PELECEHAN AGAMA DALAM ARENA SUMBU PENDEK
C. Karakteristik Konflik
3. Proses dan Dampak Konflik
Beberapa informan saya menegaskan bahwa pada dasarnya konflik Islam dan Kristen yang terjadi di Solo tidak dapat dipisahkan dari konstelasi konflik secara nasional, tapi untuk daerah ini muncul seiring dengan kegiatan umat Kristiani di satu sisi dan munculnya kelompok Islam yang masuk kategori militan dan memiliki kepekaan terhadap ap-apa yang dilakukan umat Kristiani sekaligus kepedulian atas (umat) Islam.
Kepekaan terhadap hubungan Islam dan Kristen ini seperti dikatakan Jok. (mantan aktifis FPIS), sangat terkait dan merupakan bagian dari solidaritas umat Islam
Surakarta terhadap saudaranya di Ambon. Selain itu, jika diarahkan kepada konflik fokus maka ada beberapa proses yang berlangsung yang dapat digambarkan sbb: 1) Tanggal 24 Feb 2000, tepatnya pukul 20.05-20.55 WIB, Wilson menyampaikan
pandangannya dalam acara dialog interaktif yang bertajuk Upaya Mengatasi Konflik Antar Umat Beragama. Sebuah tema yang sangat aktual dengan kondisi saat itu ketika konflik SARA, khususnya konflik antarumat beragama, merambah di banyak tempat di Indonesia. Mulai dari Ambon, Poso, Jakarta, Tasikmalaya dan lainnya. Dialog ini diprakarsai dan disiarkan langsung melalui Radio PTPN Rasitania Surakarta. Semestinya acara tersebut dihadiri dari tokoh lintas agama, tapi karena hanya Wilson yang hadir, acara tetap dipaksakan berlangsung berdasarkan kesepakatan Wilson dengan pemandu program tersebut. Pada kesempatan ini Wilson mengemukakan gagasannya tentang apa yang disebutnya sebagai teologi kerukunan. Diantaranya yang kemudian paling banyak disorot umat Islam, adalah pernyataanya tentang Nabi Muhammad sebelum berislam adalah pemeluk Nasrani.
2) Pernyataan Wilson tersebut kebetulan didengar oleh seorang mahasiswi Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, kemudian melaporkannya kepada pimpinan Front Pembela Islam Surakarta (FPIS). Pernyataan Wilson tersebut dianggap oleh pimpinan FPIS dan kemudian beberapa tokoh Islam, baik dari kalangan HMI Surakarta, tokoh dari partai seperti PAN, PPP, PBB, dan PKB sebagai pelecehan terhadap agama Islam (Nabi Muhammad).
Suatu hal yang menarik adalah mengapa mahasiswi tersebut langsung memberitahukannya kepada pimpinan FKIS bukan kepada kelompok muslim seperti Muhammadiyah atau NU. Hal ini menunjukkan dua hal: Pertama, memperlihatkan kepercayaan orang Islam terhadap kelompok ‘Islam konsisten’ ini dibandingkan dengan kelompok Islam mapan. Khususnya dalam kaitannya dengan permasalahan interaksi umat Islam-Kristen. Kedua,. jika ini benar, maka ada pembenaran bahwa kelompok Islam konsisten di Solo yang direpresentasi pada sosok FPIS (dan kemudian Majelis Mujahidin Indonesia) sebagai kelompok yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap gerakan Kristenisasi.
3) Pencitraan FPIS sebagai kelompok yang peduli dan peka terhadap gerakan Kristenisasi ini nampaknya benar-benar sesuai kenyataan, hal ini dapat dilihat pada gerakan yang dilakukannya begitu menerima laporan dari mahasiswi tersebut,
pihak FPIS langsung melakukan koordinasi dengan elemen-elemen dari kelompok Islam yang lain. Mereka membagi tugas gerakan yaitu koordinasi dengan unsur umat Islam dari Muhammadiyah, NU dan partai Islam/berbasis massa Islam. Mereka membagi tugas gerakan yaitu (a) panggalangan opini melalui media massa, (b) koordinasi dengan pihak aparat keamanan dan persoalan hukum, dan (c) pengerahan masa.
Pertama, penggalangan opini melalui media massa dilakukan beberapa tokoh Islam, terutama dari tokoh-tokoh parpol Islam atau berbasis massa Islam misalnya Sahil Hasni (PAN), Mudrick SM Sangidoe (PPP), Ipmawan Iqbal (PBB), Husein Syifa (PKB), Fajri Muhammad (PKS). Mereka pada intinya menyampaikan dua hal. (a) Ceramah Wilson jelas merupakan pelecehan terhadap agama (umat) Islam. (b) Ceramah tersebut bersifat provokatif yang merusak persatuan, dan karenanya Wilson harus dituntut secara hukum.
Kedua, proses hukum dilakukan pengacara dari elemen muslim (H. M.Taufiq/ Fraksi Pembaharuan DPRD Solo). Ia melaporkan Wilson ke Polresta Surakarta. Dalam laporan bernomor LP/K/167/III/2000/PMT, yang langsung ditangani Letda (Pol) H. Perdana, tersebut ditegaskan bahwa Wilson dan Jefrey Ohio telah melakukan panghinaan terhadap Islam.
Ketiga, pengerahan massa dikoordinir langsung oleh FPIS yang melibatkan berbagai komponen personal umat Islam di Solo, dan tentu anggotanya sendiri. Aksi pertama dilakukan 2 Maret 2000 pukul 09.00WIB bertempat di depan Radio PTPN Rasitania Surakarta. Ratusan massa muslim ikut dalam kegiatan ini, dan dari orasi-orasi yang ada pada dasarnya berisi berbagai tuntutan yaitu: (a) Menuntut agar pendeta Wilson diadili, termasuk pemandu acara; M. Zarkoni (Jefrey Ohio), Direktur radio, C. Boedioka. (b) Meminta pihak berwajib memproses secara hukum kasus pelecehan Islam. (c) Menuntut Radio PTPN agar meminta maaf di lima media massa (Solo Pos, Jateng Pos, Suara Merdeka, Wawasan, dan Pos Kota) selama 7 hari berturut-turut. (d) Radio PTPN harus meminta maaf melalui radio tersebut dengan menyiarkannya secara langsung selama 7 hari dan setiap harinya sebanyak 5 kali secara berurutan pada pukul 6.30, 9.30, 11.30, 18.30 dan 20.30.
Dalam aksi masa tersebut, di antaranya ada poster yang menyatakan Wilson sama dengan Salena Rushdi. Tuntutan pada pengerahan masa yang pertama ini
disetujui oleh pihak Radio PTPN yang diwakili IG Hananto Sukarno, ia mengatakan
‘apabila kami mengingkari janji di kemudian hari, kami siap dihukum. Atas nama Keluarga besar Radio PTPN Rasitania, kami sekali lagi mengatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada umat Islam di Indonesia khususnya Kota Solo.’
Gerakan massa berikutnya dilakukan selama persidangan terhadap Wilson di Pengadilan Negeri Surakarta. Pada hari yang sama, polisi memeriksa beberapa orang yang dianggap bertanggung jawab dalam ‘kasus Wilson.’ Polisi juga menyita dan mengamankan sejumlah barang bukti berupa peralatan penyiaran Radio PTPN Rasitania. Karena itu sejak tanggal 2 Maret 2000 pukul 12.00 radio tersebut tidak mengudara untuk sementara waktu. Langkah ini dilakukan polisi untuk mencegah pembakaran atau perusakan oleh massa.
Di tengah proses tersebut, juga ada pertemuan-pertemuan yang dikoordinasi oleh Departemen Agama dan Polresta. Pertemuan tersebut dihadiri oleh pejabat Depag, Polresta, tokoh-tokoh Islam dan pendeta Wilson.
4) Setelah terjadi reaksi umat Islam melalui berbagai kegiatan tersebut kemudian muncul pembelaan dan reaksi dari kelompok Kristen. Wilson misalnya dalam pertemuan yang dikoordinir oleh pemerintah daerah setempat menyatakan bahwa pandangannya bukan untuk mendiskreditkan umat Islam, sebaliknya untuk merukunkan kedua agama melalui sistem teologi kerukunan yang dibangunnya. Ia menegaskan ‘tidak punya kepentingan melakukan kristenisasi.’ Selain itu ia berharap penyelesaian atas kasusnya dilakukan melalui dialog dengan mengedepankan akal-sehat, bukan melalui kekuatan fisik. Kekhawatiran ini muncul setelah melihat reaksi berupa ancaman, dan isi spanduk yang menyamakan statusnya seperti Salman Rushdi, sebuah status yang memiliki konsekwensi berat bagi orang yang dijadikan sasaran.
Sementara reaksi positif muncul dari pihak pengelola Radio PTPN Rasitania yang intinya menerima semua tuntutan kelompok Islam. Di sisi lain di beberapa tempat di Solo dan sekitarnya berkembang antipati umat Islam terhadap umat Kristiani tanpa memandang aliran Kristennya.
5) Mulai 2 Maret sampai Juli 2000 Wilson ditahan sebagai tersangka dan melalui proses persidangan yang lama di Pengadilan Negeri Surakarta, akhirnya ia divonis
hukuman lima tahun. Selama di persidangan Wilson didampingi seorang pengacara Kristen, yang sebelumnya beragama Islam, yaitu Syarif Hidayatullah. 6) Dampak dari munculnya konflik antarumat Islam dan Kristen ini terjadi pada
kedua belah pihak. Di kalangan kelompok muslim yang langsung berkonflik kian melahirkan solidaritas internal mereka, ingroup dan identias mereka menjadi lebih menguat. Sementara di kalangan masyarakat Islam pada umumnya kian berkembang kesadaran dan kepekaan terhadap issu kristenisasi. Hal ini ditandai dengan pemberian informasi kepada masyarakat Islam melalui pengajian dan ceramah keagamaan lainnya.
Di kalangan kelompok Kristiani, konflik tersebut mengakibatkan Radio PTPN Rasitania tidak mengudara selama tujuh hari, dan Ahmad Wilson akhirnya dihukum, walaupun oleh teman dan Wilson sendiri hukuman itu bukan dianggap sebagai hal yang negatif karena ia sudah terbiasa hidup prihatin dan bahkan terus melakukan tugas missi di penjara.
Dari kedua belah pihak memang tidak ada kerugian jiwa dan fisik seperti bangunan rumah, sarana dan prasarana sosial. Namun kerugian secara psikologis jelas ada, luka psikologis ini akan berpengaruh kepada pola-pola hubungan sosial di antara kedua belah pihak yang membutuhkan waktu untuk menganyamnya kembali. Apalagi jika dilihat dari pernyataan-pernyataan kedua kelompok, khususnya dari kelompok muslim yang masih sangat keras sebagaimana diurai dalam bagian potensi konflik pascakonflik.