak. Kemudian setiap anggota kelompok dibagikan 4 lembar kartu, sisa kartu diletakkan di tengah-tengah untuk “minum”. (3) Masing-masing kelompok melakukan hompimpa untuk menentukan urutan main. (4) Pemain dengan giliran pertama memiliki kartu sifat yang dipilih, jika pemain lain memiliki kartu dengan sifat yang sama, maka harus diberikan kepada pemain pertama. Jika pemain pertama mampu mengumpulkan 4 kartu dengan kata sifat yang sama, maka ia mendapatkan +1 poin. Jika pemain lain tidak memiliki kartu sifat yang dimaksud pemain pertama, maka pemain tersebut harus mengambil

“minum” sebanyak 1x, dan sebaliknya, jika pemain yang lain tidak ada yang memiliki kartu sifat yang dimaksud pemain pertama, maka pemain pertama harus mengambil “minum” sebanyak 1x.