METODE PENELITIAN
B. Setting Penelitian
6. Uji Coba Produk
Tahap uji coba produk dilakukan setelah produk direvisi dan siap diujicobakan. Modul guru direvisi berdasarkan kritik dan saran dari hasil validasi yang dilakukan kepada lima orang ahli/validator, yaitu guru sekolah dasar, ahli
76 media pembelajaran, dan ahli permainan tradisional. Uji coba produk bertujuan untuk mengetahui keefektifan produk dan mengumpulkan data guna mengetahui kualitas modul guru yang telah disusun peneliti dalam membantu guru untuk mempermudah dalam penyampaian materi kepada peserta didik pada mata pelajaran matematika khususnya pada tema 1 dan 2. Melalui uji coba produk ini, modul guru yang telah dikembangkan oleh peneliti benar-benar telah diuji secara empiris. Uji coba produk dilaksanakan melalui uji keterbacaan dikarenakan adanya kendala pandemi Covid-19 sehingga tidak bisa melaksanakan uji coba secara langsung dengan guru dan peserta didik di sekolah. Uji coba produk dilaksanakan terhadap guru kelas III di SD Kanisius Babadan yang beralamatkan di Demangan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan SD Negeri Sompokan yang beralamatkan di Sompokan, Margomulyo, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain melaksanakan uji coba produk dengan guru kelas III di SD Kanisius Babadan dan SD N Sompokan, peneliti juga menyebarkan kuesioner yang bertujuan untuk mengetahui perasaan peserta didik setelah memainkan permainan tradisional yang terdapat pada produk modul guru. Pengisian kuesioner tersebut dilakukan oleh tiga orang peserta didik secara daring (dalam jaringan) dengan cara mengirimkan soft file produk modul guru untuk dipraktekkan bersama pendamping di rumah dan selanjutnya pendamping dan peserta didik diminta untuk mengisi angket yang diisi melalui google form.
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal kecil dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil (Sugiyono, 2012:
137).
Sugiyono (2012: 138-140) menjelaskan bahwa wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat melalui tatap muka (face to
77 face) maupun dengan menggunakan telepon. Wawancara terstruktur adalah jenis wawancara yang sebelumnya sudah menyediakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan beserta alternatif jawabannya. Sedangkan wawancara tidak terstruktur atau terbuka adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewawancara dan responden untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan peneliti (Widoyoko, 2012: 40). Penelitian ini menggunakan jenis wawancara tidak terstruktur atau wawancara terbuka dan dilakukan secara langsung atau face to face, karena wawancara yang dilakukan secara langsung dan tanpa melalui perantara dengan jawaban sesuai pendapat narasumber sendiri.
2. Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain atau lingkungan sekitar (Sugiyono, 2012: 145). Sedangkan Hadi (Sugiyono, 2012: 145) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
Menurut Sugiyono (2012: 145-146) jika dilihat dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibagi menjadi observasi berperan serta (participant observation) dan observasi non partisipan (non participant observation), selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur. Observasi berperan serta adalah observasi dimana peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian, sedangkan observasi non partisipan adalah kebalikannya, peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen dan tidak ikut serta dalam melakukan
78 kegiatan yang sedang dilakukan oleh orang yang sedang diamati. Selanjutnya, observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya, serta variabel apa yang akan diamati. Sedangkan observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi, tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan saja (Sugiyono, 2012: 145-146).
Peneliti menggunakan observasi non partisipan dan observasi terstruktur dikarenakan observasi yang dilakukan berupa mengamati kegiatan pembelajaran di kelas selama kurang lebih 1-2 jam pelajaran. Data yang diperoleh saat melakukan observasi tersebut kemudian diolah dan hasilnya akan digunakan untuk dasar analisis kebutuhan pengembangan produk modul guru dengan judul Belajar Matematika Menggunakan Permainan Tradisional Untuk Peserta Didik Kelas III SD Tema 1 dan 2.
3. Kuesioner
Menurut Sugiyono (2012: 142) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawab oleh responden. Kuesioner dapat dikatakan efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner atau angket berupa pernyataan tertutup yang dikirim melalui link google drive kepada tiga orang responden. Pernyataan yang digunakan bersifat tertutup dikarenakan peneliti membuat daftar pernyataan agar memudahkan responden untuk menjawab dan memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data dari hasil kuesioner tersebut.
Instrumen yang digunakan adalah angket yang berisi pernyataan yang nantinya digunakan untuk memvalidasi desain produk dengan menggunakan skala Likert modifikasi dengan skala nilai 4 poin. Arumsari (Setiawan, 2016: 1048)
79 mengatakan bahwa penggunaan skala Likert dengan skala nilai 4 poin ini bertujuan untuk menghindari jawaban yang bias. Apabila menggunakan skala 5 poin memungkinkan responden akan cenderung untuk menjawab dengan ragu-ragu atau netral dalam menemukan pernyataan maupun pertanyaan yang meragukan bagi responden dalam pernyataan yang ditemukan responden.
Kuesioner atau angket tersebut diberikan kepada para ahli untuk menilai keefektifan serta mengetahui kekurangan atau kelemahan dari desain produk yang telah dibuat. Selain itu, kritik dan saran yang diberikan kepada para ahli pada angket tersebut digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki atau merevisi desain produk modul guru agar jauh lebih baik dan juga layak untuk digunakan.