• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Prosedur Pengembangan

Prosedur pengembangan yang diterapkan peneliti terdiri dari enam tahap, yaitu potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, dan uji coba desain produk.

a. Potensi dan Masalah

Tahap pertama pada penelitian dan pengembangan (R & D) adalah potensi dan masalah, yaitu mengidentifikasi potensi dan masalah yang berkaitan dengan penelitian. Pada tahap penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan dua orang guru kelas III SD yaitu yang berasal dari SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tritis. Wawancara yang dilakukan dengan dua orang guru kelas III SD tersebut bertujuan untuk mengetahui kebutuhan atau masalah yang dihadapi peserta didik dan juga guru. Selain dengan melakukan wawancara dengan guru kelas III SD, peneliti juga melakukan observasi di kelas III untuk mengetahui tanggapan peserta didik selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

b. Pengumpulan Data

Pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Peneliti melakukan wawancara kepada dua orang narasumber yang merupakan guru kelas III SD. Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara memuat beberapa indikator, yaitu 1) Kesulitan peserta didik pada mata pelajaran tertentu, 2) Kesulitan peserta didik pada mata pelajaran matematika, 3) Guru menggunakan media

91 pembelajaran, 4) Tanggapan peserta didik terhadap media pembelajaran, 5) Pengembangan sikap dan karakter peserta didik, 6) Permainan tradisional sebagai media pembelajaran. Dari 6 indikator tersebut disusun 13 pertanyaan untuk menggali informasi mengenai permasalahan yang dihadapi peserta didik dan juga guru, serta untuk mengetahui penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran, mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam menyiapkan serta menggunakan media pembelajaran dan tanggapan peserta didik mengenai media pembelajaran yang digunakan. Berikut ini merupakan daftar pertanyaan beserta kesimpulan hasil jawaban yang digunakan untuk wawancara dan disajikan dalam tabel.

Tabel. 4.1 KesimpulanJawaban Wawancara Analisis Kebutuhan

No Pertanyaan Jawaban

1. Mata pelajaran apa yang paling sulit dipahami peserta didik?

Mata pelajaran yang paling sulit dipahami peserta didik kelas III SD Negeri Sompokan adalah tematik, matematika, Bahasa Indonesia, IPA, dan juga IPS. Sedangkan di SD Sanjaya Tritis adalah Matematika, dan PPKn

2. Apakah masih banyak peserta didik yang merasa kesulitan akan mata pelajaran matematika? Kira-kira berapa persen dari keseluruhan peserta didik yang ada di kelas yang masih kesulitan dalam belajar matematika?

Peserta didik kelas III yang masih merasa kesulitan pada mata pelajaran matematika di SD Negeri Sompokan sekitar 30,3% dan di SD Sanjaya Tritis sekitar 33,3% dari total keseluruhan.

3. Pada mata pelajaran matematika, materi apa yang masih dianggap sulit?

Materi pada mata pelajaran matematika yang masih sering dianggap sulit oleh peserta didik kelas III SD Negeri Sompokan adalah operasi hitung perkalian. Sedangkan di SD Sanjaya Tritis adalah operasi hitung pecahan.

4. Apakah Ibu/Bapak menggunakan bantuan media pembelajaran saat mengajar kelas III SD?

Guru kelas III SD Negeri Sompokan dan SD Sajaya Tritis sering menggunakan media pembelajaran sederhana yang banyak diketahui peserta didik.

5. Jika menggunakan bantuan media pembelajaran, biasanya menggunakan

Media yang sering digunakan guru di SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tritis yaitu

92

media yang seperti apa? benda yang ada di lingkungan sekitar peserta didik. Selain itu, guru juga menggunakan media pembelajaran konvensional sederhana, contohnya di SD Sanjaya Tritis guru menggunakan roti sebagai media dalam menjelaskan materi pecahan.

6. Jika menggunakan media pembelajaran, apakah akan lebih membantu dan memudahkan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran?

Dengan menggunakan media pembelajaran Guru kelas III SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tritis merasa lebih terbantu dikarenakan peserta didik pun tampak antusias dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi sehingga memudahkan guru untuk memusatkan perhatian peserta didik.

7. Kendala apa yang ditemukan saat Ibu/Bapak menyiapkan media pembelajaran khususnya untuk mata pelajaran matematika?

Guru kelas III SD Negeri Sompokan saat menyiapkan media pembelajaran terbatas dengan ide, waktu dalam mempersiapkan media dan juga sarana prasarana yang tersedia di sekolah, sehingga membuat guru hanya berpaku benda yang ada di lingkungan sekitar.

8. Bagaimana tanggapan peserta didik saat Ibu/Bapak menggunakan media pembelajaran?

Tanggapan peserta didik kelas III SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tritis adalah senang dan terlihat sangat antusias. Peserta didik mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan hal tersebut berimbas pada tingkat konsentrasi peserta didik yang ikut meningkat.

9. Jika menggunakan media pembelajaran, media seperti apa yang lebih digemari peserta didik?

Peserta didik kelas III SD Negeri Sompokan lebih senang atau lebih tertarik jika guru menggunakan media pembelajaran berupa benda konkret dan ada unsur permainan / prakarya. Karena peserta didik masih senang belajar sambil bermain. Sedangkan di SD Negeri Sompokan yang terlihat menonjol adalah sebagian besar peserta didik menunjukkan tingkat keaktifan yang cukup baik dan saat

93

diberikan pertanyaan peserta didik sebagian besar sudah berani untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Sedangkan di SD Sanjaya Tritis peserta didik sudah menunjukkan sikap disiplin, dan dapat bekerja sama dengan baik.

11. Sikap dan karakter peserta didik apa saja yang perlu dikembangkan?

Sikap dan karakter peserta didik kelas III SD Negeri Sompokan yang perlu dikembangkan antara lain: percaya diri, kerjasama, aktif, mandiri, bertanggung jawab, konsentrasi, berani dan adil (dalam artian tidak pilih-pilih dalam bergaul). Sedangkan di SD Sanjaya Tritis peserta didik perlu mengembangkan sikap percaya diri, menghargai orang lain, konsentrasi, kerja sama dan disiplin

12. Permainan tradisional apa yang sering dimainkan oleh anak-anak?

Peserta didik SD Negeri Sompokan saat waktu istirahat berlangsung sering bermain sepak bola, ular tangga, jeg-jegan, bekelan, yoyo.

Sedangkan di SD Sanjaya Tritis peserta didik sering bermain engklek, nekeran, kejar-kejaran, dan petak umpet.

13. Permainan tradisional apa saja yang cocok jika dijadikan sebagai media pembelajaran untuk peserta didik?

Permainan tradisional yang cocok dimanfaatkan sebagai media pembelajaran adalah engklek untuk materi operasi hitung dan mengajarkan mengenai bangun datar, lalu permainan yang menggunakan bola untuk materi operasi hitung serta olahraga. Sedangkan menurut guru kelas III di SD Sanjaya Tritis adalah permainan tradisional dakon dan engklek untuk materi operasi hitung pecahan.

Informasi yang didapatkan setelah melakukan wawancara dengan dua orang guru kelas III di SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tritis adalah sebanyak 30,33% sampai 33,3% peserta didik merasa kesulitan terhadap mata pelajaran matematika dan rata-rata peserta didik menemukan kesulitan pada materi perkalian dan operasi hitung yang melibatkan bilangan pecahan. Selain itu peneliti juga mendapatkan informasi mengenai media pembelajaran yang digunakan oleh

94 guru kelas III SD tersebut. Dua guru kelas III dari SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tristis tersebut menggunakan media pembelajaran konkret sederhana, contohnya buku cetak, gambar yang dicetak pada selembar kertas, dan benda-benda nyata yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar peserta didik.

Tanggapan peserta didik saat guru menggunakan media pembelajaran adalah peserta didik tampak senang dan antusias, serta rasa ingin tahu yang cukup tinggi.

Kendala yang dihadapi guru dalam mempersiapkan media pembelajaran adalah terbatasnya waktu dan ide serta sarana prasarana yang disediakan sekolah. Peserta didik tertarik pada media pembelajaran berupa permainan karena peserta didik masih senang belajar sambil bermain, selain itu peserta didik juga menyukai media pembelajaran jenis konvensional dikarenakan peserta didik gemar mengamati suatu benda atau gambar. Peserta didik sudah cukup baik dalam bekerja sama dengan teman, dan memiliki sikap yang cukup aktif, berani dan disiplin. Namun, sikap dan karakter peserta didik yang perlu dikembangkan antara lain: konsentrasi, kerja sama, disiplin, percaya diri, mandiri, menghargai orang lain, bertanggung jawab, adil dengan tidak membeda-bedakan teman dalam bergaul. Saat ada waktu istirahat, peserta didik gemar memainkan permainan atau kegiatan berupa: sepak bola, kejar-kejaran, jeg-jegan, petak umpet, bekelan, yoyo, nekeran, ular tangga, engklek. Menurut kedua narasumber tersebut, permainan tradisional yang cocok untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, antara lain: engklek, dakon, dan permainan yang menggunakan bola.

Dari hasil wawancara yang diperoleh, peneliti memperoleh data bahwa peserta didik masih merasa kesulitan pada mata pelajaran matematika, guru masih belum maksimal dalam menggunakan media pembelajaran dan juga pengaruh penggunaan media pembelajaran dengan tanggapan yang diberikan peserta didik sangat baik yaitu meningkatkan antusiasme, dan rasa ingin tahu sehingga berimbas pada tingkat konsentrasi peserta didik yang ikut meningkat.

Selain dengan melakukan wawancara, peneliti juga melakukan observasi selama pembelajaran berlangsung di kelas III SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tritis. Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara memuat beberapa indikator, yaitu 1) Guru menggunakan media pembelajaran, 2) Tanggapan peserta

95 didik terhadap media pembelajaran, 3) Sikap yang ditunjukkan saat mengikuti pembelajaran. Dari 3 indikator tersebut disusun 10 pernyataan untuk mengetahui mengenai tanggapan dan sikap peserta didik saat di dalam kelas yang perlu dikembangkan. Berikut ini merupakan daftar pernyataan beserta kesimpulan hasil jawaban yang digunakan untuk observasi dan disajikan dalam tabel.

Tabel 4.2 KesimpulanHasil Observasi Analisis Kebutuhan

Indikator Pernyataan

1. Media pembelajaran tersedia di kelas. Ya Ya 2. Media pembelajaran yang tersedia di kelas

memuat materi pelajaran matematika kelas III SD tema 1 dan 2.

Tidak Tidak

3. Media pembelajaran yang digunakan mempermudahkan guru dalam

4. Peserta didik tertarik dengan media yang

digunakan. Ya Ya

5. Peserta didik antusias dengan media yang

digunakan. Ya Ya

6. Peserta didik terlihat responsif saat

pembelajaran. Tidak Ya

7. Peserta didik berinisiatif untuk bertanya. Tidak Tidak 8. Peserta didik berani mengemukakan

pendapat. Tidak Tidak

9. Peserta didik memperhatikan saat guru

sedang menjelaskan di depan kelas. Ya Ya

10. Peserta didik masuk ke dalam kelas tepat

waktu. Ya Ya

Informasi yang didapatkan dari observasi di kelas III SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tritis pada saat jam pelajaran berlangsung adalah di dalam kelas

96 tersedia media pembelajaran tetapi tidak berkaitan dengan pada tema 1 dan 2 mata pelajaran matematika, namun media pembelajaran yang ada di dalam kelas membantu guru dalam menyampaikan materi pada mata pelajaran lain.

Tanggapan peserta didik mengenai media pembelajaran yang digunakan yaitu peserta didik tampak tertarik dan antusias. Selain itu, peserta didik di SD Sanjaya Tritis tampak cukup responsif dengan media pembelajaran yang digunakan, sedangkan peserta didik kelas III di SD Negeri Sompokan tampak kurang responsif. Peserta didik di SD Negeri Sompokan dan SD Sanjaya Tritis tampak kurang memiliki inisiatif untuk bertanya dan kurang berani mengemukakan pendapat, namun peserta didik tampak sudah memperhatikan saat guru sedang menjelaskan di depan kelas dan peserta didik sudah masuk ke dalam kelas dengan tepat waktu.

Dari hasil observasi peneliti memperoleh data bahwa peserta didik tampak tertarik, antusias, dan cukup responsif hal ini menunjukkan tanggapan peserta didik cukup baik terhadap media pembelajaran yang digunakan guru saat pembelajaran berlangsung. Data yang didapatkan peneliti tersebut kemudian digunakan sebagai acuan untuk menyusun desain produk. Hal tersebut bertujuan agar produk yang dihasilkan peneliti sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan dapat bermanfaat serta menginspirasi guru dalam memanfaatkan permainan tradisional sebagai media pembelajaran. Produk yang disusun berupa modul guru dengan judul Belajar Matematika Menggunakan Permainan Tradisional Untuk Peserta Didik Kelas III SD Tema 1 dan 2.

c. Desain Produk

Pada tahap desain produk, peneliti mendesain produk berupa modul guru dengan judul Belajar Matematika Menggunakan Permainan Tradisional Untuk Peserta Didik Kelas III SD Tema 1 dan 2 berdasarkan data yang diperoleh dengan melakukan wawancara dan observasi. Modul yang disusun terdiri dari 2 bagian.

Bagian pertama mengulas tentang pengertian permainan tradisional, manfaat, jenis, serta nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional. Sedangkan bagian kedua memuat informasi tentang penerapan 9 permainan tradisional pada

97 pembelajaran, permainan tradisional yang digunakan antara lain: ketapel, bekelan, nekeran, bentengan, pancasila 5 dasar, kartu kuartet, ular tangga, pletokan, dan dham-dhaman. Sembilan permainan tradisional tersebut dipilih oleh peneliti karena alasan yang pertama, sembilan permainan tradisional tersebut dapat digunakan untuk menerapkan materi pada mata pelajaran matematika tema 1 dan 2 kelas III SD, alasan yang kedua adalah sembilan permainan tradisional tersebut beberapa menggunakan alat berupa benda konkret dan juga beberapa dapat melatih keaktifan peserta didik dalam bergerak, alasan yang ketiga adalah beberapa dari permainan tradisional tersebut sering ditemui dan dimainkan oleh peserta didik jenjang SD, data tersebut diperoleh peneliti saat melakukan wawancara dan observasi di sekolah.

Modul ini disusun dengan memperhatikan ciri-ciri modul yang dijelaskan oleh Parmin (2012), sebagai acuan untuk peneliti dalam menyusun dan mengembangkan modul guru, ciri-ciri modul tersebut adalah (1) didahului oleh pernyataan sasaran belajar, (2) pengetahuan disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menggiring partisipasi peserta didik secara aktif, (3) memuat sistem penilaian berdasarkan penguasaan, (4) memuat semua unsur bahan pelajaran dan semua tugas pelajaran, (5) serta memberi peluang bagi perbedaan antar peserta didik dan mengarah pada suatu tujuan belajar yang tuntas (Parmin, 2012: 10).