Regulasi Media
4.4. Pesannya atau Mediumnya?
Dalam bisnis media, profit didapat dari konten melalui iklan. Sangatlah jelas, perkembangan industri media sangat tergantung pada periklanan yang membuat industri tetap hidup. Indonesia memiliki belanja iklan terbesar di Asia Tenggara, naik 24% dari 1,7 milyar dolar Amerika pada tahun 2010 menjadi 2,1 milyar dolar Amerika pada tahun 2011.21 Pertumbuhan iklan di Indonesia disebabkan oleh
stabilnya pertumbuhan ekonomi, serta didorong oleh kuatnya konsumsi dan permintaan domestik. Semakin banyak konten yang dikonsumsi oleh pemirsa: semakin besar profit yang akan diperoleh oleh media. Peraturannya sangat jelas: operator media harus berusaha sebisa mungkin, untuk dapat menciptakan konten yang menarik sebanyak mungkin pemirsa. Pemikiran seperti ini sangat logis dan jelas dalam bisnis media – dan sepertinya tidak menimbulkan masalah yang serius. Tetapi hal ini terus berlanjut: untuk menjaga permintaan konten yang menguntungkan agar tetap tinggi, share
pemirsa harus dijaga sedemikian rupa dengan cara memanipulasi kebutuhan konsumen. Terlebih lagi, 20 Sering, meskipun tak banyak, TEMPO direferensikan sebagai salah satu kanal yang masih memperta- hankan jurnalisme berkualitas tinggi. Operator media lain yang dulu memiliki reputasi yang tinggi kualitasnya, sep-yang tinggi kualitasnya, sep- erti Kompas, di sisi lain, menunjukkan penurunan standar jurnalismenya.
21 Lihat Belanja Iklan Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara http://bisniskeuangan.kompas.com/ read/2011/12/20/14403449/Belanja.Iklan.Indonesia.Tertinggi.di.Asia.Tenggara
Centre for Innovation Policy and Governance
Memetakan Lanskap Industri Media Kontemporer di Indonesia 52
untuk meraih keuntungan lebih, konten harus diproduksi dan didistribusikan dengan cara yang lebih ekonomis. Turunan dari logika ini sangat merusak, tetapi inilah yang sedang terjadi pada media di Indonesia.
Bisnis penyedia konten dan bisnis iklan telah berkembang seiring dengan perkembangan industri media. Kami tidak mengetahui secara pasti jumlah rumah produksi yang beroperasi di Indonesia, tetapi kami dapat mengatakan bahwa ada lebih dari seratus, dan angka ini tentu akan meningkat seiring dengan pertumbuhan industri media. Sebagian besar dari rumah produksi yang ada memproduksi sinetron, karena sinetron merupakan acara yang paling banyak ditonton di televisi. Survey Nielsen pada tahun 2001 menunjukkan bahwa pemirsa menghabiskan rata-rata 26% waktu mereka di televisi dengan menyaksikan sinetron, ini merupakan angka tertinggi dibanding semua tipe program.22RCTI
dan Indosiar menyatakan secara jelas bahwa sinetron merupakan konten utama mereka karena
memiliki rating tertinggi dari semua program (MPA Analysis, 2011). Sebagaimana amanat dari logika bisnis, duplikasi konten adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari. Multivision Plus adalah salah satu rumah produksi terbesar dan tersukses dalam memproduksi sinetron, dan telah menghasilkan lebih dari 250 sinetron dalam 10 tahun terakhir ini.
Media dapat menghasilkan konten yang lebih edukatif dan berkualitas, tetapi seringkali, dorongan motif profit lebih kuat, seperti yang disampaikan oleh mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI):
Bagus tapi ada iklannya gak? Menurut kamu, knowing our advertiser, iklan yang satu di sinetron. Terus [apakah] mau dia pasang [iklan] di dokumenter tentang Sumbawa, sejarah Indonesia, tokoh- tokoh, Bung Hatta, Harmoko, Probosutedjo, [apa iya] mau pasang iklan [di dokumenter itu]? Trus dia [medianya] [dapat] duit dari mana dong? (A. Armando, wawancara, 27/10/2011, huruf miring ungkapan asli narasumber).
Pernyataan Ade Armando menjelaskan bagaimana profit memainkan peran yang krusial di dalam perkembangan media dan proses produksi konten. Kecenderungan konten yang diproduksi dengan motif profit dan diduplikasi dengan tujuan menekan biaya produksi telah mengikis keberagaman informasi dan mengesampingkan informasi lain yang lebih bermanfaat untuk warga. Saat ini, rumah- rumah produksi dan agensi-agensi periklanan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perusahaan media itu sendiri. Bahkan pada kenyataannya, perusahaan-perusahaan media juga memiliki in-house production dan agensi periklanannya sendiri. Group MNC, contohnya, memiliki produsen konten sendiri bernama MNC Pictures dan Innoform Media, juga agensi kreatif milik mereka yaitu Star Media Nusantara.
Ketika konvergensi konten terlihat secara jelas pada televisi, hal yang sama juga terjadi di kanal media lainnya. Kita dapat melihat dengan jelas bagaimana ruang-ruang di surat kabar dan majalah yang diambil oleh iklan berdampingan dengan rubrik ‘hiburan’ dengan mengorbankan berita-berita lain yang lebih berkualitas. Hal serupa juga terjadi pada penyiaran radio. Beberapa grup media berita, sebagai respons terhadap situasi ini, telah mendirikan penyedia konten sendiri di dalam perusahaannya.
Tempo memiliki penyedia konten berbasis jurnalisme bernama TempoTV. Tidak seperti MNC, yang
fokus produksinya ada pada sinetron, TempoTV memfokuskan pada produksi konten untuk stasiun televisi lokal dan dokumenter untuk LSM. Kompas juga mendirikan sebuah penyedia konten bernama
KompasTV; yang sebagian besar produksinya adalah dokumenter dan biografi. Meskipun mereka
mempunyai bisnis model yang serupa, tetapi kehadiran mereka dapat menjadi alternatif untuk warga dalam mendapatkan konten yang lebih baik dibandingkan hanya sinetron saja.
Dari semua situasi ini timbul sebuah pertanyaan yang menarik: sejauh mana gagasan ‘medium adalah pesannya’ (McLuhan, 1964) dapat dibenarkan? Apakah kita dapat tetap berpegang pada asumsi 22 Berdasarkan Penghitungan Audience milik Nielsen yang dilakukan di 10 kota besar dari 2007-2011.
Centre for Innovation Policy and Governance Memetakan Lanskap Industri Media Kontemporer di Indonesia 53
McLuhan bahwa jaringan televisi itu sendiri – dan bukan konten di dalamnya – yang karakteristiknya mampu memberikan dampak kepada masyarakat? Tampaknya, seperti itulah yang terjadi. Pemirsa cenderung untuk terfokus pada konten (yakni sinetron), dan kehilangan elemen struktural (seperti gaya hidup) yang diperkenalkan secara halus, melalui periode waktu yang cukup panjang. Seringkali kita tidak menyadari implikasi sosial dari medium hingga berubahnya nilai-nilai dan norma-norma masyarakat karena teknologi. Implikasi ini dapat berupa implikasi budaya, agama, sosial, politik dan lain-lain. Hal inilah yang kita amati dan alami sekarang ini dengan media yang ada –seperti yang terlihat secara jelas di televisi: penyebaran gaya hidup yang Jakarta- (atau Jawa-) sentris secara masif melalui acara-acara seperti sinetron, dan telah menjadi sebuah obsesi di seluruh negeri, terjadi tanpa kita sadari. Hal ini mungkin adalah konsekuensi yang tidak diharapkan dari praktik bisnis media yang lazim terjadi. Bagaimanapun, praktik ini memiliki konsekuensi yang besar pada masyarakat Indonesia. Seperti yang sudah beberapa kali ditunjukkan sebelumnya, Internet tampaknya menjadi satu jenis medium di mana warga memiliki lebih banyak ruang untuk menciptakan ‘pesan’ mereka sendiri. Terlebih lagi, Internet telah menciptakan jenis aktivisme dan keterlibatan sipil baru di Indonesia (Lim, 2002; 2003a; 2004; Nugroho, 2008; 2010a; 2010b) – sebagaimana juga yang terjadi dengan ledakan media sosial (Nugroho, 2011a). Gagasan McLuhan bahwa medium itu sendiri (Internet) adalah pesannya (adanya ruang yang bebas dan keterlibatan warga) lebih terlihat nyata di sini. Meskipun Internet dan media sosial dapat secara potensial membantu membangun ruang publik untuk warga, hal ini terhambat oleh distribusi infrastruktur yang tidak merata, dan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar di Sumatera dan Jawa-Bali (Kominfo, 2010; 2011). Situasi seperti ini, jika tidak diperbaiki, dapat menciptakan kesenjangan infrastruktur yang kemudian akan memicu terjadinya kesenjangan.