• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perspektif Genetika

Dalam dokumen Bahan Kuliah Sosiologi Sastra 0 (Halaman 66-69)

BAB V METODE PENELITIAN SOSIOLOGI SASTRA

A. Perspektif Penelitian

2. Perspektif Genetika

Genetika dalam sosiologi sastra selalu menjadi tonggak penting. Genetika sastra jelas ada. Tidak mungkin karya sastra ada tanpa ada sebab musababnya (asbabul sastra). Banyak para ahli sosiologi sastra yang membahas genetika. Namun, seingat saya Goldmann termasuk tokoh genetika sastra yang perlu mendapat perhatian. Goldmann (1980) pada konferensi tentang Sastra dan Masyarakat di Brussels pada 1964 memberikan tesis yang berasal dari catatan Girard tentang drama The Divine Comedy. Goldmann selalu menekankan aspek kesejarahan teks dalam studi sosiologi sastra yang disebut strukturalisme genetik. Dia sepertinya menjadi pencetus strukturalisme genetik. Konsep strukturalisme genetik dimaksudkan untuk memahami proses memahami dunia di mana mereka tinggal. Proses ini adalah salah satu dimana penelitian terhadap individu menyusun peristiwa, keadaan, aspirasi untuk masa depan dan gambaran dari masa lalu, yang mewakili hidup, norma yang diambil dari masyarakat, dan kekhasan struktur sosial. Pada individu yang mampu mengubah atau mentransformasikan norma-norma dan nilai-nilai sehingga diperoleh tindakan penciptaan sendiri. Proses ini tampaknya dianggap berbohong sebagai polesan mendasar eksistensi manusia. Struktur genetika teks, adalah wilayah perspektif historis, yang merunut kelahiran karya sastra, terkait dengan struktur pembangun sastra.

Tak pelak lagi, dalam pandangannya, Goldmann menyederhanakan situasi yang sangat kompleks, dan menjelaskan sedikit analitis terhadap teks sastra. Bahkan di artikel tersebut, dia menjelaskan bahwa konvensi sastra dengan gaya mereka sendiri, mencapai transformasi hidup mereka sendiri. Konvensi sastra, sering diolah dengan genetika kelahiran ide sosial. Misalnya, nama-nama tokoh dan latar, selalu tidak lepas dari kultur historis. Sebut saja misalnya cerita bersambung Api Di Bukit Menoreh karya SH. Mintardja, dengan jelas lokasi, tokoh, ide, tidak lepas dari pegunungan Menoreh, yang erat dengan Mataram. Namun demikian, karya sastra tetap sebuah imajinasi. Maka, yang terungkap dalam cerita pun tidak (selalu) benar-benar membayangkan sistem, sepenuhnya dikembangkan untuk penciptaan gaya individu.

Meskipun sastra dan sosiologi tidak tampak berbeda, namun sebaliknya, saling melengkapi, yaitu dalam pemahaman kita tentang masyarakat, secara historis mereka cenderung tetap terpisah. Sastra jelas fakta imajinatif yang

bernuansa psikis. Sastra dikespresikan dengan daya tangkap imajiner, penuh emosi, dan dorongan jiwa. Sosiolog, seperti Comte dan Spencer di awal abad kesembilan belas dan Durkheim dan Weber di abad kedua puluh, yang membuat referensi khusus untuk sastra imajinatif, di seluruh subordinasi itu mempelajari struktur sosial. Sejauh yang saya pelajari di dunia sosiologi, dalam teori Bourdieu juga jelas sekali bahwa sosiologi itu amat kritis terhadap kondisi masyarakat. Dalam antropologi, terutama yang mengulas aspek budaya, juga sering bersentuhan dengan sastra. Begitu pula sastra, seringkali mengaitkan dunia sosial. Sastra juga sebagai pantulan budaya masyarakat.

Keterlambatan sosiologi sastra, tidak menyurutkan penelitian genetika sastra. Penelitian sosiologis sastra biarpun datang cukup terlambat, hampir terus cemerlang dalam implementasinya. Namun tidak berarti sosiologi sastra selalu mulus, karena kegagalan menelusuri genetika sosial. Penelitian sosiologi sastra ada kalanya dianggap tampak kurang ketelitian ilmiah, bahkan dalam kualitas sosiologis banyak korelasi antara teks sastra dan sosial sejarah masih sering dipertanyakan. Keterkaitan historis ini penting bagi penelitian sosiologi sastra, terutama untuk menangkap sejarah sosial. Secara garis besar, ada perspektif osiologi sastra, yang paling popular, yaitu:

Pertama, perspektif yang mengadopsi aspek dokumenter sastra, mengatakan bahwa sastra tersedia untuk semua kalangan. Filsuf Perancis Louis de Bonald (1754 - 1840) adalah salah satu penulis pertama yang menyatakan bahwa melalui pembacaan yang teliti seseorang tidak bisa mengatakan tentang kesusasteraan dalam suatu bangsanya. Maksudnya, tanpa memahami genetika karya, seseorang tidak mampu memahami bangsa ini secara total. Apakah bangsa ini sedang ruwet, berang, mudah tersinggung, patut dilihat cermat lewat genetika yang melatarbelakangi karya sastra. Sementara itu Stendhal, dalam karyanya berjudul Le Rouge et le Noir, menulis novel sebagai cermin perjalanan menurun dari jalan yang tinggi, kadang-kadang mencerminkan biru langit langit, kadang- kadang lumpur di genangan air. Ungkapan ini memberikan gambaran bagaimana sebuah karya sastra, kadang menjadi saksi tindakan sosial ayng indah, dan sebaliknya juga mendeskripsikan keburukan.

Pandangan tersebut, saya kira hendak menyatakan bahwa melalui penelitian sosiologi sastra, dapat mengungkap dua hal: (1) keadaan sosial yang bagus, yang membahagiakan, dan menyenangkan seperti birunya langit, dan (2) keadaan sosial yang benar-benar keruh, kotor, seperti halnya lumpur (comberan). Bayangkan, lumpur Lapindo yang semi politik itu, jelas menyisakan getaran sosial yang dahsyat. Sastrawan pun dapat melahirkan jeritan kotor masyarakat yang terkena dampak lumpur. Penelitian sosiologi sastra ini menengarai pandangan refleksi langsung dari berbagai aspek (a) struktur sosial, (b) hubungan keluarga, (c) konflik sosial, (d) pertentangan kelas dan (e) mungkin tren perceraian dan komposisi penduduk. Sebagai salah satu pembedaan dalam sosiologi sastra telah mengungkapkannya dengan baik berbagai hal itu secara imajiner. Ini adalah karakter imajiner penulis dan situasi dengan iklim sejarah dari mana mereka berasal. Dia bahkan mampu mengubah desakan pribadi berarti ke arah tema dan gaya yang memuat persoalan sosial.

Ini mengubah dunia swasta sastra untuk pendekatan ekstrinsik terhadap sastra, yang sering dianggap parah. Dikatakan misalnya, bahwa metode yang cenderung menggunakan sastra hanya sebagai sebuah informasi sosiologis yang diobrak-abrik; bahwa sastra adalah berlaku bagi mereka yang tidak memiliki aparat kritis yang dibutuhkan untuk memahami dan evaluasi. Tersirat juga dalam metode

ini adalah bahaya bahwa sosiolog sastra mungkin tidak memiliki keterampilan memadai untuk mengungkap rincian sejarah periode tertentu. Selain membutuhkan data sastra yang relatif lengkap, mengungkap sejarah sosial memang pekerjaan yang membutuhkan waktu. Biasanya sosiolog sastra di Indonesia masih merasa lelah ketika harus menempuh sejarah panjang kehidupan sosial.

Semua dokumen sastra harus dianalisis dalam hal dunia sehingga mewakili masyarakatnya. Maka hanya orang yang memiliki pengetahuan tentang struktur masyarakat dari sumber-sumber lain, tentang sastra yang murni, tipe sosial tertentu dan perilaku mereka direproduksi dalam sebuah novel atau tidak memadai dalam cara yang memadai? Jika novel ini adalah cermin dari usia kehidupan sosial, maka ini menimbulkan pertanyaan keduanya. Apakah perangkat murni sastra dapat merusak gambaran ini, di masa lalu yang artistik dan sosial dapat menangkap kebenaran sejarah, perlu hadirnya interpretasi sosiologi sastra. Ada juga pertanyaan generalisasi: sejauh mana karakter fiktif dan situasi khas dari periode sejarah tertentu? Setiap generalisasi sosiologis yang berguna misalnya dari Charles Dickens dan Nyonya Gaskell. Karya novelis tersebut mengungkapkan masalah-masalah sosial seperti hubungan manajemen tenaga kerja abad kesembilan belas, peran serikat buruh atau bekerja kesadaran kelas. Bahan sosiologis yang berguna juga terdapat pada karya-karya novelis Victoria.

Konsepsi cermin harus diperlakukan dengan hati-hati dalam analisis sosiologis sastra. Di atas tentu saja, penulis mengabaikan dirinya sendiri, kesadaran dan niat penulis hebat tidak ditetapkan hanya untuk menggambarkan dunia sosial secara deskriptif. Permainan imajinatif sering mengecoh para peneliti sosiologi sastra. Sebagian besar mungkin menyarankan bahwa penulis dengan definisi tertentu memiliki tugas penting, menetapkan karakter dalam gerakan dalam situasi artifisial buat mencari nasib pribadi mereka untuk menemukan nilai-nilai dan makna dalam dunia sosial.

Bagi masyarakat lebih dari sebuah ensemble lembaga sosial yang membentuk struktur sosial. Masyarakat yang menjadi tumpuan sastra, jelas berisi norma, standar perilaku yang individu datang untuk menerima sebagai hak cara bertindak dan menilai serta nilai-nilai yang dirumuskan secara sadar dan yang orang berusaha untuk sadar sosial. Sastra jelas mencerminkan norma-norma, sikap tentang seks oleh kelas buruh dan kelas menengah, misalnya: mencerminkan nilai-nilai dalam arti niat penulis sendiri juga, dan mungkin disarankan bahwa pada tingkat di mana nilai-nilai sastra dilihat untuk memperkuat dan menjelaskan materi sosiologis murni. Hal ini terutama terlihat dalam sastra yang memilih dirinya sebagai subjek, memberikan gambaran yang cukup akurat dari peningkatan komersialisasi sastra selama abad kesembilan belas, novelis tujuan sebenarnya terletak lebih tepat dalam wilayah nilai.

Kedua, tema penting sastra adalah konflik antara kesadaran sejati penyair dan novelis di satu sisi, dan praktis dan bayaran perhitungan sepenuhnya didikte oleh pasar industri sastra, di sisi lain tarik-menarik antara sastra sebagai seni dan sastra sebagai perdagangan. Sastra sebagai seni cenderung mengedepankan idealisme, sebaliknya sastra komersial lebih mengabdi pada keuntungan material. Sastrawan sering menggunakan fitur historis spesifik dari abad kesembilan belas sebagai latar belakang untuk tema utama mereka, seperti masalah devaluasi nilai, pengorbanan seniman di altar keuntungan. Dapat dikatakan, bahwa makna sastra besar dan kelompok-kelompok sosial yang terlibat dalam produksi terletak nilai-nilai. Nilai-nilai komunitas manusia yang sejati di mana kebutuhan manusia, aspirasi, dan keinginan yang ditengahi melalui interaksi sosial. Jika demikian,

tugas sosiologi hanya untuk menemukan sejarah dan refleksi sosial (atau bias) dalam karyakarya sastra. Selain itu sosiolog sastra perlu mengartikulasikan sifat nilai-nilai tertentu tertanam dalam sastra, Raymond Williams menyebutnya struktur perasaan. Struktur perasaan merupakan sebuah genetika yang dapat mewarnai seluruh karya.

Sastra tetap merupakan ungkapan jiwa, yang disisipi naluri sosial. Kepaduan keduanya melahirkan sosiopsikologi sastra yang panjang. Gagasan Junus (1986:8) bahwa karya sastra selalu ada campur tangan penulis, pikiran dan perasaan sering merasuk, sulit terelakkan. Dalam kondisi demikian, sastra menjadi semakin rumit, namun sekaligus menarik. Penulis dengan memainkan idealism, sering mempertentangkan pada suasana ekstrim. Keadaan politik dan sosial, sering menjadi teror mental penulis, hingga lahir karya-karya sinisme. Berbagai ungkapan jiwa dan perasaan sosial, adalah genetika sastra yang patut mendapat sorotan.

Atas dasar hal demikian, jalur sosiopsikologi sastra menjadi tawaran wilayah penelitian yang patut diperhatikan. Kalau Swingewood (Junus, 1986:7) mengidolakan pencarian hubungan langsung (one-to-one correspondence), hingga ada titik temu antara unsur struktur sastra dan struktur masyarakat secara riil, masih patut dipertimbangkan. Realitas sastra tidak selalu asli, melainkan dikreasi atas dasar keinginan dan perasaan penulis. Lebih hebat lagi, kadang pembaca juga memiliki ruang bebas untuk menafsirkan sastra, hingga muncul tafsir yang melebihi realitas.

Perasaan sosial sering menjadi genetika sastra. Kiprah perasaan dalam kehidupan sosial sering mendominansi interaksi sosial. Oleh sebab itu, genetika sastra perlu ditelusur, mengapa karya sastra lahir, adakah tekanan perasaan? Peneliti dapat menelusuri sejauhmana karya sastra menjadi saksi sejarah kehidupan seseorang. Sejarah hitam mungkin akan banyak mewarnai genetika sastra. Tekanan politik dan sosial yang bertubi-tubi, sering menjadi penyebab asal-usul karya sastra.

Dalam dokumen Bahan Kuliah Sosiologi Sastra 0 (Halaman 66-69)